
Setelah mendapatkan informasi penting tentang konspirasi yang terjadi di balik pembunuhan pangeran, Requiem dan sekutunya merencanakan strategi untuk menghentikan kejahatan yang merajalela di kerajaan. Mereka tahu bahwa tugas yang sulit menanti mereka, tetapi mereka bersumpah untuk mengambil risiko dan berjuang demi kebenaran.
Requiem mengumpulkan informasi dari agen rahasia dan penyihir yang dipercayanya, sementara sekutunya mempersiapkan kekuatan mereka untuk melawan pasukan kerajaan yang korup. Setelah berhari-hari menyusun rencana dan persiapan, mereka siap untuk bertindak.
Pada malam hari, Requiem dan sekutunya menyerbu istana kerajaan. Mereka bertarung dengan pasukan yang berjaga-jaga dan melawan siapa saja yang mencoba menghalangi mereka. Setelah melewati penghalang, mereka akhirnya mencapai ruangan tempat sang pangeran dijaga.
Namun, mereka terkejut melihat bahwa pangeran telah dibunuh sebelum mereka tiba di sana. Semua yang tersisa hanyalah mayat tanpa nyawa yang terbaring di atas tempat tidur. Requiem dan sekutunya memutuskan untuk memeriksa ruangan untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu.
Setelah mencari-cari, mereka menemukan sebuah loker rahasia di dinding yang berisi bukti tentang konspirasi besar yang terjadi di kerajaan. Dalam loker itu, mereka menemukan bukti yang membuktikan bahwa sang pangeran sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang bersekongkol dengan pasukan musuh untuk mengambil alih kerajaan.
Requiem dan sekutunya merasa lega karena mereka telah menemukan kebenaran dan mengungkap konspirasi yang terjadi di kerajaan. Namun, mereka juga merasa sedih karena mereka telah menyelesaikan tugas mereka terlambat.
Setelah menyerahkan bukti-bukti tersebut kepada raja yang sah, Requiem dan sekutunya menjadi legenda dalam sejarah kerajaan. Mereka berhasil memecahkan kasus yang dianggap mustahil dan membebaskan kerajaan dari pengkhianat yang berbahaya. Namun, Requiem merasa ada satu tugas terakhir yang harus dia selesaikan: untuk memenuhi janjinya untuk membunuh sang pangeran. Karena itulah, ia berjanji untuk melacak dan menghukum siapa pun yang terlibat dalam konspirasi tersebut sampai ke akar-akarnya. Akhirnya, Requiem meninggalkan kerajaan dan kembali ke dunianya, dengan pengalaman dan kebijaksanaan baru yang dia dapatkan selama petualangan epiknya.
Requiem menarik pisau kecil yang dipegangnya di tangan kanannya. Dalam sekejap, dia berlari menuju pangeran, berusaha menyerangnya dengan pisau itu. Namun, pangeran dengan mudah menghindari serangan itu dan mendorong Requiem ke belakang.
"Aku tahu siapa kamu, Requiem," ujar pangeran dengan nada dingin.
Requiem tersenyum sinis. "Jadi, kamu tidak terkejut?"
Pangeran menggelengkan kepala. "Sudah terlalu banyak orang yang mencoba membunuhku. Tapi, kamu berbeda. Kamu tidak seperti pembunuh bayaran lainnya."
Requiem mengangkat alisnya. "Lalu apa bedanya?"
Pangeran berjalan perlahan ke arah Requiem. "Kamu tidak terlihat seperti pembunuh yang membunuh untuk uang. Kamu membunuh untuk kepuasanmu sendiri."
Requiem tersenyum kecil. "Tentu saja. Aku menikmati pekerjaanku."
Pangeran tersenyum tipis. "Tetapi, kali ini, kamu tidak akan menikmatinya."
Requiem merasa aneh. Sebelum dia menyadari, tiba-tiba pangeran itu menghilang dari hadapannya. Requiem memutar tubuhnya, mencari-cari keberadaan pangeran itu.
