Antagonist

Antagonist
Part 5



Selamat membaca!


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Airin.


"Tinggal hitung jari lagi Anne akan memasuki tubuh Annisa yaitu pada tanggal 5. Maka dari itu lo harus bersiap siap." kata Airin si antagonis.


"sebentar lagi?"


Dia menganguk ngangukkan kepala nya. Berarti gue harus bersiap siap dan harus berhati hati dengan tokoh utama perempuan itu. Jika gue ngelakukan sesuatu atau kesalahan ke tokoh utama perempuan maka nyawa gue akan melayang.


"Apa gue harus menggunakan ide gila gue!?" kata gue. Gue berpikir apa kah ide gila itu akan berhasil? kata gue membuat Airin si antagonis bingung.


"Ide gila apa? lo jadi orang gila gitu?" tanya dia


"Ya gak lah masa cantik cantik gini jadi orang gila! gak keren tau!" ujar gue. masa gue mau jadi orang gila sih!


"Heh!! lo itu make tubuh gue anying!!" serunya. Membuat gue menutup telinga.


"Iya iya."


"Jadi apa rencana gila lo agar bisa terhindar dari kematian teragis gue?" tanya dia.


"Rencana gila gue adalah...... buat Alvaro jatuh cinta sama gue! jadi tidak perlu menghindari si Annisa, jika Alvaro sudah jatuh cinta sama gue. Dia gak akan bunuh gue dong." jelas gue.


"Ide lo bagus juga. Tapi jika lo gak berhasil buat Alvaro jatuh cinta maka kematian teragis akan ada di depan lo." ujarnya.


Lalu ada cahaya menarik tubuh gue dan semuanya gelap.


"Airin!!!"


"Airin!!!!"


"AIRIN!!!!!!"


Suara apa itu? makin lama makin keras aja?


"AIRINNNN!!!!!"


Dengan terpaksa gue bangun dari tidur, untuk melihat orang yang memanggil nama gue dari tadi.


"Apaan?"


"Kenapa kamu tidur di kelas saya!!! kamu gak liat Ibu sedang mengajar!!!" bentak seseorang yang tidak gue kenal.


"Airin!!!!!! keluar kamu dari kelas saya!!!!"


Deg


I ini kan suara........ bu guru!!


"E eh bu guru." Σ( ° △ °|||)


"HMMM, KELUAR!!"


"O oke buk."


Gue langsung keluar dari kelas. Bukannya sekarang jamkos? Gue pun melihat kearah jam tangan, gue terkejut karena sekarang sudah jam 12 berarti sudah pelajaran keempat!


Gila perasaan gue ngomong sama nih pemilik tubuh gak lama banget paling cuman 5 menit, kok jadi 4 jam sih.


Dari pada gue berdiri di luar kelas mending gue ke kantin beli camilan lalu duduk di atap sekolah.


Airin kemudian membeli makanan di kantin, lalu ia berjalan dengan hati hati agar tidak ketahuan guru.


Sampai di atap sekolah.


Gue bingung saat melihat ada sofa yang bagus ada di atap sekolah.


"Eh, sofa milk siapa ini?"


"Gapapa kali kalau gue duduk di sini."


"Tapi gue harus ijin dulu sama pemiliknya, nanti gue disumpahin jomblo seumur hidup, Iihh ngeri!!!"


Gue melihat sekeliling kan gak ada orangnya, jadi gimana? aha gue punya edi, eh maksudnya ide💡╮(╯▽╰)╭


"Woi!!! siapa pun yang punya nih sofa gue pinjamin dulu gak lama kok makasih."


POV Author


1 jam kemudian


"Sumpah nih sofa lembut banget jadi gak rela kalau ditinggali, gue tarik kata kata gue yang bilang pinjam sofa lembut ini gak lama." guman Airin. Ia menidurkan semua tubuhnya keatas sofa. Kalau dilihat dari belakang tubuh Airin seperti menghilang dikarenakan ukuran sofa yang Airin tiduri sebesar tubuhnya.


"Aha besok besok gue kesini lagi deh mungkin aja nih sofa gak ada pemiliknya, kalau beneran gak ada buat gue aja (* ̄︶ ̄*)." batin Airin. Dengan senyum ria.


"Aaawww." rintih Airin.


Mendengar suara rintihan saat Airin. Sontak seseorang itu berdiri dari duduknya.


"Heh!! siapa sih yang dudukin perut gue? sakit tau." bentak Airin.


