
Semuanya berawal dari survivor di Kota Skycloud.
Kota Skycloud saat ini terbagi menjadi lima wilayah. Ada dua wilayah yang masih dibawah naungan pemerintah kota dan militer, dua lainnya dipimpin oleh dua perusahaan besar dan yang terakhir adalah wilayah dari para kriminal atau narapidana.
Selain lima organisasi itu, ada satu tempat penampungan besar yang dimiliki Kota Skycloud.
Orang-orang yang mendirikan tempat itu merupakan relawan yang masih peduli pada masyarakat. Walaupun tidak memiliki wilayah sendiri, orang-orang itu bebas berkeliaran di Kota Skycloud.
Empat wilayah selain yang dimiliki para kriminal diatur dengan baik oleh masing-masing organisasi. Bahkan masih cukup banyak survivor yang bertahan disana.
Sedangkan wilayah narapidana, mereka tidak dipimpin oleh siapapun, namun beberapa kriminal yang kuat dan terkenal saling menjaga anggota mereka masing-masing.
Berbeda dari pejabat kota dan militer, kepolisian Kota Skycloud tidak mampu bertahan dari kiamat zombie. Banyak anggota kepolisian yang tersebar ke berbagai wilayah dan menyelamatkan diri masing-masing.
Nasib sial pun terjadi oleh Tatiana. Dia berlindung di tempat penampungan bersama teman-temannya.
Disaat fenomena zombie horde terjadi, kelompok kecil mereka tertangkap oleh para narapidana. Diantara kelompok kecil itu, ada saudara kembar Tatiana yang disandera oleh mereka.
Tatiana yang merupakan anggota kepolisian dipaksa oleh para napi untuk merampok persediaan demi keselamatan rekan-rekannya.
"Bagaimana kamu tau kalau aku dari kepolisian?" Tanya Tatiana.
"Aku tidak tau."
"Tapi sebelumnya kamu bisa menghindari mobilku, paling tidak kamu bisa bela diri atau sudah menjalani pendidikan kemiliteran hingga memiliki fisik dasar petarung." Ucap Alvin.
Memang benar yang diucapkan Alvin tentang Tatiana yang bisa menghindari kecepatan mobilnya, tetapi ada satu hal yang menarik perhatiannya dan percaya pada Tatiana.
Sebelumnya Alvin tidak melihat perubahan ini ketika berhadapan dengan Direktur Orsen di rumah sakit Milestone. Dia pun tidak menyadari ketika bersama Nancy dan yang lainnya di basecampnya. Perubahan ini baru saja terjadi tanpa sepengetahuan Alvin.
Sejak Alvin bertemu dengan Tatiana dan lelaki yang dibunuhnya, Alvin mengamati sekeliling mereka. Ada kabut tipis tak kasat mata yang membungkus tubuh mereka.
Kabut tipis pada Tatiana berwarna putih, sedangkan pada lelaki itu berwarna hitam. Setelah berkomunikasi dengan sistem, ternyata kabut itu berasal dari skill 'sensitive sight' miliknya.
Keterkejutan Alvin berasal pada warna kabut yang berbeda. Dia menduga bahwa kabut hitam itu berasal dari niat tidak baik atau bahkan membunuh oleh lelaki tadi.
Sedangkan untuk kabut putih tidaklah berbahaya baginya. Walaupun hanya menduga, Alvin mendapatkan perasaan yang berbeda ketika berhadapan dengan mereka berdua.
"Tanganmu bergetar saat menodong pisau ke leherku, itu bukan tanda orang yang terbiasa membunuh." Lanjut Alvin.
Tatiana menggertekkan giginya dan matanya berubah merah hendak menangis.
"Ini pertama kalinya, kalau bukan karena saudariku dan teman-temanku yang ditahan mereka, a-aku ..."
Alvin hanya diam dan mengabaikan Tatiana.
Inilah perubahan awal yang biasa terjadi saat kiamat zombie.
Ketidakberdayaan manusia.
Semua orang dipaksa melakukan sesuatu untuk bertahan hidup. Namun bukan hanya zombie yang harus mereka hadapi, perubahan sifat dan pola pikir manusia juga menjadi penyebab kehancuran dunia.
"Baiklah Nona, bisakah kita langsung ke intinya." Ucap Alvin.
"Tolong selamatkan teman-temanku, Tuan ..."
"Alvin Delamo, panggil saja aku Alvin, tanpa Tuan." Lanjut Alvin.
"Oke..." Ucap Tatiana.
"Sekarang ceritakan tentang situasinya."
Tatiana ragu-ragu sejenak lalu mulai menceritakan pada Alvin.