"Aku ada di belakangmu," kata pangeran dengan suara merendahkan.
Requiem cepat-cepat berbalik, tetapi dia terlambat. Pangeran itu berhasil mengecohnya lagi, dan Requiem merasakan pukulan keras di punggungnya. Dia terjatuh ke tanah dengan sakit yang menusuk. Pangeran itu melangkah ke depan dan menginjak kepala Requiem dengan kasar.
"Kamu tidak bisa membunuhku, Requiem. Aku lebih kuat daripada yang kamu pikirkan."
Requiem hanya bisa menatap kosong ke langit-langit ruangan itu. Dia tahu dia akan mati, dan dia tidak akan bisa melaksanakan tugasnya. Dia merenungkan hidupnya yang singkat, mengingat kembali tugas-tugasnya yang telah diselesaikan, dan menyesali keputusan terakhirnya.
Namun, tiba-tiba, dia merasakan sejuk di punggungnya. Dia menoleh dan melihat sekutu barunya yang membawa topeng mengenakan jubah hitam, dan seorang pria dengan pedang di tangan kanannya.
"Pergilah, Requiem," kata sekutunya dengan suara lembut. "Kami akan menyelesaikan ini untukmu."
Requiem mengangguk dan berusaha bangkit. Dia meraih lengan sekutunya dan bersandar padanya.
"Terima kasih," bisik Requiem.
Sekutunya tersenyum. "Kami adalah teman, Requiem. Kita harus saling membantu."
Requiem mengangguk, lalu dia melihat pangeran itu berlari ke arah mereka. Dia tahu dia harus cepat bergerak.
"Dorong aku," ujarnya pada sekutunya.
Sekutunya menganggguk dan Requiem menaikkan kakinya ke dinding. Dengan sedikit dorongan dari sekutunya, dia meluncur ke atas dinding dan berlari di atasnya dengan cepat.
Pangeran itu semakin mendekat, jadi Requiem mempersiapkan diri untuk melompat. Dia merasakan nafasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya dia melompat ke arah pangeran itu.
Pangeran itu terkejut dan memandang Requiem dengan ketakutan yang jelas terpancar dari matanya. Requiem mengeluarkan belati dari balik jubahnya dan menahannya di atas kepala pangeran itu.
"Sudah waktunya untuk mengakhiri ini," kata Requiem dengan suara dingin.
Namun, tiba-tiba ada suara letusan yang menggema di seluruh kota. Requiem terkejut dan memandang sekitarnya dengan curiga. Dia merasakan tubuh pangeran itu bergetar di bawahnya, dan dia memindahkan belatinya dari kepala pangeran itu.
"Sialan, apa yang terjadi?" tanya Requiem, mencoba mengerti situasi yang sedang terjadi.
Pangeran itu memandang Requiem dengan tatapan bersalah dan berkata, "Itu adalah letusan kanon dari pasukan saya. Saya berusaha untuk menghentikan mereka, tapi saya terlambat."
Requiem mengangguk dan membantunya bangkit berdiri. Mereka berjalan cepat menuju gerbang kota, di mana mereka bisa melihat asap dan api dari jauh.
"Mari kita pergi dan lihat apa yang terjadi," ujar Requiem, berlari menuju asap tebal yang menghalangi jalannya.
Requiem mencari sumber suara itu dan menemukan seorang pria bersenjatakan pedang sedang berdiri di atap bangunan di dekat mereka. Dia mengenali pria itu sebagai salah satu tentara pangeran.
Tanpa ragu, Requiem menarik keluar senjatanya dan menembakkan beberapa anak panah ke arah tentara itu. Beberapa anak panah berhasil mengenai sasaran, membuat tentara itu terjatuh dari atap dan menjatuhkan pedangnya.
"Kita harus pergi," ujar Requiem kepada sekutunya sambil menariknya berlari menjauh dari tempat itu.
