
Requiem merayap di antara rimbunnya semak belukar, mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh pangeran yang berusaha melarikan diri darinya. Dia telah melacak targetnya hingga ke tengah hutan yang tebal, di mana kabut tebal dan gelap menyelimuti setiap sudut. Namun, Requiem tidak bergeming dan terus memburu pangeran dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.
Ketika dia mengejar pangeran itu, Requiem mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh dan tersembunyi di balik tugas pembunuhan ini. Pangeran itu bukanlah orang jahat yang perlu dihabisi, melainkan sesuatu yang lebih rumit dan berbahaya.
Segera setelah itu, Requiem tiba di sebuah gua yang tersembunyi di tengah hutan. Dia melihat pangeran itu melarikan diri ke dalam gua, dan Requiem mengejarnya dengan cepat. Di dalam gua, Requiem menemukan pangeran sedang menatap sebuah peta yang aneh.
"Pangeran," ucap Requiem dengan tenang. "Apa yang sedang Anda lakukan di sini?"
Pangeran itu melirik ke arahnya, terkejut melihat Requiem yang telah menemukannya. "Anda, pembunuh bayaran!" katanya dengan nada yang takut.
Requiem mengangkat kedua tangannya dengan tenang, menunjukkan bahwa dia tidak bermaksud menyakiti pangeran itu. "Saya tidak akan membunuh Anda, kecuali jika saya dihadapkan pada pilihan terakhir. Namun, saya harus tahu mengapa Anda harus mati."
Pangeran itu menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk meredakan kepanikan yang mulai menyerangnya. "Saya tidak tahu siapa yang memberi tahu Anda untuk membunuh saya, tapi saya tidak bersalah atas apa yang mereka katakan."
Requiem menatap pangeran itu dengan tajam. "Saya mulai meragukan tugas saya setelah melihat bagaimana Anda berusaha melarikan diri. Apa yang sedang terjadi di sini?"
Pangeran itu terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara. "Ini tentang sebuah rahasia, sebuah rahasia besar yang bisa merusak kerajaan saya. Ada kelompok-kelompok yang ingin mengungkap rahasia itu dan menggunakannya untuk keuntungan mereka sendiri."
Requiem mengangguk. Dia memahami betul bahwa dunia ini penuh dengan kekuasaan dan konspirasi, dan bahwa pangeran itu mungkin benar-benar tidak bersalah seperti yang dia katakan. "Baiklah, saya percaya Anda. Mari kita bekerja sama untuk menghentikan kelompok-kelompok itu dan menjaga rahasia Anda tetap aman."
Pangeran itu tersenyum lega, tahu bahwa dia telah menemukan sekutu yang kuat dan andal dalam Requiem. Mereka kemudian bekerja sama untuk melacak kelompok pengkhianat yang telah merencanakan kudeta dan merencanakan pembunuhan pangeran.
Setelah beberapa hari melakukan penyelidikan, mereka akhirnya menemukan sumber konspirasi: seorang bangsawan yang iri dengan kekuasaan pangeran dan ingin merebut tahtanya. Bangsawan itu telah bersekongkol dengan kelompok-kelompok lain, termasuk pembunuh bayaran lain, untuk mencapai tujuannya.
Requiem dan sekutunya memutuskan untuk menghadapi musuh mereka dalam pertempuran besar di istana pangeran. Mereka memimpin serangan di tengah-tengah malam, menggunakan kekuatan dan keterampilan mereka untuk mengatasi pasukan musuh yang lebih besar.
Di tengah pertempuran, Requiem melihat pangeran berjuang melawan musuh-musuhnya dengan gagah berani. Requiem tahu bahwa dia harus berbuat sesuatu untuk membantu pangeran dan memutuskan untuk melawan pemimpin musuh yang kuat dan berbahaya.
Dalam pertempuran yang berlangsung selama beberapa jam, Requiem akhirnya berhasil membunuh pemimpin musuh, dan pasukan musuh akhirnya menyerah. Pangeran diselamatkan, dan konspirasi pun dihentikan.
