
Alvin dan yang lainnya segera meninggalkan pabrik.
Setelah mereka pergi, zombie-zombie mulai mengelilingi pabrik tersebut dengan kecepatan yang stabil. Tidak ada hal yang lebih menarik perhatian zombie selain bau darah dan keributan akibat pertarungan.
Walaupun wilayah disekitar pabrik telah dibersihkan oleh anggota Frank sebelumnya, tetap saja jumlah zombie tidak akan berkurang dengan mudah.
Alvin memutuskan untuk tidak menetap di pabrik agar menghindari bentrokan terhadap kelompok narapidana yang lain. Bagaimanapun kelompok narapidana ini cukup berbahaya dan memiliki banyak anggota.
Saat ini Alvin hanya fokus pada tujuannya untuk pergi ke Desa Cathya. Dia tidak menginginkan perseteruan tidak berguna dengan kelompok lain.
Alvin hanya bisa berharap bahwa dengan banyaknya zombie di pabrik, bisa menghilangkan jejak pertarungannya dan tidak menimbulkan kecurigaan terhadap kelompok narapidana lain yang berafiliasi dengan kelompok Frank.
Di dalam mobil saat ini hanya ada Alvin dan anggota Tatiana. Sedangkan kelima orang lainnya berada di bak belakang mobil. Karena tubuh besarnya, Grey mengikuti mobil mereka dengan berlari.
"Terimakasih karena telah menyelamatkan kami tuan." Ucap seorang gadis dibelakang. Dia memulai percakapan karena kecanggungan yang terjadi di dalam mobil.
Alvin menganggukkan kepalanya dan hanya berdehem. Lalu dia terkejut saat melihat gadis itu melalui kaca spion.
Saat berada di pabrik, Alvin benar-benar larut dengan pertarungan dan tidak memperhatikan orang-orang yang ikut bersama Tatiana. Dia baru menyadari bahwa saudara Tatiana memiliki perawakan sama persis seolah pinang dibelah dua.
Namun ada satu hal yang berbeda dari mereka, yaitu bola matanya. Tatiana memiliki mata cantik berwarna kecoklatan yang begitu indah.
Sedangkan saudaranya memiliki warna mata redup berwarna keabu-abuan. Dengan gerakan tubuh dan mata yang terus menatap ke depan, orang-orang pasti langsung mengetahui bahwa gadis cantik ini sebenarnya buta.
Sekarang Alvin mengagumi Tatiana yang rela berkorban untuk saudaranya. Tidak semua orang mau merawat orang yang butuh perhatian khusus di era kiamat zombie ini.
Setelah ucapan terimakasih singkat itu, suasana kembali menjadi canggung. Sampai beberapa saat kemudian Tatiana bertanya pada Alvin.
"Kemana kamu akan membawa kami?" Tanya Tatiana yang berada disampingnya.
"Apa rencana kalian?" Tanya Alvin kembali.
Semua orang menundukkan kepala. Selain untuk menyelamatkan dua rekan lain yang dibawa Frank, mereka tidak memiliki tempat yang dituju.
"Kami ingin menyelematkan teman kami..."
Alvin menaikkan alisnya menunggu lanjutan jawaban Tatiana.
"Tapi kami tidak tau mereka ada dimana, sebelumnya kelompok Frank membawa mereka keluar dari pabrik." Sela Vento.
Mendengar seorang pria muda tiba-tiba berbicara, Alvin langsung memfokuskan untuk melihatnya melalui kaca spion. Tidak ada penilaian khusus darinya mengenai pria muda tersebut. Malah Alvin sedikit terkejut melihat keberuntungan pria tersebut yang dapat bertahan hidup di era zombie ini.
"Kita harus mencari tempat istirahat malam ini." Ucap Alvin kemudian tanpa merespon obrolan mereka.
Posisi Alvin saat ini berada di perbatasan Kota Skycloud dan Desa Cathya.
Kurang dari sepuluh menit, Alvin menemukan sebuah ruko kecil yang dikelilingi puluhan zombie.
Semua orang yang berada dimobil dikejutkan dengan kendaraan yang tiba-tiba berhenti. Raut wajah mereka menjadi serius saat dihadapkan oleh segerombol zombie.
Alvin turun dari mobil dan mengeluarkan pedangnya. Dia menuju ke segerombolan zombie dengan cepat.
Sliingggg...
Slaaashhhh....
Orang yang berada di mobil tercengang melihat kecepatan dan kekuatan Alvin.
3 menit kemudian Alvin telah selesai dengan semua zombie yang berada di sekitar ruko tersebut.
Karena jarak yang cukup jauh pergerakan Alvin hanya terlihat seperti bayangan berkedip. Dari mobil tampak semua mata memancarkan aura kekaguman dan ketidakpercayaan.
