Assassin's Requiem

Assassin's Requiem
Bab 8



Requiem duduk di tepi sungai, menikmati hembusan angin yang sejuk di malam hari. Dia merenung tentang apa yang telah terjadi, dan bagaimana semuanya telah berubah dalam beberapa hari terakhir. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan bekerja sama dengan orang lain untuk menyelamatkan kerajaan, atau bahkan memiliki teman dekat seperti sekarang.


Tapi sekarang, dia duduk di sana dengan teman barunya, yang memanggil dirinya Mira. Mira adalah seorang penyihir yang pintar dan bersemangat, dan Requiem merasa nyaman dengan keberadaannya. Mereka telah berbicara tentang banyak hal selama beberapa hari terakhir, dan Requiem merasa seperti dia telah menemukan seseorang yang dapat dipercayai.


Namun, pikirannya segera dipotong ketika ia teringat tentang tugas aslinya. Dia masih harus membunuh pangeran, meskipun sekarang dia tahu bahwa pangeran itu bukanlah ancaman bagi kerajaan. Dia merasa tertekan dengan pemikiran ini, dan berharap ada cara lain.


Mira melihat bahwa Requiem sedang memikirkan sesuatu. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.


Requiem menggelengkan kepalanya. "Ini rumit. Aku masih harus membunuh pangeran, tetapi aku tahu dia tidak bersalah."


Mira mengangkat alisnya. "Kamu bisa membiarkannya hidup. Kamu memiliki kekuatan untuk membuat keputusan itu."


Requiem menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku harus mengikuti perintah. Itulah yang selalu kulakukan."


Mira tersenyum. "Kamu bisa melakukan sesuatu yang berbeda kali ini. Kamu bisa membuat perbedaan."


Requiem merenungkan kata-kata Mira. Dia tidak pernah berpikir tentang itu sebelumnya. Dia selalu mengikuti perintah, tidak peduli apa konsekuensinya. Tetapi, apakah itu benar-benar jalan yang benar?


Mereka duduk bersama di tepi sungai, merenungkan pemikiran mereka sendiri. Tiba-tiba, Requiem merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasakan kekuatan magis yang datang dari jauh.


"Apa itu?" tanyanya pada Mira.


Mira merenung sejenak, kemudian mengangkat tangannya dan merasakan kekuatan itu juga. "Itu berasal dari kota. Ada sesuatu yang terjadi di sana."


Requiem merasa adrenalinnya memuncak. Dia harus bertindak cepat. Dia berdiri dan mengambil senjatanya.


"Ayo pergi," kata Requiem.


Mira mengangguk dan mengikuti Requiem. Mereka berlari menuju kota, siap untuk menghadapi bahaya apa pun yang mungkin ada di depan.


Ketika mereka tiba di kota, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Ada api dan asap yang keluar dari bangunan-bangunan di sekitar mereka. Orang-orang berlarian di jalan dan berteriak-teriak ketakutan. Requiem dan kelompoknya segera menyadari bahwa kota itu telah diserang.


"Mari kita periksa kantor intelijen terlebih dahulu," ucap Requiem dengan tegas. "Mungkin ada informasi tentang siapa yang melakukan serangan ini."


Mereka berlari ke kantor intelijen, yang terletak di pusat kota. Saat mereka tiba di sana, mereka melihat bangunan itu telah hancur berantakan. Puing-puing berserakan di sekitar, dan api masih menyala di beberapa tempat. Requiem merasa sedikit putus asa, namun ia memutuskan untuk mencari petunjuk di sana.


Mereka memasuki bangunan yang hancur itu dan mulai mencari di sekitarnya. Mereka menemukan beberapa dokumen yang selamat dari kebakaran, dan Requiem berhasil menemukan bukti yang mengungkap identitas para penyerang.


"Ini bukti bahwa mereka adalah pasukan dari kerajaan tetangga," ucap Requiem sambil menunjukkan dokumen itu pada rekan-rekannya. "Mereka menyerang kota ini dengan alasan bahwa kita menolak untuk bergabung dengan kerajaan mereka."


Kelompok Requiem berencana untuk menghadapi para penyerang, tetapi mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukannya sendirian. Mereka memutuskan untuk mencari bantuan dari para ksatria dan penyihir yang berada di kota.


Setelah beberapa saat mencari, mereka berhasil menemukan kelompok ksatria yang terdiri dari para prajurit terlatih dan berani. Mereka juga menemukan sekelompok penyihir yang siap membantu melawan pasukan musuh. Dengan bantuan mereka, kelompok Requiem bersiap-siap untuk menghadapi pasukan penyerang.


Ketika mereka tiba di lokasi pertempuran, mereka menemukan pasukan musuh yang sangat besar dan terlatih. Namun, mereka tidak mundur dan memilih untuk melawan dengan gigih. Pertempuran berlangsung sengit, dengan pedang dan sihir yang terus-menerus berbunyi di udara. Namun, dengan bantuan dari ksatria dan penyihir, kelompok Requiem berhasil memenangkan pertempuran.