Setelah pertempuran, pangeran memberikan penghargaan kepada Requiem atas jasanya yang besar dalam menyelamatkan hidupnya dan mengungkap konspirasi tersebut. Requiem merasa lega bahwa tugasnya telah selesai, dan dia segera berencana untuk meninggalkan kota dan melanjutkan hidupnya yang tenang.
Namun, pangeran meminta Requiem untuk tetap tinggal dan bergabung dengannya dalam membangun masa depan kerajaan yang lebih baik. Requiem mempertimbangkan tawaran itu dan akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal dan membantu pangeran dalam membangun masa depan yang lebih baik untuk rakyatnya.
Requiem memusatkan perhatiannya pada gerakan pangeran dan bergerak di belakang mereka dengan cepat, menghindari perangkap dan menghindari penglihatan penjaga yang berseliweran di sekitar mereka. Setelah beberapa menit berlalu, Requiem tiba di depan pintu masuk ke ruang bawah tanah. Dia mengambil satu langkah maju, tapi segera berhenti ketika dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah yang berlawanan.
Requiem menarik pedangnya dan menunggu dengan napas terengah-engah. Tiba-tiba, seorang pria bertubuh kecil muncul dari belokan, membawa sepasang belati di tangannya yang gemuk. Dia terkejut melihat Requiem, tapi kemudian tersenyum dan berkata, "Oh, kau pasti pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh pangeran. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kamu."
Requiem merasa aneh. Dia tidak mengharapkan seseorang akan mengetahui misinya, apalagi seorang pembunuh bayaran lain. "Siapa kamu?" tanyanya, pedangnya masih tegang di tangannya.
"Panggil aku Grim," kata pria kecil itu. "Aku juga seorang pembunuh bayaran, dan aku ditugaskan untuk menjaga pintu masuk ke ruang bawah tanah ini."
Requiem tidak tahu apa yang harus dipikirkan tentang situasi ini. Dia biasanya bekerja sendiri, dan tidak pernah terbiasa dengan berbagi tugas dengan orang lain. Tapi dia tidak memiliki pilihan, dan akhirnya mengangguk. "Baiklah, mari kita masuk bersama-sama."
Mereka membuka pintu masuk ke ruang bawah tanah, dan Requiem segera mencium bau busuk yang datang dari dalam. Mereka mulai menuruni tangga curam, dan semakin ke bawah, semakin gelap dan dingin. Saat mereka mencapai dasar tangga, mereka tiba di sebuah lorong yang panjang dengan banyak pintu di kedua sisi.
"Bagaimana kita tahu pintu mana yang harus kita ambil?" tanya Requiem.
Grim menunjuk ke sebuah pintu di ujung lorong. "Itu pintunya. Aku sudah periksa beberapa pintu di sebelahnya, tapi mereka kosong."
Requiem merasa khawatir. Jika Grim sudah memeriksa pintu-pintu sebelumnya, apakah pangeran sudah mengetahui tentang keberadaan mereka?
Tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan itu lebih lama lagi. Mereka sudah sampai di pintu tujuan mereka. Requiem mencium bau darah yang kuat dan mendengar suara-suara yang aneh dari balik pintu.
Dia memandangi Grim dengan tatapan tajam. "Kita harus bersiap-siap. Siapakah yang tahu apa yang menunggu kita di balik pintu ini?"
Grim mengangguk, dan Requiem menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu dengan satu gerakan cepat.
Requiem menatap mata pangeran yang merah padam, lalu dia mengangguk. "Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungimu," katanya dengan tegas.
Pangeran itu tersenyum lega, tahu bahwa dia telah menemukan sekutu yang kuat dan andal dalam Requiem. Mereka kemudian bekerja sama untuk melacak kelompok yang bertanggung jawab atas konspirasi ini. Setelah beberapa hari, mereka menemukan jejak yang menunjukkan bahwa kelompok itu terdiri dari para bangsawan dan pejabat tinggi dari beberapa kerajaan yang saling bersaing.
Requiem dan pangeran itu mulai menyusup ke dalam kekuatan kelompok tersebut dengan menggunakan identitas palsu. Mereka harus berhati-hati agar tidak terdeteksi karena jika mereka ketahuan, nyawa mereka akan terancam.
Setelah beberapa minggu menyusup, mereka akhirnya menemukan bukti yang cukup untuk membongkar konspirasi itu. Mereka mengumpulkan bukti dan mencoba mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka.
