
“Kau membeli novel banyak sekali An?!” Jinny menatap tumpukan buku novel yang di pilih oleh Ana itu terletak di atas meja kasir. Mungkin itu mencapai sepuluh buku.
“Hemm, aku akan menghabiskan malamku dengan membaca buku-buku ini!” Ana menjawab dengan semangat, sedangkan Jinny hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu. Bahkan, dia yang mengajak Ana ke toko buku ini pun, hanya membeli dua buku, karena memang cuma dua itu yang dia inginkan.
“Baiklah, aku akan menelpon paman Crish dulu.” saat Ana hendak mengeluarkan ponselnya, Jinny langsung menahan tangan gadis itu.
“Tidak usah, aku sudah menelpon Rico tadi, dan dia akan mengantarkan kita pulang.” Ana memicingkan matanya menatap Jinny. Sedangkan gadis itu, bertanya dengan tatapan matanya heran.
“Apa?” tanya Jinny akhirnya.
“Dan aku akan menjadi obat nyamuk saat melihat kau dan dia berpacaran? Huh?” Jinny tergelak mendengar perkataan Ana.
“Tidak, ada Kelvan juga yang ikut bersamanya. Jadi kau tidak akan jadi nyamuk.” jawab Jinny yang membuat Ana mengangguk setuju.
“Oh, baiklah. Kita tunggu di luar saja!” Ana berjalan keluar dari dalam toko buku itu, setelah dia membayar belanjanya.
“Ayo!”
Ana dan Jinny menunggu di sebuah tempat duduk yang tersedia di depan toko buku tersebut. Keduanya memainkan ponsel mereka untuk mengusir kebosanan saat menunggu jemputan mereka datang.
Sebuah mobil mendekat dan parkir di depan toko buku tempat Ana dan Jinny belanja tadi, setelah itu, Rico dan juga Kelvan keluar dari dalam mobil membuat kedua wanita itu tersenyum senang.
“Pulang sekarang Baby?” Jinny mengangguk senang saat mendengar perkataan Rico. Sedangkan Ana hanya mendengus saat melihat kemesraan kedua pasangan yang dimabuk cinta itu, membuat Kelvan terkekeh.
“Sabar An, mereka memang sering membuat orang lain iri!” Ana terkekeh membenarkan perkataan Kelvan.
Ana pulang bersama dengan Rico, Kelvan dan Jinny tentunya. Ana duduk di depan bersama Kelvan yang menyetir. Sedangkan Jinny dan Rico duduk di belakang, asik bermesraan membuat kedua pasangan jomblo di depan mereka hanya mendengus.
Ketiga orang itu mengantar Ana sampai ke depan rumahnya.
“Apa kalian mau mampir dulu?” tanya Ana saat sudah turun dari dalam mobil. Dia berdiri didekat kaca mobil.
“Maaf Ana, aku rasa tidak bisa. Karena aku hanya izin untuk beli buku pada Mommy tadi.” Jinny menjawab, membuat Ana mengangguk.
“Baiklah, kalian hati-hati!”
“Dan aku akan menjadi sopir dan juga nyamuk sendiri disini An!” Ana terkekeh mendengar perkataan Kelvan, begitu juga dengan kedua pasangan yang duduk di kursi belakang itu.
“Hati-hati Van, perbanyak sabar!”
*****
“Kak Matt....” Matteo yang sedang bersantai di gazebo itu, terkejut saat mendengar suara Ana yang berteriak memanggilnya siang-siang begini.
“Astaga bocah, kenapa teriak-teriak? Ini bukan hutan!” jawab Matt saat gadis itu sudah ada di depannya. Ana duduk di samping Matt.
“Hehe, maaf kak. Ana mau bilang sesuatu!” Matteo menatap Ana sekilas. Dia tidak terlalu antusias dengan apa yang akan di katakan oleh gadis yang duduk di sampingnya ini. Karena itu pasti hal yang membuatnya kesal lagi.
“Apa?” tanya Matt acuh. Dia meminum jus lemon yang di buatkan oleh bibi pelayan yang di antar saat Ana belum menemuinya tadi, karena dia merasa butuh tenaga dan minum yang cukup saat bicara dengan Ana. Karena jika tidak, dia bisa dehidrasi menghadapi gadis bar-bar yang duduk didekatnya ini.
“Nikah yuk....” ujar Ana dengan sangat semangat.
“Mpppffftt, uhuk ... Uhuk....” Matteo menyemburkan jus yang dia minum ke arah depan, untung saja tidak ke arah Ana. Ana menepuk pundak Matt penuh perhatian, dia tidak sadar, kalau Matt seperti itu karena ucapannya. Ckckck.....
“Dasar bocah, jangan mikir macam-macam!” ujar Matt saat batuknya sudah mulai reda. Tenggorokannya sakit saat ini. Dia menjitak kepala Ana membuat gadis itu mengaduh dan cemberut.
