Ana

Ana
6



Ana dan Matt masuk kedalam movie room tersebut. Ketiga orang yang sedang menunggu kedatangan Ana itu lantas langsung terdiam menatap kedatangan Matt yang menjulang tinggi di depan pintu.


Ana mendekat pada Jinny. Sedangkan bibi Joan sudah keluar dari ruangan itu. Ana meletakkan minuman dingin yang dia bawa tadi di atas meja yang ada di sana.


“Ana, kenapa tidak bilang kalau kak Matt kesini?” bisik Jinny saat Ana duduk di dekatnya. Ana menatap pada Matt yang duduk di sebelahnya, di ujung tempat duduk.


“Daddy yang menyuruhnya kesini, untuk menemani kita. Aku bahkan tidak tahu kapan dia sampai!” Jinny hanya mengangguk. Dia memakan camilan yang dibawa oleh bibi Joan tadi. Sedangkan Rico dan Kelvan tetap meneruskan tontonan mereka, karena terlihat Matt pun sepertinya tidak terlalu menghiraukan keduanya.


Film yang bergenre romantis itu membuat semua remaja baru beranjak dewasa itu terlarut, terkecuali Matt. Dan laki-laki itu hanya menatap jengah pada layar lebar yang ada di depannya.


Dan pada saat adegan kissing, mereka semua kecuali Matt mengalihkan pandangannya mereka. Jinny menatap Rico dengan wajah yang memerah, sedangkan Ana menatap Matt yang duduk disebelahnya, dengan senyum malu-malu. Kelvan yang melihat hal itu hanya tersenyum kecut, dia memilih untuk kembali menatap layar lebar yang ada di depannya.


“Kak Matt ....” Matt menoleh pada Ana yang berbisik padanya. Laki-laki itu mengangkat alisnya heran.


“Apa?” akhirnya perkataan dengan nada tanya itu keluar dari mulut Matt.


“Kak Matt, kapan kita ulang ciuman waktu itu lagi?” kedua mata Matt melotot mendengar perkataan gadis yang menjadi pacarnya ini.


Dia mengepalkan tangannya kesal. Berani-beraninya Ana bertanya seperti itu. Untung Ana bertanya padanya, coba kalau dia bertanya pada laki-laki lain? Pasti saat ini bibir tipis yang menyerocos polos itu sudah di bungkam oleh orang itu.


“Jangan bertanya seperti itu disini An!” peringat Matt dengan nada suara yang ditekan. Ana hanya menatap Matt heran.


“Kenapa? Kan Ana cuma bertanya pada pacar Ana saja!” cemberut Ana dengan bibir yang mengerucut lucu.


Jika saja, saat ini teman-teman Ana itu tidak ada didekat mereka, pasti saat ini Matt sudah mendaratkan ciumannya pada bibir tipis yang sensual itu. Mengecup dan menyesapnya hingga bengkak!


“Nanti sayang. Kita bisa berciuman sepuasnya setelah ini!” ujar Matt dengan asal. Dia mengalihkan tatapannya dari Ana yang akan bersuara lagi.


“Sudah diam, perhatikan filmnya!” Ana hanya menurut saja.


***


Ana dan Jinny berjalan di depan, memimpin langkah laki-laki yang keluar dari movie room tersebut.


“Kalian bisa ke kamar tamu dulu. Kami mau ke kamarku dulu. Setelah ini kita makan malam bersama!” Rico dan Kelvan mengangguk. Sedangkan Matt hanya acuh saja. Dia berjalan meninggalkan mereka lalu berjalan menuju dapur.


“Ana, kenapa kak Matt itu tampan sekali sih?” Jinny yang saat ini sudah berada di dalam kamar Ana dan duduk di atas ranjang, menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri saat mengingat laki-laki tampan yang sudah menjadi pacar Ana itu.


“Karena dia pacarku! Makanya dia tampan!” jawab Ana asal. Gadis itu mengambil pakaian dari dalam walk in closed, dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Jinny hanya berdecih mendengar perkataan sahabatnya itu.


Ana menanggalkan semua pakaiannya, lalu masuk kedalam bathtub. Menuangkan sabun aroma mawar kedalam bathtub tersebut.


Setelah dia menggosok tubuhnya, Ana keluar dari dalam bathtub dan membilas tubuhnya dengan air shower.


Ana mengambil handuk besar untuk mengeringkan tubuhnya dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Ana langsung memakai pakaiannya dari dalam kamar mandi, setelah itu keluar dengan handuk yang melilit kepalanya.


“Apa kau tidak mau mandi Jinn?” tanya Aja pada Jinny yang tampak fokus pada ponselnya itu. Jinny mendongak menatap Ana yang sudah tampak segar karena sudah selesai mandi.


Jinny menggeleng menjawab pertanyaan Ana. “Aku sudah mandi sebelum kesini tadi!” ujarnya.


“Baiklah kalau begitu!” Ana mengambil hairdryer, lalu mencolokkannya pada colokan listrik. Dan mulai menghidupkan alat tersebut untuk mengeringkan rambutnya.


Setelah dirasa kering, Ana memoles wajahnya dengan bedak tabur dan sedikit lipbalm.


“Selesai!” ujar Ana dengan tersenyum riang.


“Ayo kita keluar!” Jinny menatap Ana yang sudah tampak cantik didepannya. Dia mengangguk lalu bergerak turun dari Atas ranjang.


