
Requiem menatap tajam ke arah pangeran yang terjatuh di tanah, menyadari bahwa dia telah mengambil tindakan yang salah. Pangeran itu tidak bersalah seperti yang dituduhkan kepadanya, dan sekarang dia sendiri berada dalam bahaya.
"Kau harus pergi," bisik Requiem pada pangeran itu saat dia membantu pangeran itu bangkit dari tanah. "Kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi dan siapa yang bertanggung jawab atas ini."
Pangeran itu menatap Requiem dengan penuh kebingungan, tetapi akhirnya setuju untuk bekerja sama. Bersama-sama mereka berusaha mengumpulkan bukti untuk membuktikan bahwa pangeran itu tidak bersalah dan bahwa ada konspirasi yang lebih besar di balik tuduhan palsu itu.
Selama proses tersebut, Requiem menemukan dirinya semakin dekat dengan pangeran dan merasakan ikatan persahabatan yang tumbuh di antara mereka. Dia mengungkapkan beberapa rahasia dan kesedihan pribadinya kepada pangeran itu, yang selalu mendengarkan dan memberikan dukungan moral.
Sementara itu, agen rahasia yang sebelumnya memberi tahu Requiem tentang tugas membunuh pangeran terus mengawasi mereka dari jarak jauh. Dia mulai khawatir akan akibat tindakannya dan memutuskan untuk memperingatkan Requiem tentang bahaya yang mungkin terjadi.
"Kau harus berhati-hati," kata agen rahasia itu pada Requiem. "Kita tidak tahu siapa yang berada di balik tuduhan palsu itu dan apa yang mereka rencanakan selanjutnya. Mereka mungkin akan mengambil tindakan lebih drastis jika mereka merasa terancam."
Requiem mengambil peringatan itu dengan serius, dan dia memutuskan untuk mengambil tindakan lebih hati-hati dalam mencari tahu lebih banyak tentang konspirasi itu. Dia dan pangeran itu memutuskan untuk mencari bantuan dari seorang penyihir yang ahli dalam penglihatan masa depan.
Setelah beberapa waktu, penyihir itu akhirnya memberikan beberapa petunjuk tentang rencana konspirasi yang akan datang, dan Requiem dan pangeran itu bersiap untuk menghadapi bahaya yang akan datang.
Mereka berhasil menggagalkan rencana konspirasi dan membuktikan bahwa pangeran itu tidak bersalah. Requiem merasa lega dan bersyukur atas bantuan dan dukungan yang diberikan oleh pangeran itu, dan mereka berjanji untuk tetap menjadi teman meskipun masa depan mereka tidak pasti.
Namun, sebelum mereka sempat merayakan kemenangan mereka, agen rahasia yang khawatir terus mengikuti mereka dan pada akhirnya membawa mereka ke sebuah tempat yang penuh dengan kejutan dan pengorbanan.
Saat mereka berdiri bersama di depan bahaya baru yang tak terduga, Requiem dan pangeran itu merasakan kuatnya persahabatan yang tumbuh
Bab 2: Persahabatan Baru
Requiem dan pangeran itu melihat ke arah sekeliling mereka. Mereka berdiri di tengah-tengah ruangan yang luas, di mana pintu masuknya dijaga ketat oleh para ksatria kerajaan. Di depan mereka, terdapat seorang penyihir kuat yang menatap mereka dengan tajam.
"Sudahlah, biarkan mereka masuk," kata pangeran itu pada para ksatria.
Para ksatria menarik diri dengan enggan dan membuka jalan untuk Requiem dan pangeran itu. Ketika mereka berjalan menuju ke arah penyihir itu, Requiem merasakan gelombang energi magis yang kuat dan membahayakan dari penyihir itu. Namun, pangeran itu berjalan dengan percaya diri, tanpa menunjukkan tanda-tanda takut atau kewaspadaan.
"Sudah lama tidak melihatmu, Alysia," kata pangeran itu, tersenyum pada penyihir itu.
"Ya, aku mendengar kabarmu," jawab Alysia, penyihir itu, dengan nada sinis. "Kamu menghilang begitu saja dari kerajaan, dan sekarang kamu kembali dengan seorang pembunuh bayaran terkenal sebagai temanmu."
Pangeran itu menatap Alysia dengan tatapan dingin. "Sudah cukup basa-basi, Alysia. Apa yang kamu inginkan?"
Alysia mengangkat tangannya dan membentuk segel magis. "Kamu pasti ingin tahu mengapa aku memanggilmu kembali ke kerajaan ini. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan bahwa pembunuh bayaran ini tidak akan mengganggu rencanaku."