Pada saat yang sama, anggota kelompok yang terlibat dalam konspirasi juga mulai curiga dan mencoba mencari tahu siapa yang mengungkapkan rahasia mereka. Mereka mulai melakukan penyelidikan dan akhirnya menemukan Requiem dan pangeran itu.
Requiem dan pangeran itu berhasil kabur dari kejaran para pengikut kelompok konspirasi, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak akan aman selamanya. Mereka memutuskan untuk membawa bukti-bukti mereka ke publik agar orang lain bisa mengetahui kebenaran tentang konspirasi tersebut.
Namun, sebelum mereka bisa melakukan itu, mereka harus menghadapi kelompok konspirasi dan melindungi diri mereka sendiri. Requiem dan pangeran itu bersiap-siap untuk pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib mereka dan dunia di sekitar mereka.
Mereka bertarung dengan keberanian dan kekuatan, berusaha melindungi satu sama lain dan mempertahankan kebenaran. Setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, mereka akhirnya berhasil mengalahkan kelompok konspirasi dan mengungkap kebenaran kepada dunia.
Requiem dan pangeran itu kemudian hidup dalam keamanan, sementara mereka menikmati persahabatan dan kebebasan baru. Mereka menyadari bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan magis, melainkan kekuatan persahabatan dan kebenaran. Akhirnya, mereka mengangkat gelar sebagai pahlawan yang menghentikan konspirasi besar dan membawa perdamaian ke seluruh kerajaan.
Tanpa ragu, Requiem mengangkat pedangnya dan berlari menuju pangeran. Dia menyerang dengan cepat dan tepat, menghindari serangan balik pangeran dengan gerakan yang lihai dan lancar. Pertarungan antara Requiem dan pangeran berlangsung sengit, dengan keduanya saling menyerang dan berusaha mengalahkan satu sama lain.
Saat Requiem hampir berhasil mengalahkan pangeran, tiba-tiba dia merasakan bahwa ada energi magis yang aneh terpancar dari tubuh pangeran. Dia merasa seperti terhisap oleh kekuatan magis itu dan hampir kehilangan kesadaran. Namun, dia berhasil mempertahankan dirinya dan menghindari serangan balik pangeran.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Requiem," kata pangeran dengan suara menggugah. "Aku memiliki kekuatan magis yang jauh lebih besar dari dirimu."
Requiem tersenyum dan berkata, "Kekuatan magis tidaklah segalanya. Aku memiliki kekuatan yang lebih besar dari itu."
Dengan itu, Requiem melepaskan serangan terakhirnya. Pedangnya berkilauan di udara dan dengan satu gerakan yang tepat, dia berhasil mengenai pangeran di bagian tengah dada. Pangeran jatuh ke tanah dengan suara teriakan kesakitan yang memekakkan telinga.
Requiem menatap pangeran dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Aku sangat menyesal harus melakukan ini. Tetapi aku harus melakukannya demi kebaikan dunia."
Pangeran tersenyum dan berkata, "Aku mengerti, Requiem. Terima kasih telah membuatku sadar akan kesalahanku. Semoga aku bisa memperbaikinya suatu hari nanti."
Dalam sekejap mata, pangeran itu menghilang dari hadapan Requiem. Requiem tersenyum dan berkata, "Selamat tinggal, pangeran. Semoga kau menemukan kedamaian yang kau cari."
Dengan itu, Requiem meninggalkan tempat itu dan kembali ke markasnya. Dia merasa lega dan puas telah menyelesaikan tugasnya. Namun, dia juga merasa bahwa masih ada banyak hal yang harus ia pelajari tentang dunia ini dan kekuatan magis yang tersembunyi di dalamnya.
Bab 4 - Bagian 3:
Sesampainya di dalam istana, mereka bergegas menuju ke ruangan tempat sang pangeran berada. Mereka berhasil menghindari para penjaga dan mencapai ruangan itu tanpa terdeteksi. Namun, ketika mereka membuka pintu, mereka terkejut menemukan sang pangeran sudah menunggu di dalam ruangan itu, bersama dengan beberapa penjaga.
