
Requiem berdiri di tengah-tengah hutan, menatap ke arah istana yang besar di kejauhan. Dia telah melintasi wilayah musuh dan menghindari pengawasan selama berhari-hari untuk sampai ke sini. Tugasnya adalah membunuh pangeran kerajaan yang sedang menjadi ancaman bagi kliennya. Namun, sebelum dia bisa melakukannya, dia harus menemukan cara masuk ke dalam istana tanpa terdeteksi.
Requiem memperhatikan gerakan penjaga di sekitar tembok istana, mencari celah untuk masuk. Dia melihat seorang pelayan yang sedang berjalan menuju pintu belakang dan dia memutuskan untuk mengikuti pelayan itu. Setelah menyelinap masuk, Requiem merasa lega karena dia berhasil masuk ke dalam istana tanpa terdeteksi.
Dia terus menyelinap, menghindari penjaga dan melompat dari bayang ke bayang, menuju ruang pangeran. Ketika dia sampai, dia menemukan bahwa pintu sudah terbuka. Dia masuk dan melihat pangeran sedang duduk di meja, memeriksa beberapa dokumen.
Requiem mengeluarkan pedangnya, siap untuk melancarkan serangan. Namun, ketika pangeran melihatnya, dia tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia meminta Requiem duduk dan berbicara.
"Dia membayar Anda untuk membunuh saya, benar?" tanya pangeran.
Requiem mengangguk. "Itu pekerjaan saya."
"Tapi, apakah Anda tahu mengapa dia ingin saya mati?" tanya pangeran lagi.
Requiem menggelengkan kepala. "Saya tidak bertanya. Saya hanya melakukan pekerjaan saya."
Pangeran itu tersenyum kecil. "Saya mengerti. Tapi, jika Anda bersedia, saya bisa memberi Anda informasi yang lebih berharga daripada bayaran Anda."
Requiem tidak yakin apa yang harus dilakukan. Dia tahu bahwa dia harus membunuh pangeran, tetapi dia juga penasaran dengan apa yang ingin dikatakan pangeran itu.
"Saya mendengarkan," kata Requiem akhirnya.
Pangeran itu memberi tahu Requiem bahwa dia tidaklah seperti ayahnya, raja yang berkuasa saat ini. Dia adalah anak hasil dari hubungan rahasia antara ibunya dan seorang penyihir yang kuat. Karena itu, dia tidak dianggap sebagai ahli waris sah dan banyak pihak ingin menggulingkannya dari takhta.
Requiem kaget mendengar rahasia itu. Dia merasa bahwa ada lebih banyak rahasia yang tersembunyi di balik penampilan pangeran yang sopan dan santun itu. Dia memutuskan untuk tidak membunuh pangeran itu, setidaknya tidak saat ini. Dia perlu mencari tahu lebih banyak tentang konspirasi yang melibatkan pangeran itu dan memutuskan langkah selanjutnya.
Setelah berbicara dengan pangeran, Requiem meninggalkan istana melalui jalan pintas yang berkelok-kelok dan tersembunyi di belakang bangunan-bangunan di sekitar istana. Dia berjalan menuju tempat di mana dia menyembunyikan kuda hitamnya dan segera naik ke atasnya. Kuda itu terus berlari dengan cepat menuju ke arah hutan.
Requiem merenung dalam perjalanannya, mencoba untuk memahami situasi yang baru saja dia hadapi. Dia masih belum tahu apakah dia bisa mempercayai pangeran, tetapi apa yang dia lihat dan dengar di istana menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Setelah beberapa waktu, Requiem tiba di hutan yang tenang dan sunyi. Dia mengendalikan kuda hitamnya dengan lembut dan berjalan di sepanjang jalan setapak yang tersembunyi di dalam hutan. Dia tahu rute yang harus dia ambil untuk mencapai kota di mana dia akan bertemu dengan sekutunya yang baru.
Saat dia mendekati kota, Requiem melihat beberapa sosok yang mencurigakan mengintai di sekitar. Dia langsung menyadari bahwa mereka adalah agen rahasia yang mengikuti dia sejak dia meninggalkan istana. Dia berusaha untuk tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia menyadari keberadaan mereka dan terus berjalan menuju kota.
Ketika dia tiba di kota, Requiem segera mencari tempat persembunyian yang aman. Dia tahu bahwa dia harus tetap waspada dan hati-hati saat mencari sekutunya yang baru. Setelah beberapa saat berjalan, dia akhirnya menemukan sebuah penginapan kecil yang tersembunyi di sudut kota.
Dia masuk ke dalam penginapan dan memesan sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Dia segera memeriksa kamar tersebut untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan. Setelah memastikan kamar itu aman, Requiem memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum bertemu dengan sekutunya.
