Attribute on Apocalypse

Attribute on Apocalypse
Manusia atau Iblis Pencabut Nyawa



Beberapa menit sebelumnya.


'Apa Alvin bisa menahan semua narapidana di depan? Bukankah dia ceroboh membiarkan serigalanya membantuku?'


Dorrr...


Dorr...


Slinggg...


Terdengar suara perseteruan yang terjadi didepan pabrik.


'Bertahanlah Alvin, aku akan membantumu setelah menyelamatkan para sandera.' gumam Tatiana.


Saat ini Tatiana hanya berjarak beberapa meter dari tempat para sandera ditahan. Karena semua narapidana saat ini berhadapan dengan Alvin, Tatiana menyelinap masuk tanpa ada yang menghalangi.


Tetapi saat tiba ditempat tujuannya, Tatiana masih melihat dua orang yang menjaga tempat penyanderaan. Dilema segera menyelimuti hatinya ketika berfikir tentang tindakan yang akan dia lakukan kepada dua penjaga tersebut.


Bagaimanapun Tatiana adalah seorang polisi yang mengedepankan kehidupan seseorang daripada harus membunuhnya.


Namun karena mengkhawatirkan Alvin, Tatiana segera mengambil sikap dan langsung menerjang salah satu penjaga dengan mengarahkan pisau tepat pada lehernya.


Jleb...


Penjaga yang satunya hendak mengeluarkan pistol namun kalah cepat dengan cakaran Grey.


Slinggg...


Setelah menyelesaikan dua penjaga, Tatiana langsung mencari kunci untuk membuka pintu. Namun, Grey tiba-tiba mendobraknya dengan menggunakan punggungnya.


Braaaakkk...


'Wah, serigala ini sangat bisa diandalkan'


'Aku ingin berbicara pada Alvin dan memintanya.' Gumam Tatiana dengan mata yang berbinar.


Tatiana tercengang melihat ruangan yang dimasukinya. Bau busuk darah, urin dan kotoran tercium saat dia memasuki ruangan tersebut. Di sudut ruangan ada puluhan orang yang duduk berkelompok sambil gemetar ketakutan.


Walaupun dengan pencahayaan yang kurang, Tatiana segera mencari saudara dan teman-temannya.


Tatiana mengedarkan pandangannya hingga ke seorang gadis cantik yang memiliki ciri fisik hampir serupa dengannya.


"Fionaaa..." Ucap Tatiana sambil berlari menghampiri gadis tersebut.


Gadis tersebut hanya bisa mendengar suara yang memanggil namanya kemudian mencari sumber suara dengan linglung.


Gadis yang tiba-tiba mendapat pelukan tersentak dan mengelus punggung Tatiana. Kemudian dia meraba pipi lembut Tatiana yang basah dengan air mata.


"Tiana? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Ucap gadis itu.


"Hmmm... Tidak, aku tidak menangis." Jawab Tatiana.


Gadis itu hanya tersenyum mendengar jawaban Tatiana, dia sudah mengerti dengan sifat saudarinya yang keras kepala.


Setelah hening beberapa saat, Tatiana menatap orang-orang disekelilingnya.


"Dimana Derek dan Walter?" Tanya Tatiana.


"Mereka dibawa Frank tepat setelah kamu pergi Tiana, sampai sekarang mereka belum kembali." Sela salah satu wanita disebelahnya, dia juga merupakan teman seperjalanan mereka setelah kiamat zombie terjadi, wanita tersebut bernama Yelena.


"Terimakasih Yelena karena telah menjaga Fiona." Ucap Tatiana sambil menundukkan kepalanya.


Yelena hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Jadi apa rencana kita sekarang? Kalau Frank tau kamu menyusup kesini pasti kita akan menderita." Salah satu pria menyela momen haru mereka.


Grup mereka awalnya terdiri dari enam anggota, Tatiana, Tafiona, Yelena, Derek, Walter dan Vento. Derek dan Walter telah dibawa oleh Frank, sedangkan Vento merupakan pria yang tersisa saat ini.


Dibandingkan dengan Derek dan Walter, Vento terlihat seperti orang payah yang beruntung bisa selamat dari kiamat zombie. Dia memiliki tubuh kurus dengan kacamata tebal dimatanya. Jika diperhatikan, dia terlihat seperti otaku yang suka menyendiri di dalam kamarnya.


Namun yang tidak mereka sadari, Vento memiliki kepintaran diatas rata-rata. Selama ini dia hanya bersikap merendah sambil mengamati situasi.


"Kita harus keluar dari sini sekarang, aku bertemu dengan seorang pria yang sedang bertarung dengan Frank dan yang lainnya." Ucap Tatiana.