"Saya sudah mengetahui tentang rencana Anda," kata sang pangeran, tersenyum sinis. "Kalian semua adalah pengkhianat yang layak dihukum mati."
Requiem melihat sekilas ke sekutunya, memastikan bahwa mereka siap menghadapi penjaga dan pangeran. Mereka bergegas maju dan bertarung dengan gigih melawan penjaga istana. Requiem dengan cepat melumpuhkan beberapa penjaga dengan gerakan yang cepat dan tepat sasaran, sementara sekutunya membantu menghadapi yang lainnya.
Sementara itu, sang pangeran mencoba untuk melarikan diri dari tempat itu. Namun, Requiem berhasil mengejarnya dan menghentikannya di tengah-tengah lorong. Mereka berdua saling menatap dengan tatapan tajam.
"Apa yang ingin Anda capai dengan mengkhianati negara Anda?" tanya Requiem.
"Aku hanya ingin memperbaiki kerajaan ini," jawab sang pangeran dengan suara dingin. "Namun, para penguasa sebelumku terlalu bodoh dan tidak kompeten. Aku ingin membuat kerajaan ini lebih baik, dan aku tidak akan dihalangi oleh siapa pun."
Requiem mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menyerang sang pangeran. Namun, di saat yang sama, dia merasakan getaran yang aneh dan mendengar suara aneh di kepalanya.
"Requiem, jangan bunuh dia," kata suara itu. "Aku adalah salah satu dari Ksatria Kuno, dan aku memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan kepadamu."
Requiem terkejut dan memperhatikan ke sekelilingnya, mencoba mencari sumber suara itu. Namun, dia tidak dapat menemukan apapun yang aneh.
"Apa yang kamu maksud dengan Ksatria Kuno?" tanya Requiem.
"Saya adalah salah satu dari 13 Ksatria Kuno yang pernah ada di dunia ini," jawab suara itu. "Kami memiliki misi penting untuk memastikan keamanan dunia ini dari ancaman yang lebih besar. Dan kamu, Requiem, memiliki peran penting dalam misi ini."
Requiem memperhatikan sang pangeran dengan waspada. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya.
"Saya akan memberi tahu kamu semuanya seiring waktu berjalan," jawab suara itu. "Tapi sekarang, Anda harus menemukan dan menghancurkan alat kekuasaan yang digunakan oleh pasukan gelap itu."
Requiem merenung sejenak sebelum mengangguk setuju. "Baiklah, saya akan melakukan yang terbaik," katanya.
Pangeran itu mengambil langkah maju dan berdiri di samping Requiem. "Saya akan membantumu," katanya. "Kita harus bekerja sama jika kita ingin mengalahkan pasukan gelap itu."
Requiem mengangguk. Mereka kemudian berdua berjalan menuju gerbang istana, bersiap untuk memulai pencarian mereka untuk menghancurkan alat kekuasaan pasukan gelap itu.
Setelah keluar dari gerbang istana, Requiem dan sang pangeran berjalan melewati kota yang sunyi menuju ke hutan. Di sana, mereka bertemu dengan seorang penyihir tua yang duduk di tengah-tengah hutan.
"Kalian mencarinya, bukan?" kata penyihir itu, "Alat kekuasaan pasukan gelap itu?"
Requiem dan pangeran itu mengangguk, dan penyihir itu tersenyum. "Saya bisa membantu," katanya.
Penyihir itu kemudian mengeluarkan seikat daun dari kantongnya dan melemparkannya ke udara. Daun-daun itu berputar-putar dan akhirnya membentuk sebuah peta.
"Ini adalah peta dari jalan yang harus kalian tempuh," kata penyihir itu sambil menunjuk pada peta. "Alat kekuasaan pasukan gelap itu berada di dalam gua di ujung jalan ini."
Requiem dan pangeran itu berterima kasih pada penyihir itu dan memulai perjalanan mereka ke gua tersebut. Namun, mereka tidak tahu bahwa pasukan gelap juga sudah mengetahui tentang keberadaan alat kekuasaan itu dan siap untuk menghadang mereka.
Setelah berjalan beberapa jam, mereka akhirnya tiba di gua tersebut. Namun, mereka melihat pasukan gelap sudah menunggu di sana.
