
Requiem merenungkan kembali semua informasi yang telah dia dapatkan tentang pangeran. Semua tanda menunjukkan bahwa pangeran itu adalah orang yang jahat dan layak untuk dibunuh. Namun, ada beberapa hal yang tidak masuk akal dan Requiem merasa ada yang tidak beres.
Sekutu barunya, seorang penyihir muda bernama Zara, datang menghampirinya dengan kabar yang mengkhawatirkan. "Aku mendengar ada orang yang mengintai kita," ucap Zara. "Aku yakin itu adalah agen rahasia pangeran."
Requiem menatap Zara dan mengangguk. "Tidak mengherankan kalau mereka mencoba mengawasi setiap gerak kita."
"Mereka tahu bahwa kita berdua sedang mencari tahu tentang rahasia pangeran," sambung Zara. "Kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam jebakan mereka."
Requiem mengangguk dan memutuskan untuk merencanakan langkah selanjutnya dengan hati-hati. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pangeran sebelum memutuskan untuk membunuhnya.
Malam itu, Requiem memutuskan untuk menyusup ke dalam istana pangeran untuk mencari tahu lebih banyak tentang rencana pangeran. Dia menghindari penjaga dan menyelinap ke dalam ruangan pribadi pangeran. Di dalam sana, dia menemukan sebuah surat rahasia yang menunjukkan bahwa pangeran telah melakukan kejahatan besar terhadap rakyatnya.
Saat Requiem hendak keluar dari istana, dia terjebak dalam perangkap yang telah disiapkan oleh agen rahasia pangeran. Dia dikepung oleh beberapa ksatria yang telah bersiap untuk membunuhnya.
Requiem mengeluarkan pedangnya dan berusaha untuk melawan, tetapi dia dikepung oleh terlalu banyak musuh. Dia merasa putus asa dan hampir menyerah, tetapi kemudian Zara muncul dan membantu dia melawan para ksatria.
Setelah berhasil melarikan diri, Requiem dan Zara kembali ke markas mereka. Mereka memutuskan untuk bekerja sama untuk menghentikan rencana jahat pangeran.
Mereka mengumpulkan informasi lebih lanjut dan menemukan bahwa pangeran merencanakan untuk menggunakan kekuatan magis untuk menghancurkan kerajaan lain dan memperluas kekuasaannya.
Requiem dan Zara menyusup kembali ke dalam istana dan berhasil menemukan bukti yang cukup untuk membongkar konspirasi pangeran. Mereka berhasil menghadapinya dan memaksanya untuk mengakui kejahatannya.
Akhirnya, Requiem dan Zara berhasil menghentikan rencana jahat pangeran dan membebaskan rakyat dari kekuasaannya yang tiran. Mereka diberi penghargaan atas jasa-jasa mereka dan akhirnya, Requiem menemukan arti persahabatan dan keberanian yang sesungguhnya.
Requiem merasa kesal saat melihat pangeran itu. Ia mempertanyakan apakah ia harus membunuh seorang pemuda yang terlihat lemah itu. Tetapi, tugas adalah tugas. Ia meraba pedangnya, persiapan untuk mengeluarkan serangan pertamanya.
Namun, ketika ia hendak meluncurkan serangannya, ia melihat pangeran itu menunjukkan tanda-tanda akan muntah. Ia memutuskan untuk menunggu. Begitu pangeran itu melepaskan isinya di tanah, Requiem mengambil kesempatan untuk meluncurkan serangannya.
Namun, pangeran itu dengan cepat melompat ke belakang, menghindari serangan itu. Ia tidak terlihat seperti orang yang tidak siap bertempur. Requiem kembali merasa kesal, ia tidak menyangka bahwa pangeran itu akan begitu lihai dalam pertempuran.
Keduanya saling bertatap muka dalam jarak yang dekat. Pangeran itu tersenyum ke arahnya, seolah-olah ia tahu sesuatu yang Requiem tidak tahu.
"Tidak apa-apa, Requiem. Kamu tidak perlu membunuhku. Aku akan menyerahkan diri dengan sukarela," ujar pangeran itu dengan tenang.
