
Kelvan dibawa keluar oleh Arthur dan Stella saat lukanya sudah selesai diobati.
“Menurut kalian, kenapa aku tidak di bunuh saja? Dan juga, kenapa tadi Tuan Max dan David menyuruhku untuk menanyakan pada ibuku? Aku masih tidak paham!”
“Ya mana mungkin kau paham, kau ini kan bodoh!” Arthur yang menyahut, membuat Kelvan mendengus padanya, begitu pula dengan Stella.
“Lebih bodoh mana, kau atau dia?!” ujar Stella ketus.
“Maksudmu?” tanya Kelvan penasaran.
“Dia itu dulu juga melakukan hal gila sepertimu! Dia— ....”
“Diam kau gadis berisik!” Arthur memotong ucapan Stella membuat Kelvan jadi makin penasaran.
“Kenapa? Jangan buat aku makin penasaran!”
“Awas kau! Diam ....”
“Sayangnya, aku tidak takut padamu!”
“Cih,”
“Dia itu dulu menculik Nona muda Mattea, bahkan dia memasang bom pada mobil Tuan Max dan Thomas, dia juga hampir menikahi Nona muda, tapi untung saja aku datang tepat waktu!”
“Benarkah?” tanya Kelvan tidak percaya, Stella mengangguk. Sedangkan Arthur hanya memalingkan wajahnya saat mengingat hal bodoh yang dia lakukan dulu itu.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Kelvan.
“Melakukan apa?”
“Ya melakukan penculikan itu?”
“Tentu saja karena dulunya aku dendam!”
“Kau memiliki dendam juga pada mereka? Lalu kenapa kau bekerja disini?!”
“Hei, itu dulu, sudah cukup lama. Jangan di ungkit lagi, aku tidak mau mengingat itu!”
“Lalu, sekarang kenapa kau seperti ini? Kau sudah tidak dendam lagi pada mereka?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Jelaskan,”
“Dulu ayahku mempunyai perusahaan yang cukup besar, nama ayahku Adelardo Halmington.” Arthur mulai bercerita, Stella diam menyimak apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, walaupun dia sudah tau, tapi dia ingin mendengarnya lagi.
“Halmington? Apa itu perusahaan milikmu? Bukankah sekarang itu perusahaan besar, ya meskipun lebih besar perusahaan Tuan Max?!” Kelvan yang menyeletuk tiba-tiba membuat Arthur kesal.
“Bisa kah kau diam?” tanya Arthur ketus.
“Ya ... ya, lanjutkan!”
“Cih ....”
“Dan dulu juga, waktu itu perusahaan Tuan Max mengalami masalah yang cukup besar. Dan pas sewaktu hari kelahiran anak kembarnya, dia menangkap laki-laki yang menjadi penyebab masalah itu, dan dia memfitnah perusahaan ayahku.”
Arthur menjelaskan, sebenarnya Kelvan ingin membuka suara lagi, tapi saat melihat mata Stella yang memelototinya, akhirnya niat untuk bertanya itu, dia urungkan.
“Sebenarnya waktu itu, perusahaan ayahku juga sedang mengalami masalah, karena lawan bisnisnya ingin menjatuhkan perusahaan kami. Dan karena ayahku tidak sanggup menerima perusahaannya bangkrut, dia mengalami serangan jantung, dan meninggal.”
Nada suara Arthur terdengar getir, Stella memegang tangan laki-laki itu untuk menguatkannya, entah sadar atau tidak, mereka sama-sama tersenyum, membuat Kelvan yang duduk di dekat mereka, berdecih malas.
“Lanjutkan!” ujar Kelvan ketus.
“Ibuku juga tidak lama setelah itu meninggal, karena tidak kuat di tinggalkan oleh ayahku. Dan, lawan bisnis ayahku, memfitnah Tuan Max yang melakukan semua itu, dia memecah belah kami, dan aku hidup dalam dendam selama ini. Dulu, di dalam hatiku hanya ada dendam, dendam bagaimana aku bisa menghancurkannya, tapi kini berubah, yang ada di dalam hatiku saat ini hanyalah, bagaimana aku bisa membalas kebaikannya, bahkan perusahaanku sukses pun, juga karena bantuannya!”
Kelvan mengangguk mendengar cerita Arthur. Dia melihat kejujuran dan juga kesungguhan dalam mata laki-laki itu. Ada pancaran rasa bersalah dan juga semangat di saat bersamaan.
“Dan aku tau kalau aku ternyata sangat bodoh, karena aku tidak tahu, kalau sebenarnya setelah ayahku meninggal, Tuan Max menolong perusahaanku, dan aku hidup selama ini dari hasil pertolongannya.”
Arthur terkekeh saat dia mengatakan kalau dirinya bodoh, sedangkan Stella mengangguk membenarkan kalau laki-laki itu memang bodoh.
“Kau tau, aku merasa menjadi orang paling jahat dan juga sangat bodoh disaat bersamaan, ketika aku mendengar cerita yang sebenarnya dari Tuan Max malam itu, untung saja gadis berisik ini menggagalkan pernikahan paksa itu, kalau tidak, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena sudah merusak kebahagiaan Mattea!”
“Ya ... ya, tapi bisakah kalian melepaskan pegangan tangan itu, aku sedikit risih melihatnya!”
Ucapan Kelvan, membuat Arthur dan Stella tersentak. Keduanya sama-sama melepaskan pegangan tangan masing-masing. Stella memerah karena malu, sedangkan Arthur tampak biasa saja, walaupun saat ini detak jantungnya tidak beraturan.
“Oh iya, untukmu Ella, kenapa kau menjadi bagian dari kelompok ini? Apa kau melakukan kesalahan juga?” Kelvan menatap Stella. Bagaimana gadis cantik di depannya ini, begitu mahir bela diri, dan juga sengat cekatan saat menangkapnya waktu itu.
“Hei, namanya Stella bukan Ella!” ujar Arthur sewot.