"Jangan bergerak!" teriak seorang pemimpin pasukan gelap. "Alat kekuasaan ini sekarang milik kami!"
Requiem dan pangeran itu saling memandang sebelum bersiap untuk bertarung. Pertarungan yang sengit dan panjang terjadi di dalam gua itu, dan Requiem dan pangeran itu hampir kalah. Namun, pada saat-saat terakhir, seorang ksatria misterius datang untuk membantu mereka dan bersama-sama mereka berhasil mengalahkan pasukan gelap.
Setelah berhasil mendapatkan alat kekuasaan tersebut, Requiem dan pangeran itu kembali ke istana. Mereka diterima dengan gembira oleh rakyat dan raja, yang sekarang tahu bahwa mereka telah berhasil mengalahkan ancaman pasukan gelap.
"Aku tahu kamu masih memiliki banyak pertanyaan," kata sang pangeran pada Requiem setelah acara penyambutan selesai. "Mari kita bicarakan semuanya."
Mereka kemudian pergi ke ruang rahasia istana, di mana sang pangeran menjelaskan semuanya pada Requiem. Dia mengungkapkan bahwa dia adalah salah satu ksatria kuno, yang terakhir dari mereka yang masih hidup, dan bahwa mereka memiliki misi untuk melindungi dunia dari ancaman yang lebih besar. Alat kekuasaan yang mereka temukan adalah salah satu dari banyak alat kekuasaan yang ditinggalkan oleh ksatria kuno, dan pasukan gelap ingin menggunakannya untuk kekuasaan mereka sendiri.
Requiem mengangguk, memahami betapa pentingnya misi tersebut. Dia tahu bahwa dia harus tetap bekerja sama dengan sang pangeran dan ksatria lainnya jika mereka ingin mengalahkan ancaman yang lebih besar itu dan menyelamatkan dunia ini.
Dalam perjalanan mereka, Requiem dan kelompoknya menghadapi berbagai rintangan dan bahaya. Mereka berhadapan dengan pasukan penyihir jahat dan makhluk-makhluk buas yang dikuasai oleh kekuatan magis. Namun, dengan kemampuan bertarung mereka yang tangguh dan kecerdasan strategis mereka, mereka berhasil mengatasi setiap rintangan yang mereka hadapi.
Saat mereka semakin dekat dengan tempat tujuan mereka, mereka menemukan bahwa ancaman yang lebih besar itu adalah kekuatan gelap yang sangat kuat. Kekuatan ini telah berusaha untuk menguasai dunia selama berabad-abad, dan mereka berencana untuk memanfaatkan kekuatan magis untuk mencapai tujuan mereka.
Requiem dan kelompoknya harus bekerja sama untuk menghadapi kekuatan gelap ini. Mereka menyusup ke dalam markas kekuatan gelap dan berhasil mengalahkan raja gelap yang memimpin mereka. Namun, kemenangan mereka tidak datang tanpa pengorbanan.
Saat pertempuran berakhir, Requiem menemukan bahwa sang pangeran telah terluka parah. Pangeran itu berusaha meminta maaf atas tindakannya sebelumnya, dan Requiem merasa lega bahwa mereka berdua telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik.
Meskipun telah mengalami banyak pengorbanan dan bahaya, Requiem merasa bangga dan puas bahwa dia telah melakukan sesuatu yang penting untuk dunia ini. Dia tahu bahwa kekuatan gelap itu mungkin akan muncul kembali di masa depan, tetapi dia siap untuk menghadapinya bersama dengan teman-temannya.
Mereka menyeberangi lautan dan melewati padang pasir yang terjal, selama beberapa minggu, dan akhirnya tiba di sebuah kota yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi. Kota itu dikelola oleh suku yang kuat dan terkenal dengan kemampuan mereka dalam seni bela diri. Di kota itu, Requiem bertemu dengan seorang guru bela diri yang terkenal, yang diajak berbicara oleh salah satu ksatria kuno.
Setelah melalui pelatihan intensif selama beberapa minggu, Requiem mulai menguasai teknik-teknik bela diri baru dan meningkatkan kemampuan tempurnya. Dalam satu pertempuran, Requiem menunjukkan keahliannya yang baru, dan terkejut melihat seorang pembunuh bayaran lain yang terkenal sedang menonton dari kejauhan. Pembunuh bayaran itu menantang Requiem untuk duel.