"Kenapa lo ada di sini?" kata seseorang yang menduduki perut Airin.


"I ini kan s suara..... " Airin pun mengangkat kepalanya dan melihat...


"Alvaro.."


"Kenapa lo ada di sini?" ulang Alvaro. Matanya menatap Airin tajam, setajam silet.


"Emm g gue, gue lagi duduk duduk disini sambil ngemil." ujar Airin. Ia berdoa mudah mudahan ilernya gak ada yang menempel disofa.


"Lo bolos?" tanya Alvaro.


"E enggak kok, cuman disuruh bu guru keluar." jawab Airin. Dengan gugup karena takut dilaporkan Alvaro ke Mama dan Papa, bisa bisa ia akan dimarahi habis habisan.


"Bohong." ucap Alvaro. Membuat Airin semakin gugup.


"Lo bohong, sebenarnya lo disuruh bu guru berdiri di luar kelas, karena tidur di kelas." ujar Alvaro. Matanya masih menatap Airin tajam.


Hal itu membuat Airin terdiam. Ia panik karena takut jika Alvaro melaporkan kejadian ini ke Mama dan Papanya.


"I Iya benar, t tapi jangan laporin gue ke Mama sama Papa ya. Please." ucap Airin.


Sudah pucat karena takut. Sumpah Airin takut banget, bayangin aja setelah dimarahi ia akan dihukum. Airin pemilik tubuh ini pernah dimarahi oleh Mama dan Papanya kejadian itu juga ditulis di dalam novel.


Jika Airin dilaporkan. Maka hukuman yang akan Airin dapat yaitu, seminggu tanpa hp, laptop, Wi-Fi, bahkan nonton TV juga tidak diperbolehkan. Uang jajannya akan dipotong, tidak boleh membaca novel dan hanya buku yang boleh dibaca dan belajar yang dibolehkan.Dan juga ia akan juga dijaga dan diawasi oleh orang suruhan Mama dan Papa Airin. Tidakkkkk😱😱


Mengerikan dan kejam itulah dua kata yang bisa menggambarkan hal itu. Kalian termaksud Airin pasti tidak akan tahan dengan hukuman tersebut.


"Oke." mendengar kata singkat itu membuat Airin terseyum ria.


"Tapi.. harus ada syaratnya." kata Alvaro. dengan senyum liciknya, membuat bulu kuduk Airin berdiri.


"Kok pake syarat sih!!" ucap Airin.


"Iyalah, kalau lo gak terima yaudah gue laporin lo ke Mama sama Papa lo mau?" ujar Alvaro. Sekarang is sudah duduk disofa dengan tangan yang memutar mutarkan hp.


"Oke, gue terima. Tapi syaratnya gak usah banyak banyak." kata Airin. Dengan sangat terpaksa ia harus menerima syarat dari Alvaro.


"Kalau lo udah terima. Lo gak boleh menolak apa pun yang gue mau ." jelas Alvaro.


"Baik."


"Oke gue mulai, syarat pertama... lo harus jadi pasangan, saat acara ulang tahun sekolah yang diadakan 5 hari lagi ." ujar Alvaro.


"Oke itu masih bisa diterima." kata Airin. Matanya tiba tiba melotot karena mendengar ujaran Alvaro.


"Hah!!! tanggal 5!" teriak Airin. Ia benar benar lupa jika tanggal 5 adalah ulang tahun sekolah.


"Iya tanggal 5, emang lo lupa?" tanya Alvaro.


"Eekm gue agak rada rada lupa setelah jatuh dari tangga." kata Airin. Alvaro hanya mengelengkan kepalanya.


"Syarat kedua...lo harus jadi babu gue selama seminggu." ujar Alvaro. Disertai senyum miring.


"Heh!! kok gitu sih!! ngapain pula gue harus jadi jadi babu lo." bentak Airin. Wajahnya tampak memerah karena kesal, sementara yang dibentak sama sekali tidak menampakan wajah takut.


"Yaudah kalau gitu gue laporin lo ke Mama sama Papa lo, mau gak?" ancam Alvaro.


"Arrggh!! baik, baik gue akan jadi babu lo." pasrah Airin.


"Pokok cuman seminggu gak boleh nambah nambah hari lagi!!!"


"Syarat yang ketiga dan terakhir..."


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai guys!!


Gimana kabar kalian?


Jangan lupa protokol kesehatannya dikerjakan!


Dan jangan lupa vote dan komen di bawah!!


See you 😊😊👋👋