Requiem merasa ada yang tidak beres. Ia mencoba untuk menembus pertahanan pangeran itu, tetapi ia tetap saja tidak berhasil. Setiap serangan yang ia lepaskan, selalu dihindari dengan sangat mudah.
"Tidak ada gunanya, Requiem. Aku tahu siapa kamu. Aku tahu siapa yang mengirimmu ke sini," kata pangeran itu sambil mengangkat tangannya dengan lambaian kecil.
Seketika, Requiem merasa seolah-olah ia dihadapkan pada musuh yang lebih tangguh daripada yang pernah ia hadapi sebelumnya. Ia menyadari bahwa pangeran itu memiliki kekuatan yang luar biasa dan bahwa tugasnya akan jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Namun, ada sesuatu yang aneh dalam kekuatan pangeran itu. Requiem bisa merasakan bahwa ada yang salah. Ada kelemahan yang tersembunyi di balik kekuatannya yang mengagumkan itu. Ia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut sebelum ia mengambil tindakan apa pun.
"Siapa yang mengirimku ke sini?" tanya Requiem dengan nada yang datar.
"Yang membuatmu datang ke sini bukanlah sesuatu yang baik. Kamu pasti sudah tahu itu sendiri," jawab pangeran itu dengan senyum menggoda di wajahnya.
Requiem mengangkat pedangnya lagi, siap untuk melancarkan serangan terakhirnya. Namun, tiba-tiba pangeran itu jatuh pingsan di hadapannya.
Requiem merasa kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Ia memutuskan untuk membawa pangeran itu ke sebuah tempat yang lebih aman untuk memastikan bahwa ia tidak akan diserang oleh siapa pun.
Setelah pangeran itu sadar,Pangeran itu duduk di atas tempat tidur, kepalanya terasa pusing. Ia teringat kejadian di kamarnya, ketika tiba-tiba terasa sesuatu menusuk tubuhnya. Namun, kali ini ia tidak merasakan sakit yang sama. Matanya melirik sekeliling ruangan yang terang benderang, mencari-cari tanda-tanda kehidupan.
"Kau sudah sadar," suara itu mengagetkannya. Ia merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Requiem duduk di kursi di sebelah tempat tidur, senjatanya tergantung di pinggangnya. Ia terlihat lelah dan lesu, sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh pangeran sebelumnya.
"Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?" Pangeran menanyakan hal tersebut, mencoba mengingat kembali kejadian terakhir.
"Tiga hari?" terkejut pangeran. "Lalu, apakah kau berhasil membunuhku?" Ia melirik sekilas ke arah senjata Requiem.
"Tidak," jawab Requiem sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak membunuhmu."
Pangeran terdiam, mencoba memahami situasi yang sedang terjadi. Ia tahu bahwa Requiem tidak akan berkompromi dengan tugasnya. Namun, mengapa ia masih hidup?
Requiem melanjutkan ceritanya, menjelaskan bahwa ada orang-orang yang ingin membunuh pangeran dan merekrutnya untuk melakukannya. Namun, setelah mencari tahu lebih jauh, Requiem menemukan bukti bahwa pangeran itu bukanlah musuh, melainkan korbannya.
"Kalian tahu siapa yang melakukan ini?" tanya pangeran, mencoba mencari tahu siapa pelaku di balik semua ini.
"Belum," jawab Requiem. "Tapi aku akan menemukan tahu dan membawa mereka ke pengadilan."
Pangeran itu mengangguk, ia tahu bahwa sekarang ia berhutang budi pada pembunuh bayaran tersebut. Ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Requiem dalam mencari tahu siapa yang ingin membunuhnya dan mengapa.
Dari sanalah, pangeran dan Requiem mulai menjalin hubungan yang erat. Mereka bekerja sama untuk menemukan bukti dan mengungkap konspirasi yang lebih besar yang tersembunyi di balik tindakan pembunuhan tersebut. Dalam proses tersebut, mereka mulai memahami satu sama lain dan memperkuat persahabatan mereka.
Namun, mereka tidak sendirian dalam pencarian ini. Ada pihak lain yang juga ingin mengungkap konspirasi tersebut dan mereka tidak takut untuk mengambil tindakan apapun. Requiem dan pangeran harus berjuang melawan waktu dan musuh mereka untuk membawa kebenaran ke permukaan sebelum terlambat.
