
"Baiklah, karena kelompok sudah terbentuk sekarang, kita harus pergi sebelum orang-orang dirumah sakit terbangun." Ucap Alvin.
Berdasarkan hasil pengamatan Nancy, hanya 30-40 orang yang tersisa dirumah sakit. Jumlah itu masih banyak untuk ditanggung Orsen seorang diri.
Persediaan yang diberikan Alvin kemungkinan hanya bisa bertahan selama sepuluh hari. Setelah makanan habis, entah apa yang akan terjadi pada mereka.
Alvin mengintip ke arah truk lalu melihat Orsen dan anggotanya yang telah selesai mengambil semua persediaan.
Tidak ada yang ditinggalkan, bahkan kurang dari sebotol air sebagai basa-basi.
Untungnya saat di supermarket Alvin bertindak cerdas, dia hanya mengeluarkan setengah persediaan lalu menyimpan makanan yang memiliki masa kadaluarsa yang lebih lama. Makanan itu jika dibagikan dengan kelompoknya dapat bertahan selama beberapa bulan.
"Sekarang kita harus beristirahat, besok pagi kita akan keluar dari kafetaria ini." Ucap Alvin.
*****
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk pergi dari kafetaria.
"Apa orang-orang di kafetaria sudah pergi?" Tanya Orsen.
"Ya, Direktur Orsen, mereka telah pergi sebelum pagi sekali tanpa ada yang menyadarinya." Jawab salah seorang penjaga.
"Haha bagaimana mereka bertahan diluar tanpa makanan, benar-benar sekelompok idiot." Hina Orsen.
Tiba-tiba.
Bremmm.bremmmm.bremmmm
Breemmmm.bremmmm
*****
Richard mengemudikan truk disamping Alvin, sedangkan yang lain berada di konteiner truk.
Alvin memberi tahu tujuan mereka yang merupakan rumahnya yang berada dihutan. Hanya Nancy yang tau letak rumah tersebut karena dia juga yang merekomendasikannya pada Alvin.
Perjalanan selama dua jam berlangsung tanpa masalah. Fokus Alvin saat ini adalah mengantar anggota dan mengecek keadaan rumahnya
Saat tiba di gerbang rumahnya, Alvin dan yang lainnya dicegat oleh dua serigala ganas.
Ciiiittttt...
Karet ban pada mobil bergesekan dengan tanah. Alvin turun dari mobil lalu menghampiri dua serigala tersebut.
Karena mobil berhenti, orang-orang yang berada di dalam truk keluar satu persatu.
Serigala abu-abu yang lebih kecil berlari dengan cepat saat melihat sosok yang dikenalnya.
Orang-orang yang berada dibelakang melihat itu seakan-akan serigala hendak menerjang Alvin.
"Awas!!!" Teriak Nancy.
Namun hal yang mereka bayangkan tak terjadi. Bukannya menggigit, serigala itu malah membasahi Alvin dengan air liurnya. Mereka berdua berguling-guling di tanah dengan ceria.
"Wooooofff..."
"Wooooofff..."
"Hahaha, lihat ukuranmu sekarang Grey, aku bisa mati jika diinjak olehmu." Ucap Alvin sambil memeluk Grey.
Mereka yang berada dibelakang tercengang saat melihat interaksi antara Alvin dan serigala yang dipanggil Grey itu.
Saat sedang berguling-guling, serigala putih yang lebih besar datang menghampiri mereka berdua.
"Hey Lily, bagaimana kabarmu? Apa kamu merindukanku? Sini berikan aku pelukan." Ucap Alvin tersenyum sambil merentangkan tangannya.
Bukannya mendapatkan pelukan hangat, Lily malah mengais hingga tanah terlempar menutupi wajah Alvin. Dia pun berbalik acuh meninggalkan Alvin.
"Cuiih... cuihhh..." Alvin meludah membersihkan kotoran yang mengenai wajahnya.
"Ayo masuk ke dalam teman-teman, Kak Richard tolong parkirkan truk itu didalam." Ucap Alvin.
Nancy dan yang lainnya takjub saat melihat tempat tinggal Alvin. Walaupun dia yang menjual rumah ini, dirinya pribadi tidak tau kondisi pasti rumahnya. Lagipula setelah proses pembelian rumah selesai, Alvin langsung merombak rumahnya sesuai dengan yang dia inginkan.
