ARABELLA

ARABELLA
Kecurigaan Ara.



Ke esok hari nya Ara dan Barra berangkat kesekolah sepeti biasa selalu bersama, Ara yang biasanya turun sebelum sampai di sekolah kini Barra tidak meperbolehkan hal itu.


"Bar, kenap lo tidak...?


"Settt diam lah, jangan banyak Bicara." cegah Barra.


Ara semakin binggung dibuat nya.


"Bar, gue mau ngomong sama lo, ini serius." pinta Hira.


" Mau ngomong apa hemm?" Tanya Barra sambil membelai rambut Ara, karen posisi mereka masih di dalam mobil.


"Bar, lo semakin hari semakin aneh, semakin nunjukin ke semua orang kalau kita punya hubungan, perhatian banget sama gue, tidak mau jauh sama gue, sebenarnya apa yang terjadi sama lo?" Tanya Ara.


"Tidak ada, gue cuma mau lebih dekat sama lo,


membuat kenangan indah sama lo, jadi saat kita berjauhan kita bisa mengenang masa-masa indah kita." jelas Barra.


"Berjauhan?, emang lo mau pergi kemana?." tanya Ara.


" Tidak kemana-mana, udah jangan di bahas, yuk kita masuk." Ajak Barra.


"Bar, lo beneran tidak apa-apa?,"


"Ara, gue baik-baik saja jangan kawatir, "jawab Barra lembut.


"Tapi Bar lo terlihat semakin pucat akhir-akhir ini, Seprtinya lo menyembunyikan sesuatu dari gue, apa lo sakit?,"tanya Ara lagi.


"Gue bilang gue baik-baik saja, tidak ada yang perlu di cemaskan!," bentak Barra.


Ara terkejut saat Barra membentaknya, padahal bukan kali pertama Barra membetak atau memarahi nya namun bentakan Barra kalin ini sedikit menyakiti hati Ara.


"Bar lo bentak gue?,"


"Iya kenapa!?, cepat masuk kelas tidak gue biarkan lo jauh dari gue entar lo bolos lagi." jawab Barra, merek berdua turun dari mobil lalu Barra mengandeng tangan Ara menuju kelas.


Saat mereka menuju kelas tanpa sengaja mereka bertemu dengan Mereiy dan Alex di koridor sekolah. Meriey tak bisa menahan air mata nya saat melihat Barra apalagi dia juga sempat melihat Barra sebisa mungkin menutupi penyakit nya dari Ara.


Saat mereka sudah tiba di kelas, Barra yang beniat meninggal kan Ara untuk membatu anak osis menangani teman-teman Ara yang suka terlambat, karen cuma Barra yang bisa mengendalikan mereka.


"Bar lo mau kemana?, apa lo mau menghukum anak-anak yang terlambat?, sebaikanya lo disini saja bersama Ara biar gue yang ngehendel tugas lo bersama anak-anak yang lain, gue juga dibantu Alek ko, jadi lo tenag saja," pinta Mereiy yang datang kekelas Ara dan Barra.


"Memang nya kenapa?" tanya Barra.


" Tidak kenapa-napa. yasudah gue pergi, ingget lo diam di kelas jangan kemana-mana, kalau lapar suruh Ara buat belikan lo makana, tapi makanan yang sehat, Ara jaga Barra baik-baik jagan biarkan dia sendirian." pinta Mereiy ramah lalu pergi meningalkan kelas Barra dan Ara.


"Mariey kenapa?, Seprtinya dia tahu sesuatu tentang Barra?, gue harus selidiki," batin Ara.


" Meriey kenapa?, apa dia tahu tentang penyakit gue?," Batin Barra.


" Sayang, gue toilet sebetar yah," pamit Barra lirih.


"Ha, apa?," tanya Ara yang terkejut karena dia sedang melamun.


" lo ngelamunin apa?, ko samapi segitunya sampai terkejut?," tanya Barra.


"Tidan Ada, gue cuam heran kenapa Mariey tiba-tiba baik gutu," jawab Ara.


"Mungki dia sudah sadar, " jelas Barra.


