
“Boleh aku menciummu?”
“Eh?”
Astaga, kenapa Matt harus bertanya segala sih. Kan Ana tidak tahu mau menjawab apa.
Dengan wajah yang memerah, Ana menganggukkan kepalanya malu-malu. Matt tersenyum lebar melihat itu.
Cup..
Tanpa aba-aba, Matt langsung mendaratkan ciumannya pada bibir tipis Ana yang sensual. Karena sedari tadi, laki-laki itu menahan dirinya untuk tidak mencium Ana. Apalagi saat gadis itu menggigit bibirnya, itu tampak semakin menggoda bagi Matt yang seorang laki-laki normal.
Ana mematung dengan mata yang membulat sempurna. Dia tidak menyangka kalau Matt akan mencium dirinya tepat di bibir. Dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, Ana mengangkat kepalanya saat ciuman itu dilepas oleh Matt.
Tidak ada acara belit membelit, hanya sebatas bibir yang menempel. Tapi, Matt sendiri masih bisa merasakan bagaimana manisnya bibir sensual itu di bibirnya saat ini.
“Kak Matt, ciuman pertama Ana!”
“Ini juga yang pertama bagiku Ana!”
“Benarkah?”
Ana menatap Mata tidak percaya. Ini juga yang pertama bagi laki-laki itu? Mimpi apa Ana semalam, bisa mendapatkan hari yang sebahagia ini. Bahkan untuk berkhayal seperti hari ini pun Ana tidak berani. Tapi kini, Tuhan berbaik hati padanya, meluluhkan hati laki-laki batu yang duduk di sampingnya ini, untuk mengungkapkan perasaannya.
“Tentu. Kau yang pertama!”
Entah kenapa, menggigit bibir kini rasanya sudah menjadi kesukaan Ana saat gugup. Matt menggeram marah melihat gadisnya itu kembali menggigit bibirnya.
“Jangan menggodaku Ana!” desis Matt memalingkan wajahnya.
“Menggoda apa? Ana tidak menggoda kak Matt!” ujar Ana ketus. Memangnya dia wanita seperti apa? Yang mau menggoda laki-laki?
“Jangan menggigit bibirmu! Aku tidak akan tahan untuk tidak mengecupnya!”
Manik kecoklatan itu membola, lalu dia terkekeh.
“Baiklah, maaf. Tapi Ana akan lebih sering lagi melakukannya!” Matteo menatap Ana dengan tajam. Jadi, sekarang gadis kecilnya sudah menjadi seorang gadis yang pemberani untuk menggodanya? Wow....
“Sudah, turunlah! Kau membuat para penjaga itu berpikiran yang tidak-tidak terhadap kita!”
Ana mengalihkan pandangannya pada para penjaga yang berdiri didepan rumah Ana. Gadis itu terkekeh melihat mereka, seperti ingin tahu, apa yang mereka lakukan didalam mobil. Karena kaca mobil Matt tidak tembus pandang dari luar.
“Baiklah, Ana turun. Hati-hati di jalan Kak Matt!” Ana membuka pintu mobil Ana, tapi sebelum keluar dia mendekatkan dirinya tiba-tiba pada Matt dan mencium bibir yang sedang terbengong itu.
Dengan wajah riang, Ana keluar dari dalam mobil Matt. Wajahnya berseri-seri karena bahagia. Dia menyapa seluruh penjaga, membuat laki-laki yang rata-rata bertubuh besar itu hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya.
“Aku rasa, pernyataan cinta nona muda sudah diterima oleh tuan muda!” ujar salah seorang penjaga saat Ana sudah masuk kedalam rumah.
“Ya, aku juga berpikiran seperti itu. Mereka lama sekali, tadi didalam mobil. Apa mungkin mereka berciuman?” temannya ikut membenarkan perkataannya. Dan memberikan persepsi yang sayangnya itu benar sekali.
“Sudah! Kenapa kalian jadi membicarakan nona muda? Bukankah itu bagus, kalau tuan muda sudah menerima cintanya? Jadi kita tidak akan melihat wajah yang di tekuk lagi setiap harinya?! Dan bisa melihat wajah nona muda yang cantik!”
Teman mereka yang lain ikut bicara. Dan kedua orang itu mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.
Bicara soal Matt, bagaimana laki-laki itu setelah dicium oleh Ana?
Setelah Ana mendaratkan ciumannya di bibir Matt, laki-laki itu menegang dengan wajah yang memerah. Ana, mencuri ciumannya? Astaga, gadis kecil itu berani sekali!
