
Requiem melangkah hati-hati di lorong-lorong istana, senjata tersembunyi di balik jubah hitamnya. Dia telah mengikuti jejak Pangeran Aiden hingga ke sini, dan dia yakin bahwa targetnya pasti ada di dalam salah satu ruangan di sekitarnya.
Namun, setelah beberapa saat berjalan, Requiem merasa sesuatu yang tidak beres. Ada terlalu banyak penjaga di sekitar, dan mereka tampak terlalu waspada. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah, dan itu membuatnya semakin waspada.
Akhirnya, dia mencapai sebuah pintu besar dan mengintip ke dalamnya. Di dalam, dia melihat Pangeran Aiden sedang duduk di atas takhta, dengan sekelompok penjaga di sekelilingnya.
Tapi yang membuat Requiem terkejut adalah apa yang dia lihat di balik pangeran. Ada seorang penyihir berdiri di belakangnya, menempatkan tangan di punggung pangeran dan mengirimkan energi magis ke tubuhnya.
Requiem merasa jantungnya berdebar cepat. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat jika dia ingin menghentikan apa yang sedang terjadi. Dia memegang pedangnya dengan erat dan membuka pintu dengan kasar.
"Siapa kamu?" tanya Pangeran Aiden, penjaga yang berdiri di sampingnya sudah bersiap-siap untuk bertindak.
Requiem memandang pangeran dengan tajam. Dia tahu bahwa dia harus berbicara dengan cepat jika dia ingin membuatnya percaya.
"Saya adalah seorang pembunuh bayaran, tapi saya tidak datang untuk membunuhmu," kata Requiem. "Saya datang untuk memberitahumu tentang konspirasi yang sedang terjadi di belakangmu."
Pangeran Aiden terkejut mendengar itu, dan Requiem melihat ketidakpercayaannya di wajahnya.
"Ada seorang penyihir di belakangmu, dia sedang memberikan energi magis ke tubuhmu," kata Requiem. "Itu bukan untuk kebaikanmu. Saya yakin bahwa mereka ingin mengambil alih kekuasaanmu dan memanfaatkanmu untuk tujuan mereka sendiri."
Pangeran Aiden terlihat ragu, tetapi dia memutuskan untuk percaya pada kata-kata Requiem. Dia memberi isyarat kepada penjaga di sekelilingnya untuk menangkap penyihir itu, dan ketika itu terjadi, Requiem mengamankan ruangan dan memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman.
Setelah itu, Pangeran Aiden dan Requiem duduk bersama dan berbicara tentang apa yang terjadi. Pangeran Aiden mengungkapkan bahwa dia sudah lama merasa curiga tentang penyihir itu dan bahwa dia berterima kasih atas bantuan Requiem.
Requiem merasa lega bahwa dia telah berhasil melindungi pangeran dan menghentikan konspirasi yang sedang terjadi. Namun, dia juga merasa tergerak oleh persahabatan yang baru saja dia kembangkan dengan pangeran itu.
Mereka saling bertukar kata-kata dan cerita tentang masa lalu mereka yang masing-masing memiliki rahasia yang dalam. Pangeran itu juga mengungkapkan bahwa dia sebenarnya bukanlah orang yang egois dan berkuasa seperti yang sering dibicarakan oleh orang-orang, tetapi ia lebih ingin melakukan kebaikan untuk rakyatnya.
Requiem mulai merasa bahwa dia bisa percaya pada pangeran itu dan melihat kebaikan dalam dirinya. Namun, ketika mereka berdua berencana untuk mengungkap lebih banyak tentang konspirasi yang terjadi, Requiem mendapat kabar bahwa ada pembunuh bayaran lain yang sedang mengejar pangeran itu.
Dalam perjalanan mereka untuk melindungi pangeran dari pembunuh bayaran yang baru, Requiem dan pangeran menemukan bahwa konspirasi yang mereka pikir sudah berakhir masih terus berlangsung dan menjadi lebih besar. Mereka harus bekerja sama untuk menghentikan konspirasi itu dan menghadapi musuh yang kuat dan berbahaya.
Di tengah-tengah pertempuran dan pengorbanan, Requiem mulai mengembangkan perasaan yang lebih dalam untuk pangeran dan menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan dalam pandangan hidup dan kebaikan hati. Namun, di saat yang sama, Requiem juga menyadari bahwa dia tidak bisa melupakan masa lalunya sebagai seorang pembunuh bayaran yang kejam dan bermusuhan.