"Oh iya Ara gue mau ketoilet sebetar, lo disini saja jangan kemana-mana," pinta Barra.


"Iya," jawab Ara.


Barra pun pergi keluar kelas.


"Ara, gue curiga sama Barra?" ucap salah satu teman sekelas Ara yang tiba-tiba mndekatin Ara.


"Curiga bagai mana?," tanya Ara sedikit binggung.


"Kalau gue lihat Barra itu menggidap penyakit kangker, gue bisa bicara seperti itu karena ibu gue meninggal karen penyakit yang ibu gue derita selam bertahun-tahun," jawab nya.


"Masak sih?," tanya Ara.


"Sekarang gue tanya sama lo, lo pernah lihat dia sakit kepala hebat bahkan samapi pingsan dan sering mimisan banyak gitu?" tanya nya.


Bukanya menjawab Ara malah diam saja mencerna semu ucapan teman sekilas nya itu.


"Ar, Ara lo melamun?, sebaik nya lo cari tahu di internet tentang penyakit itu, siapa tahu lo dapat petunjuk. oh iya BTW Selamat akan pernihan kalian, meski udah terlambat tapi gue tetap ingin ucapin selamat buat lo." bisik teman sekelas Ara.


"Lo tau dari mana?!" tanya ara yang terkejut karen dia bisa tahu rahasia nya.


" Semua penghuni apartemen udah tahu kalau lo sudah menikah, salah satunya gue, tapi lo tenang saja kak Cindi sudah melewati-wanti semua warga untuk tidak membeberkan berita ini," jawab nya.


"Benarkah?, Terimakasih kalau begitu,"ucap Ara.


" Eh Barra datang gue pergi yah," pamit nya.


" lo kenapa ngeliati gue seprti itu?, tanya Barra.


" Tidak ada, duduk lah, gue pengan melihat wajah lo sebentar." pinta Ara.


" Ada apa dengan wajah gue?," tanya Barra.


" Ada gue di mata dan pikiran lo, " jawan Ara lirih.


" Woy, pacara muluk, pacaran lihat kondisi dong, enggatahu apa di sini jomblo semua." ucap Kuntet yang barusaja masuk.


" lo kenapa kesini bukanya lo tadi gue lihat sedang di hukum?" tanya Barra.


" Udah selesai, kita cuma disuruh kumpul terus di suruh bubar, " jawab Butet.


" Engga, kita juga tidak tahu kenapa," jawab Erick.


Skip .


Saat pulang sekolah, Ara terus saja kepikiran dengan apa yang teman sekolah nya ceritakan tadi.


"Ara, lo kenapa bengong?, lo tidak ada jadwal latihan atau apa gitu?" tanya Barra.


Namun tak ada jawaban dari Ara. Ara terus saja berjalan sambil melamun. Bahakan saat di dalam Lift Ara juag diam saja.


" Ara, lo kenapa?," tanya Barra lagi sambil menepuk pundak Ara.


" Ha apa?, kenapa?" tanya Ara.


" lo kenapa melamun?," tanya Barra.


" Tidak ada." jawab Ara


"Bar, lo tau tidak teman sekelas kita tadi cerita, kalau ibu nya meninggal karena sakit kangker otak, selama beberapa tahun ibu nya menyembunyikan penyakit nya itu, samapi suatu saat keluarga nya tahu kalau sang ibu menderita penyakit parah, , saat pihak keluarga inggin mengobati sang ibu tapi semua nya terlambat ibunya keburu meninggal, dan semua pihak keluarga merasa bersalah Karen tidak bisa melakukan apa-apa untuk orang yang dia cintai," Jelas Ara sidkit berbohong.


"Benarkah?, mungkin ibu nya takut membuat orang yang dia cintai sedih karena penyakit nya."jawab Barra. kedua tiba di kamar apartemen Ara.


" Benarkah?, untung saja orang-orang yang gue cinta tidak ada yang mengidap penyakit itu dan merehasiakan nya, kalau samapi hal itu terjadi pasti gue akan marah atau bunuh diri." pungakas Ara.


