Assassin's Requiem

Assassin's Requiem
Volume 3 Bab 3: Rencana Terungkap



Requiem, Alteon, dan pangeran itu bersembunyi di balik jendela di ruangan rahasia istana. Mereka menyaksikan dengan hati-hati saat pasukan Alysia menyerbu kota dan istana.


"Tampaknya mereka mencoba mengambil alih kekuasaan secara paksa," kata Alteon dengan suara rendah. "Kita harus bergerak cepat."


"Kita harus menghentikan mereka sebelum mereka mencapai tujuannya," sela pangeran itu. "Kita harus membela kerajaan ini dengan segala cara."


Requiem mengangguk. "Saya setuju. Tapi kita harus berhati-hati. Mereka pasti memiliki rencana yang lebih besar. Kita tidak boleh terjebak dalam perangkap mereka."


Ketiganya bergerak perlahan menuju pintu rahasia dan keluar ke ruang terbuka di luar istana. Mereka segera melihat bahwa pasukan Alysia sudah mengambil alih kontrol atas kota, dan sedang mencari-cari mereka.


"Tidak mungkin kita bisa bertahan sendiri," kata Alteon. "Kita membutuhkan bantuan dari pasukan lain. Saya akan mengirim pesan kepada teman-teman saya di kerajaan lain."


"Saya akan memimpin pasukan kita dalam pertempuran," sela pangeran itu. "Kita harus bertahan hingga bantuan datang."


Requiem mengamati situasi dengan cermat dan mengusulkan rencana lain. "Saya akan pergi mencari Alysia dan menghentikan rencananya. Dia pasti berada di balik semua ini."


Alteon dan pangeran itu melirik satu sama lain dan kemudian mengangguk. "Baiklah, kita akan mempercayakan hal itu kepada Anda, Requiem," kata Alteon.


Requiem segera berangkat menuju wilayah Alysia, menggunakan semua keterampilannya sebagai pembunuh bayaran untuk menghindari pengawasan musuh dan mencari tahu lokasi Alysia.


Setelah beberapa saat bergerak diam-diam di tengah-tengah pasukan musuh, Requiem berhasil menemukan Alysia. Dia sedang duduk di ruangan pribadinya, sibuk dengan beberapa dokumen dan rencana.


"Selamat datang, Requiem," kata Alysia tanpa menoleh. "Apa yang membawa Anda ke sini?"


Requiem melangkah maju dengan tenang. "Saya tahu bahwa Anda berada di balik semua ini. Apa yang ingin Anda capai dengan mengambil alih kekuasaan?"


Alysia tersenyum dingin. "Saya hanya ingin menciptakan kerajaan baru yang lebih kuat dan lebih adil. Saya yakin Anda bisa bergabung dengan saya dan membantu mencapai tujuan kita bersama."


Requiem menggelengkan kepala. "Saya tidak akan pernah bekerja untuk seseorang seperti Anda. Dan saya tidak akan membiarkan Anda merusak ketenangan dan stabilitas yang sudah ada di kerajaan ini."


Alysia tertawa. "Anda tidak bisa menghentikan saya sendiri, Requiem. Saya telah mempersiapkan rencana ini selama bertahun-tahun dan tidak akan mengizinkan Anda untuk menghancurkannya."


Requiem tidak merespons, dia hanya menatap Alysia dengan tatapan tajam. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan Alysia sendirian, tapi dia tidak akan menyerah tanpa perjuangan. Dia dan sekutunya harus bekerja sama dan menggunakan semua sumber daya yang mereka miliki untuk menghentikan Alysia dan konspirasinya.


Sementara itu, pangeran dan Surga memimpin pasukan mereka dalam pertempuran melawan pasukan Alysia. Mereka berjuang mati-matian untuk menghentikan serangan musuh dan membela kerajaan mereka. Tapi serangan terus berlanjut dan semakin intens, dan mereka terus terdesak ke belakang.


Requiem dan Alteon tiba di medan perang dan langsung bergabung dalam pertempuran. Mereka membantu pasukan mereka dan memimpin serangan balik yang kuat. Pertempuran berlangsung sengit, dengan kedua belah pihak saling berhadapan dalam serangan dan pertahanan.


Namun, di tengah kekacauan itu, Requiem menemukan kesempatan untuk mencari tahu lebih banyak tentang rencana Alysia. Dia melihat seorang wanita yang mengenakan jubah hitam di antara pasukan Alysia dan merasa bahwa dia mengenalnya. Dia mengejar wanita itu dan berhasil menangkapnya.


Wanita itu memberitahu Requiem bahwa rencana Alysia adalah untuk menggulingkan semua kerajaan dan mengambil alih kendali. Alysia telah bersekongkol dengan beberapa pemimpin kerajaan lain untuk mencapai tujuannya. Mereka ingin membuat kerajaan mereka menjadi yang terkuat dan mengendalikan seluruh dunia.


