Attribute on Apocalypse

Attribute on Apocalypse
Direktur Orsen



Saat ini Nancy sedang memegang gagang pintu, James bertahan menghadap pintu, dan Alvin bersiaga dibelakang James.


Sesuai dengan prediksi Alvin, disaat Nancy membuka pintu, zombie merah bertipe kekuatan itu langsung menghantamkan lengannya ke arah James yang berada di depan pintu.


Buummm....


Dengan sigap James melindungi dirinya dengan menyilangkan kedua tangannya.


Setelah menerima pukulan dari zombie merah tersebut, James dengan sigap menendang dadanya hingga zombie terdorong beberapa langkah ke belakang.


Saat ada celah yang terlihat, Alvin melesat melewati zombie merah menuju zombie terdekat dibelakangnya. Ternyata zombie pertama yang dihadapinya adalah zombie biru tipe kecepatan.


Wussssh...


Alvin mengayunkan pedangnya ke leher zombie biru tersebut. Tetapi keberuntungan Alvin belum begitu sempurna, zombie biru itu seakan mengelak dari tebasan Alvin dan hanya mendapatkan goresan dilehernya.


Mendapatkan sinyal berbahaya ketika berhadapan dengan Alvin, zombie biru tersebut melarikan diri ke depan.


Entah koordinasi yang baik dari zombie atau kekurangan keberuntungan, zombie terjauh malah melesat menyerang Alvin. Zombie itu ternyata bertipe kecepatan juga.


Satu zombie melarikan diri sedangkan zombie lainnya bergantian menyerang Alvin.


Kurang dari satu detik Alvin mengambil belati di celananya dan melemparkan belati itu tepat dipunggung zombie yang mau melarikan diri.


Brukkk...


Dengan kekuatan lebih dari 5x manusia normal, zombie itupun terhempas ke depan.


Alvin kemudian berbalik dan memposisikan pedangnya langsung ke leher zombie biru yang mendatanginya.


Slashhh...


Pertarungan berlangsung tidak sampai sepuluh detik, namun Alvin mampu membunuh satu zombie dan melumpuhkan satu zombie lainnya.


Setelah mendapatkan dua kepala zombie itu, Alvin menghampiri zombie merah yang sedang ditahan oleh James dan Nancy. Dengan sekali tebasan dia menebas zombie itu dari belakang.


Sliingggg...


Alhasil, pertarungan berhasil diselesaikan kurang dari 30 detik.


"Ayo cepat kita masih harus mengangkut peralatan medis." Ucap Alvin sambil menyarungkan pedangnya.


Nancy dan James tercengang melihat Alvin. Hanya butuh kurang dari 5 tarikan nafas baginya untuk membunuh 3 zombie mutasi.


'Cepat sekali'


'Menganggumkan'


Itulah yang ada dipikiran Nancy dan James.


Zack yang bersembunyi dibalik pintu tidak bisa menahan keinginannya untuk melihat bagaimana pertarungan mereka menghadapi zombie mutasi. Namun dia juga ikut tercengang saat melihat tiga zombie mutasi tergeletak dengan kepala yang telah terpisah dari tubuhnya.


"Ayo paman, sekarang sudah aman, carilah peralatan medis yang dibutuhkan oleh Pak Tua Karsen." Ucap Alvin memecahkan keheningan.


"Oke oke, seharusnya peralatan itu berada di ruangan di ujung koridor." Ucap Zack.


Saat tiba mereka tiba diruangan tersebut, ternyata peralatan medis sudah tidak berada disana.


Braakkk...


"Peralatannya pasti sudah dipindahkan oleh direktur sialan itu." Ucap Zack sambil menggebrak meja.


Alvin masih tanpa ekspresi saat melihat Zack memukul meja. Dia membiarkan Zack berfikir karena sejujurnya dia sendiri tidak memiliki solusi untuk pengobatan Pak Tua Karsen.


Sambil menggertakkan gigi, Zack keluar dari ruangan tersebut.


