AYONIMA

AYONIMA
SEASON 2 CHAPTER 12 : PERJALANAN SEBASTIAN MENCARI RELIC PERTIWI (4).



Setelah ia menjadikan sang naga sebagai familiarnya, sebastian melanjutkan perjalanannya, ia ditemani sang naga untuk mengambil relic sang pertiwi. Di tengah perjalanannya ia pun mengalami kebingungan dalam mengambil arah, untungnya sang naga tau dan segera menunjukan arah yang benar.


"Astaga, aku bingung. Jalan mana yang harus aku ambil" ucap sebastian dengan kebingungan.


"Hei nak, kau jangan bingung. Sejujurnya aku sudah hidup lebih lama darimu, jadi aku tahu bentuk dan lokasi dari relic sang dewi pertiwi" ucap sang naga.


"Benarkah?" Ucap sebastian yang memastikan jawaban sang naga.


"Iya benar, aku tidak berbohong" ucap sang naga.


"Baiklah, bisa kah kau yang memimpin jalan sobat, sejujurnya aku tidak tahu lokasi pasti dari relic tersebut" ucap sebastian.


"Tentu saja bung. Kau harus mengambil jalan di sebelah kiri, apabila kau mengambil jalan yang lurus kau akan tersesat di hutan ini, dan apabila kau mengambil jalan di sebelah kiri kau akan bertemu dengan jurang" ucap sang naga.


"Terimakasih bung" ucap sebastian.


"Sama sama nak, ayo lanjutkan" ucap sang naga.


Mereka pun melanjutkan perjalanan yang dibimbing oleh sang naga kuno tersebut. Dalam perjalanan mereka, sebastian dan sang naga menghabiskan waktu perjalanannya dengan berkomunikasi. Secara tidak sadar, sebastian dan sang naga terjalin ikatan komunikasi yang sangat kuat, karena dalam perjalanannya mereka bertukar cerita.


"Hei, apakah aku boleh menannyakan sesuatu kepadamu. Akan tetapi ini sedikit sensitif. Kau berhak untuk menolaknya" ucap sebastian.


"Apa pertanyaan mu nak?" Balas sang naga.


"Berapa umur mu, dari cara mu berbicara sepertinya kau telah hidup lama sekali" ucap sebastian.


"Hahaha, kau orang yang cukup unik. Itu bukan pertanyaan yang sensitif, aku telah hidup selama 700 tahun. Apabila kau tahu blue dragon yang menjadi familiar sang great wise wizard ezalor itu adalah kakak ku. Alasan ku mengikutimu adalah membalaskan dendam kakak ku dan mengembalikan kedamaian dunia ini" jelas sang naga.


"Aku turut berduka atas kematian kakak mu, baiklah mari kita fokus pada perjalanan ini" ucap sebastian.


"Tidak apa apa nak, ini adalah cerita yang memotivasiku. Jadi jangan di hiraukan" ucap sang naga.


Mereka pun melanjutkan perjalanannya, sebastian pun mengikuti arahan sang naga dengan baik. Sehingga mereka sampai di sebuah tempat yang memiliki energi alam yang sangat besar.


"Nak disinilah tempatnya, seingatku. Relic pertiwi adalah sebuah tongkat yang memiliki aura alam yang sangat kuat. Yang kau rasakan itu adalah aura yang dihasilkan tongkat itu" ucap sang naga.


"Benarkah, aura yang cukup kuat. Aku yakin itu cukup untuk menghadapi kegelapan." Ucap sebastian.


"Aku juga berfikiran seperti itu, mari kita masuk nak. Dan berhati hati lah. Aku mendengar bahwa relic pertiwi dijaga oleh penjaga yang sangat kuat, jadi kau harus berhati hati" ucap sang naga.


"Terimakasih bung atas peringatan mu" ucap sebastian.


Mereka memasuki tempat itu, mereka sedikit kebingungan karena tempat tersebut seperti labirin yang sangat rumit. Akan tetapi kekuatan sebastian berintegrasi terhadap tempat tersebut sehingga perasaan sebastian tidak mungkin salah.


"Kau yakin ini jalannya nak" ucap sang naga.


"Ya aku sangat yakin, entah mengapa aku jadi sangat yakin kepada jalan ini. Aku merasa ini jalan yang harus dilalui" ucap sebastian.


