ARABELLA

ARABELLA
Kebenaran.



Hubungan Ara dan Barra berjalam denga lancar setatus pernihan mereka juga berhasil mereka sembunyi kan dari semua orang , Cerri dan Vira juga bisa di percaya.


Saat kenaikan kelas 3 atau 12, Perilaku Barra semakin berubah, Barra yang dulu terlihat biasa saja saat di sekolah tapi kini di lebih menujukan perhatianya kepda Ara baik sekolah maupun di Aperteman.


Bahkan hari ini Barra melakukan hal yang menurut orang lain sangat Aneh. Barra memaksa kepala sekolah untuk memindahkan diri nya di kelas yang sama dengan Ara, Barra yang dulunya dikelas IPA berpindah di kelas Ara yang IPS.


Dengan Alasan yang maksud akal,Kepala sekolah mengabulkan permintaan Barra yang tentu dengan bantuan orang tua nya.


"Pagi anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman pindahan, Tapi cuma pidah kelas." Jelas Pak umar.


"Pindah kelas?,maksud Bapak?" Tanya Kuntet.


"Silahkan masuk," pinta pak Umar kepada pemuda itu.


"Mister Kiyller!," Semua terkejut saat anak pindah kelas yang mereka maksud adalah Barra.


" Barra buka Mister Kyller," Jawab Pak umar.


" Ya sudan Barra perkenalakan nama mu kepada teman satu kelas mu yang baru." pinta pak Umar.


"UDAH KENALLLLLL!!! "Jawab mereka semua.


"Kalai begutu semoga kalian bisa bersahabat dengan baik" jawan Pak Umar.


"OGAHHH!!!!" Jawab mereka semua.


"Ko gitu, yang sering kena hukum keceng baget jawab nya, dendam yah? " Tanya pak Umar.


"IYAAAA. " jawan pasuka Somplak kecuali Ara yang semakin heran dengan nya.


"Kalian Kelihata baget dendam nya." Ledek pak Umar.


"Ya sudah Barra kamu boleh duduk di kursi yang kosong." jelas Pak Umar.


"Pak, saya boleh duduk bersama Ara? "


Boleh saja,. kalau Ceri mau pindah." Jawab pak Umar.


"Pasti mau pak. Iya kan Cer? " tanya Barra.


"Kepaksa! ,".jawab Ceri sambil beranjak pindah di bangku kosong bersam kuntet.


Barra tersenyum saat melihat Ceri pindah dari kursi nya.


"Ya sudah kita mulai pelajaran pagi hari ini."


Skip di jam istirahat.


Ara yang melihat Barra sedang berjalan di koridor, Ara menghapiri nya dan mengajak Barra ke tempat yang sepi. tanpa mereka sadari Mereiy melihat mereka berdua, Mereiy pun mengikui mereka berdua.


"Barr, Apa maksud lo pindah ke kelas gue?!." tanya Ara degan tegas.


"Tidak ada, gue cuma mau bersam lo terus." jawab Barra, Lalu memeluk Ara dengan lebut.


"Bar, lo beberapa bulan ini semakin aneh, apalagi pas kita liburan, lo tambah aneh taungga? " Tanya Ara Lagi.


"Arabella Hermawan istrinya Barra Hermawan yang cantik, baik hati dan perhatian, Suami lo ini baik-baik saja, tidak ada yang aneh, emang salah kalau Suami lo ini pengen berdua terus sama istri nya?." tanya Barra sambil terus memluk Ara.


Mariey sangat terkejut saat mendegar penuturan Barra.


"Tidak mungkin, pantes Barra sangat membela Ara, dan Akhir-akhir ini Barra semakin. nujukin perhatiannya." gumam Meriey.


"Sekarang lo tau kalau mereka sudah menikah, apa lo akan menjadi pelakor, atau mau membeberkan tentang pernikahan mereka?, lalu merek dikeluarkan?." Tanya Alex yang tiba-tiba datang dan mengejutkan Meriey.


"Ataga, Lex lo bikin gue kaget saja."


"Maaf bukan maksud gue. mending lo ikut gue, jangan ganggu mereka."Alex mengajak Meriey menjauh dari merek berdua.


"Tapi Lex...?


"Sudah ikut gue aebentar, ada yang inggin gue jelasin sam lo, saat lo dengar ini pasti lo akan mendukung keputusan Barra." Jelas Alex menipali perkataan Meriey.


" Apa yang inggin lo jelasin, cepat gue tidak ada waktu banya." tanya Meriey saat sudah di dalam perputakaan.


"Gue cuma mau bilang, kalau umur Barra tidak lama lagi."


"Maksut lo Lex?!" Tanya Meriey sedikit terkjut.


