
Apreel marah karena Jagat yang bertindak seenaknya "kau punya sihir kau pikir aku akan takut padamu!?"
Jagat yang merasa bersalah hanya bisa bersembunyi di belakang ku dan memegangi bahu ku.“Maafkan aku Apreel..."
Apreel kesal tapi tak mungkin dia menyakiti rekannya. “Iya aku maafkan, jangan ulangi lagi, dan singkirkan tanganmu dari Ella!"
Jagat menyingkirkan tangannya dari bahu ku "Ella apa kau masih ada roti?"
“Masih banyak, memangnya kenapa?"
Jagat tertunduk malu. “Tadi malam aku kelaparan, jadi….”
Aku membukakan tas ku untuknya. “Ambillah tapi jangan habiskan semuanya, itu untuk nanti!"
Jagat mengambil satu bungkus roti dari dalam tas ku, tak lama kemudian hujan berhenti kami pun mulai mengemas barang-barang dan mulai berangkat.
Jagat mengembalikan akar-akar tersebut ke bentuknya semula kemudian berlari menghampiri aku dan Apreel.
Pagi hari yang mendung, matahari berselimut awan kelabu membuat jalanan terlihat gelap, tetesan air masih berjatuhan membuat udara semakin dingin.
Jagat melepas jaketnya dan menawarkannya padaku. “Aku ada jaket Ella."
“Terimakasih aku ada kok!" jawabku.
Apreel merebut jaket yang ditawarkan pada ku "Aku gak ada jaket, sini!" dan mengenakannya.
Jagat menggumam "dasar jelek barbar!"
Apreel menengok ke arah Jagat "Katakan dengan keras!"
Jagat hanya diam tertunduk tak mengatakan apapun seakan merasa bersalah.
Kami terus berjalan hingga tiba di sebuah desa, desa kecil yang tak terlihat banyak orang disitu, aku melihat sebuah toko yang bertuliskan 'magic' kemudian aku menghampiri toko tersebut, disana ada banyak sekali buku seperti sebuah perpustakaan.
Aku sungguh terpana saat memasuki tempat itu. “Ini perpustakaan?"
Jagat memperhatikan setiap buku yang ada kemudian mengambil salah satu buku disana dan membolak-balik buku tersebut. “Ada bandrolnya, harganya mahal dan sepertinya ini memang buku sihir."
Aku penasaran dan mencoba mendekat. “Berapa harga buku itu?"
“Dua juta,” ucap Jagat sambil mengangkat kedua jarinya.
Aku sangat terkejut mendengar harga yang sangat mahal itu bahkan sempat terpikir bahwa aku tak mungkin bisa mempelajari sihir karena yang pasti harga setiap buku yang ada harganya mahal.
Mengetahui harga buku yang tinggi benar-benar menurunkan semangatku. “Bukunya mahal, bagaimana bisa mempelajari sihir kalau seperti ini?"
Dari kejauhan Apreel memanggil ku, "Ella kemarilah!"
Aku menghampirinya, dia berdiri di depan sebuah rak buku yang tak jauh dari tempat penjaga "Ada apa Apreel?"
Apreel menyentuh sebuah kertas yang melekat di dinding, "Ini lihatlah!"
Aku melihat sebuah brosur yang melekat di dinding, disitu tertulis 'menerima siswa baru sekolah sihir dan ada private dengan biaya khusus'.
Brosur yang tertempel membuatku bersemangat. “Ini menarik, tapi jika sekolah apa ada cukup waktu? Aku harap biaya privatenya tidak tinggi.”
“Apa yang membuatmu terburu-buru?" ucap Apreel.
“Tentu saja demi orang tua ku!” jawabku tegas. “Yang aku khawatirkan keburukan yang sedang terjadi saat ini sampai ke tempat tinggal kita."
Apreel menatapku dengan serius, “Kalau begitu... pilihlah private, masalah biaya aku akan mencarinya."
Ucapan Apreel membuat ku terharu sekaligus sedih, rasanya sangat terpukul seakan-akan aku adalah orang yang dijadikan acuan untuk sebuah masa depan hingga harus diperjuangkan.
Aku hanya menatapnya. “Apreel... aku..."
Apreel menyentuh bahuku dan membuat ku merasa damai sejenak "Tidak apa-apa Ella, kau sama sekali tidak membebani ku, jangan khawatir"
Tanpa sadar air mata ku mengalir membasahi pipi lalu Apreel mengusap air mata ku, "Jangan menangis Ella, aku lakukan ini agar kau tersenyum"
"Ella!"
Aku menoleh ke sumber suara dan ternyata Jagat menghampiri aku dengan membawa sebuah buku.
