
Garvin menampilkan senyum cerahnya sambil berjalan mendekati istrinya dengan sebuah minuman jus di tangannya. Langkahnya, terhenti saat melihat Sakura sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel dan wajah istrinya itu terlihat panik.
Pria itu ikut panik, ia melanjutkan langkah dengan cepat untuk menemui sang istri, namun Sakura terlihat berjalan tergesa keluar dari ruang luas itu melalui pintu lain.
Garvin mengikuti istrinya yang berjalan menuju parkiran, Garvin mengerang tertahan saat tidak bisa menyusul istrinya yang sudah memasuki lift menuju baceman hotel.
“Sial!” geram Garvin dengan wajah murka. Pria itu juga menendang dinding besi di hadapannya. Garvin segera bergerak lintah ke arah lift lain yang terbuka, ia bahkan mendorong tubuh orang yang baru saja keluar itu.
“Minggir!” Sentak Garvin, membuat pria yang ia dorong menatapnya aneh.
Sakura sendiri kini sudah tiba di baseman, mendekati sebuah mobil yang sejak tadi menunggunya,.
“Di mana dia?” tanyanya dengan nada dingin.
“berada di klub, nona," sahut seorang pengawal pria dengan tubuh setengah membungkuk.
Sakura tidak mengeluarkan pertanyaan lagi, wanita itu lantas memasuki mobil. Seorang pria di balik kemudi menyalakan mesin mobil mewah itu dan mulai menggerakkan menuju bahu jalan.
Bertepatan suaminya baru saja keluar dengan wajah panik juga tergesa-gesa.
Garvin menatap mobil yang membawa istrinya pergi, pria itu juga berlari untuk mengejar, namun ternyata ia tidak sanggup untuk menghentikan mobil tersebutlah.
Ia kemudian mendekati mobilnya sendiri, mengejar mobil Jeep sport yang membawa sang istri.
Garvin melajukan kendaraan mewahnya itu dengan kecepatan tinggi, hingga ia bisa melihat jejak mobil hitam pekat itu yang membawa istrinya.
Sakura dan kedua pengawalnya sudah tiba di salah satu klub malam, mobil itu terparkir gagah di tengah puluhan mobil mewah lainnya.
Wanita itu turun saat salah satu pengawalnya membuka pintu untuknya, Sakura mulai berjalan tergesa menuju isi dalam klub mewah itu.
Garvin pun baru tiba, pria itu terdiam untuk sejenak dengan wajah kebingungan, kenapa dia ke sini?" Tanyanya dalam hati sembari turun dan melangkah ke arah pintu klub yang memiliki penjagaan ketat.
"Apa dia datang untuk bersenang-senang? No, aku tidak akan membiarkan dia membahayakan bayiku. Dasar wanita nakal!" Geram Garvin yang berjalan dengan raut marah mendekati lebih dalam klub itu.
Sementara di dalam klub, kini terlihat kekacauan, pemandangan di dalam sana tampak begitu berantakan. Di mana beberapa pria terlihat terkapar di atas lantai keramik hitam klub itu. Juga para wanita malam di dalam sana begitu ketakutan, melihat sosok wanita yang duduk di kursi bar sambil meneguk minuman alkohol.
Yang membuat mereka ketakutan adalah, benda yang ada di tangan wanita cantik itu tidak lain adalah senjata api.
Ia baru saja menghabisi beberapa pria yang mencoba menggoda dan melecehkannya dengan beberapa pria brengsek.
Wajahnya begitu tenang juga santai, penampilannya masih terlihat begitu anggun juga elegan. Penampilan yang membuat para mata pria terbelalak sempurna dengan lekuk tubuh indahnya tercetak jelas dengan gaun malam yang ia kenakan.
"Berikan aku satu botol lagi!" Pintanya kepada seorang pelayan pria yang wajahnya terlihat begitu pucat pun tubuhnya bergetar hebat.
Rose berdecak lidah, melihat ekspresi pria yang melayaninya itu. Sungguh ia begitu lucu melihat sosok pria tampan dengan postur tubuh gagah, begitu takut dengannya.
Ayolah, siapa yang tidak takut melihat kebrutalan wanita berwajah malaikat namun begitu bengis, membantai orang-orang yang mengganggunya dengan membabi buta.
