ARABELLA

ARABELLA
Bab 3 sisen 2 Kerinduan mereka



Gila lo, hampir saja gue dihabisi satu sekolah!," omel unyil yang telihat masih pucat pasih.


" Biasa aja kali, toh sekarang lo masih hidupkan beluk ma*ti," sahut Virgo.


"Tau gue, tapi setidak jelasin duluke!,"


"Engga terima!, mau gue mampusim beneran lo!," ancam Virgi.


" Ti tidak, maaf, "


"Kalau gutu diem!," bentak Virgi lagi.


"Gi, gue cabut duluan," pamit Virgo.


"Hem, kita ketemu di tempat latihan,"


"Ok,"


Virgo melajukan motornya menuju supermarket.


"Heyyy, mau pulang tidak!, apa mau nginep di sini!," panggil pak sapam yang berniat menutup pintu gerbang namuan Virgi dan lanya masih saja nongkerong di area sekolah.


"Iya pak!," jawab mereka, Virgi dan lainya bersiap pergi.


"Kalau masuk palinag telat, tapi kalau pulang paling akhir." omel pak Sapam.


"Kan biar adil pak," jawab Naki.


"Adil apa'an!, udah sana pergi!," usir pak sapam lagi.


"Oc pak," jawab mereka.


Virgi dan lainnya melajukan kedara'anya menuju bengkel milik Ara. sesampai nya di sana mereka hanya nongkrong, sama dengan apa yang di lakukan Ara dulu, bengkel milik Ara meskipun sudah mempunyai beberapa cabang namun bengkel pertama Ara masih tetap seperti dulu tanpa ada perubaha sama sekali, hanya mekanik nya saja yang beberapa kalian berganti. meski beberapa toko serta beberapa warung makan mengalami peru bahan namun bengkel Ara masih sama seperti dulu saat awal buka.


" Tau gini gue ikut Virgo," ucap Bisma.


"Embang kenapa?," tanya Idan.


"Kan kalau kesan banyak makan," jawab Bisma.


"Makan terus di otak lo!," sahut Virgi.


" Hidup itu perlu makan," jawab Bisma lagi.


" Bilang aja mau makan yang gratissan," sahut Baim.


" Itu masud gue,"


"Kismin," sahut Alvan.


"Eh kulkas, jangan sembarang kalau ngomong!, jangan kan beli senek, pabriknya saja bokap gue bisa beli, " tegas Bisma.


"Kalau gitu cepat beli," pinta Alvan.


"Ogah!," jawab Bisma.


"Tuhkan Kismin,"


"Dasar kulkas, jangan jarang gomong sekali ngomong pedeas banget, untuk temen, kalau bukan udah gue gantung lo," grutu Bisma.


"Udah berisik, panas-panas juga," omel Senja.


Di saat mereka berbincang, Naki melihat dua orang peria dengan kepala botak dan sudah lumayan berumur, pria yang berpakain seperti perman. Dua peria itu menatap kearah bengkel, wajah mereka seolah sedang merindukan seseorang.


"Gi, lihat dua papak itu, " tunjuk Naki.


Virgi melihat kearah kemana Naki menunjuk. Virgi berdiri dan mengahadap dua peria itu.


"Woy botak!, ngapain lo di situ, mau gue hajar lo!," bentak Virgi.


"Gila lo Gi, orang tua lo bentak," protes Idan.


Bukanya marah dua pria itu malah tersenyum, dan pergi begitu saja.


" Eh, gila tuh bapak, di katain malah Senyum," ucapan Naki.


"Eh, besok jadi samperin orang yang malak unyil?," tanya Naki.


"Jadilah, kita datangi sekolah mereka. "


"Tidak bahaya Gi?,"


"Tidak, lo takut!?,"


"Takut sih tidak, cuma takut mati saja gue," jawab Naki.


"Cemen," sahut Alvan.


" Merem saja lo!, nyaut terus," omel Bisma. Alvan kembali diam.