Namun, saat dia sedang beristirahat, Requiem merasa ada yang tidak beres. Dia merasakan adanya aura yang mencurigakan di sekitarnya. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar.
Ternyata, di luar kamar, ada seorang ksatria yang sedang mengintai. Requiem langsung siap untuk melawan, tetapi ksatria itu tiba-tiba memberitahunya bahwa dia adalah sekutu barunya yang sudah dijemput oleh agen rahasia dan ingin bekerja sama dengannya untuk mengungkap konspirasi yang terjadi.
Requiem merasa lega dan bersedia untuk bekerja sama dengan ksatria tersebut. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menyelesaikan tugas ini sendirian dan butuh bantuan dari orang-orang yang dapat dia percayai. Kedua sekutu baru itu berjanji untuk saling membantu satu sama lain dan mengungkap kebenaran yang sebenarnya.
Perempatan yang terlihat sepi. Dia berjalan dengan cepat, tetapi tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di sekitarnya. Dia merasakan bahwa dia tidak sendirian.
Requiem segera menyadari bahwa dia sedang diikuti. Dia berhenti dan meraba belakangnya, mencari tahu siapa yang mengikutinya. Tiba-tiba, seseorang muncul dari kegelapan dan menyerangnya.
Requiem menghindar dan menarik pedangnya. Dia siap untuk melawan siapa pun yang mencoba menyerangnya. Tapi kemudian, dia mengenali siapa yang menyerangnya. Itu adalah Lusca, seorang ksatria dari kerajaan tetangga yang dia kenal dengan baik.
"Lusca, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Requiem dengan nada curiga.
"Aku punya kabar penting untukmu, Requiem," jawab Lusca dengan serius. "Aku tahu siapa yang memberimu tugas untuk membunuh pangeran."
Requiem terkejut mendengar ini. Dia tidak menyangka bahwa Lusca akan mengetahui rahasia ini. Dia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan emosinya.
"Siapa?" tanya Requiem.
Lusca melirik ke kanan dan ke kiri sebelum menjawab, "Aku tidak bisa memberitahumu di sini. Tempat ini tidak aman. Ikuti aku."
Lusca memimpin Requiem ke sebuah gang kecil yang tersembunyi di antara bangunan-bangunan tua. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang gelap, dan Lusca menyalakan obor untuk menerangi ruangan itu.
"Aku mendapatkan informasi ini dari seorang agen rahasia," kata Lusca sambil menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada Requiem. "Ini adalah nama orang yang memberimu tugas itu dan jumlah bayarannya. Ini juga ada nama orang-orang yang berada di balik konspirasi ini."
Requiem membaca gulungan kertas itu dengan hati-hati. Dia tidak mengenal nama orang yang memberinya tugas itu, tetapi dia mengenali beberapa nama yang tercantum di sana. Mereka adalah orang-orang yang berkuasa di kerajaan yang diberi tugasnya. Dia menyimpulkan bahwa tugas itu bukan hanya tentang membunuh pangeran, tetapi juga tentang mengubah dinamika kekuasaan di antara kerajaan-kerajaan itu.
Requiem mengangguk. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat sebelum terlambat. Dia melipat gulungan kertas itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Terima kasih, Lusca. Aku tidak akan melupakan bantuanmu," kata Requiem dengan tulus.
Lusca hanya tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati di luar sana, Requiem. Dunia ini sangat berbahaya."
Requiem keluar dari ruangan kecil itu dan kembali ke jalan. Dia merasa lega bisa meninggalkan istana dan menjauh dari semua tekanan politik dan konspirasi yang sedang terjadi di sana. Namun, dia juga merasa gelisah karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya.
Setelah berjalan beberapa saat, Requiem tiba di sebuah kafe yang tenang dan sepi. Dia memesan secangkir kopi dan duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Requiem melihat-lihat sekitarnya, mencoba untuk meredakan kecemasannya.
Tiba-tiba, seorang wanita muda menghampiri meja Requiem dan duduk di kursi di depannya. Wanita itu memperhatikan Requiem dengan seksama, dan kemudian tersenyum. "Apakah Anda sedang mencari sesuatu?" tanyanya.
Requiem merasa curiga dengan kehadiran wanita itu. "Saya tidak membutuhkan bantuan," jawabnya sambil meneguk kopi.
Namun, wanita itu tidak mundur. "Saya dengar Anda adalah pembunuh bayaran terbaik di kota ini," katanya. "Saya memiliki sebuah tugas yang mungkin menarik minat Anda."
Requiem mendongak dan menatap wanita itu dengan ketat. "Apa tugas itu?" tanyanya.