Lantai dasar klub berubah bagaikan ruangan horor, cairan merah ke mana-mana dan beberapa orang tergeletak tidak bernyawa lagi.
Rose hanya menatap malas pada sosok kembarannya ini.
Wanita itu bahkan tersenyum tipis, melihat tatapan murka saudara kembarnya.
"Kau datang?" Tanya Rose melihat saudara kembarnya itu.
"Apa yang ada di pikiranmu, Rose!" Ucap Sakura dengan nada tegas dan mencekam.
Rose tidak menjawab, ia segera bangkit dengan keadaan sempoyongan karena terlalu banyak meminum alkohol.
Sakura hanya bisa menghela nafas panjang, melihat kekacauan yang diakibatkan oleh saudaranya itu.
"Cepat, antarkan aku pulang! Pasti si kembar sudah menunggu," pinta Rose yang berjalan sambil tersenyum penuh luka dan patah hati.
"Kau akan menemui mereka dengan keadaanmu seperti ini? Itu tidak perlu, aku sudah memerintahkan seorang pelayan untuk menjemput mereka dan membawa ke rumah mommy," pungkas Sakura, mengawasi Rose yang berjalan menuju pintu keluar.
"Jadi aku harus ke mana? Apa aku harus menemui keduanya dan menembus kepala mereka dengan senjata ini?" Rose berkata sambil terkekeh perih, kedua sudut matanya bahkan mengeluarkan air mata.
"Katakan, bagaimana aku harus menghabisi mereka? Apa harus aku yang mati? Agar aku tidak begitu sakit hati melihat kebahagiaan mereka?"
"Sakura Kato!" Gertak Sakura mendengar ucapan saudaranya itu. Wanita itu membalikkan badannya, ia sungguh begitu lemah saat melihat salah satu lembarannya terluka.
"Jadi, kau ingin aku terus menahannya di sini? Apa kau tahu rasanya seperti apa? Melihat seorang yang kita cintai lebih memilih bersama dengan pasangan barunya. Apa kau ingin tahu di mana letak yang paling sakit itu? Di sini … di sini, di sini begitu sakit, hingga aku ingin menusuknya saja untuk mengakhiri rasa sakitnya." Rose tidak mampu membendung perasaan yang selama ini ia tahan di dalam rongga dadanya yang begitu sesak. Ia bahkan berkata dengan suara tercekat seakan tenggorokannya terhimpit sebuah bongkahan batu.
Wanita itu bahkan menunjukkan dadanya yang terasa sesak dan sakit. Rose memukuli dadanya dengan tubuh yang sudah meluruh di atas tanah.
Tangisan pilu dan sakit hati itu terdengar begitu menyakitkan, ia dapat mempertahankan sikap tangguhnya di hadapan para pengkhianat, namun ia juga memiliki sisi rapuh yang begitu besar, hingga ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Sakura mendekati saudaranya itu, memeluknya dengan erat yang diikuti tangisan tanpa suara. Sungguh tangisan yang begitu menyakitkan. Melihat saudara yang ia sayangi begitu rapuh.
Garvin menatap nanar kedua saudara kembar itu saling berpelukan, pria itu terus mengamati dalam diam sang istri yang terlihat begitu kesakitan.
Garvin tidak akan membiarkan istrinya semakin bersedih, ia akan mencari tahu semua tentang kejadian yang membuat istrinya itu ikut terlihat rapuh.
🌹🌹🌹
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal gila lagi! Ingat tentang si kembar, mereka pasti sangat kehilangan," ucap Sakura, memberikan peringatan kepada saudaranya itu. Kini mereka sudah berada di dalam mobil Garvin, dengan pria itu terus menatap kedua wanita di belakangnya.
"Bukankah, kalian ada? Aku yakin kau akan merawat mereka dengan baik …."
"Rose!" Bentak Sakura dengan nada tinggi, Garvin bahkan terkejut dan refleks menginjak rem.
"M-maaf, aku tidak sengaja," ucap pria itu dengan wajah tidak nyaman.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan sikap istrimu ini," sahut Rose dengan senyum penuh luka di sana.