
Sebuah mobil mewah kini berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah. Seorang pelayan dengan sigap membuka pintu untuk penumpang mobil tersebut.
Nyonya Soraya terlebih dahulu keluar langsung melangkah menuju lobby hotel megah.
Sakura dan Garvin berjalan menyusul sambil berpegangan tangan. Garvin terpaksa mengikuti keinginan istrinya untuk mengenakan gaun pendek di bawah lutut, gaun yang hanya mencetak lekuk tubuh rampingnya.
Mereka berjalan menyusuri lorong hotel hingga tiba di depan sebuah pintu berwarna hitam.
Seorang pria berperawakan tinggi kekar membuka pintu setelah melihat undangan yang ditujukan oleh Garvin.
Pasangan itu pun memasuki ruangan luas yang sudah di penuhi para tamu undangan. Keduanya menjadi pusat perhatian para tamu karena penampilan juga wajah mereka yang terlihat begitu serasi.
"Sayang!" Seruan suara lembut, mengalihkan perhatian pasangan suami-istri itu dari kemegahan acara, Sakura dan Garvin menatap lekat Charlotte yang masih duduk di kursi.
Wanita itu terlihat mendekat, Garvin bahkan menoleh untuk melihat reaksi sang istri, namun Sakura terlihat sangat tenang dan biasa saja.
"Sayang, akhirnya kau datang juga. Sejak tadi aku menunggu," ucap Charlotte dengan senyum cerah melihat kehadiran Garvin.
Charlotte mengabaikan keberadaan Sakura di sisi pria yang masih mengklaim adalah kekasihnya, Charlotte bahkan mendelik sinis ke arah Sakura.
Dengan wajah bahagia, Charlotte berniat untuk memeluk pria di hadapannya, namun, Garvin menggeser tubuhnya ke samping, untuk menghindar dari Charlotte.
Wanita yang duduk di kursi roda terlihat tercengang, menyadari sikap Garvin yang menghindar.
"Sayang, aku merindukanmu," Charlotte sekali lagi mencoba mencari perhatian Garvin dengan memasang wajah sendu juga kedua mata berkaca-kaca.
Namun semuanya tidak terpengaruh kepada pria di depannya yang terlihat begitu tenang sambil terus menggenggam tangan istrinya.
Tatapan Charlotte begitu tajam ke arah tautan tangan pasangan di depannya.
Dada Charlotte terlihat naik turun dengan cepat, wajah terlihat menahan emosi. Charlotte begitu ingin menjambak rambut Sakura yang sudah merebut kekasihnya.
Tatapan tidak suka Charlotte kini memindai penampil Sakura yang terlihat anggun dan berkelas, wajah wanita di depan terlihat sangat cantik.
Dibandingkan dengannya, Charlotte menjadi tidak percaya.
"Sial, dia terlihat lebih unggul dariku," tandas Charlotte dalam hati sambil melirik tajam ke arah Sakura.
"Ayo, honey!" Garvin berseru, mengajak istrinya untuk menemui rekan kerja sang mommy.
Sakura terlihat menolak, wanita itu kini tersenyum, mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, sengaja ingin memamerkan keromantisan juga hubungan kuat kepada — Charlotte.
Jangan tanya mimik wajah Charli yang begitu merah padamu, amarahnya semakin membuncah melihat kemesraan Garvin dan Sakura.
"Ada apa?" Tanya Garvin dengan kening terlipat.
"Sepertinya, kau harus benar-benar menyelesaikan urusan kalian. Aku tidak ingin bekas apapun dari wanita ini," bisik Sakura dengan jarak wajahnya begitu dekat di atas bibir Garvin.
Melihat adegan romantis di depannya, Charlotte hanya bisa menahan emosinya, wanita itu kini kembali memasang wajah menyedihkan, ia tidak akan membiarkan Garvin menjauh darinya.
Ia akan terus mengikat Garvin untuk selamanya, ia tidak keberatan untuk menjadi seorang wanita simpanan, asalkan ia terus berada di sisi seorang, Garvin Miller.
