
"Ikut denganku hari ini!" Perintah nyonya Soraya kepada Sakura. Mereka kini berada di meja makan.
"Aku tidak bisa, hari ini ada pertemuan penting," sahut Sakura, menolak perintah ibu mertuanya.
Garvin diam, melirik sang mommy yang terlihat kesal dan istrinya yang begitu tenang.
"Bisakah, kau menuruti perintah orang yang lebih tua darimu, apalagi aku adalah ibu mertuamu," seloroh nyonya Soraya yang bersikeras untuk mengajak menantunya.
Sakura menghentikan aktivitas sarapannya, menarik nafas sesaat dan menghembuskan perlahan. Ia memandangi sejenak wajah wanita di depannya itu.
"Baiklah," jawab Sakura yang akhirnya menyetujui permintaan sang ibu mertua.
Senyum puas pun terlihat di wajah nyonya Soraya, ia terlihat menatap Sakura dengan penuh rencana.
Garvin keberatan dengan perintah sang mommy, apalagi istrinya sedang hamil muda dan masih terlalu rentang untuk melakukan aktivitas melelahkan.
"Mom, aku tidak setuju, mommy mengajak istriku ke mall. Dia tidak boleh terlalu lelah," tandas Garvin tegas, mengabaikan tatapan mommynya yang terheran-heran.
"Kami hanya ingin menghabiskan waktu untuk berbelanja, son. Jadi … jangan khawatir, diakan wanita kuat dan mandiri, pasti bisa menjaga dirinya sendiri," sergah nyonya Soraya.
"Ta—"
"Tidak masalah, kau tidak perlu khawatir," sela Sakura, memotong perkataan suaminya.
"Aku hanya khawatir, sesuatu ter—"
"Percaya pada mommy, istrimu akan baik-baik saja," timpal nyonya Soraya, lagi-lagi ucapan Garvin terputus.
Pria itu akhirnya hanya menghela nafas pasrah, ia hanya bisa mempercayakan keselamatan sang istri pada mommynya.
Nyonya Soraya dan Sakura kini sudah berada di dalam mobil yang sama dengan seorang sopir yang mengemudikan mobil tersebut.
Keduanya hanya saling terdiam, tanpa ingin mengeluarkan kata-kata yang akan membuat keduanya saling dekat dan akrab.
Nyonya Soraya bahkan hanya sibuk dengan ponselnya, mengirimkan pesan kepada para geng sosialita untuk menunggunya di salah satu butik di mall tersebut.
Wanita itu hanya melirik sinis ke arah Sakura yang sejak tadi diam, sambil menatap ke arah luar.
Tidak butuh waktu lama, mobil mewah mereka pun tiba di salah satu mall terbesar dan terkenal di kota tersebut.
Nyonya Soraya terlebih dahulu turun dengan penampilannya yang elegan dan modis. Disusul, Sakura yang berjalan santai dengan penampilan sederhananya, celana kain dengan atasan yang memperlihatkan perut ratanya. Penampilan begitu nyaman dan terlihat keren.
"Soraya!" Panggil seorang wanita yang sejak tadi menunggu wanita itu.
Nyonya Soraya melambaikan salah satu tangannya sambil berjalan mendekati keempat sahabatnya.
Mereka saling menyapa sambil terkekeh, hingga tatapan keempat sahabat nyonya Soraya kini teralihkan kepada, Sakura.
Tatapan yang terlihat sinis dan merendahkan, melihat penampilan Sakura yang begitu santai. Apalagi melihat gaya wanita berambut pendek itu yang mana kedua tangannya di dalam saku celana.
"Dia siapa? Lihat, penampilannya begitu buruk," komentar salah satu wanita yang terlihat paling modis, dari segi penampilan dan dandannya.
Nyonya Soraya hanya berdecak lidah, melirik Sakura yang berdiri tepat di sampingnya.
"Hi, nyonya. Aku Sakura Miller. Istri dari putra sahabat anda ini," sahut Sakura dengan wajah biasa saja.
Keempat sahabat nyonya Soraya menganga tidak percaya, melihat penampilan Sakura yang terlihat seperti wanita biasa.
"Hey, Soraya, apa kau kehabisan uang? Sampai memperhatikan penampilan menantumu saja kau tidak peduli," sentak sahabat nyonya Soraya yang lain.
Berhasil membuat wanita di samping Sakura terlihat menahan kekesalan, niat hati ingin mempermalukan menantunya, malah mendapat gunjingan.
"Aku bahkan lebih unggul soal harta dari, ibu mertuaku ini," ucap Sakura dengan tenang.
"Really?! Pekik sahabat nyonya Soraya dengan wajah tidak percaya.
"Gedung ini bahkan milikku," gumam Sakura pelan. Memperhatikan satu persatu wajah-wajah matre di depannya.
"Kalian bisa memilih sesuatu paling mahal di dalam sana," pungkas Sakura dengan enteng, menunjuk ke dalam butik.