"Mereka semua yang menyandera teman-temanku berasal dari narapidana yang kabur dari kantor polisi. Ketuanya terkenal dengan pembunuhan berantai yang dilakukannya sebelum kiamat zombie, dia bernama Frank. Ditempat penyanderaan ada banyak anggota mereka, mungkin sekitar 30-40 orang."
"Senjata api apa yang mereka miliki?" Tanya Alvin penasaran.
"Aku tidak tau pasti, yang kulihat beberapa pistol dan dua senapan AK-47." Lanjut Tatiana.
"Mmm... Apa rencanamu menghadapi senjata api itu? Bukankah mustahil menyelamatkan teman-temanmu jika berhadapan dengan mereka?" Tanya Alvin.
Tatiana kemudian diam setelah Alvin mengatakan itu, dia kembali mempertanyakan kemampuan dirinya.
"Tapi aku harus melakukannya. Bagaimanapun mereka satu-satunya keluargaku, aku tidak bisa membiarkan mereka disandera disana."
"Aku berterimakasih padamu Alvin karena menyelamatkanku, tapi aku tidak bisa melibatkanmu untuk kepentinganku sendiri."
"Sebagai permintaan terakhir, tolong turunkan aku di tempat persembunyian mereka." Ucap Tatiana tegas. Dia menguatkan dirinya untuk bertarung sendirian.
Tiba-tiba gelak tawa pecah dimobil itu.
"Hahahaha, bukankah sudah kubilang aku akan membantumu Nona, aku hanya menguji kesetiaanmu terhadap teman-temanmu."
"Tenang saja, kamu bisa mempercayai kata-kataku, kita akan menyelamatkan teman-temanmu setelah aku mengetahui situasinya." Kata Alvin
Tatiana tertegun mendengar ucapan Alvin. Walaupun Alvin tidak memutuskan untuk membantunya, dia tetap ingin berterimakasih sebanyak-banyaknya karena mencoba menghiburnya.
"Bagaimana dengan tempat persembunyiannya? Apakah sulit untuk kita telusuri?" Tanya Alvin.
"Mereka menggunakan pabrik yang ditinggalkan sebagai markas mereka."
"Pabrik itu cukup besar sehingga banyak celahnya, seharusnya tidak sulit bagi kita untuk masuk ke dalam." Ucap Tatiana.
"Bukankah dengan begini jadi lebih mudah dilakukan? Hahaha." Ucap Alvin sambil tertawa.
"Bagaimana tentang lokasi tempat sandera ditahan, apa kamu tau dimana itu?" Tanya Alvin.
'Eh, apakah Alvin ini orang gila? Menghadapi lebih dari 30 orang besenjata dan dia bilang 'mudah'? Ucap Tatiana dalam hati.
"Ya, aku tau dimana, ruangan itu mereka tempatkan di bagian belakang pabrik." Ucap Tatiana ragu-ragu.
Sebenarnya Alvin tidak memiliki ide apapun, berdasarkan logikanya, bagaimana mungkin tiga puluh orang lebih yang mereka miliki melawan dua orang dari mereka. Benar-benar aksi yang konyol.
Tetapi dengan kecepatannya yang sekarang, pasti mudah baginya untuk menghadapi mereka. Alvin sekarang mampu menghindari serangan pistol biasa, hanya senapan yang harus diwaspadainya.
Alvin juga saat ini memiliki attribute yang tinggi dengan skill perspektif yang bisa melacak pergerakan semua orang. Bukankah semua ini mudah sesuai perkiraannya?
"Bagus, kita akan menyelamatkan sandera dan menghancurkan mereka malam ini."
Kemudian Alvin menceritakan rencananya.
Mata Tatiana terbelalak saat mendengar rencana Alvin.
'Orang ini tidak hanya gila, tapi nekat.' itulah yang ada dibenak Tatiana. Tetapi dengan kepercayaan diri Alvin, dia akhirnya setuju dengan rencana itu.
"Mmm... Tapi dengan rencana ini, aku akan mengambil semua persediaan yang mereka miliki. Bagaimana?" Tanya Alvin.
"Tidak masalah, asalkan teman-temanku semua selamat, kamu bisa mengambil semuanya." Ucap Tatiana sambil tersenyum.
Alvin yang pertama kali melihat senyuman Tatiana tertegun dan mematung.
Tatiana yang menyadari dirinya ditatap oleh Alvin memalingkan wajahnya dengan malu-malu.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Tatiana malu-malu.
"Tidak." Jawab Alvin.
'Yakinlah, aku akan menghajar siapapun yang berani merenggut senyuman terindah ini.' Batin Alvin.