Mereka berlari secepat mungkin sambil melewati lorong-lorong sempit dan menghindari penjaga yang mencoba menghalangi mereka. Requiem tidak peduli dengan siapa yang mereka hadapi, dia hanya fokus pada satu tujuan: melindungi pangeran.
Mereka akhirnya mencapai gedung pertemuan yang telah disiapkan sebagai tempat penyelamatan. Namun, mereka terkejut melihat bahwa gedung itu sudah dipenuhi oleh pasukan pangeran.
"Mereka mengintai kita," ujar Requiem sambil mengamati situasi.
"Mungkin kita bisa melewati mereka tanpa terdeteksi," ujar sekutunya dengan pelan.
Requiem mengangguk dan memimpin jalan mereka melewati pasukan pangeran dengan hati-hati. Mereka berhasil meloloskan diri dan mencapai tempat penyelamatan.
Namun, ketika mereka tiba, mereka disambut dengan sebuah kejutan. Pangeran yang mereka selamatkan ternyata bukanlah pangeran yang asli, melainkan seorang pengganti yang telah dipasang oleh pangeran sejati untuk memperdaya musuh-musuhnya.
Requiem merasa terkejut dan marah. Namun, dia juga merasa terhormat karena telah menjadi bagian dari sebuah rencana yang begitu canggih dan kompleks.
Dia mengangguk pada sekutunya, lalu melangkah pergi dengan hati yang berat. Dia tahu dia telah membunuh banyak orang dalam perjalanan ini, dan dia merasa tidak ada yang bisa menghapus dosa-dosanya.
Namun, dia tahu bahwa dia telah memilih untuk berdiri di pihak yang benar, dan dia akan terus berjuang untuk melindungi kebenaran dan keadilan.
Seiring langkahnya menjauh dari tempat itu, Requiem menyadari bahwa dia telah menemukan sesuatu yang dia pikir tidak mungkin ia miliki sebelumnya: persahabatan dan pengorbanan yang tulus dari seorang teman.
Bab 10 - Epilog
Beberapa bulan setelah misi untuk melindungi pengganti pangeran itu, Requiem kembali ke kehidupannya sebagai pembunuh bayaran. Namun, dia merasa tidak seperti sebelumnya.
Dia merasa lebih berhati-hati dalam memilih tugas-tugasnya, dan dia lebih memperhatikan dampak yang akan ia tinggalkan pada dunia di sekitarnya. Dia tahu dia tidak bisa mengubah masa lalunya, tetapi dia dapat memilih bagaim
Ana ia akan memengaruhi masa depan.
Seiring waktu, Requiem menjadi semakin dekat dengan sekutunya dan bahkan mulai mempercayakan hidupnya kepadanya dalam situasi berbahaya. Mereka saling bergantung satu sama lain dan saling melindungi. Namun, konspirasi di balik tugas Requiem untuk membunuh pangeran masih berlanjut, dan kebenaran akan segera terungkap.
Pada akhirnya, Requiem dan sekutunya berhasil menghentikan konspirasi tersebut dan mengungkap kebenaran di balik tugas mereka. Requiem menyadari bahwa pangeran itu tidaklah bersalah dan dia terlalu cepat mengambil tindakan tanpa memahami situasinya dengan baik. Namun, dengan kekuatan baru yang ditemukannya dan dukungan dari sekutunya, dia berjanji untuk membantu menebus kesalahannya dengan mengabdikan hidupnya untuk melindungi dunia dari kejahatan yang lebih besar.
Dalam cerita Assassin's Requiem ini, kita melihat bagaimana pengkhianatan dan penebusan dapat mempengaruhi hidup seseorang, serta bagaimana persahabatan dan pengorbanan dapat membantu seseorang melewati masa sulit. Dengan aksi yang cepat dan twist plot yang tak terduga, pembaca akan dibawa ke dalam dunia fantasi yang penuh dengan kekuatan magis dan konflik politik yang menegangkan.