Requiem kembali ke medan perang dan memberi tahu Alteon dan pangeran tentang apa yang ia temukan. Mereka segera merencanakan serangan balik yang besar untuk menghentikan rencana Alysia. Mereka mempersiapkan pasukan mereka dan membuat rencana untuk menyerang markas Alysia di tengah malam.


Serangan itu sukses, dan pasukan Alysia berhasil dikalahkan. Alysia sendiri berhasil ditangkap dan diadili atas semua tindakannya. Requiem, pangeran, dan Surga menjadi pahlawan bagi kerajaan mereka dan dikenal sebagai pelindung yang gagah dan berani.


Namun, perang ini juga membawa pengorbanan besar. Banyak orang terluka dan tewas selama pertempuran, termasuk sekutu baru Requiem. Dia merasa sedih dan bersalah atas kematian temannya dan bertekad untuk melakukan lebih banyak pengorbanan untuk membela kerajaannya.


Setelah perang usai, Requiem kembali ke hidupnya sebagai pembunuh bayaran, tetapi dia tidak lagi merasa sendirian. Dia memiliki sahabat dan sekutu yang setia, serta kebanggaan dalam melindungi kerajaannya. Dia tahu bahwa ada lebih banyak konflik yang akan datang di masa depan, tapi dia siap untuk menghadapinya dengan keberanian dan tekad yang baru ditemukannya.


Namun, di balik kesuksesannya dalam menyelamatkan kerajaan, Requiem merasa ada yang masih mengganggu pikirannya. Dia belum sepenuhnya memahami rahasia dan motivasi Alysia dalam menciptakan kekacauan di kerajaannya. Dia memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita itu dan apa yang sebenarnya terjadi di balik tindakannya.


Requiem melakukan penyelidikan diam-diam dan mengumpulkan informasi tentang Alysia dari berbagai sumber. Dia menemukan bahwa Alysia sebenarnya adalah seorang penyihir kuat yang bermaksud mengambil alih kerajaan dan mengubah dunia sesuai dengan keinginannya. Dia menggunakan kekuatannya untuk menghasut konflik di antara kerajaan-kerajaan dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya.


Requiem merasa marah dan terhina bahwa dia telah dijadikan alat oleh Alysia dalam upayanya untuk mencapai tujuannya. Namun, dia juga merasa lega bahwa dia telah mengungkapkan rahasia dan memberikan keadilan bagi para korban Alysia.


Dalam sebuah pertemuan rahasia dengan pangeran dan Alteon, Requiem memberikan laporan lengkap tentang Alysia dan rencananya. Mereka memutuskan untuk mengambil tindakan dan menangkap Alysia untuk diadili atas kejahatannya.


Requiem memimpin pasukan untuk menyerbu tempat persembunyian Alysia dan berhasil menangkapnya. Dia ditahan dan diadili di depan pengadilan, di mana dia dihukum karena kejahatannya dan diasingkan ke sebuah pulau terpencil.


Alteon tersenyum. "Kamu benar, Requiem. Dan kami akan menghadapi tantangan itu bersama-sama."


Pangeran mengangguk. "Kami akan berjuang bersama sebagai teman dan rekan."


Requiem tersenyum, merasa lega dan bahagia. Dia tahu bahwa hidupnya telah berubah sejak dia bertemu dengan Alteon dan pangeran. Dia tidak lagi hidup dalam kesendirian dan tanpa tujuan yang jelas. Dia telah menemukan persahabatan dan kebanggaan dalam melindungi kerajaannya.


Dalam beberapa bulan berikutnya, Requiem dan teman-temannya bekerja sama untuk membangun kembali kerajaan mereka dan memperkuat pertahanan mereka. Mereka juga mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman yang akan datang di masa depan.


Pada suatu hari, ketika Requiem sedang berlatih pedang di luar istana, dia melihat sosok yang dulu dikenalnya dengan baik: Lirien, sahabatnya yang dulu menjadi musuhnya.


Lirien berjalan mendekatinya dengan langkah lembut dan tersenyum. "Aku datang untuk meminta maaf, Requiem."


Requiem menatapnya dengan hati-hati. "Maaf untuk apa?"


Lirien menghela napas. "Untuk segala kesalahan yang aku lakukan di masa lalu. Aku tahu bahwa aku telah membuatmu menderita dan memohon maaf atas itu."


Requiem memandang Lirien dengan hati-hati, tetapi kemudian tersenyum dan menjabat tangannya. "Aku memaafkanmu, Lirien. Kita semua membuat kesalahan di masa lalu, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita tumbuh dan belajar darinya."


Lirien tersenyum dan Requiem merasa lega. Dia tahu bahwa dia telah menemukan perdamaian dalam hatinya dan bahwa hidupnya telah berubah menjadi lebih baik sejak dia bertemu dengan Alteon dan pangeran.


