Attribute on Apocalypse

Attribute on Apocalypse
Membentuk Kelompok



Saat ini Alvin, Zack dan James kembali ke kafetaria sambil memegang peralatan medis.


Dia menceritakan tentang rencananya ke supermarket dan 'penahanan sementara' Nancy kepada orang-orang di kafetaria.


Julian marah dan sakit hati saat mendengar Nancy yang harus tinggal dirumah sakit.


"Tenanglah, Nancy bisa melindungi dirinya sendiri." Ucap Alvin sambil menepuk kepala Alvin.


Dengan kemampuan Nancy dan skillnya sekarang, dia pasti bisa dengan mudah membunuh musuhnya. Nancy juga telah dipersenjatai dengan pistol, jadi Alvin tidak terlalu khawatir dengannya.


"Baiklah paman, kamu bisa memulai pengobatanmu untuk Pak Tua Karsen. Kak Tina, Julian, tolong tetap disini untuk membantu paman."


"Kak James bisa berjaga diluar kafetaria, kali ini aku hanya pergi bersama Kak Richard ke supermarket."


Setelah pengaturan itu, semua melaksanakan tugasnya masing-masing.


Sebelum Alvin pergi, seseorang menghampirinya.


"Terimakasih telah menyelamatkan kakekku." Ucap Arthur sambil membungkukkan badannya.


"Kamu bisa mengucapkan itu pada Dokter Zack, aku hanya membantunya saja." Ucap Alvin sambil melenggang pergi.


******


Saat ini Alvin berjalan bersama Richard menelusuri blok yang telah ditunjukkan oleh Orsen.


Karena bergerak pada malam hari, mereka berjalan perlahan sambil mewaspadai pergerakan zombie. Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam.


"Supermarket seharusnya berada disana." Ucap Richard sambil menunjuk ke gedung didepannya.


Alvin memfokuskan persepsi ke sekitarnya dan menemukan sesuatu di gedung yang bersebrangan dengan supermarket.


Sudut bibirnya terangkat ketika dia memikirkan sebuah ide cemerlang.


Alvin mengatakan rencananya pada Richard dan Richard mengangguk menyetujuinya.


*****


Sementara itu, seseorang sedang menatap ke arah supermarket menggunakan teropong.


"Kakak, lihat ada seseorang di supermarket." Ucap seorang pemuda dengan anting di hidung.


"Oh, apa ada orang yang berani kesana?" Ucap seseorang yang dipangggil 'kakak' tadi.


"Lihat, orang itu menebas zombie menggunakan pedang, mungkin dia keturunan samurai." Ucap pemuda dengan anting tadi.


"Sini berikan teropongnya."


"Wah, dia benar-benar handal, mungkin saja dia bisa menghabisi zombie di sekitar supermarket itu." Ucap 'kakak' itu.


"Panggil Ceking, kita harus bergegas ke supermarket untuk memperingatkan bocah itu." Lanjut 'kakak'.


"Oke." Jawab pemuda anting.


Setelah menunggu beberapa saat, sang 'kakak' merasa bosan karena kedua bawahannya belum muncul juga.


"Kemana dua bocah bodoh itu pergi."


Ketika 'kakak' hendak keluar mencari mereka, seseorang dari kegelapan muncul entah darimana.


"Siapa kamu?!?" Bentak 'kakak'.


Sosok itu keluar dari kegelapan dan melesat maju tanpa bersuara. Itu adalah keistimewaan skill 'langkah ringan.'


Brak..Bukkk...


Brak..Bukkk...


Brak..Bukkk...


Richard menghajar 'kakak' hingga pingsan, lalu menyeret dan membawanya keluar.


Tak lama setelah itu, Alvin melihat Richard keluar sambil menyeret seseorang. Dia tercengang dan langsung memberikan jempol pada Richard.


Saat ini, hampir semua zombie diluar supermarket telah Alvin selesaikan.


Alvin mengisyaratkan Richard untuk menunggu diluar sementara dia bergegas membersihkan seluruh zombie yang berada di dalam supermarket.


Butuh waktu setengah jam bagi Alvin untuk memastikan keamanan supermarket. Zombie yang telah dia bunuh sekitar seratus lima puluhan.