" Kita kesan langsung menemui kepala sekolahnya,"


"Iya,"


**


Di tempat lain, dimana Virgo sedang mengecek pembukuan supermarket BA πŸ’“ RA. Keada'na nya juga tidak banyak perubahan. lagi-lagi Ara mempertahankan bentuk awal Supermarket itu. Hanya saja Ara menambahak beberapa kursi di depan supermarket untuk tempat muda mudi nongkerong.


Namun seluruh karyawan sudah ganti tunggal cantik yang masih bertahan, opalagi Cantik sudah naik jabata sebagai menejer di sana.


"Bu cantik!," panggil Virgo dari depan pintu kerja Barra dulu.


"Apa!, mau nyuruh Cantik beli makan?, engga mau kalau cantik enggak di traktir juga,"


"Beres, mau pesen apa saja boleh," jawab Virgo .


"Benran?,".


"Benerlah,.... potong gaji tapi,"


"Enak saja!, enggak mau, " jawab Cantik .


"Bercanda, cepat beli jangan pake lama."


"oke Mas bos," jawab Cantik.


"Bu cantik," panggil Virgo.


"Maaf, cantik kangen," jawab Cantik sambil berderai air mata.Cantik pergi sambil mengusap air mata nya. saat di depan pintu supermarket Cantik bertemu dengan Cerri.


"Huaaa...!! kenapa harus ketemu sama lo segala sih, kan makin sedih," ucap Cantik sambil pergi begitu saja.


"Aisss itu orang enggak berubah," gumam Cerri.


" Selamat siang ibu, selamat berbelanja di supermarket BA πŸ’“RA," ucap karyawan supermarket.


" Ah, gue ngerti kenapa itu orang mewek," gumam Cerri.


"Mas!," panggil Cerri pada salah satu karyawan.


"Iya bu, ada yang bisa saya bantu?,"


" Aku mau tanya, Ibu Ara pernah kesini?,"


"Ibu Ara?, emm.. maaf bu, saya tidak tau, saya baru di sini,"


"Oh, sudah maksi," Cerri kembali melanjukan belanjanya.


"Woy cireng!, belaja apa lo, " Verri yang familiar dengan suara itu haya menghela nadas kesal dan melempar orang itu dengan Pembalut wanita.


"Kuntett!!, lo masih panggil gue cireng gue hajar lo," acam Cerri.


" Wih cireng marah," ledek Al yang datang bereng kuntet.


"Berisik lo berdua!," sahut Cerri.


"Woyy!!, kebiasa'an kalau kesini ribut, dari awal datang sampai sekarang biang rusuh lo semua!," Omel Cantik.


Dari dalam ruang kerja, Virgo melihat keributan itu.


"Teryata geng somplak tidak berubah," ucap Virgo.


Malam harinya, Virgi dan Virgo baru saja pulang dari latiha kundo. Keduanya menghampiri Ara yang sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang tengah.


" Malam bunda," sapa mereka.


"Malam, kalian sudah pulang?,"


"Iya bunda," jawab mereka sambil mejatuhkan tubuh nya di sova.


"Bunda, tadi om botak, datang kebengkel, terus aku bentak dia sama persis degan apa yang biasa bunda kata kan," Jelas Virgi.


"Di supermarket juga ada, tante Cireng sama om Kuntet, om Al


juga, mereka gelud di sana. Terus, Ada bu cantik yang marahin mereka, yah... meski bu cantik juga kena semprot sama tante Comireng.


"Merek sehat semua kan, om botak juga,"


"Iya mah," jawab mereka.


"Tapi anak buah om botak tinggal satu, yang satu tidak ada." jawab Virgi.


"Mungkin sakit atau apa,"


"Mungkin juga, " jawab Virgi.


Bersambung...


πŸ’žπŸ’žTerimakasih sudah membaca, tunggu kelanjutannya.πŸ’žπŸ’ž