"Baiklah nak, aku akan menyerahkannya kepadamu, ikuti perasaan mu. Aku juga merasa kekuatan mu meningkat semenjak masuk ke hutan ini. Dan itulah alasannya mengapa aku menyerahkannya kepada mu" ucap sang naga.


"Sepertinya itu adalah relic dewi pertiwi, bagaimana menurutmu bung" ucap sebastian.


"Ya aku juga setuju, karena tongkat itu memancarkan energi kehidupan yang sangat tinggi, jadi tunggu apa lagi, ayo ambil tongkat itu. Dan berhati hatilah dengan apa yang terjadi. Aku merasa dewi pertiwi tidak sebodoh itu meninggalkannya di tempat seperti ini" ucap sang naga.


"Kau benar" ucap sebastian.


Mereka mendekati relic tersebut. Kemudian sebastian meletakan kedua tangannya di tongkat itu dan mencabutnya. Seketika pohon yang berada di depannya terbangun.


"Siapa yang berani mencabut relic peninggalan dewi ku" ucap pohon tersebut.


"Aku, aku adalah utusan dewi pertiwi. Aku diperintahkan oleh sang dewi pertiwi untuk mengambil tongkat ini" ucap sebastian.


"Hemmm, aku percaya kepadamu karena aku melihat ada energi dan tanda dewi pertiwi di dalam dirimu, akan tetapi kau harus melawan ku terlebih dahulu untuk menguji kelayakan mu, kau boleh menggunakan tongkat itu. Apabila kau berhasil menggunakannya, kau berhasil. Apabila kau gagal, maka energi kehidupan mu akan terserap oleh tongkat itu dan kau mati, oleh karena itu. Tongkat tersebut menyimpan energi kehidupan yang besar" peringatan yang disampaikan oleh pohon itu.


"Baiklah, ayo kita mulai test nya" ucap sebastian.


Sang pohon pun bangkit dari tempatnya, seketika sebastian pun bersiaga. Ia memanggil naga yang menjadi familiarnya untuk membantunya menghadapi sang pohon.


"Oh, kau berhasil menaklukan naga kuno. Menarik" ucap sang pohon.


"Kau mengenal ku, wahai sang pohon" ucap naga tersebut.


"Sangat mengenal mu, aku hidup dan tumbuh bersama ayah mu. Kakak mu dibunuh oleh kegelapan bukan?" Ucap pohon itu.


"Sial, ayo hadapi aku" ucap sang naga.


"Dengan senang hati" ucap sang pohon.


Sang pohon mulai menyerang sang naga dan sebastian, sang naga pun menyerang kembali sang pohon dengan kekuatannya. Akan tetapi serangan sang naga dapat dihalau, sebastian pun memperkuat sang naga dengan kekuatan pertiwi.


"Create : forest weapon" rapal sebastian.


Seketika tangan sang naga dilengkapi senjata yang menempel kepadanya.


"Terimakasih nak" ucap sang naga.


Sebastian pun mengeluarkan kemampuannya untuk memperlambat pergerakan sang pohon. Dan sang naga mulai menghajar sang pohon secara terus menerus. Pada akhirnya sang pohon mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu menggunakan relic pertiwi untuk menyerap kehidupan penggunanya. Akan tetapi gagal karena terdapat pertahanan dari berkah pertiwi. Sang pohon pun kalah telak.


"Aku mengakuimu nak, tongkat itu milik mu, aku akan masuk kedalam tongkat itu, kau bisa memanggilku kapan pun kau mau" ucap sang pohon.


"Akhirnya nak kau berhasil" ucap sang naga.


"Iya, terimakasih atas bantuan mu. Naga kuno" ucap sebastian.


"Jangan terlalu dipikirkan." Ucap sang naga.


Setelah mereka berhasil, mereka kembali ke kota untuk bertemu dengan henderson. Sebastian mendengar kabar bahwa henderson telah berhasil juga mendapatkan baju perang dan senjata ares semasa ia di desa para peri. Sebastian pun melakukan perjalanan kembali ke kota. selama di perjalanan, kemampuan sebastian meningkat dengan sangat drastis. sehingga kini ia dapat menandingi kekuatan kegelapan.