Dalam sekejap mata, Alysia melemparkan serangan magis ke arah Requiem. Namun, Requiem dengan cepat menghindari serangan itu dan menyerang balik dengan pisau rahasia yang diambilnya dari balik jubahnya.
Alysia melompat mundur untuk menghindari serangan Requiem dan kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya. Serangan dan pertahanan mereka saling berkejaran dengan cepat dan terus menerus. Namun, pangeran itu memperhatikan sesuatu yang aneh: Alysia sengaja mengarahkan serangannya pada Requiem, dan menghindari pangeran itu.
"Pangeran, kita harus keluar dari sini!" seru Requiem, sementara dia menghindari serangan Alysia.
Pangeran itu mengangguk dan mereka berdua melarikan diri dari ruangan itu. Di luar, para ksatria sedang sibuk menghadapi pasukan musuh yang tiba-tiba muncul.
"Surga, apa yang terjadi?" seru pangeran itu pada Surga, agen rahasia kerajaan yang telah bekerja sama dengan Requiem.
"Saya tidak tahu, Alteon," jawab Surga, sambil menyerang musuh dengan pedangnya. "Tapi tampaknya pasukan ini adalah bagian dari rencana Alysia."
Pangeran itu mengangguk dengan serius. "Alysia
Mungkin telah membuat aliansi dengan beberapa negara untuk menyerang kerajaan kita," ujarnya. "Ini bukan hanya perang biasa, tapi ada agenda tersembunyi di balik serangan ini."
Requiem bergabung dalam pertempuran dan membantai musuh dengan keahlian yang luar biasa. "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya.
"Kita harus mencari tahu siapa yang berada di balik serangan ini dan apa tujuannya," jawab Alteon. "Saya akan meminta bantuan agen rahasia untuk mengumpulkan informasi tentang musuh kita."
Surga menambahkan, "Saya akan memperkuat pertahanan kerajaan dan mempersiapkan pasukan kita untuk bertahan dari serangan lebih lanjut."
Requiem mengangguk, "Saya akan mencari cara untuk menyusup ke dalam markas musuh dan mendapatkan informasi secara langsung."
Mereka berdiri bersama dalam keheningan, menatap medan perang yang hancur. Mereka tahu bahwa ini hanya awal dari sebuah konflik yang lebih besar dan mereka harus siap untuk menghadapinya.
Setelah pertempuran berakhir, Requiem dan sekutu barunya bergerak dengan cepat untuk mempersiapkan rencana mereka masing-masing. Surga memperkuat pertahanan kerajaan dan mempersiapkan pasukan untuk bertahan dari serangan lebih lanjut. Alteon meminta bantuan agen rahasia untuk mengumpulkan informasi tentang musuh mereka, sementara Requiem mencari cara untuk menyusup ke dalam markas musuh.
Requiem memutuskan untuk menggunakan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya sebagai seorang pembunuh bayaran untuk menyusup ke dalam markas musuh tanpa terdeteksi. Dia merencanakan setiap detail dengan hati-hati dan mengambil risiko yang sangat tinggi untuk mencari tahu siapa yang berada di balik serangan tersebut dan apa tujuannya.
Setelah berminggu-minggu menyusup, Requiem akhirnya berhasil mencuri dokumen yang membuka tabir dari rencana musuh. Dia menemukan bahwa serangan tersebut adalah bagian dari rencana yang jauh lebih besar, yang bertujuan untuk menguasai seluruh dunia dan menghancurkan semua kerajaan yang berdiri di jalan mereka.
Requiem segera memberitahu Alteon dan Surga tentang temuannya. Mereka bersama-sama merencanakan strategi untuk menghentikan rencana jahat tersebut dan menyelamatkan kerajaan mereka dari kehancuran. Mereka menyusun rencana yang sangat berani dan mengambil risiko yang sangat besar, tetapi mereka tahu bahwa tidak ada pilihan lain.
Dalam pertempuran yang epik, Requiem, Alteon, dan Surga memimpin pasukan mereka untuk melawan musuh yang jauh lebih kuat. Mereka melawan dengan keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan, mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan kerajaan mereka. Akhirnya, mereka berhasil mengalahkan musuh dan menghentikan rencana jahat mereka.
Requiem dan Alteon bertukar pandang, menyadari bahwa mereka sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Alteon, matanya yang berbinar-binar dengan semangat pertempuran.
