
Kini mereka berada di ruangan khusus pemilik bangunan mewah pusat perbelanjaan. Sakura, kedua mertuanya juga seorang wanita muda yang merupakan baby sugar sang ayah mertua.
Sakura hanya terdiam di sudut ruangan yang terdapat kursi berbahan kayu mewah. Wanita itu menyaksikan dengan lekat, perdebatkan kedua mertuanya.
Sakura juga menatap sinis ke arah wanita yang jauh lebih muda dari ayah mertuanya itu. Penampilan wanita tersebut begitu terbuka layaknya seorang wanita simpanan.
Sakura sendiri baru tahu konflik kepanjangan kedua mertuanya. Wanita itu tiba-tiba teringat suaminya dan merasa kasihan, harus tumbuh dari keluarga yang bermasalah.
"Apa nasibnya akan sama dengan sang daddy?" Sakura berkata dalam hati sambil mengusap perutnya. Ia hanya bisa berdoa agar kehidupan calon buahnya tidak seperti dengan sang daddy.
"Baby, kau bisa menungguku di tempat biasa!" Perintah tuan Miller kepada wanita simpanannya dengan nada lembut. Berhasil membuat amarah nyonya Soraya begitu menggebu.
Saat melihat suaminya yang sudah menemani selama puluhan tahun begitu gu lembut kepada seorang wanita lain, daripada dirinya yang selalu mendapatkan sikap dingin juga terabaikan.
Tanpa sadar, setetes air mata mengalir di ekor mata wanita itu. Melihat kehangatan suaminya kepada wanita lain.
"Baiklah, honey, aku akan menunggumu. Cepatlah kembali! Bukankah, kita akan melakukan sesuatu untuk merayakan kebersamaan kita yang satu tahun?" Pungkas wanita itu yang menggelayut manja di leher tuan Miller, melirik ke arah nyonya Soraya sambil memasang senyum miring.
"Pasti, aku akan segera menemui," sahut tuan Miller, mengecup kening dan bibir wanitanya.
Namun wanita itu sengaja menahan tengkuk tuan Miller, menyesap bibir prianya sambil tersenyum ke arah nyonya Soraya.
Sakura dan nyonya Soraya hanya bisa membuang pandangan, melihat adegan memalukan di hadapan. Sakura begitu syok, melihat sisi liar ayah mertuanya itu.
Nyonya Soraya terdengar berdecak lidah, saat melihat wanita yang merupakan simpanan suaminya sendiri selama setahun sudah keluar dari ruangan itu.
Tuan Miller begitu cuek, pria itu seakan tidak memiliki masalah, duduk di sofa dengan santai sambil memainkan ponselnya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, Miller! Dan … kapan kau akan menganggapku ada dan sebagai istrimu!" Nyonya Soraya menyuarakan isi hatinya yang sejak tadi berkumpul di rongga lehernya.
"Sampai kapan aku harus menunggumu untuk bisa menerimaku. Aku bahkan rela melakukan hal menjijikkan, hanya untuk mendapatkan rasa sedikit marah sedikit saja darimu. Mendapatkan perhatian, walaupun itu hanya sedikit dan sesaat." Ungkapan hati nyonya Soraya begitu pilu dan menyesakkan.
Sakura bahkan terkejut, melihat kerapuhan ibu mertuanya yang selalu terlihat begitu angkuh.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, semua ikatan ini hanya demi seorang darah dagingku. Bagaimanapun, aku tidak akan mencintai wanita yang sudah melenyapkan kekasih tercinta. Bersenang-senanglah, karena aku menikahimu, menjadikan impianmu sebagai wanita yang bergelimang harta." Tandas tuan Miller dengan suara begitu tenang, namun setiap kata-katanya mampu membuat Sakura ikut merasakan perih di dalam rongga dada.
Melihat ibu mertuanya begitu merendahkan diri hanya untuk mendapatkan pengakuan dan cinta terbalaskan.
Juga sifat asli ayah mertuanya yang begitu dingin dan kejam terhadap istrinya sendiri.
Tuan Miller melupakan menantunya berada di dalam ruangan itu, hingga ia memperlihatkan wajah aslinya di hadapan — Sakura.
Nyonya Soraya hanya bisa menundukkan wajahnya dengan tangisan yang begitu sesak. Sampai-sampai tubuh wanita itu bergetar, ia juga menepuk dadanya yang terasa sesak, agar bisa meredakan rasa sakit itu.
Cinta yang nyonya Soraya miliki untuk suaminya begitu besar. Keduanya dahulu adalah seorang sahabat yang sangat dekat.
Namun persahabatan itu harus ternoda dengan perasaan cinta dan memiliki yang ada di hati nyonya Soraya.
Ia mengklaim kepada semua orang kalau dirinya dan tuan Miller adalah sepasang kekasih.
Soraya sangat posesif kepada tuan Miller. Yang berakhir, tuan Miller menghindari sahabatnya yang begitu aneh dan mengerikan.
Dan hubungan keduanya semakin menjauh, disaat tuan Miller mengagumi seorang wanita cantik yang merupakan siswa baru.
Tuan Miller merasakan cinta pertamanya adalah sosok wanita cantik itu.
Hingga tuan Miller berhasil menjalin hubungan dengan wanita pujaannya dan membuat persahabatannya dengan Soraya benar-benar berakhir.
Apalagi sikap agresif Soraya yang berulang kali membuatnya salah paham dengan kekasihnya.