Wanita itu tersenyum lagi. "Ada seorang pria yang perlu dieliminasi," kata wanita itu. "Dia adalah seorang penjahat yang sangat berbahaya dan memiliki banyak kekuatan dan pengaruh di seluruh kota. Tugas ini pasti akan membayar dengan baik."
Requiem merenung sejenak, mempertimbangkan tawaran itu. Meskipun dia sebenarnya ingin melupakan segala macam tugas untuk sementara waktu, dia tahu bahwa dia tidak bisa melewatkan kesempatan untuk mendapatkan uang yang banyak. "Baiklah," kata Requiem akhirnya. "Saya akan melakukannya."
Wanita itu tersenyum kembali. "Sangat baik," katanya. "Saya akan memberi tahu Anda lebih banyak detail tentang tugas ini besok malam di tempat yang sama."
Setelah wanita itu pergi, Requiem merenung sejenak tentang tugas barunya. Dia tidak tahu apa yang dihadapinya, tetapi dia siap untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depannya. Dia hanya berharap dia tidak akan menemukan dirinya terjebak dalam konspirasi dan politik seperti sebelumnya.
Dengan hati-hati, Requiem berjalan menjauhi tempat itu dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia harus berpikir jernih dan mengevaluasi situasi yang sedang dihadapinya.
Setelah beberapa saat, Requiem sampai di gerbang istana dan keluar ke jalan yang ramai. Dia memutuskan untuk mencari penginapan terdekat dan memikirkan langkah selanjutnya.
Setelah berjalan beberapa menit, Requiem menemukan penginapan kecil yang cocok untuk menginap. Dia membayar penginapan tersebut dengan uang yang dia terima dari tugasnya dan memesan sebuah kamar.
Setelah tiba di kamar, Requiem melepas jubah hitamnya dan duduk di atas tempat tidur. Dia mengambil sepucuk surat yang diberikan oleh pangeran dari saku bajunya dan membacanya kembali.
Dalam surat itu, pangeran meminta bantuan Requiem untuk menghentikan rencana jahat sang Raja. Requiem menarik nafas dalam-dalam. Ini bukanlah tugas pembunuhan biasa yang ia terima.
Requiem merasa bingung dan takut. Dia tidak tahu harus bagaimana, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Raja dan menyelamatkan kerajaan.
Setelah merenung beberapa saat, Requiem memutuskan untuk memulai penyelidikan tentang sang Raja dan rencananya. Dia merasa bahwa dia harus mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum bertindak.
Requiem mengambil pedangnya dan keluar dari kamar. Dia memutuskan untuk mencari sumber informasi pertama yang dapat membantunya, yaitu seorang agen rahasia yang dikenalnya dengan nama "The Sparrow".
The Sparrow adalah agen rahasia terkenal yang memiliki informasi yang sangat berharga. Namun, dia juga sangat sulit untuk ditemukan dan tidak mudah untuk didekati.
Requiem memutuskan untuk pergi ke tempat di mana dia terakhir kali bertemu dengan The Sparrow, yaitu di sebuah kafe kecil di sudut kota.
Setelah beberapa saat berjalan, Requiem tiba di kafe tersebut. Dia duduk di meja yang sama dengan tempat dia terakhir kali bertemu dengan The Sparrow.
Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya dan berkata, "Lama tidak bertemu, Requiem."
Requiem menoleh dan melihat wajah The Sparrow yang kini telah berubah drastis dari wajah yang dulu pernah ia kenal.
Setelah berjalan selama beberapa menit, Requiem tiba di pinggir kota dan melihat sebuah penginapan kecil di depannya. Dia memutuskan untuk menginap di sana untuk sementara waktu. Begitu masuk ke penginapan, dia memesan sebuah kamar dan meminta beberapa makanan.
Saat makanan tiba, Requiem duduk dan memikirkan segala sesuatu yang telah terjadi. Dia tahu bahwa dia harus segera mengambil tindakan dan memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang apa yang sedang terjadi di kerajaan.
Setelah makan, Requiem pergi ke sebuah toko buku dan membeli beberapa buku tentang sejarah kerajaan dan kekuatan magis. Dia juga membeli beberapa buku tentang seni bela diri untuk meningkatkan kemampuannya dalam pertarungan.
Setelah itu, dia mencari sebuah kafe kecil dan memesan secangkir kopi. Dia duduk di sana dan mulai membaca buku-bukunya. Sementara dia membaca, dia menemukan beberapa informasi yang menarik tentang kerajaan dan sejarahnya. Dia juga menemukan beberapa buku tentang seni magis yang sangat menarik perhatiannya.
Requiem terus mempelajari buku-bukunya sampai kafe tersebut tutup. Kemudian, dia kembali ke penginapannya dan tidur nyenyak, siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi esok hari.