
Setelah perjalanan hampir dua jam, Alvin dan yang lainnya telah tiba di restoran tempat dia dan Anna pertama kali bertemu.
'Bagaimana keadaannya saat ini?'
'Harusnya sudah aman di Kota Skycloud kan?'
'Semoga dia tidak mengabaikan peringatanku tentang fenomena zombie horde.'
Kalimat-kalimat itu terlintas dipikiran Alvin. Entah bagaimana tiba-tiba dia mengkhawatirkan Anna.
Selesai dari urusannya di rumah sakit, dia bertekad melihat kondisi Anna di Kota Skycloud.
Kembali saat Alvin melihat ke restoran dan gudang di dalamnya, dia terkejut melihat kondisi ruangan yang hancur berantakan.
Nancy yang mengikuti Alvin juga tercengang kemudian menatap Alvin dengan sungguh-sungguh.
Dia membayangkan entah apa yang akan terjadi padanya jika tidak bertemu Alvin dan tetap tinggal di restoran.
Alvin kemudian bergegas ke salah satu lemari.
"Sepertinya sudah ada yang kesini setelah kita pergi." Ucap Alvin.
"Bagaimana kamu tau?" Tanya Nancy heran.
"Sebelumnya aku meninggalkan beberapa kaleng makanan disini. Bagaimanapun zombie tidak mengambil makanan kaleng kan?" Ucap Alvin.
Nancy mengerutkan alisnya kemudian mengangguk setuju.
"Benar juga, mereka pasti kecewa karena makanan disini sudah diangkut oleh kita." Ucap Nancy.
Setelah beristirahat beberapa menit, Alvin dan yang lainnya bergerak kembali ke arah rumah sakit. Saat ini tersisa 3-4 jam sebelum matahari terbenam.
Sliiing ...
Jlebbb ...
Slaassh ...
Tidak terlalu banyak zombie yang menghalangi jalan mereka saat ini. Fenomena zombie horde seolah datang dan lenyap tiba-tiba.
Saat ini Alvin bahkan membiarkan Nancy terbiasa membunuh zombie dengan skill barunya. Dia mengganti senjatanya dengan ketapel dan mengumpulkan batu evolusi bersama Julian.
Sesuai perhitungan Alvin, mereka tiba di rumah sakit sebelum matahari terbenam.
Mereka terkejut melihat pagar yang telah tertembus hingga terdapat beberapa zombie yang keluar dari halaman rumah sakit.
"Itu kafetaria rumah sakit." Tunjuk Nancy cemas.
Alvin dan yang lainnya melihat ke arah bangunan yang ditunjuk Nancy. Melihat puluhan zombie yang berkumpul, harusnya ada beberapa survivor yang selamat disana.
"Ayo kesana terlebih dahulu." Ucap Alvin.
Masih dengan Nancy yang memimpin serta James dan Richard yang berada disisi kiri dan kanannya, mereka bergegas ke arah kafetaria tersebut.
Slaaashhhh...
Sliingggg...
Disaat mereka bergerak ke kafetaria, seseorang dari rumah sakit menggertakkan giginya melihat kemampuan Nancy, James dan Richard menebas zombie.
Alvin yang selalu mengedarkan persepsinya melirik ke lantai 4 di rumah sakit tersebut. Dia menyunggingkan senyuman licik saat melihat seorang pria paruh baya berkepala botak tengah melihat perkelahian mereka dengan zombie-zombie itu.
Setelah mereka membunuh semua zombie di kafetaria. Alvin kembali memimpin dan mengetuk satu-satunya pintu dikafetaria itu.
Tok.tok.tok
"Apa ada orang didalam?" Bisik Alvin.
Klik.
Terdengar suara kunci yang terbuka. Muncul sesosok pria paruh baya berpakaian serba putih dari dalam ruangan itu.
"Ayah!!!" Teriak Nancy dan Julian serempak.
Pria paruh baya yang mendengar suara tidak asing, mendongakkan kepalanya ke belakang Alvin.
Nancy dan Julian berlari memeluk pria paruh baya tersebut. Kali ini mereka tidak menangis dan tersenyum lega saat melihat ayahnya.
Zack Gordon meneteskan air matanya saat melihat putra dan putrinya.
"Kalian... Bagaimana kalian bisa sampai kesini?" Tanya Zack sambil mengelus kepala Nancy dan Julian.
"Kami dibantu Alvin, Kak James dan Kak Richard...."
Nancy dan Julian menceritakan bagaimana mereka diselamatkan oleh Alvin sampai bertemu dengan James dan Richard.
