Bad Girl And Good Boy

Bad Girl And Good Boy
bab 47



Mommy Soraya dan Garvin sedang berdebat sengit di teras Mansion mewah mereka.


Anak dan ibu itu, sedang memperdebatkan nama untuk calon bayi yang kini menunggu hari untuk menyambut kehadirannya.


Janin yang berjenis kelamin perempuan itu, sukses membuat mommy Soraya dan Garvin begitu bahagia dan menyiapkan semua keperluan bayi dengan penuh antusias.


Kamar dan keperluan si calon tuan putri pertama di kediaman mereka sudah dipersiapkan dengan begitu indah dan mewah.


Kamar yang diberi warna lembut dan feminim, dan Garvin yang lebih bersemangat menyiapkannya.


Pria itu bahkan menghabiskan waktu seharian hanya untuk mendekorasi kamar calon putrinya.


Sekarang ia tinggal menyiapkan nama yang tepat untuk putrinya itu. Di saat ia sudah menemukan nama yang tepat, mommy Soraya menyela dan menolak Persiapan nama untuk cucu pertama yang menurutnya sangat kaku.


"Mommy tetap tidak setuju, kau memberikan nama jelek itu kepada cucuku!" Sentak mommy Soraya dengan wajah marah.


Garvin memasang wajah tidak acuh mendengar perkataan mommynya. Menurutnya, nama yang ia persiapkan sangat indah.


"Pokoknya, mommy ingin ia bernama Giselle Miller!" Ujar mommy Soraya yang bersikeras menamakan cucunya Giselle.


"No, aku tidak setuju, nama itu terlalu liar. Pokoknya, aku ingin nama putriku, Rosalin Miller, titik." Sahut Garvin dengan nada tegas yang tidak terbantahkan.


"Anak pembangkang! Hey, anak muda, utamakan keinginan orang tuamu kalau kau ingin hidup dengan damai dan bahagia," pungkas nyonya Soraya yang tidak ingin kalah dan tetap membalas ucapan putra semata wayangnya itu.


Garvin hanya mendelik singkat dengan bibir bersungut-sungut mengikuti ucapan andalan sang mommy.


Melihat putranya yang mengejek, nyonya Soraya meraih salah satu telinga putranya itu dan menariknya lumayan kuat. Membuat Garvin meringis.


"Akh, mommy! Apa kau akan memutuskan telingaku," pekik Garvin sambil meringis.


"Mommy, lepaskan, ini benar-benar sakit," teriak pria itu dengan wajah kesakitan.


Nyonya Soraya tersenyum puas, melihat putranya akhirnya mengalah.


Garvin mengusap telinga yang tampak merah. Ia melirik mommynya dengan raut kesal.


"Yes, cucuku akan bernama, Giselle Miller. Oh, nama yang sangat indah, nama yang menggambar sosok wanita kuat dan tangguh." Nyonya Soraya begitu bahagia, sampai-sampai wanita yang sebentar lagi akan berubah status menjadi, grandma itu bersorak kegirangan.


Garvin sendiri tampak mencibir dengan wajah lesu. Pria itu berdiri dan berniat menuju kedalam Mansion.


Namun langkahnya terhenti, saat mendengar suara benda pecah jatuh dan suara keras terdengar menghantam, lantai.


Nyonya Soraya yang mendengarnya refleks berdiri dengan wajah bingung.


Garvin dan sang mommy, saling menatap dengan lekat, seketika, kedua kelopak mata mereka membesar, mengingat keberadaan Sakura di dapur.


"Sayang!" Gumam Garvin dengan wajah paniknya, segera berlari panjang menuju dapur, di susul nyonya Soraya yang berlari tergopoh-gopoh.


"Honey!" Pekik Garvin dengan wajah terkejut melihat istrinya kini tergeletak di atas lantai sambil menahan rasa sakit.


"Tolong aku, sayang. Ini sangat sakit," pinta Sakura dengan suara lirih.


"Akh, mommy! Ini sakit sekali!" Teriak Sakura.


"Oh Tuhan, nak!" Sentak nyonya Soraya dengan wajah shock melihat Sakura akan segera melahirkan.