"Jadi gini, saat itu gue pergi kerumah sakit untuk mengobati tangan gue yang terluka, tanpa sengaja gue melihat orang tua Barra dirumah sakit, nyokap barra datang sambil nangis, Gue penasar lalu gue ikuti mereka...


*****


" Dok, sakit apa sebenarnya anak saya dok, kenapa anak. saya seprti itu." Tanya Hermawan.


"Kang Kangker o otak?, mana mungkin dok?, selama ini dia baik-baik saja, dia tidak pernah mengelu sakit kepala atau apa, mana mungkin di terkena kangker, setadium 4 lagi?" tanya Rika yang tidak percaya dengan diaknosa dokter.


"Bara sering datang memeriksa diri ke dokter, dia sudah menjalani pengobatan, tapi usaha nya sia-sia, kangker itu bukannya sembuh malah semakin ganas," jelas sang dokter.


"Kenapa dokter tidak memberi tahu kami!?." Tanya Hermawan dengan geram.


"Barra melarang kami untuk memberi tahu kalian.".Jawab sang dokter.


"Terus, pengobatan apa yang harus Barra lakukan," tanya Hermawan.


"Kemoterapi,. tapi sayang Barra menolak melakukan Kemo. " Jelas sang dokter.


"Kenapa?, apa alasan Barra tidak mau melakukan kemo?" tanya Rika.


"Pertama anda, yang ketiga gadis yang bernama Arabella."


"Ara?, jadi Ara jugan tidak tahu hal ini?" Tanya Rika.


"Tidak, bahkan Barra juga tidak tau kalau saya meberi tahu anda." jelas sang dokter.


" Mas, anak kita mas, anak kita satu-satunya, Mas aku tidak mau kehilangan Barra mas, aku tidak mau hik hik hik." Rika menagis dalam pelukan suami nya.


"Rika, tenagkan diri mu, kamu harus kuat demi anak kita, kita jangan lemah dihadap Barra, kita harus kuat dan tegar supaya Barra juga kuat menjalani ini semua." jelas Hermawan menenangkan Istrinya.


"Benar bu, yang dibutuhkan Barra saat ini adalah dukungan orang tua nya," jawab sang dokter.


"Maaf buk, kalau boleh tau siapa Arabella itu? " Tanya sang dokter.


"Ara istrinya dok." jawab Hermawan.


"Istrinya?, bukankan Barra masih sekolah?"


"Iya dok, mereka menikah karen paksaan orang tua kami," Jawab Hermawan.


"Pantas Barra sangat perhatian dengan gadis itu." jawab Sang Dokter.


"Gadis? " tanya Hermawan.


"Iya, karena Barra masih perjaka, jadi saya kira masih bujangan, maka dari itu saya terkejut saat anda bilang kalau Barra sudah menikah." Jaelas sang dokter.


"Itu karen kami yang melarang nya, kami tidak mau mengganggu pendidikan Ara."Jawab Hermawan.


"Kalau boleh saya sarankan jangan dilarang lagi, takut nya Barra tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, karena dari pemeriksa'an hanya ada keajaiban yang bisa membuat Barra bertahan." jelas sang dokter.


"Maksud dokter!?, anak saya tidak bisa sembuh, di akan pergi? " tanya Rika dengan lantang.


"Maaf bu, saya hanya membaca diaknosa yang kami dapatkan."Jawab sang dokter.


"TIDAK!, anak sayan pasti sembuh, di pasti sembuh, mas bilang sama aku kalau Barra baik-baik saja, bilang mas Haaaa, Barraaa anak mami," Rika kembli histeris, sedangkan Hermawan tidal bisa berbicara apa.


****


"Jadi semenjaka itu gue tahu kebenaran itu dan saya berhenti untuk mendekati Ara, meski sebenarnya gue mendekati Ara karen inggin manjadi teman baiknya," jelas Alex.


"Barra, Bar kenap lo jadi seprti ini hik hik hik. " Saat Tau kenyataan nya Meriey pun menangis.


Melihat Mariey menagis Alex mencoba untuk menenangkan nya.


"Menagis lah, tapi jangan pernah lo menagis di hadapan Barra, berperilakulah seprti biasa, jangan bertidak kalau lo sudah mengatahui semua ini." Pinta Alex.


"Apa gue bisa?, gue takut gue tidak bisa." Jawab Meriey.


"Lo pasti bisa, sekarang kita pergi dari sini sebentar lagi pelajaran di mulai."


"Demi kebahagiaan Barra gue akan berusaha." Jawab Meriey.


*****


Terimakasih sudah membaca, tunggu kelanjutannya yah..


Jangan lupa mampir di karya autho yang lain


-Rahasia si cuoi


- Bodyguar sang Idola.


-Langait dan Bumi.


Terimakasih