Alvin yang tidak tahan dengan pujian hanya bisa masuk melewati Nancy dan Julian yang antusias menceritakan perjalanannya ke Zack.
Didalam ruangan ada seorang pria tua yang berbaring lemah diatas selimut seadanya. Dia menggunakan pakaian pasien rumah sakit. Ada pula seorang perawat dan seorang anak laki-laki yang duduk disampingnya.
Mereka ketakutan saat melihat Alvin yang masuk dengan pakaian berlumuran darah.
Zack Gordon yang telah selesai mendengarkan cerita Nancy dan Julian membungkukkan badan pada Alvin.
"Terimakasih telah menyelamatkan anak-anakku." Ucap Zack.
Alvin kemudian berbalik dan segera membangunkan posisi Zack.
"Tidak perlu berterimakasih pak, kami sudah ditakdirkan saling bertemu saat itu."
"Ngomong-ngomong saya Alvin, yang berdiri diluar itu Kak James dan Kak Richard." Ucap Alvin
"Maafkan saya, saya Zack Gordon, ayah Nancy dan Julian. Ini perawat Tina Charnell." Ucap Zack.
Alvin pun menyalami Zack lalu mengangguk pada Tina. Dia kemudian mengedarkan pandangannya pada lelaki tua yang berbaring di lantai.
"Yang terbaring itu pasienku, Karsen Shaw, dan itu cucunya Arthur Shaw..." Lanjut Zack.
"Tolong selamatkan kakekku Dokter Zack..." Sela Arthur.
Zack pun menceritakan bagaimana mereka bisa sampai ke kafetaria dan perselisihannya pada direktur rumah sakit.
Mereka awalnya beruntung karena saat terjadinya kiamat zombie, ada selusin polisi bersenjata yang berada di rumah sakit. Sehingga keamanan rumah sakit sedikit terjamin.
Sebelumnya, mereka menjalani kehidupan yang layak di rumah sakit. Hingga suatu hari, datang survivor beranggotakan 5 orang yang hendak bergabung ke kelompok mereka.
Saat itu rumah sakit harus bertanggung jawab terhadap lebih dari seratus orang yang selamat. Jika masih menerima survivor dari luar rumah sakit, maka persediaan makanan akan berkurang dengan cepat.
Sang direktur tidak ingin membiarkan mereka bergabung, karena dengan menerimanya berarti ada tambahan 5 orang yang harus diberikan makanan.
Menurut Alvin, itu pemikiran yang logis di era kiamat zombie sekarang.
Namun, berbeda dengan beberapa orang yang berkarakter seperti Dokter Zack dan Karsen Shaw. Mereka bersikeras untuk menerima survivor dari luar rumah sakit. Bagaimanapun caranya, mereka memiliki moral dan harus menyelamatkan orang-orang itu.
Karena tidak ingin bertengkar, akhirnya direktur rumah sakit menerima mereka dan menempatkannya di lantai satu rumah sakit.
Saat fenomena zombie horde terjadi, ternyata baru diketahui salah satu dari 5 orang itu telah terinfeksi oleh zombie. Karena gigitannya tidak dalam dan tidak menyebabkan kematian instan, dia merahasiakan gigitan itu bahkan dari teman-temannya sendiri.
Kekacauan pun akhirnya tak terhindarkan.
Mereka yang berada di lantai satu panik ketika bertemu zombie yang telah menerobos rumah sakit. Keadaan tak tersebut tak terbendung hingga polisi menembakkan peluru ke arah zombie-zombie itu.
Bukannya meredakan situasi, suara tembakan itu malah membuat zombie-zombie yang berada diluar rumah sakit menjadi semakin agresif dan menerobos pagar rumah sakit.
Zack dan beberapa orang berhasil melarikan diri ke kafetaria. Sementara orang-orang yang selamat lainnya menutup akses di lantai 3 rumah sakit. Tidak perlu dijelaskan tentang apa yang terjadi dengan orang-orang yang berada di lantai 1 dan 2.
Selama melarikan diri dan menghadapi tekanan, Karsen Shaw akhirnya jatuh pingsan. Kemungkinan dia pingsan karena penyakit jantung yang telah dideritanya selama ini.
Karena mereka terjebak di kafetaria, tidak ada peralatan medis yang bisa digunakan untuk menyelamatkan Karson. Jangankan peralatan medis, bahkan makanan pun tidak tersisa disini. Semuanya telah diangkut dan dikumpulkan di rumah sakit.
Hingga saat Alvin dan yang lainnya muncul, membuat secercah harapan pada mereka.