"B-benarkah? Kau tidak sedang mempermainkan kami?" Sela wanita lainnya.
"Soraya, kau begitu beruntung memiliki menantu sepertinya," seru sahabat nyonya Soraya yang kini sibuk memilih tas branded yang berjejer indah di etalase khusus.
"Beruntung darimana, kalian belum tahu tempramental wanita ini," ucap nyonya Soraya mencibir.
"Itu karena kau kurang bersyukur," timpal wanita yang berada di samping nyonya Soraya.
Sakura hanya diam, memberikan kode kepada para karyawan butik untuk diam di tempat mereka.
Sakura kini berjalan mendekati ibu mertuanya yang terlihat begitu emosi.
"Ck, jadi tujuan mommy ingin mempermalukanku?" Sentak Sakura yang kini berdiri di samping ibu mertuanya.
"Aku bahkan ingin menyingkirkanmu," balas nyonya Soraya yang diikuti tatapan benci.
Sakura hanya menerbitkan senyum tipis, mendengar ucapan ibu mertuanya. Wanita itu tidak habis pikir dengan pikiran wanita di sampingnya ini, yang begitu membencinya.
"Apa yang anda banggakan dengan wanita itu? Bukankah anda juga tahu dia adalah seorang wanita simpanan para pria?" Tanya Sakura tanpa tertekan. Ia memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap nyonya Soraya.
"Apa karena mereka menyimpan sesuatu darimu, mommy?" Tanya Sakura kembali yang kali ini sukses membuat wajah ibu mertuanya itu berubah gugup.
"Apa itu tentang kriminal yang menyebabkan seorang terbunuh dan pelakunya …."
"Tutup mulutmu! Jangan bicara omong kosong!" Bentak nyonya Soraya yang begitu ketakutan saat mendengar ucapan menantunya ini.
"Kau, membunuhnya dan mengambil posisi wanita malang itu. Apa mommy pikir daddy tidak mengetahui apapun?" Sakura kini berbisik tepat di telinga ibu mertuanya itu.
"Apa kau pikir aku akan membiarkan suamiku bahagia dengan wanita lain?" Nyonya Soraya kini melayangkan tatapan tajam kepada Sakura.
"Tapi, kau memberikan kesempatan kepada wanita lain untuk hadir di pernikahan putramu sendiri," balas Sakura yang membuat ibu mertuanya itu bungkam.
"Sayang, aku menginginkan ini!" Sebuah seruan manja terdengar di dekat mereka. Sakura dan ibu mertuanya menoleh ke arah sumber suara.
Keduanya bisa melihat seorang wanita muda dan masih terlihat segar sedang merengek kepada sosok tinggi yang memunggungi mereka.
Nyonya Soraya dan Sakura bersamaan menyipitkan mata untuk menatap lebih lekat sosok punggung kokoh nan gagah itu.
"Daddy, aku menginginkan ini," kembali wanita muda itu merengek sambil merangkul lengan kekar pria itu.
"Kau bisa memilikinya," ucap pria itu. Yang seketika membuat seluruh tubuh nyonya Soraya membeku. Begitu juga dengan Sakura, yang tiba-tiba tercengang.
"Daddy!" Serunya dan bersamaan pria itu membalikkan badannya dan seketika ketiganya kini sama-sama terkejut dengan tubuh menegang.
"Sakura, Soraya?" Ucap tuan Miller dengan nada terbata.
Wajahnya mendadak pias dengan tubuhnya yang langsung merasakan lemas.
Ia melirik istrinya yang begitu menahan gejolak emosi dan menantunya yang tidak percaya dengan perlakuannya di luar.
"Apa yang daddy lakukan disini? Siapa wanita ini?" Tanya Sakura dengan tatapan kini berpusat kepada wanita yang bersama ayah mertuanya.
"D—"
"Sayang, aku menemukan yang aku mau," gadis yang bersama tuan Miller muncul sambil menenteng beberapa tas dengan harga fantastik.
Melihat itu, nyonya Soraya semakin emosi. Dadanya begitu terlihat sesak dengan raut wajah menahan amarah.
Tidak tahan dengan pemandangan di depannya, nyonya Soraya segera melangkah mendekati suaminya dengan seorang wanita muda.
"Plak, plak,"
"Akh, apa yang nyonya lakukan, siapa anda. Berani-beraninya anda melakukan ini kepadaku yang seorang kekasih dari tuan Miller," pekik wanita itu begitu kesakitan.
Mendengar kata kekasih, nyonya Soraya kini menarik kedua sisi rambut wanita itu, membuat teriakan kesakitan terdengar.
Nyonya Soraya begitu bengisnya menghajar wanita simpanan suaminya dengan menggila. Menjadi bahan tontonan gratis.
Tuan Miller berusaha untuk menghentikan kegilaan istrinya itu, namun kekuatan nyonya Soraya seakan bertambah, apalagi mendapat semangat dari keempat sahabatnya.
Sakura hanya diam menjadi seorang penonton yang menikmati adegan menyenangkan di depannya.