Alvin meminta Richard untuk mengumpulkan batu evolusi sementara dia mencari cara untuk mengangkut persediaan ke rumah sakit.


Setelah berkeliling, Alvin menemukan sebuah truk pengangkut barang dibelakang supermarket.


'Seharusnya ini cukup.' gumam Alvin.


Kemudian Alvin kembali ke dalam supermarket dan berjalan ke arah Richard yang telah selesai mengumpulkan batu evolusi.


"Mari kita bangunkan orang itu." Ucap Alvin sambil menunjuk 'kakak' yang pingsan.


Alvin mengambil sebotol air mineral dari rak supermarket dan menyiramnya ke 'kakak'.


"Hah? Siapa kalian?" Ucap 'kakak' panik.


"Jawab pertanyaanku dan aku akan melepaskanmu."


"Dari kelompok mana kalian berasal? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Alvin.


Keheningan terjadi, 'kakak' enggan menjawab pertanyaan Alvin.


Alvin mengeluarkan belati dan menusukkannya langsung ke telapak tangan 'kakak'.


"Aaaagggghhh...."


Rasa sakit diikuti dengan pendarahan mengalir dari telapak tangan itu.


"Kalian sungguh kejam, orang-orang kami tidak akan melepaskan kalian." Ucap 'kakak'.


"Oh benarkah?"


Alvin mengambul belati lain dari tubuhnya, dan menghunuskan belati itu ke telapak tangan lainnya.


"Aaaagggghhh..."


"Sialan, lepaskan..."


"Kami anggota Tyrant Skull, sudah beberapa hari kami mengincar gedung supermarket ini." Jawab 'kakak'.


'Kakak' akhirnya menyerah dan menjawab pertanyaan Alvin.


Alvin terkejut saat mendengar Tyrant Skull, dia tidak menyangka akan mendengar nama itu lagi setelah sebelumnya bertemu mereka di kantor polisi.


Kemudian dia tersenyum tipis karena hal itu sungguh sesuai dengan rencananya.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu, katakan pada Tyrant Skull, jangan berani-beraninya mencampuri urusan Rumah Sakit Milestone. Aku bawahan dari Direktur Orsen." Ucap Alvin dengan bangga.


Setelah mencabut belatinya, Alvin memberikan jalan keluar pada 'kakak'.


"Oh iya, jangan bawa motormu, aku mau menggunakan menghadiahkan motor itu untuk Direktur Orsen." Teriak Alvin.


'Kakak' menggertakkan gigi mendengar kata-kata Alvin, lalu dia segera menghilang bersama kegelapan.


Richard yang daritadi mendengar percakapan mereka terkejut. Dia tidak menyangka Alvin akan memercikkan api diantara Tyrant Skull dan Rumah Sakit Milestone.


"Kak Richard, bagaimana? Apa kamu tertarik untuk bergabung dengan kelompokku?" Tanya Alvin serius.


Richard yang tiba-tiba ditanya sontak terkejut.


"Bukankah kita berada di tim yang sama selama ini?" Jawab Richard sambil tersenyum.


Alvin yang mendengar jawaban Richard pun ikut tersenyum. Sebagai laki-laki, mereka terkadang tidak membutuhkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan.


"Kak Richard, tolong siapkan truk di belakang supermarket, aku akan memindahkan semua persediaan disini ke truk itu." Ucap Alvin


Richard mengangguk dan bergegas keluar melewati pintu belakang.


Alvin mulai berkeliling supermarket dan memasukkan semua persediaan ke cincin penyimpanannya.


Saat Richard kembali ke supermarket, dia terkejut karena barang-barang di supermarket telah dikosongkan. Lalu dia keluar mengikuti Alvin menuju truk yang dia bawa sebelumnya.


Alvin berjalan ke belakang truk lalu merentangkan tangannya. Dalam sepersekian detik, persediaan dari supermarket telah berpindah dan tersusun rapi di dalam truk tersebut.


"I..ini, bagaimana bisa?" Tanya Richard sambil menunjuk ke arah truk yang telah terisi penuh.


"Ini rahasia yang aku miliki." Ucap Alvin sambil tersenyum.