"Uhuk uhuk uhuk, " Barra yang sedang minum tersedak air minum saat mendegar ucapan Ara.


"Barra hati-hati dong kalau minum, lo kenapa?,ko Seprtinya terkejut gutu?," tanya Ara.


" Tidak, tidak ada, ya sudah gue masuk ke apartemen gue dulu mau ganti baju, setelah itu kita pergi keluar." jelas Barra.


" Tidak, gue hari ini mau di ruamah saja tidak kemana-mana." jawab Ara.


" Tumben?, apa lo tidak enak badan?," tanya Barra.


"Tidak, gue baik-baik saja, ",jawab Ara.


"Yasudah gue kekamar gue dulu gantu baju setelah itu gue mau istirahat sebentar, semalam gue susah tidur." jelas Barra.


Saat Barra pergi kekamar yang berada di aperteman sebelah, Ara langsung mencari tahu tetang apa yang teman sekelas nya katakan tadi, karen Ara sempat melihat Barra mengeluarkan darah pada hidung nya dan sering mengeluh sakit kepala saat tidak ada diri nya.


Terkejut nya Ara saat medapatkan artikel tentang apa yang dia cari.


"Tidak mungkin, kenapa sama persis dengan apa yang Barra alami.Apa Barra sakit separah ini?," ucap Ara lirih.


"Gue harus tanya sama mami, siapa tahu mami tahu."


Ara menghubugi mami Arya untuk menayakan tetang penyakit Barra.


Terkejutnya Ara saat mami Rika dan Papi Hermawan yang kebetulan sedang bersama mengatakan semua nya kepada Ara.


" Mi, kenapa Barra merahasiakan ini semu, apa dia tidak sayang lagi sama Ara?," tanya Ara dengan deriyan air mata Ara yang mengalir deras.


"Karena Barra sayang sama Ara makanya dia meyembunyiakan semuai ini, bahkan mami saja belum lama tahu," jelas Mami Arya.


"Mi, apa Barra akan ninggalin kita?," tanya Ara.


"Mami tidak tahu sayang, hanya keajaiban yang bisa membatu," jawab Mami Arya.


"Sayang, papi minta kamu jangan bilang ke Barra kalau kita sudah tahu tentang penyakit nya, papi takut di sedih dan membuat nya semekin drob, cukup kita beri dia dukungan dan buatlah di bahagia, agar dia punya semangat untuk sembuh." pinta Hermawan.


" Baik pi, udah dulu Pi,Mi, Barra datang." jelas Ara mengakhiri sambungan telfon nya.


" Hay, lo sedang apa?, Ara lo kenapa, lo nagis?, lo nagis kenapa?, apa ada yang membaut lo sedih sehingga lo naggis?, " Tanya Barra sedikit panik.


"Tidan ada, gue cuma...Cuma..., Bar , gue boleh peluk lo?," tanya Ara.


" Hemm.. tumban, tidak takut gue hilaf, ini di kamar lo?" tanya Barra sedikit meledek.


" Tidak, toh lo sumi gue, gue hamil juga tidak apa," jawab Ara sambil memeluk Barra dengan erat untuk menyembunyikan tanggis nya.


" Emm.. istri gue.. tumbam manja banget sihhh, lo sedang capek yah?" tanya Barra.


"Iya, gue lagi capek. Barr lo nanti malam tidur di kamar gue yah," pinta Ara.


"Tumben lo nyuruh gue tidur dikamar lo, biasanya gue malah diusir." ledek Barra.


"Mulai hari ini gue mau jadi istri lo sepenuh nya," jawab Ara


"Tidak takut," tanya Barra.


" Tidak, gue sudah tidak perduli, toh kita bentar lagi kita lulus, seru kali yah kalau gue hamil pas kelulusan nanati." pungkas Ara sambil tersenyum menutupi rasa sedih nya.


" Yakin?" Taya Barra.


" Yakin," jawab Ara.


*****


Terimakasih sudah membaca, tunggu kelanjutannya yah..


Jangan lupa mampir di karya autho yang lain


-Rahasua si cupu.


- Bodyguar sang Idola.


-Langait dan Bumi.


Terimakasih