Dengan bibir yang dipenuhi oleh senyuman, Matt membawa mobil berbalik dan keluar dari pekarangan rumah Ana.
Laki-laki tampan itu tersenyum sendiri didalam mobil, dia tidak pernah merasa sebahagia ini.
Dan Matt juga merasa sangat lega, karena sudah dapat mengeluarkannya semua isi hatinya saat ini. Matt merutuki dirinya sendiri saat mengingat kebodohannya dulu saat menahan perasaannya sendiri.
“Aku sangat mencintaimu Ana!”
*****
“Kenapa?” Jinny mendekat pada Ana yang sedang duduk di bangku dekat koridor kampus. Wajah gadis itu murung, dan terlihat tidak bersemangat.
“Aku sangat merindukan kak Matt!” desah Ana dengan suara lemah. Sedangkan Jinny hanya menghela napas mendengar alasan sahabatku itu, yang terlihat tidak bersemangat sekali hari ini di kampus.
“Kenapa tidak kau telpon saja?” Ana menggeleng mendengar usul Jinny. Dia menghembuskan napasnya kasar.
“Aku tidak mau menganggu-Nya, Jinn. Dia pasti sedang berkerja dan juga sangat sibuk sekarang!” Jinny mengangguk membenarkan perkataan Ana.
“Baiklah, bagaimana kalau kita ke kantin?” usul Jinny, yang juga mendapat gelengan kepala dari Ana.
“Lalu kau mau apa Ana? Berdiam diri disini, untuk selalu merasa bosan?” Ana menghela napas. Dia tidak boleh seperti ini. Perutnya juga perlu diisi, karena untuk membucin, juga memerlukan tenaga.
“Ayo!” ujarnya setelah mendengar perkataan Jinny.
Kedua gadis cantik itu berjalan dengan anggun menuju kantin. Tidak terlalu banyak mahasiswa yang makan di sana saat ini, karena sebagian dari mereka masih ada kelas.
Ana duduk di bangku pojok, menunggu Jinny yang sedang mengantre makanan.
Jinny datang dengan membawa nampan di tangannya. Di bantu oleh ibu kantin.
“Terimakasih!” ujar Ana tersenyum. Ibu kantin mengangguk mendengar ucapan Ana.
“Ayo makan An. Ini bakso level paling pedas disini!”
“Hei, kau tidak sedang berusaha membuat aku mati kan?” Ana menatap Jinny dengan tatapan menyelidik.
“Sembarangan kau ini. Untuk apa aku membuatmu mati? Aku masih ingin punya teman bar-bar sepertimu!” Ana berdecak saat Jinny mengatainya bar-bar.
“Sialan kau Jinn. Aku tidak bar-bar!” rutuk Ana kesal.
“Tapi, apa aku sanggup memakan ini? Di lihat dari luar saja, aku tau, ini sangat pedas!” Ana menatap bakso yang kuah merah pekat itu. Dia menelan ludahnya kasar. Jimny benar-benar ingin menganiayanya!
“Anggap saja, bola-bola bakso yang sedang kau makan ini kepalanya kak Matt! Makanya, kau lampiaskan kekesalanmu itu pada bakso ini. Bayangkan dia yang sudah mengabaikanmu dan tidak menghubungi dirimu sama sekali!” Jinny memanas-manasi Ana. Bukannya panas, gadis itu malah menatap tajam Jinny, karena sudah menyamai Matteo dengan sebuah bakso.
“Sialan kau. Kau kira kak Matt itu bisa disamakan dengan bakso!” rutuk Ana kesal.
“Kan sudah aku bilang, anggap saja! Hanya anggap Ana!” Jinny juga ikut kesal dengan sahabatnya yang satu ini.
Ana dari tadi selalu uring-uringan karena Matt tidak menghubunginya. Bahkan sudah beberapa hari dari hari mereka menyatakan perasaan masing-masing, Matt belum menghubunginya.
“Lalu apa bedanya Jinny?!” Ana masih saja tidak terima dengan apa yang di katakan Jinny.
“Terserah kau saja! Aku pusing!” Jinny memasukkan bola-bola bakso yang pedas itu kedalam mulutnya, saat Ana masih tidak mau mengalah. Sedangkan Ana bergidik melihat Jinny yang memakan baksonya dengan sangat lahap.
“Baiklah-baiklah. Kau ini sensian sekali!” ujar Ana. Dia mulai mencicipi kuah bakso yang merah pekat itu kedalam mulutnya. Rasa pedas yang luar biasa langsung membuat Ana membesarkan matanya.