Saat ini Alvin telah memutuskan untuk mempercayai Richard karena dia merupakan anggota pertama dikelompoknya. Alvin memberikan rahasia tentang ruang penyimpanan sebagai skill eksklusif miliknya, bukan cincin penyimpanan.


Setelah membuat Richard tercengang, Alvin masuk ke dalam truk dan membiarkan Richard mengendarainya.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka.


Hanya butuh sepuluh menit untuk tiba di rumah sakit. Richard menghentikan mobil di parkiran rumah sakit sesuai permintaan Alvin.


Direktur Orsen mendengar suara mobil diparkiran, dia segera menghampiri Alvin bersama rekan-rekannya. Mata mereka berbinar saat melihat persediaan yang melimpah di dalam truk.


Saat itu Nancy menghampiri Alvin dan menunggu pujiannya.


"Apa ada orang yang berguna disana?" Tanya Alvin.


Nancy menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak ada satupun yang layak, bahkan polisi disana bukan orang baik. Sisanya hanya orang-orang kaya yang tak berguna." Jawab Nancy kesal.


Alvin hanya menjawab dengan mengelus kepala Nancy.


Kemudian dia berbalik untuk menemukan Orsen.


"Pindahkan semua persediaan itu, kami butuh truk itu segera." Ucap Alvin.


"Oke oke." Jawab Orsen sambil tersenyum.


"Kalian semua, masukkan barang-barang ini ke rumah sakit."


Orsen memendam kebahagiaannya, dia tidak menyangka bahwa Alvin memberikan semua persediaan itu padanya.


'Cih, anak muda yang sombong, kita lihat nanti saat persediaanmu habis, aku pastikan kamu akan memohon untuk bekerja padaku.' gumam Orsen.


Saat Orsen dan anggotanya memindahkan persediaan, Alvin kembali ke kafetaria bersama Nancy dan Richard.


Penanganan penyakit Pak Tua Karsen telah dilakukan. Walaupun belum siuman, dia telah melewati masa kritisnya. Arthur juga berterima kasih sekali lagi kepada Alvin.


Sekarang Alvin mengumpulkan mereka semua ke kafetaria. Dia menceritakan pertemuannya dengan anggota Tyrant Skull di supermarket.


"Baiklah, aku sudah mengatakan situasinya pada kalian semua, keputusan ingin tinggal atau bergabung bersama kelompokku ada ditangan kalian." Ucap Alvin serius.


"Aku dan Richard akan ikut denganmu." Jawab James serius.


"Aku dan Julian ingin ikut denganmu, tapi ..." Nancy berhenti sejenak lalu menatap ayahnya.


Zack akhirnya mengerti sesuatu.


"Hahaha, bukankah ini persyaratan kedua darimu? Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang, bahkan putra dan putriku memilih bersamamu, kamu terlalu licik." Jawab Zack sambil mengelus kepala mereka berdua.


Alvin cekikikan mendengar jawaban Zack.


"Bisakah aku bergabung? T..tapi aku tidak bisa membunuh zombie." Tanya Tina dengan ragu.


Alvin memandang Tina dengan tatapan lembut.


"Jangan takut kak Tina, di zaman ini semua orang harus membunuh zombie agar mereka bisa menjadi lebih kuat, kamu tidak bisa selalu meminta perlindungan bukan?"


"Walaupun kamu tidak harus berada digaris depan, kemampuan medismu bersama paman Zack akan berguna." Terang Alvin.


Arthur yang mendengar ucapan Alvin, sontak berbinar.


"Apa aku bisa sekuat dirimu, kak Alvin?" Tanya Arthur.


"Tentu saja."


"Baiklah, aku akan bergabung denganmu sampai kakek sadarkan diri." Jawab Arthur.


Pada akhirnya, Tina pun setuju untuk bergabung dengan kelompok Alvin.


"Oke, mulai sekarang kita akan menjadi kelompok yang saling menjaga satu sama lain." Tegas Alvin.


Hari ini mereka semua tidak akan menyadari keputusan untuk mempercayai Alvin sebagai ketua adalah pilihan terbaik seumur hidup mereka.