
"Hum, tetap awasi semuanya! Jangan lupa untuk merekam perbuatan mereka!" Sakura berada di balkon, menerima panggilan dari anak buahnya untuk memantau ibu mertuanya agar mendapat sebuah pion untuk menghancurkan wanita itu.
Sakura mematikan panggilan, ia melemparkan ponselnya begitu saja ke sofa. Kini ia memandangi langit malam dengan helaan nafas panjang. Memejamkan kedua mata untuk sesaat, merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang terasa menerpa wajahnya.
Wanita itu terloncat kaget, saat merasakan sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya. Sakura hanya melirik dengan diam, saat suaminya kini memeluknya dari belakang.
"Kenapa kau disini? Dan … apa yang kau lakukan? Kau melepaskan infusnya?" Cerca Sakura, menyadari pergelangan tangan suaminya kini membengkak dan mengeluarkan sedikit cairan merah.
Garvin hanya diam, pria itu menyerukan wajah di leher istrinya, mengendus aroma tubuh sang istri dengan rakus.
"Aku ingin berada di dekatmu, tapi, kau malah berada di sini," tandas pria itu dengan nada merajuk.
Sakura terdiam, ia membalikkan badan, menatap wajah suaminya yang masih terlihat lemah.
Wanita itu membawa suaminya duduk di sofa, meraih telapak tangan suaminya yang meneteskan darah.
"Aku hanya menerima panggilan penting," ujar Sakura, membalut bekas infus dengan tissue.
Garvin terus memperhatikan wajah dingin istrinya itu, ia menerbitkan sebuah senyuman indah dengan perasaan yang kembali seperti dahulu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Sakura, saat menyadari tatapan suaminya terus menatapnya.
"Apa kau sudah tertarik denganku?" Tanya Sakura kembali, kali ini dengan senyum sinis.
Garvin masih diam, nyatanya sekarang dirinya begitu gugup ingin mengatakan sesuatu yang amat penting.
Namun dorongan egonya begitu tinggi, hingga ia menekan niatnya itu untuk dirinya sendiri. Biarlah, ia menyimpan sesuatu yang sejak dulu ingin ia katakan, sebelum wanita yang sekarang menjadi istrinya menghilang. Membuatnya menyadari satu hal, Garvin pun memilih untuk kembali ke kotanya, memulai hubungan baru dengan seorang wanita masa lalunya.
Hingga wanita yang membuatnya kecewa datang kembali ke kehidupannya dan menjadi pasangan hingga sekarang.
"Ck, i-itu tidak akan mungkin terjadi. Aku hanya melakukannya demi dia," jawab Garvin, mencoba mengelak sambil membuang pandangannya, ia juga sedikit gugup.
Sakura hanya menanggapi tidak acuh, bangkit dari sofa untuk kembali ke dalam kamar.
"Kau harus banyak istirahat, udara malam tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Sakura, meninggalkan suaminya begitu saja.
Garvin bahkan terdiam, menatap punggung istrinya hingga menghilang.
Pria itu menghela nafas panjang, jujur ia perasaan yang sekarang ini ia rasakan begitu menyiksa.
"Mungkin belum saatnya, untuk mengatakannya," gumam pria itu dengan lirih.
Menyusul langkah istrinya ke arah ranjang. Pria itu sudah melihat Sakura yang sudah siap untuk tidur.
"Kau memutuskan hubungan kalian? Apa kau sudah mengetahui watak sebenarnya kekasihmu itu?"
Sakura hanya berdecak mendengar ucapan suaminya, ia membantu Garvin untuk membaringkan tubuh tingginya itu.
"Watak bagaimana?" Tanya Garvin dengan wajah mengkerut.
Sakura tidak menyahut, ia hanya diam sambil membelakangi suaminya.
"Aku melakukan ini demi anakku, aku tidak ingin memberikan kesan buruk tentang diriku. Aku ingin dia kelak selalu bersama dan menjadikanku teman sejati," pungkas Garvin tulus, menempelkan dadanya di punggung sang istri. Salah satu tangannya terulur untuk mengusap perut istrinya itu.
Ia kembali menghirup aroma tubuh sang istri dengan kedua mata terpejam.
"Biarkan, seperti ini. Aku merasa lebih tenang!" Bisik Garvin, tepat di telinga sang istri.
Sakura pun membiarkan, tanpa berniat untuk kembali mengajak suaminya untuk berbicara.
"Kau tidak ingin mengetahui tentang wanita itu?" Sakura kembali bertanya dengan nada datar. Tatapannya menerawang ke depan, merasakan usapan lembut tangan Garvin.
"Tidak! Aku sudah mengetahuinya," sahut Garvin lirih.
Sakura begitu terkejut, hingga wanita itu refleks membalik badan, menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit kecewa.
"Kapan?" Tanya Sakura kembali.
"Malam di mana aku memaksamu," sahut Garvin yang menampilkan senyum tipis.
Pria itu lalu mengubah posisinya menjadi telentang, menjadikan salah satu tangannya sebagai bantal, sedang Sakura kini meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, memeluk tubuh tinggi Garvin.
"Apa yang kau lakukan, seandainya aku tidak hamil? Apa kau akan terus diam dan menjalani hubungan dengannya?" Sakura kembali bertanya, kali ini ia mengangkat sedikit kepalanya.
Garvin terdiam, namun helaan nafas berat menjawab semua pertanyaan Sakura.
"Aku hanya ingin membahagiakan, mommy," pria itu membalas dengan suara mencicit.
Tatapannya begitu dalam ke arah plafon, tentang permintaan mommynya yang ingin ia dan Charlotte menjalin hubungan. Ia yang sangat menyayangi mommynya, dan tidak ingin terus melihat wanita itu terluka.
Garvin pun rela dan mencoba untuk menerima Charlotte sebagai kekasihnya, hingga perasaan tertarik pun muncul. Namun kembali kecewa saat melihat wanita itu sedang bermesraan dengan seorang pria.
Sakura menarik sudut bibirnya sebelah, tersenyum sinis, saat mendengar tentang ungkapan Garvin mengenai nyonya Soraya.
"Mungkin kau akan begitu terluka, saat mengetahui tentang kehidupan lain, wanita itu," ucap Sakura pelan, kembali meletakkan kepalanya di dada sang suami.
Garvin terdiam dengan sebelah tangannya mengusap rambut Sakura dengan lembut.