
"Apa yang akan kau lakukan?" Sakura mendelik tajam suaminya, saat pria yang berada di depannya itu, menariknya lebih dekat ke tubuh lemah suaminya itu.
Garvin hanya diam, ia terus mengendus ke arah istrinya yang sekarang jarak mereka sangat dekat.
"Lepaskan, kenapa kau mengendus seperti itu?" Tanya Sakura kesal, menjauhkan wajah Garvin yang terus mengendus bagian ceruk lehernya.
"Aku suka wanginya," sahut Garvin, sengaja mengunci pergerakan istrinya itu dan terus menarik nafas di ceruk leher Sakura.
Sakura menjadi tidak nyaman dan terus menghindar, namun suaminya itu masih berusaha untuk meraup puas aroma tubuhnya.
"Diamlah, aku hanya ingin berada di sini. Aku sungguh menyukai aroma tubuhmu," Garvin berbisik tepat di ceruk leher istrinya. Pria itu sengaja menghembuskan nafas hangatnya di sana, juga meninggalkan kecupan basah.
Membuat seluruh tubuh Sakura meremang, ia hanya diam dengan tubuh menegang. Lidahnya mendadak kelu saat ingin mengeluarkan makian dan perlawanan.
Kedua mata wanita itu refleks terpejam, ketika kecupan suaminya menyusuri sejengkal demi sejengkal leher jenjangnya, hingga ke tulang selangka yang merupakan area sensitif seorang kaum wanita.
Sakura sekuat tenaga ingin melawan sesuatu perasaan yang tiba-tiba terpercik oleh perlakuan sang suami.
Ia ingin mengelak dan menolak, saat kedua tangan suaminya tidak tinggal diam, yang kini mengisolasi punggungnya dan tangan lainnya, membelai area perut.
Garvin sengaja mengusap perut istrinya yang terdapat janinnya di sana, sambil mengecup bagian dada atas sang istri.
Pria itu melirik ke atas, memperhatikan perubahan wajah Sakura yang sudah tampak merah dengan kedua mata terpejam. Dada istrinya membusung dengan deru nafas naik turun begitu kencangnya. Membuat Garvin lebih berani untuk lebih dalam mencumbu area dada milik istrinya. Kini pakaian yang dikenakan Sakura sudah lepas, meninggal dalaman sport yang membungkus kedua benda yang menjadi sumber makanan untuk calon buah hati mereka.
Garvin menghentikan kegiatan menyenangkannya sesaat, menatap kedua benda indah yang kini membusung di depan wajahnya dengan ekspresi kagum.
Sakura membuka kedua matanya, saat merasa cumbuan suaminya kini berhenti, tatapan keduanya kini saling bertemu, tatapan yang sudah dihiasi perasaan mendalam untuk saling berbagi kenikmatan.
“A-apa, aku boleh merasakannya? sebelum dia hadir dan menjadi penguasa kedua bukit indah ini,” ucap Garvin, meminta persetujuan istrinya untuk berselancar di sekitar area pribadinya.
Sakura yang juga sudah terpercik pancingan suaminya hanya diam, tapi kedua mata wanita itu mengatakan, ia juga menginginkannya. Mungkin ini semua karena hormon kehamilan yang ia alami, hingga ia berulang kali menginginkan suaminya ini, untuk, menyentuhnya. Kerana ego, ia hanya bisa diam dan menekan bawaan hasrat itu sendiri.
Garvin masih menatap istrinya lekat, saat melihat keinginan menggebu di kedua binar mata istrinya, Garvin kini dapat tersenyum lebar.
“Baiklah. karena kau setuju aku mendakinya, maka aku tidak akan menolak tantangan untuk memasuki gua ajaib, ternyata aku juga ingin mengunjunginya,” bisik Garvin dengan kedua alis naik-turun, senyum pria itu bahkan terlihat mesum.
Sakura lagi-lagi hanya diam, wanita itu lantas menjauhkan tubuh dan berpindah ke samping membaringkan tubuh.
Melihat istrinya yang sudah terbaring, Garvin segera melepas seluruh kain yang membungkus di tubuhnya, ia bahkan mengabaikan rasa sakit di tangannya yang masih terpasang infus.
“Mama love, bisakah kau membantuku melepaskan ini?” pinta Garvin, mengarahkan pandangannya
ke arah bagian bawahnya.
