
Pagi hari yang sejuk, suara kicau burung menghiasi suasana pagi. Aku segera bangun menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku kemudian keluar dari kamar.
Di dapur aku melihat ibu yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
"kau sudah bangun ternyata" ucap ibuku dengan senyum di wajahnya
Aku menoleh kanan dan kiri "Ayah mana?"
"Seperti biasa, dia selalu telat bangun" jawab ibuku yang sedang masak
Aku duduk di bangku lalu ibu menyiapkan makanan untukku
“Semenjak orang asing itu datang kau jadi sering terlihat murung, ada apa sayang?"
“Entahlah ibu, dia mengatakan banyak hal dan terlihat sangat meyakinkan, tapi aku tak terlalu yakin untuk hal itu bu, aku... tidak tahu."
Tentu saja aku tak yakin bahkan percaya pun sulit, mereka hanya orang asing yang membawa kabar entah itu benar atau tidak, bisa saja mereka salah orang dan ternyata bukan aku orangnya, yah walaupun tak ada yang mustahil di dunia ini.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri sayang, jika tak ingin maka tidak perlu pergi, tetaplah disini."
“Hanya saja... dunia ini sama sekali tidak untuk orang yang tak memiliki sihir, apa aku tetap bisa bertahan?" ucapku lesu
“Iya, ibu juga berpikir seperti itu, jaman ini mereka yang tak memiliki sihir selalu di tindas, mungkin suatu hari penindasan seperti itu juga akan sampai kemari"
Kata-kata ibu membuat ku sedih, tentu saja karena kebanyakan dari mereka yang tak memiliki sihir di tindas dan di jadikan budak.
“Sudah aku putuskan ibu, aku akan pergi, aku tak ingin hal buruk terjadi pada keluarga ku!" ucapku dengan mengepalkan tangan.
“Kalau begitu kau bisa berangkat besok sayang, aku akan menyiapkan bekal dan menyiapkan pakaian mu."
Aku dan ibu makan bersama dan segera menghabiskan sarapan kami, lalu ayah keluar dari kamarnya dan segera bergabung.
Setelah selesai aku segera membereskan yang ada di meja dan membersihkannya, setelah semuanya selesai aku segera keluar dari rumah dan duduk di bawah sebuah pohon besar yang terdapat di depan rumah.
Saat duduk santai aku melihat teman ku datang menghampiri, aku segera menyapanya.
"Hai apreel"
Aku melambaikan tangan ke arahnya tapi dia hanya diam dan terus melangkah menghampiri ku.
Dia berdiri tepat di depan ku, kemudian duduk tanpa mengatakan apapun.
"Mmm kau baik-baik saja apreel?" tanya ku dengan heran.
“Apa kau yakin Ella, apa kau yakin akan pergi ?"
"Iya, aku akan pergi, aku tak ingin hal buruk terjadi, tapi bagaimana kau tahu aku akan pergi?" Apreel terlihat murung
“Ibu ku yang mengatakannya pada ku, dan... aku ingin ikut, aku ingin melakukan sebuah petualangan, aku bosan dirumah."
Aku senang bila ternyata tak bepergian seorang diri, Apreel bisa beladiri jadi sepertinya dia bisa menjaga ku bila ada orang jahat di luar sana.
“Kita bisa berangkat besok pagi nona, tak perlu terburu-buru, persiapkan dirimu untuk perjalanan panjang nanti" ucap ku
“Apa kau pernah belajar sihir, Ella?"
“Tentu saja aku belum pernah, padahal aku ingin seperti para pesulap di tv itu, kelihatan keren.”
“Dirumah ada buku sihir, tak ada yang dapat mempelajarinya, besok pagi saat kita berangkat akan aku bawa, setidaknya bisa menghilangkan suntuk.” ucap Apreel dengan senyum manisnya.
Aku memeluknya "aaw... kau pengertian sekali..."
Saat aku melepas pelukan ku dia mulai berdiri dan beranjak pergi begitu saja tanpa mengatakan sesuatu, menurut ku itu agak mengerikan, setidaknya katakan sesuatu jika tidak nyaman.