Bukk...bukk...bukk...


"Direktur Orsen, apa kamu bisa mendengarku!!" Teriak Zack kearah pintu lantai tiga.


Bukk...bukk...bukk...


Zack terus menggedor pintu itu.


Bukk...bukk...bukk...


"Dokter Zack, apa kamu akan berhenti setelah merusak pintu itu?" Teriak Orsen dari sebalik pintu.


"Aku ingin meminjam peralatan EKG (Elektrokardiografi), dan beberapa jenis obat antiplatelet."


"Kondisi Tuan Karsen saat ini kritis, dia membutuhkan penanganan penyakitnya segera." Teriak Zack.


Tidak ada jawaban dari Orsen.


Bukk...bukk...bukk...


"Direktur Orsen, apa kamu masih mendengarkan disana?" Tanya Zack lagi.


"Tidak ada peralatan seperti itu disini. Bukankah apotek ada dilantai satu? Pergi cari disana." Jawab Orsen.


Zack mengepalkan tangannya, dia tahu bahwa semua peralatan medis telah diamankan oleh Orsen. Bahkan segala jenis obat-obatan telah diangkut ke lantai atas. Orsen hanya meninggalkan sedikit obat untuk penyakit umum saja.


Melihat ekspresi kesal Zack, Alvin mengambil alih dan langsung menendang pintu penghubung tersebut.


Brakk...


Dengan satu tendangan, engsel yang berada dipintu lepas dan berubah bentuk.


'Eh... Lain kali sepertinya harus mengontrol kekuatan.' Gumam Alvin dalam hati.


Melihat pintu yang dirusak dengan sekali tendangan, orang-orang dari sisi Zack maupun Orsen mematung.


"Direktur Orsen kan? Pinjami kami alat yang dibutuhkan dokter Zack." Ucap Alvin dingin.


Ditatap oleh Alvin membuat Orsen ketakutan. Dia masih membayangkan dirinya mendapatkan tendangan yang sama dengan pintu itu.


Orsen menggelengkan kepalanya dan menyadarkan dirinya.


"Peralatan itu tidak berada disini, itu disimpan dilantai dua!!" Teriak Orsen berbohong.


"Kami tau peralatan yang dibutuhkan Pak Tua Karsen disimpan olehmu."


"Bisakah kami meminjam itu Di..rek..tur Or..sen?" Ucap Alvin sambil membenarkan kerah baju yang dipakai oleh Orsen.


Orsen merasa tercekik saat mendengar ancaman Alvin. Dia tidak terima dipermainkan oleh seorang pemuda berusia dua puluhan.


"Bagus sekali Dokter Zack, sekarang kamu berani menggertakku dengan mengirim preman kecil ini." Teriak Orsen.


"Kami tidak memiliki peralatan itu, kalian bisa angkat kaki dari sini." Ucap Orsen.


Alvin menggeleng kepalanya dan melepaskan Orsen.


"Ck.ck.ck, Jawaban yang kurang tepat Direktur Orsen"


"Kami bisa dengan mudah membunuh kalian semua dan mengambil barang itu dari mayat kalian"


"Apa itu yang kamu inginkan Tuan Direktur?" Ucap Alvin sambil tersenyum.


Keringat membasahi seluruh tubuh Orsen.


Sebelumnya dia telah melihat pertarungan rekan-rekan Alvin diluar kafetaria. Dia tertegun melihat kecepatan dan kerjasama mereka dalam membersihkan zombie.


Namun sebagai direktur Rumah Sakit Milestone, dia tidak bisa kehilangan wajah di depan pengikutnya.


"Tenanglah kawan, kami akan meminjamkan alat tersebut, tidak.tidak, kami bisa memberikan alat itu pada kalian..." Ucap Orsen terbata-bata.


Alvin menyipitkan matanya tanpa membalas ucapan Orsen.


"T...tapi bisakah kami mendapatkan makanan sebagai gantinya?" Sambung Orsen.


"Sialan, dimana kami bisa mendapatkan makanan untuk kalian!!" Bentak Zack.