Mereka mengalahkan pasukan musuh dan mengambil beberapa tahanan sebagai bukti atas kejahatan yang mereka lakukan. Requiem dan kelompoknya berhasil menghentikan invasi dan menyelamatkan kota dari kehancuran. Meskipun begitu, Requiem merasa bahwa ada lebih banyak konspirasi yang harus diungkap. Dia dan kelompoknya siap melanjutkan pencarian mereka untuk mengungkap kebenaran yang lebih besar lagi.


Requiem menatap ke arah kebakaran dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, mereka tidak punya waktu untuk berlama-lama karena mereka harus segera menemukan tempat perlindungan.


"Mari kita mencari tempat yang aman untuk berlindung sementara," kata Pangeran itu.


Mereka berlari melewati jalan-jalan yang penuh dengan kerusuhan dan kekacauan, mencari tempat perlindungan yang aman. Beberapa bangunan tampaknya telah terbakar habis, sementara yang lainnya terlihat masih utuh. Akhirnya, mereka menemukan sebuah gereja tua yang masih berdiri.


"Di sini!" kata Requiem sambil menunjuk ke arah gereja.


Mereka masuk ke dalam gereja dan menutup pintu rapat di belakang mereka. Mereka mengambil nafas dalam-dalam, merasa lega karena mereka akhirnya aman. Namun, keadaan di luar semakin buruk.


Requiem menatap ke luar jendela dan melihat massa yang marah mulai mendekati gereja. Mereka bersenjatakan batu dan senjata sederhana lainnya, dan terlihat sangat marah. Requiem dan Pangeran itu saling pandang, kemudian memutuskan untuk melawan jika perlu.


Beberapa saat kemudian, massa itu tiba di depan pintu gereja. Mereka berteriak dan mengancam akan membakar gereja dan membunuh semua yang ada di dalamnya. Requiem menarik pedangnya dan siap melawan.


"Jangan takut," kata wanita tua itu, "Saya bisa membantumu."


Dia berbicara dengan suara yang tenang, tetapi terdengar kuat di tengah kerusuhan. Dia mengangkat tangannya dan berkata beberapa kata yang tidak bisa dimengerti.


Tiba-tiba, suasana di luar gereja menjadi tenang. Massa itu diam dan tampak terpukau oleh kekuatan wanita tua itu. Mereka perlahan-lahan mundur dan akhirnya meninggalkan gereja.


Requiem dan Pangeran itu saling pandang dengan kagum. Mereka tidak tahu siapa wanita tua itu atau bagaimana dia bisa melakukan itu, tetapi mereka merasa lega karena selamat.


"Terima kasih," kata Pangeran itu kepada wanita tua itu.


Wanita itu hanya tersenyum dan berkata, "Sekarang pergilah, kalian harus segera menemukan jawaban untuk apa yang terjadi di kota ini."


Requiem dan Pangeran itu keluar dari gereja dan melanjutkan pencarian mereka. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi selanjutnya, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus tetap berjuang dan menemukan kebenaran.


Requiem dan timnya kemudian menemukan sebuah gedung tinggi yang terletak di pusat kota, yang tampaknya tidak terpengaruh oleh kekacauan di sekitarnya. Mereka memutuskan untuk mendekat dan mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam gedung itu.


Setelah menembus ke dalam gedung, mereka menemukan bahwa itu adalah markas besar dari organisasi rahasia yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kota. Requiem dan timnya berhasil mengalahkan para penjaga, tetapi mereka menemukan bahwa mereka terlambat. Organisasi itu sudah berhasil mencuri artefak magis yang sangat kuat, dan sekarang mereka berencana untuk menggunakannya untuk mengambil alih kerajaan.


Requiem dan timnya memutuskan untuk menghentikan organisasi tersebut dan menyelamatkan kerajaan dari kehancuran. Mereka berjuang melawan anggota organisasi yang tersisa dan akhirnya berhasil mencapai pemimpin mereka. Namun, setelah pertarungan sengit, Requiem menyadari bahwa pemimpin itu sebenarnya adalah seseorang yang sangat dekat dengannya, seseorang yang telah lama hilang dari kehidupannya.


Requiem harus membuat keputusan sulit untuk mengorbankan teman lama yang telah mengambil jalan yang salah demi menyelamatkan banyak nyawa. Dalam adegan terakhir, Requiem menangis saat melihat temannya pergi, tetapi dia tahu bahwa itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.


Dengan misi selesai, Requiem dan timnya kembali ke kerajaan dan diberi penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam menyelamatkan kerajaan. Meskipun Requiem masih merasa sedih atas kehilangan temannya, dia merasa lega bahwa dia telah menyelamatkan banyak nyawa dan membuat dunia sedikit lebih aman.


Requiem dan kelompoknya mulai bergerak perlahan-lahan melalui kota yang hancur ini. Mereka melihat banyak orang yang terluka dan mati tergeletak di jalanan. Beberapa bangunan telah runtuh dan reruntuhan berserakan di mana-mana.