Keduanya saling mengunci pandangan, dan Requiem merasakan kekuatan magis di balik musuhnya. Dia menyadari bahwa pembunuh bayaran itu adalah penyihir berbahaya, yang sangat terampil dalam manipulasi pikiran dan tubuh. Requiem mempersiapkan diri dengan hati-hati, dan akhirnya berhasil mengalahkan penyihir itu dengan menggunakan teknik bela diri baru yang baru dipelajarinya.
Setelah duel itu, Requiem bertemu dengan ksatria kuno dan pangeran lagi, dan mereka meneruskan perjalanan mereka ke sebuah kuil kuno yang tersembunyi di pegunungan. Di dalam kuil, mereka menemukan sebuah artefak yang sangat berharga, yang diyakini dapat digunakan untuk menghentikan ancaman yang lebih besar itu. Namun, mereka harus berhadapan dengan sekelompok penyihir jahat dan monster yang melindungi kuil itu.
Dalam pertempuran sengit, Requiem dan ksatria kuno menggunakan keahlian mereka yang baru untuk melawan musuh-musuh yang tangguh, sementara pangeran mengarahkan mereka menuju artefak yang tersembunyi. Akhirnya, mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh itu dan memperoleh artefak yang dicari.
Kembali ke kerajaan, Requiem, pangeran, dan ksatria kuno berusaha menggunakan artefak tersebut untuk mengalahkan ancaman yang lebih besar itu. Dalam pertempuran terakhir yang epik, mereka melawan sekelompok monster besar yang dipimpin oleh seorang raja iblis yang kuat. Dalam pertempuran itu, Requiem dan ksatria kuno bekerja sama untuk mengalahkan monster-monster itu, sementara pangeran menggunakan artefak untuk mengalahkan raja iblis itu sendiri.
Dalam akhir yang memuaskan, Requiem berhasil menyelesaikan misinya dan menyelamatkan dunia dari ancaman yang lebih besar. Dia dan ksatria kuno kembali ke tempat mereka berasal, meninggalkan pangeran untuk memimpin kerajaannya dengan keberanian dan kebijaksanaan yang baru. Requiem juga menyadari bahwa dia telah menemukan teman dan sekutu sejati dalam ksatria kuno, dan bersama-sama mereka membangun dunia yang lebih baik.
Namun, meskipun misi itu telah selesai, Requiem tahu bahwa tugas-tugas berbahaya selalu ada di depannya. Dia mengambil langkah mundur untuk sementara waktu, menarik diri ke dalam kesendirian untuk memikirkan masa depannya. Namun, dia tahu bahwa suatu saat nanti, dia akan harus kembali ke medan pertempuran.
Dengan hati yang berat, Requiem meninggalkan ksatria kuno dan pangeran, kembali ke hidupnya sebagai pembunuh bayaran yang berjuang untuk kebenaran. Namun, dia tidak pernah melupakan pengalaman yang dia alami, dan kenangan tentang teman dan sekutunya selalu melekat dalam hatinya.
Ketika dia memasuki kegelapan malam yang sunyi, Requiem mengambil napas dalam-dalam dan bersiap untuk misi selanjutnya, siap menghadapi apapun yang menantinya. Karena itu adalah tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran, dan karena itu pula, dia tahu dia tidak akan pernah sendirian.
Saat Requiem melangkah ke arah gerbang, ia melihat sosok kecil di depannya. Sosok itu menatapnya dengan mata besar yang berbinar. Requiem mengenalinya, itu adalah gadis kecil yang dia selamatkan dari serangan monster.
"Terima kasih atas bantuannya, Requiem," kata gadis itu dengan suara yang menggemaskan.
Requiem tersenyum, merasa senang dapat membantu orang lain. Kemudian, ia melangkah keluar dari kota ke dunia yang luas di luar sana. Ia tahu masih banyak tugas lain yang menunggunya, tetapi kali ini ia tidak akan melakukannya sendirian. Bersama dengan ksatria kuno dan teman-teman barunya, ia siap menghadapi tantangan apapun yang mungkin mengancam dunia ini.