
Setelah perkenalan singkat, Alvin mengambil kesimpulan berdasarkan karakter mereka.
Berdasarkan sedikit informasi yang dia terima dan skill 'sensitive sight', cukup baginya untuk menentukan bahwa orang-orang yang bersamanya saat ini berkepribadian baik dan sudah memenuhi syarat bergabung dengan basecampnya.
Walaupun orang-orang yang diselamatkan kali ini tampak lemah, tetapi mereka memiliki kemampuan masing-masing dan sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi.
Disitu lah Alvin mengambil peran sebagai penyelamat mereka disaat mereka putus asa.
Untuk bertahan di era zombie ini, tidak cukup menjadi kuat, manusia juga harus saling bahu membahu untuk memiliki sistem yang tidak menyimpang.
Alvin cukup percaya diri dengan basecamp yang merupakan salah satu tempat perlindungan terbaik karena dia telah mempersiapkan segala kebutuhannya selama seminggu sebelum kiamat terjadi.
"Bagaimana kalau kita membuat grup baru bersamamu Alvin? Kamu bisa memimpin kami, jujur saja kami merasa lebih aman." Ucap Jarvis tiba-tiba.
Alvin sontak kaget dengan pertanyaan Jarvis, baru saja dia ingin merekrut mereka untuk bergabung ke basecamp, tetapi hal ini telah dikatakan oleh Jarvis.
Namun Alvin tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan, sebaliknya dia memikirkan sebuah ide untuk mengetes mereka.
"Sudah terlalu larut, besok pagi kita akan memikirkan rencana ke depannya, kalian bisa istirahat terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga." Ucap Alvin beranjak pergi.
Mendengar perkataan Alvin barusan membuat Tatiana dan yang lainnya berada dalam pemikiran masing-masing.
Semua orang berpikir hal yang sama, bahwa Alvin tidak mau membuat tim dengan mereka.
Padahal jika Alvin tau, dia akan memutar otak mereka semua menjadi terbalik agar mereka berpikiran positif terhadapnya.
Saat ini Alvin sedang duduk di halaman bersama Grey.
Sambil mengepulkan asap rokok, Alvin memandangi malam yang gelap karena tidak satu pun bintang yang terlihat.
'Mungkin besok atau lusa akan hujan.' Ucap Alvin dalam benaknya. Baginya apabila bintang tidak bersinar di malam hari pertanda bahwa akan hujan dalam waktu dekat.
"Bisa minta sebatang bro?" Ucap lelaki muda tiba-tiba dari belakangnya.
Alvin merogoh sakunya dan memberikan sebatang rokok tanpa berbicara.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu pikirkan tentang kami?" Tanya Vento.
"Ummm??" Alvin memandang Vento sejenak lalu mengepulkan asap rokoknya kembali.
"Mmm... Tidak ada yang spesifik, hanya sesama survivor yang beruntung." Ucap Alvin datar.
"Bukan itu, apa kamu menganggap kami beban atau semacamnya?" Tanya Vento.
"Sejujurnya, iya dan tidak." Jawab Alvin.
Keheningan terjadi beberapa saat.
"Kelompok kami sebenarnya cukup mampu mengalahkan zombie-zombie disini, selain Fiona yang tidak bisa melihat, semua orang bisa bertarung." Ucap Vento.
Alvin mengernyitkan dahi.
"Tidakkah kamu membual? Aku tidak tau dengan Pak Tua Edward dan Tuan Jarvis serta istrinya, tetapi di grupmu, selain Tatiana, tidak ada satupun di antara kamu dan wanita bernama Yelena yang bahkan bisa memegang senjata dengan benar." Ucap Alvin santai.
Vento terdiam sesaat, apa yang dikatakan oleh Alvin benar sesuai dengan kenyataan. Walaupun dia memiliki otak yang lumayan cerdas, namun tidak diimbangi dengan kemampuan bertarung.
Selama ini Vento hanya menghadapi zombie yang kurang dari sepuluh jari tangannya. Dia sangat bergantung pada Tatiana, dan dua orang temannya yang saat ini entah berada dimana.
"Bro, jangan mainkan trik licikmu untuk memanfaatkan kebaikan yang aku berikan." Ucap Alvin sambil berdiri.
Kemudian dia menepuk bahu Vento dan bergegas pergi ke dalam ruko.
"Oh iya, lain kali tidak perlu berpura-pura." Ucap Alvin sambil melempar mancis/korek api. Lalu kemudian masuk ke ruko dan menghilang dari pandangan Vento.