“Sakit kak!” cicit Ana yang tidak di hiraukan oleh Matt. Bahkan tenggorokan laki-laki itu masih terasa perih.
“Ana serius kak Matt, di novel yang Ana baca, mereka itu nikah dulu walaupun gak saling cinta, tapi akhirnya saling cinta juga. Jadi ayo kita nikah, kita cobain kak!” saat Ana membaca novel yang dia beli bersama dengan Jinny waktu itu, Ana terus berpikiran seperti itu. Bukannya malah bisa melupakan Matt dan wanita di kafe waktu itu, dia malah semakin tidak bisa mengalihkan pikirannya dari sana.
“Hei, ini dunia nyata, bukan di novel khayalanmu itu An!” jawab Matt, saat tenggorokannya sudah tidak terasa perih lagi.
“Tapi kan Ana beneran pengin nikah sama kak Matt!” cicit Ana dengan bibir yang mengerucut lucu.
“Kak Matt....” Ana juga ikut berdiri dan mengejar laki-laki itu.
“Diamlah Ana! Jangan bicara omong kosong!” bentak Matt saat berjalan masuk kedalam mansion. Entah hanya untuk mengatakan hal itu, gadis yang mengikutinya ini, datang ke mansion hari ini.
“Tapi itu bukan omong kosong Ana kak!” sahut Ana yang masih kekeh dengan apa yang dia katakan.
“Astaga, anak ini!” Matt memijit keningnya frustasi. Dia berdiri di depan Ana.
“Tidak semudah itu Ana. Lagipula, kau masih kecil. Jangan berpikiran terlalu jauh. Selesaikan kuliahmu dulu!” Matt berbicara dengan lembut pada Ana. Dia berharap Ana bisa mengerti dengan apa yang dia katakan ini.
“Hemm, baiklah.” ujar Ana akhirnya. Matt tersenyum mendengar respon yang di berikan oleh gadis itu.
“Gadis pintar!” Ana menepuk pipi Ana beberapa kali sebelum meninggalkan gadis itu.
“Maafkan Ana kak Matt.” Matteo terdiam dan menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Ana. Dia berbalik menatap gadis cantik yang berdiri tidak jauh darinya itu.
“Maaf untuk apa?” tanya Matt heran.
“Ana tidak akan menganggu kak Matt dan juga pacar kak Matt yang waktu itu lagi. Maafkan Ana, Ana tidak akan menganggu kak Matt lagi.” Ana menundukkan kepalanya. Menyembunyikan matanya yang memerah. Dia mencengkeram ujung baju kaos yang dia gunakan. Pandangannya menatap ke arah lantai yang bersih mengkilap itu.
“Ana, bukan itu maksudku,” Matt berjalan mendekat, tapi langsung berhenti saat Ana berjalan mundur menghindarinya.
“Tidak apa-apa kak. Ana tau, kak Matt pasti risih dengan sikap Ana. Ana kira yang dikatakan oleh Kak Arion dan Kak Erick itu benar. Ternyata Ana salah. Kak Matt sudah memiliki pacar ternyata. Maafkan Ana kak.” Ana tersenyum kecut dengan apa yang sudah dia katakan.
Matt mengerutkan kening mendengar perkataan Ana. Temannya mengatakan sesuatu? Pada Ana, tanpa dia ketahui? mengatakan apa mereka itu?
“Apa yang dikatakan oleh Arion dan Erick?” tanya Matt penasaran. Dia menatap Ana dengan penuh selidik.
“Tidak ada apa-apa kak. Lupakan saja!” jawab Ana, masih dengan senyuman tipisnya.
“Katakan An, apa yang dikatakan oleh kedua orang itu?” Matt sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu.
“Mereka hanya mengatakan kalau kak Matt suka pada Ana. Dan maaf, karena Ana percaya dengan itu!” Ana mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Matt.
“Ana pulang dulu kak. Maaf karena Ana sudah menganggu waktu kak Matt. Sekali lagi, Ana minta maaf!”
Ana meninggalkan Matt yang masih terdiam. Gadis itu tersenyum kecut, saat laki-laki itu tidak mengejarnya. Berarti apa yang dia katakan itu memang benar.
Ah, bodohnya kau Ana. Hanya karena kata-kata Matt yang menyukai dia dari kedua teman laki-laki itu, membuat Ana senang bukan kepalang.
“Haha, bodohnya kau Ana. Dia tentu tidak menyukaimu, dan kau juga bukan tipenya!” Ana keluar dari pintu utama mansion, dia berjalan menuju mobilnya yang dikendarai oleh paman Crish.
“Ana!”
Tangan Ana masih menggantung saat akan membuka pintu mobil. Dia menoleh ke belakang, Matt berdiri dengan tegak di depan pintu utama yang besar itu.
“Ya kak?” tanya Ana yang masih mempertahankan senyumannya.
“Aku memang mencintaimu!”
“Eh?”
.
.
.
.
_____