Setelah tiba di dalam rumah, Alvin langsung memperkenalkan semua area yang telah dibangunnya.
James dan Richard cukup puas karena rumah telah dilengkapi dengan fasilitas gym sehingga bisa menjaga kebugaran tubuh mereka. Julian dan Arthur kegirangan karena ada ruang hiburan yang dilengkapi dengan banyak jenis permainan.
Dia juga turut membagikan kamar pada mereka. Kamar tersebut cukup besar yang dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya.
Semua orang larut dengan kegiatan masing-masing hingga melewatkan makan siang. Namun, bukan berarti mereka sengaja melewatkan itu, masing-masing kamar masih terdapat snack yang Alvin tinggalkan sebelum dia pergi. Itulah yang membuat semua orang menikmati waktunya sendiri.
Alvin juga hanya berbaring istirahat dan menikmati kasurnya. Sekuat apapun dia berkembang, tetap saja kelelahan mental selama beberapa hari melawan zombie masih bisa terjadi padanya.
Saat malam hari, Alvin keluar dari kamar dan turun menuju dapur. Disana sudah ada James dan Richard yang sedang berbincang. Berdasarkan aroma keringat dari tubuh mereka, sepertinya baru saja keluar dari ruang gym.
"Kak James, Kak Richard, dimana yang lain?" Tanya Alvin.
James dan Richard menoleh ke Alvin.
"Mereka sepertinya masih dikamar." Jawab Richard.
"Apa kamu mau mengumpulkan mereka semua?" Lanjut James.
"Ya."
"Kita berkumpul di ruang makan satu jam lagi, tolong kumpulkan semua orang." Ucap Alvin.
James dan Richard mengangguk, mereka segera memberitahu anggota yang lain satu persatu.
Beberapa menit kemudian, Nancy menghampiri Alvin yang berada di dapur. Saat ini dia mengikat rambutnya hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ditambah dengan balutan piyama berwarna merah muda dan riasan tipis menambah kesan yang segar bagi orang yang melihatnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Alvin?" Tanya Nancy tiba-tiba. Dia melihat Alvin yang sedang memakai celemek dan mencicipi makanan.
"Membuat sup, tunggulah sebentar, aku akan membawanya ke ruang makan." Ucap Alvin.
"Ada yang bisa kubantu?." Tanya Nancy lembut.
"Tidak, biarkan aku menyelesaikan ini dalam beberapa menit, tunggulah diluar." Ucap Alvin sambil mengusir Nancy.
Saat ini semua orang telah berkumpul diruang makan kecuali Pak Tua Karsen dan Perawat Tina. Alvin juga selesai dengan masakannya dan duduk bersama.
"Baiklah, hari ini kita berkumpul bersama merayakan pembentukan kelompok secara resmi." Ucap Alvin.
James tiba-tiba berdiri dan berkata,
"Mulai malam ini kita menjadi saudara disaksikan oleh sup ayam buatan Alvin."
Mendengar itu yang lain pun ikut tertawa. Hanya Alvin yang tersenyum sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Kemudian mereka semua melanjutkan memakan sup itu. Semua orang juga larut dengan pikiran masing-masing.
Sebulan yang lalu mereka masih berkutat dengan kegiatan masing-masing. Saat itu, tidak ada yang percaya dengan kenyataan bahwa dunia akan berubah.
Bahkan Nancy menitikkan air mata ketika mengingat perjalanannya sampai bisa merasakan sup ayam yang empuk dan nasi hangat malam ini.
Alvin hanya diam merasakan perubahan suasana saat makan malam ini. Hanya dentingan piring dan alat makan yang mengisi acara makan malam tersebut.
Setelah menyelesaikan peralatan makan, Alvin mengajak mereka untuk berkumpul di ruang rapat.
"Malam ini aku memerlukan bantuan kalian untuk menyuarakan ide-ide agar kelompok ini bisa bertahan." Ucap Alvin bersungguh-sungguh.
"Bagaimanapun kekuatan kita saat ini terbatas, kita perlu menguatkan diri ke beberapa sektor." Kata Richard.
Bukan cuman kekuatan yang kurang, bahkan jumlah orang yang berada di kelompok ini pun juga. Hal ini telah menjadi beban pikiran Alvin semenjak membentuk kelompok.
"Oke, malam ini kita harus menentukan pekerjaan masing-masing, semua orang harus bertanggung jawab atas sesuatu." Ucap Alvin.