Dengan ragu. Sakura mendekati tubuh bagian bawah suaminya itu, kedua tangannya sudah terulur untuk melepas kain lembut yang terpasang di sana, namun semuanya terhenti saat pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka.
Sakura dan Garvin sontak saja terkejut, pandangan keduanya kini bersamaan mengarah ke pintu dan melihat, sang mommy masuk dengan wajah tenang.
Sakura segera kembali ke tempatnya dengan membungkus tubuh, sedangkan Garvin tampak menahan emosi saat kegiatan menyenangkan dengan sang istri terganggu’
“Mom, ap ….”
“Putraku, kau sudah sehat?” perkataan Garvin terpotong saat suara sang mommy terlebih dahulu menyapa.
Nyonya Soraya melangkah lebih mendekat ke ranjang putranya, wanita itu mendesis saat melihat punggu terbuka Sakura. Ia juga mencebikkan bibirnya yang berwarna merah menyala itu. kini wanita itu duduk di sisi putranya yang sedang menahan kekkesalan. Tangan lembut itu terulur untuk memeriksa suhu tubuh putranya.
“Sungguh malang nasib putraku ini, sakit dalam keadaan tidak terawat padahal ia memiliki istri yang hanya mementingkan dirinya. Cih, istri macam apa seperti itu.” ucap nyonya Soraya dengan sinis, memandang ke arah Sakura yang hanya diam dengan kedua mata terpejam.
Garvin tidak dapat menahan emosinya setelah mendapat gangguan dari sng mommy, kini ia juga harus mendengar istrinya digunjing oleh mommynya sendiri.
“Mom! bisakah, mommy lebih menghargai privasiku? Please, mom! Terapkan peraturan yang selama ini mommy jaga, saat masuk ke dalam kamar yang bukan milik, mommy.” pungkas Garvin, yang mendadak membuat wajah mommynya melongo tidak percaya, kali ini ia melihat putranya berani menolaknya seperti ini.
"A-apa?! Sahut wanita itu yang lantas bangkit dari duduknya, menatap wajah jengah sang putra. Sungguh membuat nyonya Soraya begitu tercengang dan ia kembali menyalahkan semua perubahan sikap putranya ke Sakura.
Wanita itu kembali melemparkan tatapan tajam ke punggung menantunya, dengan penuh kebencian juga dendam.
"Jangan menatap istriku seperti itu. Dia akan mengalami ketakutan berat dan mempengaruhi janin kami," sentak Garvin, menegur sang mommy saat melihat tatapan wanita di depannya kepada sang istri.
"Aku mommy mu, Garvin. Dan kau tidak pernah bermasalahkan itu," nyonya Soraya menyahuti perkataan putranya dengan mendelik tidak terima.
Garvin yang sudah merasa sesak dibawah sana, hanya bisa menghela nafas frustasi, ingin rasanya ia mengusir dengan kasar sang mommy dan membalik tubuh istrinya lalu melakukan sesuatu yang akan membuatnya lega.
"Aku tahu, mom, tapi … itu dulu, dan sekarang aku harus melindungi privasi istriku, bukan?" Sergah Garvin yang kini memposisikan tubuh bersandar di belakang.
Nyonya Soraya yang sudah begitu muak, segera membalikkan badannya, ia melangkah dengan hentakan kaki kasar. Ia juga tidak hentinya bersungut-sungut. Memaki dan mencibir menantunya.
"Aku berjanji, akan membuat wanita itu pergi dari kehidupan putraku. Enak saja, orang asing itu ingin mempengaruhi pikiran putraku yang sudah lama aku kuasai," menolong nyonya Soraya.
Wanita itu kembali menghentikan langkahnya, saat merasakan getaran ponsel yang ada di tangannya.
Ia tersenyum cerah, saat menerima pesan dari nyonya Nyla agar mereka bertemu di salah satu kamar hotel. Tidak lupa, wanita itu mengirimkan gambar sosok pria muda dengan sejuta pesona.
Membuat jiwa liar wanita itu tidak sabar ingin segera menyusul sahabatnya itu.
"Baiklah, sebelum melakukan rencana untuk wanita aneh itu. Aku butuh setingan nikmat terlebih dahulu." Pungkas nyonya Soraya dan ia kembali melanjutkan langkahnya ke arah pintu utama Mansion.