
"Garvin Miller!" Nyonya Soraya segera memekik memanggil putranya dengan suara begitu nyaris.
Wanita dengan penampilan seperti biasa, modis dan berkelas itu terkejut, menyadari kalau di ruangan putranya sedang melakukan pertemuan.
Garvin menoleh dengan kening terlipat, begitu juga dengan tuan Miller dan Sakura. Mereka bingung dengan nyonya Soraya yang tiba-tiba memperlihatkan wajah kesal dan marah.
Nyonya Soraya terlihat salah tingkah dan wanita itu berusaha menjaga image-nya dengan memasang wajah arogan. Padahal ia merutuki dirinya sendiri saat menjadi pusat perhatian dan terlihat bodoh.
"Ada apa, mom?" Tanya Garvin yang terlihat penasaran.
"Tidak! Mommy hanya ingin menyapa," sahut nyonya Soraya dengan nada sedikit ketus. Kini tatapannya ia tujukan kepada Sakura yang sedang melakukan presentasi di depan para para pengusaha sukses di beberapa negara untuk bisa melakukan kerjasama.
Sakura hanya tersenyum sinis ke arah ibu mertuanya yang kini juga ikut duduk di dekat suaminya.
Selama meeting berlangsung, Garvin tidak hentinya mengawasi sang istri. Ia bahkan memeriksa setiap yang istrinya itu pegang. Pria itu juga harus menahan rasa mual, mencium aroma parfum para calon rekan kerjanya.
Sungguh Garvin begitu tersiksa, nyonya Soraya memberikan gelas berisi air putih kepada putranya.
Garvin menolak dan pria itu segera berlari menuju kamar mandi yang ada di ruangan meeting. Sakura menyusul suaminya.
"Maaf, putra saya sedang mengalami efek kehamilan, istrinya," jelas tuan Miller, melihat tatapan heran para calon rekan bisnisnya itu.
Beberapa pria yang ada di hadapannya pun mengerti dan mengucapkan selamat kepada tuan Miller juga nyonya Soraya, atas kehamilan menantu mereka.
🌹🌹🌹
"Aku akan mengantarmu ke ruangan CEO, sebaiknya kau istirahat saja." Sakura membantu menopang bobot tubuh tinggi suaminya yang terlihat begitu lemas, setelah mengeluarkan semua cairan makan yang masuk ke dalam perutnya hingga meninggal cairan kuning yang membuat tenggorokannya begitu sakit dan menyiksa.
Sakura membawa suaminya keluar, setelah berhadapan dengan para calon investor asing, Sakura minta maaf untuk tidak ikut dalam meeting berikutnya, ia harus merawat Garvin yang terlihat begitu tidak berdaya.
Melihat putra dan menantunya keluar dari ruangan luas itu, nyonya Soraya bangkit dan meminta izin untuk menyusul, putra dan menantunya, kepada para tamu berharga.
"Minumlah!" Pinta Sakura yang menyerahkan segelas air hangat pada suaminya.
Ia juga membantu suaminya yang terus menerus merasa mual, wajahnya pria itu pun semakin memucat.
"Apa aku harus memanggil dokter, untukmu?" Tanya Sakura yang kini mengusap puncak kepala suaminya yang mana kepala Garvin sekarang berada di atas kedua pahanya.
"Tidak! Aku hanya memerlukanmu," sahutnya lirih dengan kedua mata terpejam.
"Penglihatanku berputar-putar setiap terbuka," keluh pria itu manja. Mengubah posisi dengan memiringkan tubuh hingga wajahnya berada tepat di depan perut sang istri.
Sakura sejak tadi hanya diam, namun kini jari-jarinya berada di atas kepala Garvin, meremas rambut suaminya agar lebih membaik. Dan itu berhasil membuat Garvin tenang dan melupakan perasaan mualnya.
"Nak! Kau tidak apa-apa? Seharusnya wanita ini yang mengalami semuanya, bukan malah menyusahkanmu." Nyonya Soraya muncul dengan wajah tidak bersahabat dan berkata kasar kepada menantunya.
Garvin hanya bisa mendesah panjang, ia terlalu lemas untuk melawan argumen sang mommy.
"Kau, seharusnya merawat putraku yang harus menanggung beban akibat kehamilanmu ini. Panggil dokter, jangan diam saja melihat putraku kesakitan!" Seru nyonya Soraya yang semakin sengit menatap menantunya.
Sakura hanya bisa diam dan terlalu malas untuk menanggapi perkataan ibu mertuanya.
"Anda bisa diam! Apa mommy mertua pernah denger, seorang menantu melemparkan ibu mertuanya dari ketinggian gedung? Kalau belum pernah, maka aku akan memperlihatkan kepada, mommy." Seloroh Sakura dengan nada tenang, namun tatapan matanya wanita itu membuat nyali nyonya Soraya menciut.