“Pedas sih, tapi ini enak sekali!” ujar Ana akhirnya.
“Aku tidak peduli, walaupun nanti aku akan ke kamar mandi terus! Yang penting aku puas!”
****
“Kak Matt....”
“Hallo Ana, kau kenapa?” Matt yang mendengar suara Ana seperti kesakitan di seberang sana bertanya dengan nada cemas.
“Perut Ana sakit,” ujar Ana manja.
“Sakit kenapa? Kau habis makan apa?” Ana menggigit bibir bawahnya gugup saat Matt menanyakan hal itu.
Tidak mungkin Ana bilang kalau dia makan bakso kepala Matt kan?
“Ana tadi makan makanan pedas kak!” Matt menghela nafas mendengar perkataan Ana.
“Baiklah, tunggu di sana. Aku segara ke sana!” sambungan telepon yang dimatikan secara sepihak itu membuat Ana mendengus. Tapi dia tetap tersenyum karena mendengar nada khawatir dari sang pacar.
“Ana sudah tidak apa-apa bi. Bibi bisa keluar sekarang!”
“Apa benar tidak apa-apa Nona?” bibi Joan, tampaknya masih sangat khawatir dengan kondisi Ana. Karena anak majikannya itu sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi karena perutnya tidak nyaman.
“Tidak apa-apa bi. Ana sudah baikan!” bibi Joan akhirnya mengangguk. Dia keluar dari dalam kamar Ana.
Ana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak lama, karena perutnya terasa sakit lagi.
Ana berlari menuju kamar mandi, dan menyelesaikannya disana. Setelah merasa lega, Ana keluar dari dalam kamar mandi. Ada telpon dari Jinny.
“Hallo Jinn....” sapa Ana saat dia sudah mengangkat telepon tersebut.
“Ana, perutku sakit sekali!” Ana tertawa mendengar perkataan Jinny.
“Sial kau, kau mengetawakan aku?” ujar Jinny yang kesal di seberang sana.
“Hei, aku juga sakit perut karena ulahmu itu!” ujar Ana ketus. Jinny langsung tertawa mendengar perkataan Ana.
“Sudah, matikan telponnya, aku mau ke kamar mandi dulu!” Ana tertawa lebar saat Jinny mengatakan hal itu, lalu dia mematikan sambungan telepon tersebut.
Samar-samar Ana mendengar suara seseorang yang dirindukannya berjalan mendekat, sepertinya sedang bicara dengan bibi Joan. Ana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu pura-pura memejamkan matanya.
Pintu kamar terbuka, Matt berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran di sana, di temani oleh bibi Joan.
“Ya sudah, terimakasih Bi. Matt mau melihat Ana dulu!” bibi Joan mengangguk. Dia menutup pintu kamar Ana, dan pergi dari sana.
Matt berjalan mendekat pada Ana. Lalu Ana secara perlahan membuka matanya, dan tersenyum tipis.
“Kau masih sakit perut sayang?” Ana tidak tahan untuk tidak tersenyum mendengar nada lembut penuh kekhawatiran itu dari mulut Matt.
“Hemm, masih sedikit sakit Kak,” ujar Ana dengan lemah.
“Ini, aku belikan obat, ayo minum sekarang!” Ana duduk di tepi ranjang. Matt menyodorkan gelas padanya.
“Terimakasih Kak,” setelah meminum obat yang diberikan oleh Matt, Ana tersenyum pada laki-laki itu.
“Jangan membuatku khawatir Ana. Jangan makan makanan itu lagi!” Ana hanya mengangguk patuh mendengar perkataan Matt. Nada kekhawatiran sangat jelas terdengar dari sana.
“Kau tau, aku sangat menghawatirkanmu! Jadi jangan ulangi lagi!” lagi-lagi, Ana hanya mengangguk mendengar perkataan Matt.
“Katakan iya Ana, jangan hanya mengangguk saja!” Ana mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah khawatir Matt.
“Iya kak Matt, Ana janji!” Matt mengangguk.
“Aku sangat menyayangimu! Jadi jangan buat aku khawatir seperti ini lagi Ana!” Matt membawa Ana kedalam pelukannya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Oh Tuhan, aku akan berterimakasih pada Jinny setelah ini. Ingatkan aku nanti tuhan!”
Jadi seperti ini rasanya di cintai?
.
.
.
.
___