Requiem merenung sejenak, berusaha untuk menemukan jalan keluar dari situasi yang rumit ini. "Kita harus menghentikan Alysia dan pasukannya sebelum mereka mengambil alih kerajaan," kata dia dengan suara tegas. "Saya akan mencari tahu lebih banyak tentang rencana mereka, sementara kamu harus mengatur pertahanan di kota. Kita harus mempersiapkan diri untuk pertempuran besar yang akan datang."
Alteon mengangguk, tahu betul bahwa dia bisa mempercayakan diri pada Requiem dalam situasi seperti ini. "Baiklah," jawabnya, "aku akan melihat apa yang bisa aku lakukan dengan pasukan yang aku miliki. Tetapi tolong berhati-hati, Requiem. Alysia bukanlah musuh yang mudah."
Requiem hanya mengangguk, lalu berbalik dan melangkah menuju kegelapan malam yang gelap. Dia tahu bahwa waktu berjalan sangat cepat dan banyak yang bergantung pada tindakan dan keputusan yang dia ambil dalam waktu dekat.
Requiem berjalan menuju gudang besar di pinggiran kota yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya pedagang senjata dan barang-barang ilegal lainnya. Dia telah mendengar bahwa Alysia memiliki basis operasi rahasia di tempat ini dan berharap untuk menemukan petunjuk tentang rencananya di sana.
Saat dia memasuki gudang, dia disambut oleh pandangan sinis dan meremehkan dari pengawal Alysia. Mereka mengira bahwa mereka dapat dengan mudah mengalahkan pembunuh bayaran terkenal ini, tetapi Requiem tidak mudah dikalahkan. Dalam hitungan detik, dia sudah menangkap salah satu pengawal dan meminta informasi tentang rencana Alysia.
Pengawal itu tertawa dengan sinis. "Kamu pikir kamu bisa menghentikan Alysia?" tanyanya, "Dia lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Dia akan mengambil alih kerajaan ini, dan tidak ada yang bisa menghentikannya."
Requiem menggertakkan giginya, tahu betul bahwa pengawal itu tidak akan membuka mulutnya. Tanpa ragu, dia memutar tubuhnya dan melempar pengawal itu ke tanah, lalu melangkah menuju ke dalam gudang yang gelap.
Setelah beberapa saat, Requiem menemukan dokumen rahasia yang mencatat rencana Alysia. Dia terkejut mengetahui bahwa pangeran yang dia berikan tugas untuk membunuh tidak bersalah seperti yang dia pikirkan. Alysia merencanakan kudeta dan menjadikan pangeran sebagai kambing hitamnya.
Requiem tahu bahwa dia harus memberi tahu Alteon tentang hal ini secepat mungkin. Dia melipat dokumen itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam saku bajunya, memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut sebelum berbicara dengan Alteon.
Malam semakin larut ketika Requiem kembali ke kamar penginapannya di penginapan. Dia duduk di atas tempat tidur dan menarik keluar dokumen yang dia temukan dari saku bajunya. Setelah membacanya dengan saksama, Requiem merasa semakin yakin bahwa ada konspirasi yang terjadi di kerajaan tersebut.
Dia memutuskan untuk berbicara dengan teman barunya, pangeran Alteon, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus tetap waspada dan hati-hati, karena dia tidak tahu siapa yang dapat dipercaya dan siapa yang tidak.
Requiem merasa sangat kesepian selama bertahun-tahun, tapi sekarang dia memiliki seseorang yang dapat dipercayai dan yang mungkin menjadi sahabatnya. Dia tahu bahwa ia harus melindungi Alteon dan membantunya, karena pangeran itu sekarang menjadi target bagi orang-orang yang ingin menghentikan upayanya untuk memperbaiki kerajaan.
Dalam pikirannya, Requiem berjanji untuk membantu Alteon dan menyelesaikan konspirasi ini, sekalipun itu berarti dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dia merasa bahwa inilah panggilannya, karena dia adalah pembunuh bayaran terbaik di dunia ini dan sekarang dia memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada hanya uang atau kekuasaan.
Requiem menyimpan dokumen itu kembali ke saku bajunya dan kemudian membaringkan dirinya untuk tidur. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya, tetapi dia siap untuk menghadapinya dengan kepala tegak dan senjata di tangan.
Alteon menatap Requiem dengan serius. "Kami perlu mengambil tindakan cepat. Alysia tidak boleh berhasil dalam rencananya."
Requiem mengangguk. "Aku akan segera pergi dan mengumpulkan informasi lebih lanjut. Tapi pertama, aku perlu menemukan anggota pasukanku dan memastikan mereka aman."