Aku masih tetap duduk di tempat yang sama, dari jauh aku melihat seseorang yang sedang melatih sihirnya, dia dari keluarga yang baik meskipun dunia sedang memojokkan orang-orang yang tak memiliki sihir, namun keluarga mereka yang memiliki sihir tetap tak pernah mengusik kami yang tak memiliki sihir.
Pernah saat itu pria itu mengatakan bahwa dia menyukai ku, tapi aku belum menjawabnya, seandainya dia orang jahat pasti dia sudah menindas keluarga ku dan entah apa yang terjadi pada ku, tapi dia... benar-benar baik, apa sebenarnya aku yang jahat?.
Pria tersebut melihat ku yang sedang duduk santai kemudian dia berjalan menghampiri.
"Hai Ella, selamat pagi!"
“Pagi juga Jagat,” jawabku menyambutnya. “kau tadi melatih sihir mu?"
“Iya kau mau mencobanya?" Jagat menyerahkan tongkat sihirnya yang berukuran kecil itu.
Aku menerima tongkat sihir yang ia tawarkan, ternyata tidak seperti kayu biasa, tongkat kayu kecil ini... seperti ada sebuah setrum yang mengalir, tidak terlalu besar namun tetap saja terasa.
“Semua orang bisa sihir dengan kemampuan yang berbeda-beda, mereka hanya perlu sedikit dorongan untuk menunjukkan sihirnya, coba kau ucapkan eldur" Jagat mencoba memberiku semangat.
“El….”
“Ah sebentar, sebaiknya kau arahkan ke sisi yang kosong.” Dia memegangi tanganku dan mengarahkan pada sebuah pohon. “Luruskan arah tongkatnya, sekarang coba ucapkan eldur".
“Eldur!” ku ucapkan kata itu dengan mata terpejam.
Wush...
Sebuah bola api kecil yang ukurannya seperti ibu jari keluar dari tongkat dan meluncur dengan sangat cepat kemudian lenyap begitu saja setelah mengenai batang pohon.
Aku merasa sangat senang melakukan hal itu.
“Sebaiknya kau periksa kayu yang terkena api tadi Ella!" Jagat mengambil tongkatnya dari ku
"Iya!" jawabku dengan penuh semangat
Aku berlari menghampiri pohon yang tadi terkena api tadi, saat aku melihatnya di situ ada bekas hangus kemudian aku menyentuhnya, saat aku melihat jari ku ternyata sudah menghitam, dan aku sangat yakin hangusnya itu masih sangat baru bahkan masih terasa hangat.
Aku kembali ketempat aku duduk tadi bersama Jagat, lalu aku duduk disampingnya.
“Bagaimana, bukankah menakjubkan?"
“Entahlah, aku tidak yakin kalau itu aku sendiri yang melakukannya"
“Aku tidak berani meremehkan mereka yang tak memiliki sihir, karena semua orang sebenarnya bisa, dan lagi seandainya mereka yang dibilang tak memiliki sihir ternyata bisa menggunakannya artinya dia memiliki bakat alami, dan itu akan memiliki kekuatan lebih besar dari yang lain" Jagat menjelaskan.
“Bagaimana dengan mu, kau sudah tahu sihir sejak kecil"
“Tentu saja, karena orang tua ku bisa sihir, kita buat sebuah perumpamaan yang lebih mudah, anggap saja sihir adalah sebuah kekayaan, aku orang kaya dan sejak kecil sudah terbiasa merasakan melimpahnya hal itu"
“Dan aku orang miskin yang berusaha menjadi kaya, saat aku berhasil menjadi kaya aku tidak takut gagal karena pernah merasakan hal buruk" sahutku kesal.
“Tepat sekali nona, kau pandai ternyata"
“Terima kasih..."
Dia terdiam dan aku juga tak tahu apa yang harus aku ucapkan, suasana pagi yang indah namun terasa sunyi, sangat tidak lucu.
Jagat menundukkan pandangannya. “Mmm ... Ella, kau sampai sekarang belum memberi jawaban untukku, bolehkah aku tahu sekarang?"
“Kau tak perlu mengatakan apa-apa dan aku tak perlu menjawabnya, jika kita merasakan hal yang sama kita hanya perlu menjalaninya!"
“Ella.... akhirnya penantian lama ku…!” Jagat sangat bersemangat.
Jagat melebarkan tangannya dan ingin memeluk ku, tapi aku menahan dadanya agar tak mendekatiku.