Jagat memperlihatkan buku yang dibawanya, "Buku sihir dasar penyembuh, aku tadi beli harganya dua ratus ribu, untuk mu!"
Aku mengambil buku tersebut dari tangannya, "Kau membelikan ini untuk ku?"
“Iya,” jawab Jagat. “Ayo ikut aku, kau juga Apreel!"
Aku dan Apreel mengikuti Jagat dari belakang berjalan menuju lantai dua. Di lantai dua aku melihat banyak orang berkumpul, tak seperti di lantai satu yang terasa sepi.
Orang-orang itu berkumpul seperti sedang mengantri sesuatu, aku yang berada di urutan belakang pun jadi tak melihat apa yang ada di depan sana.
Aku heran. “Ini sebenarnya ada apa?"
Jagat tersenyum. “Disini aku akan mendaftarkan kamu dan Apreel untuk private"
Apreel tampak terkejut, “Tapi aku..."
“Sudahlah Apreel... jangan hanya Ella yang belajar,” sahut Jagat. “Dan untuk uang serahkan pada ku, karena yang memiliki sihir punya peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan di manapun itu."
Aku melihat mata Apreel berbinar-binar dan dengan cepat dia memeluk Jagat, "Terimakasih Jagat..."
Jagat tampak malu. “Aaaa.... iya sama-sama, bolehkah kau melepaskan tanganmu? Disini ramai"
"Ah iya." Apreel melepaskan pelukannya.
Aku melihat antrian yang begitu panjang. “Sampai kapan kita mengantri? Panjang sekali.”
“Yah kita hanya perlu menunggu,” jawab Jagat. “Oh iya di lantai dua ada banyak buku yang bisa kita baca, ayo!"
Aku mengikuti Jagat meninggalkan antrian, Jagat melihat-lihat buku begitu juga dengan ku, aku melihat sebuah buku yang membuat ku berhenti untuk mencari, aku mengambil buku tersebut dan segera pergi menuju ruang baca.
Di ruang baca sudah ada Apreel yang sedang membaca sebuah buku, "Buku apa yang kau baca Apreel?" Apreel memperlihatkan sampul buku tersebut yang hanya ada gambar lingkaran "Buku apa?"
“Sihir mental, yang menyangkut tentang psikis dan kekuatan pikiran lainnya, seperti membuat ilusi dan sebagainya,” jawab Apreel. “Buku apa yang kau ambil?"
“Aku tidak tahu,” jawabku. “Tak ada judulnya dan aku belum membacanya.”
Aku duduk di depan Apreel kemudian membuka buku secara acak, "Apa ini, dispel?"
Aku membacanya 'Dispel adalah sebuah sihir yang digunakan untuk menghilangkan status buruk maupun status baik yang melekat pada lawan, bagi mereka yang sudah menguasai sihir dapat digunakan untuk menghilangkan hanya status buruk, dispel juga dapat membatalkan sihir lawan sehingga membuat mereka tak dapat menggunakan sihir untuk sementara'.
"Ella sedang baca apa?" Jagat menghampiri dan duduk di samping ku.
“Ini tentang dispel,” jawabku. “Oh iya apakah ada cara mempelajarinya?"
“Bacalah saja dulu, nanti kau juga akan tahu!" jawab Jagat.
Aku kira Jagat akan memberitahu. “Hmmm... baiklah!"
Aku melanjutkan membacanya 'Dispel akan lebih efisien jika yang menggunakannya adalah seseorang yang memiliki bakat sebagai penyihir putih, jika mereka seorang kesatria maka seseorang yang dijuluki paladin dapat menggunakan sihir tersebut dengan lebih efisien, jika seorang dark knight yang menggunakan sihir dispel maka yang terjadi hanya akan menghilangkan setiap status baik maupun buruk'.
Seketika aku melihat sesuatu yang mengejutkan, di buku itu tertulis 'apakah anda ingin mempelajari dispel? Iya atau tidak'.
Aku menunjukkan tulisan itu pada Jagat. "Ini maksudnya apa?"
Jagat melihat ke tulisan tersebut, "Hmmm ini aneh, aku belum pernah melihat yang seperti itu, jika penasaran cobalah sentuh yang ingin kau pilih."
“Kau bicara seperti itu seakan tak mengkhawatirkan aku sama sekali,” ucapku.
“Disini ada pengurusnya, jika hal buruk terjadi aku yakin mereka bisa mengatasinya,” jawab Jagat dengan mudahnya.
“Awas saja, jika hal buruk terjadi pada ku, aku akan memukulmu!" ujarku.
Aku kembali menatap tulisan tersebut, rasa penasaran ku yang besar membuat jemari ku gatal ingin menyentuh tulisan 'iya', tanpa berpikir panjang akhirnya aku menyentuh tulisan tersebut.