Be Light

Be Light
Episode 16



Sepertinya aku tidak akan selamat setelah terkena bola besar itu, aku harap ada seseorang yang dapat membangunkan aku kembali.


"Protection!"


Ada seseorang yang berteriak, namun aku tidak melihatnya karena masih memejamkan mataku.


Duaaarr!!


Terdengar suara ledakan sangat keras, aku sangat terkejut dan sontak membuka mataku tanpa sengaja. Aku melihat ke atas, dan nampak sebuah kaca besar berwarna biru muda agak transparan mengelilingi aku dan Apreel.


"Ella, cepat ke sini!"


Aku menoleh ke sebalah kananku yang kurasa itu adalah tepat sumber suara berasal, dan kulihat sosok peri bersayap biru, "Guru Meldy ..."


"Cepat kemari!" Teriaknya sambil menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah.


Apreel melepaskan pelukannya, dengan segera aku menarik tangan Apreel dan berlari ke arah Guru Meldy.


Saat sampai di hadapan Guru Meldy, dia berkata, "Lihatlah ke sebelah kiriku," ucapnya tanpa memberi isyarat sedikit pun.


Aku menoleh ke sebelah kirinya Guru Meldy, tepatnya di sebelah kananku, aku meluhat seorang wanita yang .... Ah! Apa ini, kok gelap? Ada apa ini, apa yang baru saja terjadi?


Semuanya gelap, siapa wanita tadi, apa dia suruhan orang yang mengaku bahwa dirinya adalah Tinka? Bagaimana dengan Guru Meldy, apa dia juga termasuk?


Apreel ... di sini gelap, tidak ada suara sama sekali, aku di mana? Ayah ... ibu ... aku takut. Apreel ... aku sendirian, kamu di mana?


-------


"Ella, Ella! Bangun Ella!"


Terdengar seperti suara Apreel, apa itu benar dia? Aku membuka mataku, dan nampak seseorang yang sejak tadi aku cari-cari, "Apreel!" teriakku, aku langsung bangun dan memeluknya.


Aku sangat senang melihatnya lagi sampai air mataku mengalir.


"Masih belum berubah ternyata ya, kamu tetap cengeng," Apreel mengejek.


Aku melepaskan pelukanku, dan melihat ke sekeliling. Tempat ini sepenuhnya terbuat dari kayu, dan bentuk ruangannya lingkaran, "Apa ini pohon?"


"Iya, ini pohon, aku tadi baru saja keluar," jawab Apreel.


Aku berdiri dari tempatku berbaring, kulihat pintu keluar dan mencoba menghampirinya. Seketika muncul seseorang yang membuatku terkejut, seorang wanita yang berkulit putih, bertelinga panjang, dan ... memiliki sebuah tangkai bunga di kepalanya? Apa-apaan ini!


"Kamu wanita yang tadi, kamu suruhan orang yang mengaku Tinka itu 'kan!" Teriakku pada wanita tersebut, "Bagaimana dengan Guru Meldy, apa dia juga termasuk?"


Wanita tersebut membawa sebuah baki yang di situ terdapat beberapa buah, dia hanya menatapku tanpa berkata sedikit pun. Setelah agak lama aku dan dia saling menatap, kamudian dia tersenyum padaku dan berjalan ke arah meja untuk meletakkan baki tersebut.


Dia kembali menghadap ke arahku dan mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, namaku Nabil, Biasanya di panggil Blue Rose," ucapnya tanpa menurunkan tangannya.


"Blue Rose? Apa karena di kepalamu tumbuh setangkai mawar berwarna biru?" ucapku tanpa menjabat tangannya.


Nabil menurunkan tangannya, lalu nampak tersenyum kesal padaku, "Aku rekan kerjanya Meldy, aku juga termasuk guru di perpustakaan itu, hanya saja kita belum sempat bertemu sebelumnya."


Ini sangat mengejutkan untukku, aku malu, aku merasa bersalah setelah mengetahui fakta bahwa dia dipihakku, tapi aku masih kesal, "Lalu, apa yang kamu lakukan saat aku menghampiri Guru Meldy?"


"Hm ... aku hanya membuatmu tertidur agar aura sihir yang ada padamu sepenuhnya tertutup oleh pengaruhku, sebagai Druid yang berprofesi sebagai Circle Of Dream, aku bisa melindungi mereka yang tengah tertidur," jawabnya.


'Hah? Bukannya melindungi orang tidur malah sulit ya?' batinku, "Bukankah malah sulit melindungi orang yang tengah tertidur?"


"Malah mudah bagiku," jawab Nabil, "Karena saat mereka tertidur, akan lebih mudah untuk memanipulasi dan mengendalikan mereka."


