Bad Girl And Good Boy

Bad Girl And Good Boy
bab 45



"Apa maksud semua ini, Miller? Di mana kewarasanmu, kau membawa jalangmu memasuki kediaman ini, apa kau tidak malu pada putra dan menantumu?" Nyonya Soraya kini berdiri di samping suaminya, ia juga berusaha menahan amarah pun sakit hatinya.


Sungguh ia begitu lelah untuk menghadapi pernikahannya yang tidak sehat ini. Terlalu menyakitkan dan melelahkan untuk menggapai kesadaran suaminya yang setiap waktu berubah.


Seperti yang terlihat pagi ini, atau mungkin juga suaminya itu menghabiskan malam panas di kediamannya.


Tuan Miller seakan menulikan dan menganggap istrinya tidak ada. Sungguh sikap yang tidak menggambarkan saling menghargai di dalam kehidupan rumah tangga yang normal.


Sikap tuan Miller membuat Garvin sejak tadi menahan amarahnya yang berusaha ia kontrol.


"Ini tempat tinggal pribadiku, jadi aku berhak membawa siapapun," ucap tuan Miller dengan wajah santai.


Jawabannya membuat wanita muda di sebelahnya menjadi sumringah, wajah yang sangat ingin Sakura bantai.


"Kau memang yang terbaik, sayang. Aku yakin calon buah hati kita akan bangga memiliki daddy sepertimu," wanita itu menimpali dengan suara manja dan tatapan sinis ia berikan kepada nyonya Soraya.


Wanita itu juga kini merangkul lengan tuan Miller dan bersikap manja.


Nyonya Soraya dan Garvin terkejut, mendengar ungkapan wanita ini. Ia sungguh tidak percaya, tuan Miller bisa melakukan hal itu kepada mereka.


"A-apa?! Nyonya Soraya berkata dengan suara mencicit, tatapan kosong terarah pada perut wanita simpanan suaminya.


Wanita muda itu tidak menjawab, ia hanya bersikap manja kepada tuan Miller, bahkan dengan tidak sopannya mengecup bibir pria itu.


Tuan Miller bahkan mengusap perut simpanan dan mengatakan sebenarnya pada istri dan putranya.


"Dia hamil anakku," tukas tuan Miller, raut wajahnya tidak terlihat penyesalan, bahkan pria itu terlihat sangat bangga.


Garvin tidak bisa menahan ini semua, ia ingin menghadapi sang daddy, akan tetapi, Sakura menghentikannya.


Nyonya Soraya kini diam terpaku di posisinya, tatapan kosong ia tujukan pada perut simpanan suaminya.


Kabar pagi ini, sukses membuat hatinya kembali terluka dan tersakiti. Sungguh ia ingin mengakhiri saja ini semua. Ingin ia menusuk saja dadanya, di mana terdapat hati di dalam sana. Ia ingin menghancurkan saja hatinya ini, agar ia bisa menghilang perasaan setia juga cinta untuk suami.


Tubuh nyonya Soraya hampir saja meluruh ke bawah, beruntung ia dapat berpegangan pada pinggiran meja makan. Buku-buku jarinya terlihat membiru menahan rasa sakit juga emosi yang membuncah.


Kedua kelopak mata sudah begitu berat dan perih, genangan air mata itu, berhasil meluruh, membasahi kedua pipi. Sekuat apapun ia menahannya, genangan air mata itu tetap jatuh.


Menahan isakan begitu menyakitkan di rongga leher dan dadanya. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya.


Melihat tubuh mommynya yang terguncang, Garvin menghampiri, memeluk mommynya, saat itu juga tangisan nyonya Soraya meledak.


Garvin hanya bisa menatap tuan Miller dengan begitu benci.


Tuan Miller mengabaikan dan lebih memilih menenangkan simpanannya yang terlihat shock.


"Bukan begitu daddy mertua?" Tanya Sakura dengan senyum mengembang.


"Aku berharap anda tidak pernah memperlihatkan wajah di depan bayiku, karena dia hanya milik kami. Aku rasa ia juga tidak membutuhkan grandpa brengsek seperti anda." Titah Sakura dengan nada serius lalu melemparkan senyum sinis kepada wanita simpanan tuan Miller.


Tuan Miller hanya bisa membeku di tempatnya, ia melupakan tentang status menantunya ini. Ia bisa saja menghancurkan semua miliknya dengan sekejap saja.


Garvin menuntun mommynya keluar dari ruangan makan, mereka sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan kediaman mewah ini dan memilih hidup bersama di tempat lain.


🌹🌹🌹


"Mom." Garvin kini berusaha untuk menghibur mommynya yang sudah 1 bulan lamanya hanya diam saja. Wanita itu juga kini sangat berbeda.


Tidak terlihat semangat lagi di dalam hidupnya. Ia begitu menyedihkan dengan tatapan kosong yang tiap hari ia berikan kepada semua orang.


Sakura pun berusaha mengajak ibu mertuanya berbicara atau berjalan di sekitar Mansion pribadi mereka yang baru.


Tetap saja, tatapan kosong juga raut wajah menyedihkan menghiasi hari-harinya.


Garvin menghela nafas panjang, ia hanya bisa pasrah saat tidak mendapat respon sedikitpun dari sang mommy, membuat pria itu begitu rapuh. Beruntung ia memiliki istri yang selalu ada untuknya dan memberikan semangat.


"Biarkan dia memikirkan semuanya, ada saatnya mommy akan membaik, ia butuh waktu untuk mengobati luka yang selama ini ia dapatkan." Sakura tiba-tiba muncul di belakang suaminya. Memeluk Garvin dari belakang, terus memberikan dukungan kepada suaminya.


Garvin membalikkan badan, ia membawa tubuh sedikit berisi Sakura ke dalam pelukannya, perut wanita itu mulai terlihat membuncit, meskipun masih terlihat samar.


"Aku khawatir," ujar Garvin dengan nada suara bergetar.


"Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki," lanjutnya yang tidak mampu menahan air mata.


"Aku sekarang bersamamu," sahut Sakura, mencoba mengusap punggung suaminya.


"Dia mommy terbaik untukku, ia bahkan rela tersiksa demi aku, agar aku bisa merasakan kehidupan layak dan bisa mendapat kedudukan tanpa terhina oleh siapapun." Garvin mencoba menjelaskan dengan perasaan sedih.


Di saat mengingat perjuangan mommynya untuk bisa membuatnya bahagia dan hidup penuh kehormatan.


Nyonya Soraya mendengar ucapan putranya itu, ia pun tidak tahan untuk meluapkan tangisannya.


Ia tersadar dari sifat egoisnya yang mengabaikan putranya sendiri lalu menangisi sosok pria yang tidak pernah menerimanya.


Nyonya Soraya pun menghabiskan waktu untuk menangis di dalam kamarnya, ia sudah berjanji, ini merupakan tangis terakhirnya untuk meratapi sosok pria yang begitu dicintainya.


Ia menyakinkan diri untuk tetap bahagia dan menikmati hidup bersama putra dan calon cucunya.


Ia akan membuang jauh perasaannya ini, agar lukanya bisa sembuh dengan sendirinya seiring waktu.