"Hei.hei, bukan hanya Pak Tua Karsen yang perlu diselamatkan, kami disini pun juga harus bertahan hidup." Ucap Orsen.


Yah, tidak ada ketulusan dalam membantu orang. Itulah yang Alvin temukan ketika pertama kali melihat Orsen. Dia sendiri bingung bagaimana orang yang begitu picik bisa menjadi direktur sebuah rumah sakit.


"Baiklah, Lengkapi peralatan medis disertai obat-obatan."


"Beritahu aku dimana tempat penyimpanan makanan terdekat."


"Aku akan memberikan makanan itu pada kalian." Ucap Alvin.


Orsen mematung mendengar ucapan Alvin. Sejatinya dia hanya berharap Alvin dapat memberikan sebagian persediaan yang dia miliki.


Namun, dia tidak menyangka bahwa Alvin secara sukarela mengusulkan pencarian ke tempat dimana makanan biasanya disimpan.


"Ada supermarket dua blok dari sini, disana pasti ada cukup makanan, tetapi aku khawatir ada terlalu banyak zombie yang berkumpul disana." Ucap Orsen.


"Seberapa banyak?" Tanya Alvin.


"Kemungkinan lebih dari 50 zombie disekitar supermarket, aku sendiri tidak yakin berapa zombie yang ada didalamnya." Ucap Orsen.


"Oh hanya segitu." Jawab Alvin dengan santai.


Orang-orang yang berada dibelakang Orsen terkejut melihat respon Alvin.


'Hah? Apa bocah ini tidak takut dengan zombie?'


'Bukankah lima puluh zombie itu banyak?'


'Kita sedang membicarakan lima puluh zombie disini, bukan lima ataupun lima belas.'


"Oke, berikan peralatan dan obat-obatan itu pada Dokter Zack. Aku akan segera ke supermarket setelah mendapatkan semua barang yang dibutuhkan." Ucap Alvin.


"Tidak." Jawab Orsen.


"Bagaimana kalau kamu kabur setelah mendapatkan peralatan itu?"


"Kami tidak ingin ditipu, kami hanya butuh jaminan." Ucap Orsen.


Alvin memicingkan matanya setelah mendengarkan ucapan Orsen.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Alvin.


Orsen berfikir dan menatap sekelilingnya. Kemudian tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.


"Tinggalkan wanita itu, setelah kamu membawa makanan dari supermarket, wanita itu bisa pergi." Ucap Orsen sambil menunjuk Nancy.


"Dasar bajingan, aku tidak akan meninggalkan putriku disini!!" Bentak Zack.


"Tidak akan ada yang terjadi Zack, kami hanya butuh kepastian dari kesepakatan ini." Ucap Orsen.


Tiba-tiba gelak tawa terjadi diruangan itu.


"Hahaha"


Kemudian Alvin berjalan ke arah Nancy.


"Apa yang akan kamu lakukan Nancy?" Tanya Alvin.


"Aku akan mengikuti rencanamu." Jawab Nancy tanpa keraguan.


"Bagus." Ucap Alvin.


Kemudian Alvin berjalan keluar ruangan dan kembali dengan memegang sebuah senjata api.


"Kamu pakai ini, setelah pengamannya dilepaskan, kamu bisa membidik bajingan yang mencoba mendekatimu, aku akan kembali secepatnya." Ucap Alvin.


Nancy mengangguk dan menerima pistol itu. Saat ini, Zack terkejut melihat putrinya telah memegang sebuah senjata.


"Paman Zack, kamu tidak perlu khawatir, Nancy bisa melindungi dirinya sendiri, kamu hanya perlu fokus pada pengobatan Pak Tua Karsen." Ucap Alvin sambil menatap Zack.


Kemudian Alvin berjalan ke arah Direktur Orsen kembali.


"Baiklah kami setuju, persiapkan semua peralatan yang Dokter Zack butuhkan, Nancy akan tinggal disini." Ucap Alvin.