
Garvin dan Sakura tercengang di tempat mereka yang akan menuju ruang makan. Pasangan itu tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Di depan sana, tampak seorang wanita cantik sedang sibuk di depan kompor.
Garvin bahkan tidak bisa berkata-kata, melihat sang mommy kini terlihat lebih fresh dengan penampilan sederhananya.
Wajah sang mommy pun terlihat begitu bersahaja. Sudah lama Garvin tidak melihat sang mommy sibuk di dapur untuk menyiapkan sesuatu untuknya.
"Mommy." Ucap Garvin dengan wajah bahagia. Melihat sang mommy kini kembali kehidupan normal.
Nyonya Soraya mengangkat kepalanya yang sedang memotong sayuran.
Wajah lemah lembut wanita itu tidak bisa menahan diri Garvin untuk segera memeluk mommynya.
"Kalian sudah bangun? Tunggulah di meja makan, sebentar lagi makanan ini akan matang," ujar nyonya Soraya dengan senyum hangatnya.
Sakura pun ikut lega melihat wajah ibu mertuanya yang lebih baik. Ia bersyukur semuanya akan baik-baik saja.
"Mommy," Garvin memeluk tubuh mommynya dari belakang. Sungguh ia sangat merindukan sosok mommynya yang seperti ini.
"Hey, lepaskan. Apa yang kau lakukan, kau ingin membuat mommy tidak bernafas!" Gertak nyonya Soraya sambil menjewer telinga putranya.
Garvin sungguh bahagia, suasana yang dahulu seperti ini kini kembali. Ia sangat merindukan momen seperti ini.
"Aku merindukanmu, mom." Garvin berkata dengan nada tercekat, yang tidak sanggup menahan rasa bahagia dan haru.
"Maafkan, mommy, apabila selama ini terus mengabaikanmu. Mommy terlalu egois untuk mencari perhatiannya, sehingga tidak memperdulikanmu lagi. Semua ini karena perasaan bodoh mommy sendiri. Sekali lagi, maaf atas kesalahan dan kelalaian yang sudah mommy lagi padamu, nak." Nyonya Soraya mengusap wajah tampan putranya itu, ia begitu bodoh lebih mementingkan perasaan pria kejam itu daripada putranya. Yang sangat menyayanginya.
"Tidak mom, melihat dan berada di sisimu sudah membuatku begitu bersyukur. Maafkan aku juga yang sempat meninggalkan mommy sendiri dalam penderitaan. Seharusnya aku terus berada di sisi mommy, saat itu," sahut Garvin yang wajahnya penuh penyesalan.
Saat memilih untuk menjauhi kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya yang tidak baik-baik saja itu. Memilih hidup di kediaman sahabatnya juga bekerja.
Garvin hanya butuh kedamaian dalam hidup tanpa terus menyaksikan ketegangan yang dilakukan oleh kedua orang tua. Garvin bahkan begitu muak melihat wajah daddynya yang begitu sombong dan selalu merendahkannya yang tidak bisa menjadi seorang pria berguna.
Tuan Miller bahkan selalu membandingkannya dengan anak rekan kerjanya yang sudah berhasil menjadi pebisnis hebat.
Garvin saat ini hanya bisa menahan amarahnya yang menggebu, mendengar perkataan daddynya juga sikapnya.
Membuat Garvin sebagai bahan lelucon yang hanya menjadi seorang pria payah juga pecundang.
Mendapat julukan sebagai anak manja yang selalu berada di bayang-bayang kesuksesan orang tuanya.
Dari sanalah, dendam itu muncul untuk sang daddy. Ia memusatkan akan meninggalkan kotanya dan mengunjungi sahabatnya yang ada di negara seberang.
Garvin hanya ingin membuktikan, kalau dirinya bisa menjadi sukses tanpa sanjungan orang-orang atas nama belakangnya.
"Sebaiknya, kau tunggu di meja makan. Mommy ingin menyelesaikan memasak. Lihatlah, istrimu pasti sudah sangat kelaparan, apalagi cucu mommy yang pasti sangat kelaparan di dalam sana," seloroh nyonya Soraya yang menampilkan ekspresi wajah bahagia, apalagi membayangkan cucunya sudah lahir.
Garvin pun menuruti perintah mommynya, kini ia memeluk sang istri dengan perasaan haru.