Alteon setuju. "Baiklah, saya akan memanggil para ksatria dan mempersiapkan pasukan. Kita akan berkumpul di halaman istana dalam satu jam."
Setelah berpisah dengan Alteon, Requiem segera bergerak menuju tempat bertemu dengan anggota pasukannya. Namun, ketika dia tiba di sana, dia menemukan bahwa mereka sudah tidak ada.
Dia bergegas menuju tempat-tempat lain di mana mereka mungkin berada, tetapi semuanya kosong. Dia merasa cemas dan khawatir, dan akhirnya dia bertemu dengan penyihir tua yang dia kenal dan memintanya untuk menggunakan sihirnya untuk melacak anggota pasukannya.
Setelah beberapa saat, penyihir itu mengembalikan hasil pelacakan. "Mereka ada di suatu tempat di hutan timur. Tapi hati-hati, ada energi yang tidak dikenal di sana."
Requiem tahu dia harus segera bertindak. Dia meninggalkan kota dan menuju hutan timur dengan cepat. Ketika dia tiba di sana, dia menemukan anggota pasukannya terjebak di tengah sebuah ritual sihir yang tampaknya telah digunakan untuk menangkap mereka.
Requiem melawan para penyihir yang bertanggung jawab atas ritual itu, tetapi dia sudah terlambat. Ritual itu telah selesai, dan para anggota pasukannya sekarang berubah menjadi monster yang dipanggil dari dimensi lain.
Requiem merasa putus asa saat melihat teman-temannya berubah menjadi monster. Tapi dia tahu dia harus bertindak cepat untuk menghentikan serangan monster itu sebelum mereka menyebar ke seluruh negeri.
Dia melawan monster-monster itu dengan kekuatan dan keterampilannya yang luar biasa, tetapi mereka terus menerus datang dan menjadi semakin kuat. Requiem merasa seperti dia berada di ujung tanduk dan dia hampir kehilangan harapan.
Tetapi kemudian, ia dihadapkan dengan monster yang aneh dan berbeda dari yang lainnya. Monster itu tampak lebih kuat dan lebih cerdas dari yang lainnya, dan Requiem merasa seolah-olah itu adalah pemimpin mereka.
Dia melawan monster itu dengan berani dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Ketika monster itu mati, semua monster lainnya segera menghilang.
Requiem merasa lega ketika melihat teman-temannya kembali normal. Namun, dia tahu bahwa ada lebih banyak bahaya yang menanti di depan dan dia harus terus waspada.
Dia kembali ke istana dengan cepat dan memberikan laporan kepada Alteon dan pangeran tentang apa yang terjadi. Mereka merenung sejenak dan kemudian menyimpulkan bahwa serangan itu pasti merupakan bagian dari rencana Alysia untuk mengambil alih kerajaan. Mereka tidak punya banyak waktu untuk merencanakan tindakan selanjutnya, karena pasukan musuh sudah berada di luar gerbang istana.
Requiem dan Alteon mulai mempersiapkan pertahanan sementara pangeran pergi mencari bantuan dari kerajaan-kerajaan lain. Namun, mereka tidak berharap banyak karena hubungan mereka dengan kerajaan-kerajaan tersebut tegang.
Pasukan musuh menyerang dengan hebat, dan Requiem dan Alteon berjuang untuk membela istana. Mereka sudah hampir kalah ketika tiba-tiba bantuan datang dari arah yang tak terduga. Ksatria dari salah satu kerajaan yang mereka bantu sebelumnya datang untuk membantu mereka.
Dengan bantuan ksatria tersebut, mereka berhasil memukul mundur pasukan musuh dan mengamankan istana. Namun, mereka tahu bahwa ancaman masih belum berakhir.
Setelah pertempuran, pangeran itu kembali dan memberitahu mereka bahwa dia telah menemukan sekutu yang akan membantu mereka dalam perang melawan Alysia. Namun, harga yang harus mereka bayar sangat tinggi.
Pangeran itu memberitahu mereka bahwa dia harus menyerahkan tahta dan kekuasaannya kepada sekutu baru mereka sebagai syarat bantuan. Mereka berdua terkejut, tetapi mereka tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain menerima syarat tersebut.
Dalam keputusan yang sulit ini, mereka merenung tentang arti dari persahabatan dan pengorbanan yang mereka lakukan untuk menyelamatkan kerajaan mereka dari ancaman Alysia. Mereka tahu bahwa jalan ke depan akan sulit, tetapi mereka siap untuk menghadapi segala tantangan yang ada bersama-sama.