Ketika matahari terbenam di cakrawala, Requiem menatap ke langit dan merenung. Dia tahu bahwa masih ada banyak tantangan yang akan datang, tetapi dia siap untuk menghadapinya bersama dengan teman-temannya.


Dia tersenyum dan berkata dalam hati, "Ini adalah hidup yang layak untuk dijalani."


Akhirnya, Requiem melanjutkan hidupnya sebagai pembunuh bayaran terbaik dan terkenal di seluruh kerajaan. Namun, kali ini dia tidak lagi melakukannya dalam kesendirian dan tanpa teman. Dia sekarang memiliki sekutu yang setia, termasuk Alteon dan pangeran kerajaan, serta beberapa teman baru yang ditemuinya selama petualangannya.


Ketika suatu misi datang kepadanya, Requiem tidak lagi melakukannya dengan dingin dan tanpa emosi. Dia mengambil tugas dengan kebanggaan dan tekad untuk melindungi orang-orang yang dia cintai dan negaranya.


Namun, konflik dan ancaman terus muncul di seluruh kerajaan, dan Requiem tahu bahwa tugasnya belum selesai. Dia bersama sekutu barunya siap untuk menghadapi tantangan apa pun yang datang kepadanya, untuk melindungi kedamaian dan keadilan di seluruh kerajaan.


Dan di tengah-tengah semua ini, Requiem merasa akhirnya menemukan tempatnya di dunia yang dipenuhi kekuatan magis dan konflik. Dia merasa puas dengan hidupnya dan bahagia karena memiliki sahabat dan sekutu yang setia. Dia tahu bahwa meskipun perjalanan mungkin berat dan sulit, dia tidak akan pernah menghadapinya sendirian lagi.


Suara panggilan darurat terdengar di dalam kamar Requiem, dan dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil komunikator. "Ada apa, Alteon?" tanyanya, mencoba menenangkan napasnya yang terengah-engah.


"Situasinya darurat, Requiem," kata Alteon, suaranya serius. "Ada serangan besar-besaran terhadap kota utara kita. Kami membutuhkan bantuanmu segera."


Requiem merasa hatinya berdebar kencang. Ini adalah situasi yang dia harapkan tetapi juga takutkan. Dia tahu dia harus bertindak cepat. "Saya akan segera datang, Alteon. Beri tahu saya informasi selengkap mungkin di perjalanan."


Requiem memasang baju perangnya dan mengambil senjata-senjatanya sebelum berlari ke arah gerbang kota. Ketika dia sampai di sana, dia bertemu dengan pangeran dan beberapa pasukan lainnya yang telah siap untuk pergi. Mereka semua naik kuda dan berangkat ke arah utara.


Saat mereka mendekati kota utara, mereka melihat kekacauan dan kehancuran yang menyelimuti kota itu. Pasukan musuh telah menyerang dan merampok segala sesuatu yang bisa mereka dapatkan. Orang-orang berlarian mencari tempat persembunyian dan tempat perlindungan, sementara yang lain berjuang untuk bertahan hidup.


Requiem dan pasukannya segera turun dari kuda dan bergabung dengan pasukan Alteon untuk melawan musuh. Requiem merasa jantungnya berdebar kencang saat dia bertarung dengan musuh, tetapi dia bertahan dan melindungi teman-temannya.


Setelah berjam-jam bertarung, pasukan mereka akhirnya berhasil mengusir musuh dari kota dan memulihkan perdamaian. Requiem merasa lega dan bangga akan kerja keras mereka, tetapi dia juga merasa sedih melihat kehancuran yang telah terjadi di kota tersebut.


Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi kerajaannya dan orang-orangnya dengan segala kemampuannya, dan dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam tugas itu. Bersama sahabat-sahabatnya, dia siap menghadapi setiap tantangan dan mengalahkan setiap musuh yang berani menantang mereka.


Alteon mengangguk. "Benar. Dan kita akan selalu siap untuk melindungi kerajaan kita, sampai akhir hayat kita."


Requiem dan pangeran setuju, dan mereka bersama-sama mengangkat gelas mereka untuk merayakan kemenangan mereka dan masa depan yang cerah.


Sejak saat itu, Requiem, Alteon, dan pangeran menjadi tim yang tidak terpisahkan. Mereka berjuang bersama melawan musuh-musuh kerajaan dan melindungi rakyat mereka. Tidak pernah ada satu musuh pun yang bisa mengalahkan mereka, karena mereka selalu bekerja sama dengan efisien dan saling melindungi.


Requiem merasa bahwa dia telah menemukan tujuan hidupnya dalam melindungi kerajaan dan teman-temannya. Dia tidak lagi merasa sendirian atau tanpa tujuan. Dia telah menemukan keluarga dalam kebersamaannya dengan Alteon dan pangeran.


Dan meskipun ada tantangan dan konflik yang datang dan pergi, mereka selalu bertahan dan melindungi satu sama lain sampai akhir hayat mereka.