Ketika konspirasi itu akhirnya terungkap dan musuh mereka dikalahkan, Requiem harus memilih antara hidup di dunia yang penuh dengan kekerasan dan kesendirian atau hidup dengan persahabatan dan cinta. Pangeran itu menawarkan kesempatan untuk memulai hidup yang baru, tetapi Requiem harus memutuskan apakah dia siap untuk mengubah hidupnya yang selama ini telah ia jalani.
"Kamu tahu, pangeran, aku telah hidup selama bertahun-tahun tanpa mempercayai siapa pun," ujar Requiem dengan suara pelan. "Tapi, aku merasa bahwa kamu benar-benar berbeda. Kamu adalah orang yang pantas untuk dipercayai."
Pangeran menatap Requiem dengan pandangan yang serius. "Terima kasih, Requiem. Sama seperti kamu, aku juga belum pernah merasa bisa mempercayai siapa pun di sekitarku. Tapi kamu, kamu benar-benar berbeda. Kamu adalah orang yang patut diandalkan."
Requiem tersenyum kecil. "Kita bisa saling percaya, pangeran. Kami sudah mengalami begitu banyak bersama-sama, dan aku yakin bahwa kita bisa menghadapi masa depan dengan lebih baik jika kita saling mempercayai."
Pangeran tersenyum dalam balasan. "Saya setuju, Requiem. Kita akan menghadapi masa depan bersama-sama."
Setelah itu, Requiem dan pangeran melanjutkan perjalanannya menuju kerajaan pangeran. Selama perjalanan, mereka berbicara tentang berbagai hal, termasuk tentang masa lalu pangeran dan rencananya untuk memperbaiki keadaan di kerajaannya.
Requiem merasa bahagia karena akhirnya dia telah menemukan seseorang yang bisa dipercayainya dan memang menjadi teman baginya. Dia merasa bahwa dia telah menemukan tempat di dunia yang sebelumnya terasa asing dan kosong.
Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mulus seperti yang mereka harapkan. Mereka terus diserang oleh para pengikut konspirasi yang gagal melaksanakan rencana mereka untuk membunuh pangeran. Requiem dan pangeran terus bertarung, mengalahkan setiap musuh yang datang.
Pada suatu malam, ketika mereka sedang bermalam di tengah hutan, mereka diserang oleh sebuah pasukan besar. Requiem dan pangeran berusaha bertarung sebaik mungkin, tetapi mereka terdesak dan hampir kalah. Pada saat-saat terakhir, mereka diselamatkan oleh seorang ksatria yang muncul dari kegelapan.
"Kami tidak bisa membiarkanmu mati di sini, pangeran," kata ksatria itu dengan suara yang tegas.
Pangeran menatap ksatria itu dengan pandangan yang terkejut. "Kakakku, bagaimana kamu bisa tiba-tiba muncul di sini?"
Ksatria itu tersenyum. "Aku selalu mengawasi setiap langkahmu, adikku. Dan aku tahu bahwa kamu dalam bahaya."
Requiem merasa terkejut ketika mengetahui bahwa ksatria itu adalah kakak pangeran. Dia tidak pernah menduga bahwa pangeran memiliki saudara laki-laki yang menjadi ksatria.
Ketika mereka semua telah kembali ke kerajaan pangeran, ksatria itu memberitahu mereka bahwa konspirasi itu masih terus berlangsung, dan bahwa mereka harus tetap waspada. Requiem dan pangeran bekerja sama dengan ksatria itu untuk mengungkap kebenaran di balik konspirasi itu dan menghentikan mereka sebelum terlambat.
Mereka mengejar para pengikut konspirasi dan akhirnya menemukan pusat kekuatan mereka. Mereka memasuki gedung itu dengan hati-hati dan menghadapi pemimpin konspirasi itu. Requiem dan ksatria itu bertarung dengan gigih, sedangkan pangeran berusaha menghentikan perangkat yang digunakan oleh konspirasi itu untuk menguasai kerajaan.
Setelah pertarungan yang sengit, mereka akhirnya berhasil mengalahkan pemimpin konspirasi dan menghentikan rencananya. Pangeran berhasil mengembalikan kerajaannya ke masa damai dan mulai melakukan reformasi yang diperlukan untuk mencegah hal serupa terjadi lagi di masa depan.
Requiem merasa puas karena telah berhasil melindungi pangeran dan membantu mengungkap konspirasi itu. Dia juga merasa bahagia karena telah menemukan seorang teman sejati dan mempercayai seseorang untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Ketika perjalanan pulang mereka dimulai, Requiem memandang ke langit dan tersenyum. Dia tahu bahwa masa depan mungkin penuh dengan rintangan dan bahaya, tetapi dia merasa lebih siap untuk menghadapinya sekarang, dengan pangeran dan ksatria itu di sisinya.