Wajah pria itu memucat dengan raut panik saat melihat cairan keruh dan kental keluar dari pangkal paha Sakura.


"M-mommy, istriku buang air kecil," gumam Garvin.


Nyonya Soraya menengok ke arah bawah Sakura, betapa terkejutnya wanita itu melihat cairan ketuban menantunya pecah.


"Oh, God!" Pekik mommy Soraya melihat tanda-tanda akan munculnya cucu pertama ke dunia.


"Ada apa, mom?" Tanya Garvin yang mendadak bersikap naif.


"Bodoh, istrimu akan segera melahirkan! Sebaiknya cepat bawa dia ke mobil!" Perintah mommy Soraya yang begitu panik.


Garvin masih terdiam, pria itu tiba-tiba menjadi linglung. Melihat wajah kesakitan istrinya.


"Apa yang kau lakukan, bodoh!" Pekik mommy Soraya, melihat putranya yang terdiam sambil memandang istrinya.


Sakura mencoba menahan rasa sakit di sekitar pinggul sampai ke tulang ekornya. Ia menahan rasa ingin berteriak. Garvin terus mengusap keringat istrinya dengan tangan yang bergetar hebat.


"Akh!" Sakura yang tidak tahan saat rasa sakit itu semakin kuat, refleks menggenggam tangan Garvin kuat, hingga kuku-kukunya menancap di kulit telapak tangan suaminya. Sakura juga menggigit punggung suaminya, saat sesuatu dibawah sana seakan ingin keluar dan Sakura ingin buang air besar.


"Akh, mommy …." Sakura bertriak kencang di dalam mobil, disusul teriak Garvin yang begitu kesakitan.


Mommy Soraya yang mengendalikan mobil terus menoleh ke belakang, melihat menantunya sudah ingin mengeluarkan sang bayi.


"Tahan sayang, kita akan tiba di rumah sakit," ucap mommy Soraya. Melajukan kendaraan dengan kencang.


"Aku sudah tidak tahan mommy, rasanya dia sudah berada di bawah," sentak Sakura disusul erangan tertahan, saat kontraksi lagi-lagi datang dan kali ini begitu berbeda


Nyonya Soraya menghentikan mobilnya tepat di lampu merah, Garvin kebingungan harus melakukan apa, melihat istrinya yang kesakitan. Apalagi kini ia melihat cairan merah mengalir dari pangkal paha istrinya.


Penglihatannya secara mendadak menjadi kabur, kepala terasa berat. Semakin menatap cairan merah itu, membuatnya semakin pusing.


"Garvin! Cepat bantu istrimu, sepertinya kita tidak akan sampai ke rumah sakit, bayinya sudah berada di ujung mulut rahim," terang mommy yang kini berpindah tempat di samping Sakura.


Pria itu terdiam merasakan kepalanya teramat sakit dan pandangan mulai mengabur.


Tidak lama kemudian, pria itu pun jatuh pingsan, akibat melihat cairan merah.


Nyonya Soraya hanya bisa menghela nafas panjang, wanita itu lupa, putranya fobia darah sejak kecil.


Sakura kini berusaha mengeluarkan bayinya dengan bantuan sang mommy mertua. Ia melakukan proses persalinan di dalam mobil. Tidak membutuhkan waktu lama, Bayi mungil itu akhirnya lahir dengan selamat.


Nyonya Soraya dan Sakura saling berpelukan dengan perasaan haru dan bahagia.


Wajah Sakura kini terlihat berantakan, wajah yang dipenuhi keringat dengan deru nafas tersengal-sengal.


Ia memeluk bayinya yang di letakkan di dadanya. Tidak hentinya ia menitikkan air mata kebahagiaan. Melihat putri pertama yang terdengar merengek sambil mencari sesuatu.


Garvin masih terkulai lemah di samping Sakura. Wanita itu kini menyentuh wajah suaminya, agar tersadar dan menyiksakan sosok mungil di pangkuannya.


Nyonya Soraya tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, ia terus menatap wajah kemerahan cucunya.


"Cucuku," ucap nyonya Soraya lirih.