Bad Girl And Good Boy

Bad Girl And Good Boy
bab 39



"Jangan mengasihaniku, aku sudah terbiasa seperti ini. Mungkin aku kebal dengan hinaan dan pemandangan pilu." Garvin menjaga jarak dengan istrinya, pria berambut panjang menutupi kedua cuping telinga itu bangkit, duduk dengan punggung membungkuk, kedua tangannya ka tumpuh di kedua lututnya.


Garvin membuat kedua telapak tangannya itu saling meremas, memandang ke depan dengan tatapan kosong.


Sejenak, Sakura memperhatikan berubah wajah suaminya yang terlihat hampa, apalagi menangkap jelas pemandangan di mana kedua ekor mata suaminya mengeluarkan air mata.


Sakura segera terbangun, wanita itu lantas merengkuh kepala suaminya dan membawa di depan dada.


Sakura berusaha untuk memberikan kenyamanan kepada suaminya itu. Ia tidak hentinya mengusap punggung bergetar Garvin, sambil mencium kepala pria tersebut.


Tidak mampu menahan rasa sesak di rongga dada yang telah lama rapuh, Garvin mengeluarkan seluruh perasaannya itu dengan isakan pilu.


Kepalanya bahkan kini berada di atas pangkuan istrinya, dengan posisi setengah tengkurap.


Tubuh tegap dan kekar itu, terlihat jelas bergetar hingga berguncang, akibat emosi yang selama ini ia simpan terlampiaskan dengan tangisan pilu.


Sakura sendirian hanyalah bisa diam membisu, ikut menitik air mata. Merasakan kesakitan masa lalu sang suami. Tumbuh dalam keluarga kaya dengan suasana dingin mencekam.


Hidup dalam didikan keras dari sang nenek yang sangat membencinya yang hanya terlahir dari wanita ia benci.


Garvin bahkan mendengar sang nenek, begitu malu mengakuinya sebagai keturunan Miller.


Hanya karena terlahir dari rahim seorang wanita sederhana dan pekerja keras.


Demi bisa mendapat pengakuan dari keluarga sang daddy, Garvin belajar dengan giat dan mencoba untuk hidup dengan tangguh dari didikan keras sang nenek.


yang mengharuskan ia pantas menjadi seorang keturunan Miller yang terpandang.


Meskipun harus menelan perih semua perlak kasar dan buruk sangat nenek. Ia juga sangat mengharapkan kasih sayang sang daddy, bisa menghabiskan waktu bersama dan datang ke sekolah untuk sekedar menyapa. Namun hanya perlakuan dingin dan cuek yang Garvin dapatkan.


Sang daddy hanya sibuk bekerja dan para wanitanya, setiap waktu, Garvin kecil akan melihat sang mommy menangis sendiri, walaupun ia selalu bersikap tangguh di depan keluarga suaminya, tapi, Garvin menangkap kerapuhan di dalam diri mommynya.


Garvin kecil juga akan disajikan pemandangan intim yang dilakukan sang daddy dengan seorang wanita pergantian, membawa ke dalam kediaman mewah mereka dan melakukan hal menjijikkan di depan mommynya.


🌹🌹🌹


Tatapan sedih masih terlihat jelas di kedua mata sembab Garvin, saat ingatan masa kecilnya yang penuh kesedihan juga kekecewaan.


Oleh sebab itu, Garvin berjanji akan menjadi seorang ayah yang baik untuk calon buah hatinya, ia tidak ingin calon keturunannya itu mendapatkan hal menyedihkan seperti yang ia alami.


Kekurangan kasih sayang di masa kecilnya, akan ia lampiaskan kepada sang buah hatinya kelak. Garvin akan menjadi sosok ayah sempurna.


Pria itu menarik nafas panjang, mengusap Lela air mata terakhirnya, menegakkan punggung sambil menatap wajah sang istri.


Tatapan penuh luka itu, kini tertuju di perut istrinya. Telapak tangan besarnya terulur untuk menyentuh, menyapa sang buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan.


Garvin kembali membungkukkan punggung tegapnya dan meletakkan wajah tepat di atas perut istrinya itu.


Ia menampilkan senyum ketir, senyum penuh harapan untuk kehidupan calon buah hatinya kelak.


"Hai, baby. Apa kau baik-baik saja di dalam sana? Tumbuhlah dengan cepat dan sehat, dear. Daddy sudah tidak sabar ingin menjumpaimu dengan dekapan hangat. Kau tahu, daddy sungguh bahagia mendengar kehadiranmu di dalam sana. Daddy, berjanji akan selalu menjadi pria terhebat untukmu, sweetheart." Garvin terus berucap sambil mengelus perut istrinya dengan lembut, tidak lupa ia meninggalkan kecupan berulang kali di atas permukaan perut — Sakura.


Sakura hanya tersenyum tipis, mendengar juga melihat perhatian suaminya terhadap janinnya.


Tangan lembutnya tidak henti mengusap rambut ikal sang suami yang memulai memanjang.


"Kau pasti bisa menjadi daddy yang hebat," ucap Sakura lembut, membingkai kedua sisi rahang suaminya yang mendongak dan menatapnya.


"Aku harus melakukannya, meskipun itu sangat sulit, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik," sahutnya yang memperlihatkan senyum lebar.


"Hum," gumam Sakura, sambil menggesekkan hidungnya di hidung Garvin. Kening keduanya kini saling bertemu.


"Mari kita memulainya dari awal! Menjadi seorang pasangan harmonis demi calon buah hati kita!" Garvin menatap istrinya dengan penuh harap.


Pria itu ingin memulai pernikahan sempurnanya dan harmonis, memiliki keluarga kecil penuh kehangatan, seperti yang selama ini ia impikan.