"Kamu memikirkan tentang kemampuanku?"


'Eh?' Aku sangat terkejut, dia bisa tahu apa yang tengah aku pikirkan.


"Aku bisa memanipulasi mimpi, ingatan, dan menciptakan ilusi, dan kenapa akan lebih mudah jika mereka tertidur. Secara teori aku membuat mereka mengigau dan mengikuti intruksiku." jasab Nabil dengan sangat jelas.


"Aku paham sekarang, jadi ... apa aku harus memanggilmu guru?" tanyaku.


"Terserah padamu."


"Apa kalian tidak menanggap ada orang ketiga di sini?" ucap Apreel menyela pembicaraan aku dan Nabil, "Apa aku tidak terlihat?"


Aku memperhatikan dia yang nampak kesal, dan aku mencoba membuatnya semakin kesal, "Apa kamu tau Apreel, orang ketiga adalah hantu, jadi ya ... anggap saja tidak terlihat."


"Hmm ... apa kamu tidak terpikirkan tentang Jagat dan lainnya?" ucapan Apreel membuatku teringat dengan yang lainnya dan mulai mengkhawatirkan mereka.


Aku menatap ke arah Nabil, "Guru Meldy di mana?"


"Dia sedang mencari makanan di sekitar sini, kamu keluar dari sini juga akan melihatnya." Nabil berjalan ke arah pintu, " Apa kamu mau ikut? Ayo!"


Aku berjalan mengikutinya dan keluar dari rumah, dari luar aku melihat ke arah rumah, dan ternyata benar, itu adalah sebuah pohon yang cukup besar, bahkan ... pohonnya masih berdaun lebat, 'Kok bisa?' Padahal bagian tengah pohonnya sudah kosong, tapi ternyata pohonnya masih hidup, benar-benar aneh.


"Bagaimana menurutmu," ucap Nabil mengejutkanku.


"Eh apa, menurut apa?" jawabku yang masih bingung.


"Lihatlah sekitar, apakah ini indah menurutmu?"


"Ini ... luar biasa, apakah aku di surga? Di sana juga ada rumah pohon, siapa yang menempati?" ucapku yang masih terkagum-kagum.


"Itu tempatku beristirahat," jawab Nabil, "Aku akan membantu Meldy mengumpulkan makanan," Nabil mulai berjalan menjauh, namum tak lama dia berhenti dan menghadap ke padaku dan berkata, "Selamat datang di pulau impian." Nabil berbalik dan pergi meninggalkan aku dan Apreel.


Aku melihat ke sekeliling, bunga-bunga yang tumbuh, pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, dan terlihat beberapa kupu-kupu serta kumbang berterbangan, 'Pulau impian?'


"Apa kamu masih mengagumi tempat ini, Ella?" Apreel mengjutkan aku yang masih memperhatikan sekitar.


"Iya, ini sangat mengagumkan." Dari posisi aku berdiri, aku mendengar suara air yang mengalir dari kejauhan, "Apa kamu mendengar suara air mengalir?"


"Iya, aku mendengarnya," jawab Apreel, "Kamu mau menghampirinya?"


"Ayo, semoga saja ada ikan yang bisa ditangkap." Aku langsung berjalan menghampiri sumber suara tersebut bersama dengan Apreel di sampingku.


Suara semakin terdengar jelas pertanda sudah dekat, tanpa memakan waktu lama sungai pun mulai nampak di depan mata, aku menghampirinya dengan segera.


-------


Air sungai yang terlihat ini begitu jernih, dan terlihat jelas dasar dari sungai ini, sepertinya tidak terlalu dalam, jika dikira-kira mungkin hanya sampai lutut dalamnya.


Dari kejauhan nampak segerombolan ikan berwarna jingga menghampiri tempatku yang masih duduk di tepian sungai. Ikan-ikan tersebut berhenti tepat di depanku dan menghadap ke arahku.


Aku mencoba mendekat dan memasukkan kakiku ke dalam air yang ternyata kedalamannya hanya sampai lutut. Aku mencoba untuk menangkap salah satu ikan yang ada di depanku.


Tanpa perlawanan sedikit pun, ikan itu tertangkap olehku, "Apreel, ikan-ikan ini sepertinya memang ingin ditangkap, bagaimana menurutmu?"


"Langsung saja tangkap, sudah lama tidak makan ikan, ayo!" teriak Apreel bersemangat.


Ingin menangkap banyak ikan sebenarnya, tapi untuk apa? Lagipula ditangkapnya sangat mudah, kalau ingin makan ikan, tinggal tangkap sendiri .