'Pantas saja kelompok Frank dibantai dengan mudah.' Ucap salah seorang dalam benaknya.
Kemudian Alvin memanggil Grey untuk mengumpulkan semua batu evolusi yang berada pada zombie.
Orang-orang yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dan menatap jijik karena mengira Grey akan memakan zombie yang telah mati itu.
"Masih ada air bersih di sumur, bersihkan tubuh kalian sebelum kita berbicara." Ucap Alvin sambil menunjuk arah belakang.
"Tapi..." Potong Tatiana.
"Umm?" Tanya Alvin keheranan.
"Kami tidak memiliki pakaian selain yang kami kenakan." Ucap Yelena, salah satu teman Tatiana.
"Oh, aku akan mencari pakaian diluar, sepertinya aku melihat toko pakaian di depan sana." Ucap Alvin.
"Biar kami bantu untuk membawanya ..." Sela salah satu pria paruh baya yang mengikuti mereka.
"Jangan, terlalu bahaya di malam hari, aku tidak bisa menghadapi zombie sambil melindungi orang lain." Ucap Alvin.
Kemudian Alvin pergi keluar bersama Grey. Tentu saja dia akan membawa Grey untuk membawa pakaian, karena tidak tau dengan ukuran tubuh mereka, Alvin berencana membawa pakaian sebanyak-banyaknya.
Tiga puluh menit kemudian, Alvin kembali dengan segumpal penuh pakaian dipunggung Grey.
Saat ini para pria membersihkan diri terlebih dahulu sedangkan wanita menunggu Alvin mengambil pakaian diluar sambil berjaga.
Alvin meletakkan pakaian di ruang tempat mereka berkumpul, para wanita langsung menyerbu seolah mereka enggan melepaskan diskon produk pakaian di supermarket.
Ada 5 wanita yang saat ini mencari pakaian dan 4 pria yang sedang membersihkan tubuhnya dibelakang.
Setelah selesai dengan urusan pakaian, mereka bergantian dengan urusan cuci mencuci.
Satu jam menunggu, Alvin mengernyitkan dahinya karena para wanita tidak kunjung keluar.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka keluar satu persatu dengan kondisi menyegarkan.
'Butuh waktu lebih dari satu jam untuk wanita-wanita ini mandi saat para pria hanya lima belas menit?'
'ck.ck women.' Ucap Alvin kesal dalam hatinya.
"Aku menemukan ini saat mencari pakaian, tolong disediakan agar kita bisa makan bersama." Ucap Alvin sambil menyerahkan beberapa kaleng daging dan makanannya.
"Tidak perlu sungkan, sebelumnya kami berhasil mengambil sebagian makanan dari kelompok Frank, tidak banyak namun cukup untuk beberapa hari." Ucap Tatiana.
"Tunggu, biar aku ambilkan di mobil." Ucap seorang pria paruh baya menawarkan diri.
Melihat persediaan yang dikemas di dua kantong, Alvin mengangguk.
"Karena sudah larut, mari kita persingkat perkenalan kita."
"Saya Alvin Delamo, orang yang selamat dari Desa Milestone, saat ini sedang menuju ke Desa Cathya untuk mencari saudaraku." Ucap Avin.
"Saya Tatiana Lemen dan ini Tafiona Lemen, kami berdua bersaudara. Saya dulunya bekerja sebagai anggota polisi di Kota Skycloud. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi, kami hanya ingin bertahan di dunia yang kacau ini." Ucap Tatiana.
"Aku Vento Hayden, seorang programmer yang kesehariannya hanya di dalam kamar. Aku bersama Tatiana dan yang lainnya bertemu saat dunia telah berubah." Ucap Vento.
"Aku Yelena, tetangga Tiana dan Fiona, bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket di Kota Skycloud." Ucap Yelena.
"Saya Edward Cullen, dulu bekerja sebagai guru di Sekolah Menengah Kota Skycloud. Kedua anak ini merupakan anakku bernama Ronald dan Luna." "Ayo beri salam pada paman dan bibi." Ucap Edward.
"Halo Paman, Halo Bibi." Ucap Ronald dan Luna serempak.
Ronald terlihat seperti siswa Sekolah Menengah, sedangkan Luna siswa Sekolah Dasar.
"Saya Jarvis Moore dan ini istri saya Megan Bill. Saya dulu bekerja di perusahaan konstruksi, sedangkan istri saya membuka sebuah restoran kecil-kecilan di Kota Skycloud." Ucap Jarvis.
Mata Alvin berbinar saat mendengar pekerjaan Jarvis yang berada di konstruksi bangunan. Saat ini dia butuh lebih banyak orang yang memiliki kemampuan tertentu untuk basecampnya.
Ditatap dengan intens oleh Alvin, Jarvis bergidik ngeri seolah tubuhnya digerayangi oleh Alvin.
'Apa yang salah dengan anak ini.'