Vento memikirkan perkataan Alvin dan tiba-tiba tersenyum geli. Dia memikirkan kepura-puraan apa yang dimaksud oleh Alvin, entah itu kepura-puraan tentang dirinya yang tidak merokok atau kepura-puraan tentang dirinya yang ingin mengambil keuntungan oleh Alvin.
Tetapi diantara dua itu, tak satupun yang lolos dari penglihatan Alvin.
******
Walaupun hanya tidur beberapa jam, mereka tidur cukup pulas karena tidak mendengar suara zombie atau dijadikan sandera oleh anggota Frank.
"Apa tidurmu nyenyak gadis kecil?" Tanya Alvin sambil mengelus kepala Luna.
"Iya paman, kasurnya empuk dan disini sangat nyaman." Ucap Luna sambil menyunggingkan senyum imutnya.
"Bagus, lain kali paman akan mengajakmu ke rumah paman, disana ada banyak makanan dan mainan, kamu pasti suka." Lanjut Alvin sambil menggendong Luna.
"Asyiiiikkk... T-tapi apa Ayah dan Kakak bisa ikut?" Tanya Luna ragu-ragu.
"Tentu saja, asalkan Luna berjanji jadi gadis kecil yang baik, apapun yang Luna inginkan akan paman kabulkan." Ucap Alvin kemudian menurunkan Luna.
"Horeeeee... Kakak, kita akan ke rumah Paman Alvin. Paman berjanji kalau Luna jadi gadis yang baik, Paman akan membawa kita ke rumahnya. Eh... Tunggu, bukannya Luna selalu jadi gadis kecil yang baik?" Ucap Luna sambil bertanya sama kakaknya.
Semua orang tertawa melihat keluguan gadis cantik yang saat ini kebingungan.
"Ronald, bawa Luna masuk ke kamar, ada yang ingin orang dewasa bicarakan." Ucap Edward, Ayah mereka.
"Baik." Sahut Ronald sambil membawa adiknya yang masih kebingungan ke dalam kamar.
Semua orang terdiam kemudian menghela nafas. Mereka menunggu keputusan Alvin tentang rencana mereka ke depannya.
"Apa kalian semua ingin mengikutiku?" Tanya Alvin.
Mereka saling memandang dan mengangguk hampir serempak.
"Sebenarnya aku sudah memiliki tim beserta tempat perlindungan yang mampu menopang hidupku selama beberapa tahun."
"Aku sudah memiliki orang-orang berkemampuan beserta sumber daya yang cukup untuk bertahan hidup, katakan padaku kenapa aku harus menerima kalian sebagai anggota timku?" Tanya Alvin.
Tidak menyangka ditanya oleh Alvin membuat kepercayaan diri mereka turun.
Namun seorang gadis tiba-tiba berbicara.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak membawa kami, tapi bisakah kamu memasukkan Tiana ke timmu? Sejak dulu dia selalu berlatih bela diri. Dan d-dia...
sudah cukup terbebani karena harus menjagaku setiap waktu." Ucap Fiona.
"Tidak!!! Apa yang kamu katakan Fiona, aku tidak keberatan kalau harus menjagamu selamanya. Kemana pun kamu pergi aku akan selalu bersamamu." Ucap Tatiana dengan tegas.
"Alvin, bolehkah aku memohon padamu untuk membawa Luna dan Ronald? Hidup mereka lebih aman jika bersamamu." Ucap Edward dengan sedih.
"Ya, tolong bawa istriku bersamamu, dia bisa menjadi juru masak di tempatmu." Ucap Jarvis menimpali.
Mendengar permintaan mereka, raut wajah Alvin berubah menjadi masam.
'Apa yang orang-orang ini pikirkan?'
'Apa aku terlihat seperti orang yang tega memisahkan keluarga mereka.' Ucap Alvin dalam benaknya.
"Bisakah kalian diam dan dengarkan aku?" Tanya Alvin dengan tegas.
Semua orang serempak mengangguk.
"Bisakah kalian berpikiran positif dan jangan memaksaku untuk membawa anggota keluarga kalian?" Tanya Alvin dengan nada kesal.
Mereka mengangguk sekali lagi.
"Bagus."
"Aku bisa menerima kalian semua dengan satu syarat."
______________________________
Mohon maaf karena waktu update tidak menentu, sekali lagi mohon maaf :'(