Ketika mereka berjalan melewati jalan yang sepi, Requiem melihat seorang gadis kecil bersembunyi di balik puing-puing bangunan yang hancur. Gadis kecil itu tampak ketakutan dan merenung seolah-olah tidak tahu harus berbuat apa.


Requiem merasa kasihan dan menghampiri gadis kecil itu. Dia melihat bahwa gadis itu terluka di bagian tangan dan kaki. Tanpa ragu, Requiem memberikan perawatan pertama pada gadis itu dan memastikan bahwa dia dalam keadaan aman.


Ketika Requiem dan kelompoknya melanjutkan perjalanan mereka, mereka mulai menyadari bahwa kota ini telah diserang oleh pasukan musuh yang kuat dan kejam. Mereka mengetahui bahwa pasukan musuh tersebut dipimpin oleh seorang penyihir jahat bernama Mordekai, yang telah melancarkan serangan terhadap kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.


Requiem dan kelompoknya memutuskan untuk bergerak menuju pusat kota, tempat Mordekai dipercayai berada. Mereka berencana untuk menghentikan Mordekai dan membebaskan kota dari kekuasaannya yang kejam.


Setelah berjalan beberapa jam, mereka tiba di gerbang besar menuju pusat kota. Gerbang itu dijaga oleh pasukan musuh yang kuat dan handal, tetapi Requiem dan kelompoknya berhasil menyerang dan mengalahkan mereka dengan kekuatan dan strategi mereka yang kuat.


Segera setelah gerbang berhasil dikuasai, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke pusat kota. Di tengah-tengah kota, mereka menemukan Mordekai yang sedang duduk di atas tahta yang megah, sambil menertawakan kehancuran di sekitarnya.


Requiem dan kelompoknya memutuskan untuk menyerang Mordekai dengan kekuatan dan strategi mereka yang kuat. Setelah pertempuran yang sengit, mereka berhasil mengalahkan Mordekai dan membebaskan kota dari kekuasaannya yang kejam.


Setelah kemenangan mereka, Requiem dan kelompoknya dipuja sebagai pahlawan di seluruh kerajaan dan kota-kota yang telah diselamatkan dari kekuasaan Mordekai. Requiem merasa sedikit lega dan merenungkan bagaimana satu tugas sederhana dapat mengubah nasib banyak orang dan memperlihatkan bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting daripada hanya mencari uang di dunia yang penuh dengan konflik dan kekuasaan.


Mereka berdua berjalan dengan hati-hati di antara bangunan yang terbakar dan melihat orang-orang yang terluka berbaring di jalanan. Requiem memutuskan untuk memeriksa sekitar untuk mencari tahu lebih banyak tentang situasi ini. Dia meninggalkan pangeran di tempat yang relatif aman dan mengumpulkan informasi dari warga setempat.


Dia mendengar bahwa serangan ini telah direncanakan dengan baik dan bahwa banyak orang telah kehilangan rumah dan keluarga mereka. Ada beberapa kelompok yang dituduh bertanggung jawab atas serangan ini, tetapi tidak ada yang pasti. Requiem merasa semakin terobsesi dengan mencari tahu siapa yang melakukan serangan ini dan mengapa.


Setelah beberapa waktu, Requiem berhasil menemukan informasi yang berguna. Dia menyadari bahwa serangan itu dilakukan oleh pasukan bayaran yang dibayar oleh kelompok yang ingin mengambil alih kekuasaan dari pemerintah saat ini. Dia juga mengetahui bahwa pangeran telah menjadi target mereka dan itu adalah keberuntungan bahwa mereka bisa tiba di kota sebelumnya.


Requiem segera kembali ke tempat di mana dia meninggalkan pangeran dan memberitahunya tentang apa yang dia temukan. Pangeran terkejut dan terguncang oleh kabar tersebut. Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan menjadi target serangan dan merasa bersalah bahwa begitu banyak orang telah terluka atau kehilangan rumah mereka karena dia.


Namun, Requiem meminta pangeran untuk tidak memikirkan hal tersebut dan meminta agar pangeran tetap tenang dan fokus pada apa yang harus dilakukan selanjutnya. Mereka harus melawan kelompok yang ingin mengambil alih kekuasaan dan menyelamatkan rakyat yang menjadi korban dalam serangan tersebut.


Requiem mulai merencanakan serangan balik dan pangeran bersedia membantu. Mereka merekrut orang-orang yang ingin bergabung dengan perjuangan mereka dan mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan. Akhirnya, setelah beberapa waktu, mereka siap untuk melawan pasukan bayaran dan kelompok yang ingin mengambil alih kekuasaan.


Pertempuran yang sengit terjadi, tetapi Requiem, pangeran, dan sekutu mereka berhasil menang. Pasukan bayaran dikalahkan dan kelompok yang ingin mengambil alih kekuasaan dihentikan. Akhirnya, kota itu berhasil diselamatkan dan orang-orang dapat mulai membangun kembali kehidupan mereka.


Setelah pertempuran berakhir, pangeran meminta bantuan Requiem untuk menemukan dan menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Requiem setuju dan bersama-sama mereka melacak kelompok itu dan menyerahkan mereka ke pemerintah.