"Baiklah kita akan membantu mereka... Tunggu, Tatiana, apa maksudnya dengan seorang pria? Apa seorang pria sedang melawan semua anggota Frank?" Tanya Vento dengan nada serius.


"Ya, dia percaya diri untuk melawan Frank dan anggotanya, bahkan dia meminjamkan peliharaannya padaku." Ucap Tatiana sambil menunjuk Grey.


Vento saat ini tercengang saat menatap serigala besar dihadapannya.


'Siapa orang yang berani memelihara serigala sebesar ini.'


Walaupun Grey terlihat lebih besar daripada serigala pada umumnya, namun Grey saat ini hanya serigala muda yang baru lahir, tidak bisa dibandingkan dengan Lily. Tidak terbayangkan sebesar apa rahang Vento akan terjatuh saat dia melihat ukuran Lily.


Karena ruangan tempat menyekap sandera tidak terlalu besar, percakapan Tatiana dan Vento terdengar jelas oleh semua orang yang berada didalamnya.


Saat ini terdengar rentetan peluru dari luar pabrik. Jika orang lain mendengarnya, mungkin mereka menebak terdapat dua kubu yang sedang berperang. Tetapi tidak ada yang mengira bahwa hanya satu orang yang sedang melawan puluhan orang lainnya.


Tatiana tiba-tiba berdiri lalu menatap semua orang disekelilingnya.


"Mohon perhatiannya"


"Saat ini rekanku sedang bertarung dengan Frank dan anggotanya diluar pabrik. Kita bisa keluar dari sini dan bertarung melawan Frank dan yang lainnya."


"...."


"...."


"Aku katakan sekali lagi..."


Tiba-tiba sebuah tangan berada di bahu Tatiana, Tatiana menoleh dan menatap Vento yang sedang menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, kita tidak bisa memaksa mereka bertarung." Ucap Vento.


"Tetapi... Alvin sedang bertarung sendirian melawan aggota Frank." Ucap Tatiana.


Tatiana mengedarkan pandangannya kepada semua orang yang ketakutan di dalam ruangan. Melihat itu, Tatian menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya erat-erat.


"Baiklah, yang mau bertarung bisa ikut denganku, dan kalian sisanya bisa keluar dari sini melalui pintu belakang." Ucap Tatiana.


Kemudian sebagian besar orang keluar melalui pintu belakang, tanpa ragu mereka meninggalkan Tatiana dan yang lainnya. Hanya sembilan orang termasuk dengan anggota Tatiana yang bertahan diruangan tersebut.


Tatiana, Tafiona, Yelena, Vento beserta kelima orang lainnya segera menuju ke bagian depan pabrik. Tak lupa pula Grey mengikuti dari belakang.


Namun saat tiba disana, pemandangan mengejutkan terjadi. Genangan darah beserta potongan tubuh yang berserakan berada dihadapan mereka. Lalu ditengahnya berdiri tegak seorang pria berlumuran darah sambil memegang pedang.


Tatiana beserta rekan-rekannya tercengang beberapa saat. Mereka tidak mengerti dengan pria dihadapan mereka yang berdiri tegak saat ini.


'Apakah pria tersebut manusia atau iblis pencabut nyawa.'


"Apa semuanya selamat Grey?" Tiba-tiba suara harus menggema saat itu, ternyata suara tersebut berasal dari pria yang berada didepan mereka.


"Woooofff..."


Setelah mendengar suara pria tersebut, perasaan lega menyertai mereka. Mereka menghela nafas karena pria yang terlihat menyeramkan saat ini masih mempertahankan kewarasannya dan tidak menyerang mereka.


"Tatiana kan? Sebaiknya kalian segera pergi, bau darah dan suara dari tembakan akan memanggil zombie yang berada disekitar sini." Ucap pria itu.


Tatiana segera terbangun dari lamunannya saat namanya dipanggil.


"B...bolehkah kami mengikutimu pergi dari sini?" Tanya Tatiana.


Walaupun belum meminta persetujuan dari rekan-rekannya, dia merasa membuat keputusan ini adalah hal yang tepat. Daripada harus berhadapan dengan puluhan bahkan mungkin ratusan zombie, lebih baik mengikuti Alvin yang notabenenya terkuat saat ini.


"Hm.. Kalau begitu, tolong lucuti semua senjata mereka dan segera naik keatas mobil." Ucap Alvin sambil mengambil senjata api yang tergeletak ditanah.


Setelah mendengar perintah Alvin, dengan cepat mereka mengumpulkan semua senjata. Saat itulah mereka menyadari kengerian Alvin yang dapat membunuh anggota Frank hanya dengan satu atau dua tebasan rapi.


Bahkan Frank yang terkuat diantara mereka tidak memiliki luka selain kepala yang saat ini terpisah dari tubuhnya.