🌹🌹🌹
"Wow, kau sungguh ingin menyingkirkanku? Lalu menjalan hubungan kuat dengannya? Apa kau serius? Dengan seorang wanita yang nyatanya tidak lebih baik dariku dari sisi manapun." Charlotte, berkata dengan membanggakan diri di depan garvin, mengejek Sakura yang menganggap dirinya lebih baik dari segala hal.
"Katakan! Apa ini hanya bualan? Kau hanya mempermainkan demi harta bukan? Atau demi bayi yang ada di rahimnya? Kalau iya, aku bersedia menjadi seorang mommy sambung untuk keturunanmu," lanjut Charlotte dengan wajah yang begitu yakin, ia juga kini meraih telapak tangan Garvin.
Sementara Garvin begitu tidak suka dengan apa yang dikatakan mantan kekasihnya ini.
"Katakan sayang, kau hanya bermain-main dengannya bukan? Aku akan bersabar sampai bayi itu lahir dan aku akan siap menjadi ibu setelah. Jadi …."
"Kau tidak berhak dengan itu. Kau hanya wanita biasa dan tidak berhak mengambil posisi agung seorang ibu yang susah payah mengandung selama sembilan bulan dan kau ingin mengambil senikmat dari perjuangan seorang ibu? Ck, sungguh pikiranmu sangatlah sempit." Garvin mendesis sinis ke arah Charlotte sambil menghempaskan tangan wanita di depannya.
"Tapi, aku mencintaimu dan masih kekasihmu, jadi aku berhak un …."
"Ingat, hubungan kita sudah berakhir. Aku harap sampai di sini kau sudah memahaminya dan jangan menggangguku, karena aku tidak akan menjalin hubungan seorang wanita yang juga berhubungan intim dengan daddyku," tandas Garvin dengan raut yang terlihat begitu murka.
Berbeda dengan wajah Charlotte yang tampak pias dan tidak percaya, Garvin mengetahui hubungan gelapnya dengan tuan Miller.
"I-itu tidak be—"
"Cih, jangan pikir aku seorang pria bodoh yang selalu kau permainkan, Lotte. Apa kau pikir aku buta tentang perbuatanmu di belakangku? Begitu banyak pria yang berhubungan denganmu." Pungkas Garvin dengan tatapan tajam, menghunus ke arah Charlotte yang terlihat tegang dengan wajah memucat.
"Aku tidak melakukan apapun dengannya, dia yang lebih dulu menggodaku dan memberikan aku sesuatu yang tidak kau berikan!" Pekik Charlotte dengan suara bergetar dengan wajah yang terlihat ketakutan
Garvin terdengar terkekeh sinis, tatapannya begitu tajam ke arah mantan kekasih yang ternyata sama brengseknya dengan sang daddy.
"Dia tidak akan datang, kalau bukan sebuah umpan yang lezat kau berikan. Katakan! Berapa jam kau bergerak dan mendesah di bawahnya," tandas Garvin sambil tersenyum miring.
Keduanya masih berada di sana, di mana para tamu berlalu lalang, namun tidak satu orang pun memperhatikan perdebatan mereka.
Charlotte terlihat menitikkan air mata sambil terisak, mencoba mencari perhatian para tamu yang sedang melewati mereka.
Melihat itu, Garvin hanya tersenyum merendahkan, "tidak akan ada orang pun peduli denganmu, yang hanya seorang wanita murahan," bisik Garvin disertai tatapan cemoohan.
Wajah Charlotte berubah penuh benci dan dendam, kedua matanya yang bergenang air mata terlihat menghunus tajam pada Garvin.
Garvin sendiri yang sudah begitu muak, memilih untuk meninggalkan Charlotte, menurutnya tidak ada yang perlu dijelaskan dan juga tidak penting untuk melakukan penjelasan kepada wanita murahan seperti Charlotte.
Charlotte tentu saja tidak akan menerima penghinaan yang ia dapatkan dari pria yang selalu memperlakukannya bagaikan seorang putri raja. Tentu saja Charlotte tidak ingin kehilangan sosok yang selalu memberikan apa yang ia inginkan.
"Aku pastikan kau akan kembali ke dalam pelukanku." Wanita itu berkata dengan pelan yang kedua matanya masih menatap punggung, Garvin.