Requiem menyimak dengan seksama dan berkata, "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita perlu merencanakan sesuatu."
Pangeran itu mengangguk, "Kita harus memperoleh bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa keluarga saya tidak terlibat dalam konspirasi ini. Saya percaya bahwa ada beberapa dokumen dan bukti penting yang disimpan di dalam istana. Tapi saya tidak tahu persis di mana tempatnya."
Requiem berpikir sejenak, "Baiklah, saya akan mencari tahu. Sementara itu, kamu harus tetap di sini dan menjaga keamananmu. Jangan berbicara dengan siapa pun tentang ini."
Pangeran itu mengangguk, "Baiklah, saya akan menunggu di sini."
Requiem berjalan keluar dari kamar itu dan mulai mencari tahu di mana dokumen dan bukti itu bisa disimpan. Dia memeriksa setiap ruangan di istana dan akhirnya menemukan sebuah ruangan yang terkunci. Setelah berhasil membuka pintu, dia menemukan bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa keluarga pangeran tidak bersalah.
Dia kembali ke kamar pangeran itu dan memberikan bukti itu kepadanya. Pangeran itu sangat bersyukur dan berkata, "Terima kasih, Requiem. Kau telah menyelamatkan hidupku dan keluargaku."
Requiem mengangguk, "Tidak perlu berterima kasih. Ini adalah pekerjaanku."
Pangeran itu berkata, "Tapi, aku ingin memberikan sesuatu untukmu sebagai tanda terima kasih. Apa yang kau inginkan?"
Requiem tersenyum, "Aku tidak memerlukan hadiah apa pun. Aku hanya senang bisa membantumu."
Pangeran itu berkata, "Baiklah, tapi setidaknya biarkan aku memberikan uang untuk membayar jasa mu."
Requiem menggelengkan kepala, "Aku sudah menerima bayaran dari klien saya. Tidak perlu khawatir tentang itu."
Pangeran itu tersenyum, "Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Requiem. Aku akan selalu ingat bantuanmu."
Requiem tersenyum, "Baiklah. Sekarang aku harus pergi. Ada tugas lain yang menunggu."
Pangeran itu mengangguk, "Tentu saja. Selamat jalan, Requiem."
Requiem keluar dari istana dengan hati yang lega. Dia merasa senang bisa membantu pangeran itu dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Tugasnya sebagai pembunuh bayaran memang sulit dan berbahaya, tetapi setidaknya dia tahu bahwa dia telah melakukan yang terbaik untuk memastikan kebenaran dan keadilan di dunia ini.
Requiem dan Celine kemudian pergi menuju markas perampok untuk menemukan bukti yang lebih konkrit tentang keterlibatan Adrik dalam konspirasi tersebut. Mereka berhasil mendapatkan beberapa dokumen penting yang menghubungkan Adrik dengan kelompok perampok, dan menemukan bahwa Adrik sebenarnya adalah otak di balik seluruh konspirasi tersebut.
Namun, ketika mereka berusaha untuk melarikan diri dari markas perampok, mereka dihadang oleh Adrik beserta sekelompok pasukannya. Pertarungan pun pecah, dan Celine terluka cukup parah dalam pertempuran tersebut. Requiem berhasil membawa Celine ke suatu tempat yang aman, dan menghubungi teman-temannya di kerajaan untuk meminta bantuan.
Dalam pertempuran berikutnya, Requiem dan para ksatria kerajaan berhasil mengalahkan pasukan Adrik dan menangkapnya. Adrik pun dihadapkan pada kenyataan bahwa dia telah gagal dalam konspirasinya, dan dia dihukum mati atas tindakannya yang menyebabkan kekacauan dan penderitaan di kerajaan.
Setelah semua konflik berakhir, Requiem dan Celine berpisah dengan harapan bahwa mereka akan bertemu lagi di masa depan. Requiem memutuskan untuk melanjutkan hidupnya sebagai pembunuh bayaran, tetapi kali ini dia akan memilih tugas yang lebih baik dan hanya akan bekerja untuk keadilan dan kebenaran. Dia merasa bahwa telah menemukan arti sejati dari pengorbanan dan persahabatan, dan berjanji untuk menggunakan keahliannya untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan.