Bad Girl And Good Boy

Bad Girl And Good Boy
bab 44



"Apa kau yakin dengan perasaan cinta?" Sakura mendekati suaminya yang duduk di meja kerja. Wanita itu merasa bosan berada di dalam kamar, ia pun menyusul Garvin yang sedang melakukan pekerjaannya.


Sakura duduk di pangkuan suaminya, merebahkan kepala di dada bidang sang suami, tubuhnya bergulung di pelukan hangat — Garvin.


Pria itu meninggal pekerjaan penting itu dan lebih memilih mengutamakan sang istri.


Pria jangkung dengan kulit eksotis itu, melepaskan kacamata yang ia pakai, membalas pelukan Sakura yang kedua tangan wanita itu melingkarkan di kedua sisi pinggang.


Garvin pun mengecup kening sang istri penuh kasih sayang. Sakura begitu nyaman berada di pelukan suaminya ini. Wanita itu bahkan menyusupkan kepala ke dalam baju hangat oversize yang Garvin pakai.


"Hum, aku percaya dan aku sangat merasakannya," sahut Garvin, pria itu berkata tepat diatas ubun-ubun istrinya.


Sakura terlihat merubah raut wajahnya, wanita itu menjauhkan diri dari pelukan hangat Garvin, menatap penuh lekat suaminya.


Sungguh ia begitu membenci saat suaminya ini membicarakan seorang wanita asing.


Garvin tersenyum, melihat wajah cemberut istrinya. Membuat wanita itu terlihat lebih imut.


"Memiliki perasaan cinta kepada seseorang begitu menyenangkan, aku bahkan semakin berdebar-debar saat bersamanya," Garvin meletakkan salah satu telapak tangan di punggung istrinya, mendorongnya lembut. Membuat tubuh keduanya kembali mendekat.


"Jadi kau masih mencintainya?" Sakura bertanya, meletakkan kedua tangannya di depan dada Garvin, hingga membuat jarak di antara mereka.


Tatapan mata Sakura terlihat melotot tajam suaminya, sedang Garvin menampilkan senyum tipis, memainkan rambut istrinya yang mulai menutupi kedua cuping telinga.


"Hum, aku sangat mencintainya, mencintai wanita yang sekarang sedang mengandung benihku." Garvin menegangkan punggung membuang jarak wajah mereka.


Sakura hanya bisa tertegun, mendengar ucapan suaminya sambil memandangi kedua mata Garvin yang terlihat begitu serius.


Garvin kali ini membenarkan posisi tubuhnya, ia merubah raut wajah serius. Sudah saatnya pria itu mengatakan tentang perasaan tertarik yang sejak dulu ia simpan untuk wanita yang berada di hadapannya ini.


Jujur ia merasakan perasaan itu jauh sebelum menghabiskan malam panas.


Namun Garvin masih ragu akan perasaannya dan merasa menolak pilihan hatinya itu kepada wanita seperti Sakura.


"Jadi, kau …."


"Hum, aku sudah menyukaimu sejak dulu. Entah sejak kapan aku menyadarinya, yang jelas setiap melihatmu aku selalu merasa deg-degan, karena tidak ingin dikatakan pria aneh mencintai seorang wanita sepertimu, aku mencoba membuang jauh perasaan itu. Baru saja aku ingin menempatkan dirimu di hatiku, kau sudah menghilang." Pengakuan Garvin berhasil membuat Sakura melongo tidak percaya. Setahunya, suaminya ini begitu membenci dan selalu menghindar.


Sakura bahkan harus bersikap dominan daripada Garvin, agar pria di depannya ini bisa menjadi miliknya.


Sakura menelisik raut wajah Garvin dengan tatapan lekat, wanita itu begitu tidak percaya, sosok pria yang dulu selalu mengatainya wanita aneh, ternyata menyimpan perasaan.


"Aku pasti terlihat begitu payah dan pecundang. Mencintai seorang wanita tapi tidak ingin mengakuinya," lanjut Garvin, menghempaskan punggung lebarnya ke belakang. Di mana kedua tangannya masih bertengger di kedua pinggang ramping Sakura.


Sakura mencoba mengontrol rasa terkejutnya, ia bangkit kini mengubah posisi duduknya dengan kedua kaki berada di kedua sisi tubuh suaminya.


Wanita itu meletakkan kedua tangan di leher Garvin sambil merapatkan tubuh.


Kembali Sakura menyusut tubuh rampingnya masuk ke dalam sweater oversize Garvin. Sakura mendekati wajah suaminya hingga hidung mancung mereka saling bertemu.


"Benarkah, kau begitu mencintaiku?" Tanya Sakura untuk lebih menyakinkan dirinya.


"Iya, aku sangat mencintaimu," sahut Garvin, meletakkan salah satu telapak tangan di wajah cantik istrinya.


"Bisakah, kau mengajariku untuk mencintaimu? Jujur aku masih ragu dengan perasaan ini," ucap Sakura dengan lirih.


"Kau masih ragu kepadaku?" Garvin menegangkan punggung agar lebih dekat dengan istrinya.


"Tidak, aku hanya ingin menyakinkan perasaku kali ini," Sakura memberikan sebuah jawaban, meletakkan kembali kepalanya sambil mengusap dada bidang suaminya itu.


"Baiklah, aku akan melakukan apapun agar bisa menjadi pria yang kau cintai," seloroh pria itu sambil memeluk istrinya.


"Kita, akan memulai detik ini untuk saling menyayangi. Membangun hubungan yang kuat juga hangat." Sakura menyahuti ucapan suaminya dengan nada lembut juga sikap lemah lembutnya.


🌹🌹🌹


Waktu pagi sudah tiba, terlihat di kediaman mewah Miller sudah melakukan aktivitas masing-masing bagi para pelayan.


Kini di ruangan makan sudah tersedia berbagai jenis sarapan pagi sehat untuk anggota keluarga.


Nyonya Soraya lebih dahulu berjalan menyusuri lorong yang ada di lantai dua untuk menuju lantai dasar dengan penampilan modisnya. Langkah wanita itu penuh ketegasan kuat sebagai seorang wanita karir.


Meskipun usianya tidak muda lagi, namun garis kecantikan masih jelas terlihat. Tubuh ramping, idealnya terlihat begitu terjaga membuat wanita berusia 50 tahun masih tampak bugar dan segar.


Para pelayan kini membungkuk badan untuk menyapa sang nyonya besar di kediaman mewah Miller.


Saat tiba di lantai dasar, nyonya Soraya bisa melihat putra dan menantunya yang berjalan sambil berpegangan tangan.


Wajah putranya pun terlihat semakin bahagia, tidak ada lagi raut wajah penuh tekanan di raut putranya itu.


"Mom!" Sapa Garvin, saat menyadari keberadaan mommynya di belakang tubuh mereka.


Nyonya Soraya hanya tersenyum, menghampiri putranya lalu memberikan kecupan sayang di pagi hari.


"Pagi sayang, kau terlihat bahagia!" Seru nyonya Soraya sambil melirik ke arah menantunya.


"Aku harus tetap bahagia mulai sekarang, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang daddy," sahutnya dengan ekspresi antusias.


Nyonya Soraya hanya tersenyum, mengelus lengan putranya, setelah itu melanjutkan langkah mereka.


Ketiganya terlihat kompak berjalan mendekati ruangan makan, sambil saling bercengkrama hangat.


Namun langkah ketiganya berhenti saat melihat sosok wanita lain di depan sana, wanita itu duduk di kursi nyonya Soraya. Membuat wanita itu kembali kehilangan kesabaran untuk menghadapi sikap seenaknya saja wanita.


"Kau!" Sentak nyonya Soraya yang terkejut, melihat wanita simpanan suaminya yang terlihat begitu pongah duduk di dekat tuan Miller sambil menerima suapan dari pria ini.


Wanita muda itu dan tuan Miller tampak mengalihkan perhatian ke arah pintu.


Wanita simpanan tuan Miller terlihat tersenyum senang sambil memamerkan keromantisan mereka.


Jangan tanyakan tentang wajah nyonya soraya, yang berkeinginan untuk merusak wajah sombong wanita di depannya ini.


Garvin hanya bisa diam dengan tatapan nyalang melihat kepada sang daddy yang terlihat begitu menikmati sarapannya.


Sakura menggenggam telapak tangan suaminya yang sejak tadi. Wanita itu mengerti apa yang sekarang ini, Garvin rasakan.


Hidup dalam bayang-bayang di masa lalu membuatnya merasakan trauma dan psikisnya terganggu.


Sungguh Garvin begitu membenci daddynya sendiri. Yang selalu membawa seorang wanita malam ke dalam kamar pribadi milik tuan Miller.