Ana dan sahabatnya itu berjalan menuruni anak tangga rumah Ana yang lumayan banyak. Tujuan kedua gadis itu adalah ruang keluarga dan ruang makan.


Jinny langsung mendaratkan tubuhnya di samping Rico saat laki-laki itu sedang duduk di sofa, bersama dengan Kelvan. Sedangkan Ana memutar tubuhnya menuju ruang makan.


Ana menatap Matt yang saat itu sedang duduk di kursi meja makan dengan memainkan ponselnya.


“Kak Matt!” Matt menoleh pada Ana yang tampak sudah cantik dengan pakaian rumahannya. Dan juga gadis itu terasa semakin wangi di indera penciumannya.


“Cantik ....” ujar Matt tersenyum membuat Ana merona.


“Iya, Ana tau Ana cantik!” ujar Ana menggoda Matt dengan senyum yang memerah. Matt tersentak mendengar perkataan Ana.


‘Perasaan tadi, aku tidak bicara?!’ batinnya.


“Apa kak Matt sudah lapar?” tanya Ana. Matt mengangguk.


“Ana akan membantu bibi Joan dulu!” tangan Ana langsung ditahan oleh Matt.


“Tidak usah, kau tunggu disini saja! Mereka sudah hampir selesai!” Ana menurut, dia kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


“Kak Matt akan menginap disini kan?” tanya Ana memecahkan keheningan. Matt mengangguk membenarkan perkataan Ana, membuat gadis itu tersenyum.


Hening...


“An, apa makan malamnya sudah selesai? Aku sangat lapar!” Ana menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Jinny.


Para pelayan yang berada di sana, hanya terkekeh mendengar pertanyaan Jinny. Makanan yang memang sudah matang itu akhirnya dihidangkan di atas meja. Jinny yang melihat hal itu tersenyum lebar, membuat Rico menyentil kening sang kekasih.


“Sakit Baby!” rutuk Jinny melayangkan tatapan tajam pada Rico.


“Makanya jangan asal seperti itu!” ujar Rico. Tapi dia akhirnya mengusap kening Jinny dengan sayang, membuat Kelvan yang melihat hal itu hanya mendelik.


“Sabar Van ....” ujar Ana terkekeh. Sedangkan Kelvan juga ikut terkekeh. Dan Matt yang melihat hal itu menjadi tidak suka. Dia menggenggam tangan Ana yang berada di bawah meja, membuat gadis itu menatapnya.


Tatapan mata Matt yang seperti tidak suka itu membuat Ana gugup. Dari matanya, Ana bisa melihat kalau laki-laki itu seperti berkata, “jangan terlalu akrab dengannya!” padanya.


Ana mengangguk.


Kini fokus keduanya kembali teralih pada Jinny yang sudah heboh dengan banyaknya hidangan makanan yang ada depannya. Membuat Rico menepuk kening dengan perlakuan pacarnya itu.


Semua orang yang ada di meja makan itu, kini mulai menikmati makanan mereka. Semuanya makan dalam diam.


****


Hari sudah larut malam, kini semua teman laki-laki Ana sudah berada di kamar tamu, dan Jinny tentunya kini sudah terlelap di kamarnya.


Setelah makan malam tadi selesai, mereka semua memutuskan untuk bermain tebak-tebakan, dan berakhir dengan wajah Kelvan dan Rico yang habis kena coret oleh kedua gadis itu karena tebakan mereka salah.


Sedangkan Matt?


Jangan tanya apa yang dilakukan oleh pria itu! Karena dia hanya duduk di sofa melihat permainan mereka, yang menurutnya itu membosankan. Dan Ana tidak berhasil membujuk laki-laki itu untuk ikut bermain bersama mereka.


Ana yang terjaga karena haus itu bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil teko yang sudah kosong, dan membawanya ke bawah untuk diisi air. Ana berjalan dalam keadaan lampu rumah yang sudah banyak dimatikan.


Gadis itu berjalan menuju dapur untuk mengisi air dari dispenser.


Setelah teko kaca itu penuh Ana duduk di kursi meja makan sebentar, lalu membuka kulkas untuk mengambil kue.


“Kenapa terjaga An?” Ana yang sedang sedikit menunduk itu mengangkat kepalanya karena terkejut. Dan kepalanya langsung membentur pintu kulkas tinggi itu yang cukup untuk membuatnya meringis.


“Awsshhh ....” ringis Ana saat dia memegang kepalanya yang masih berdenyut.


“Makanya hati-hati sayang!” laki-laki yang mengejutkannya itu mendekat pada Ana, lalu mengusap kepala Ana dengan sayang.


“Ih ... Ini kan gara-gara kak Matt! Kenapa mengejutkan Ana sih?” rutuk Ana yang masih mengusap kepalanya. Gadis itu kembali duduk dengan sebuah wadah kue di tangannya. Matt ikut duduk bersila dengan Ana.


“Aku tidak bisa tidur!”


Bukannya menjawab pertanyaan Ana, Matt malah memberitahu gadis itu kalau dirinya tidak bisa tidur. Ana menatap Matt heran.


“Kenapa?” tanya Ana.


“Entahlah, hanya tidak bisa tidur saja!” jawab Matt Acuh.


“Mau Ana lakukan sesuatu agar kak Matt bisa tidur?” Matt menatap Ana dengan sedikit curiga, karena pasalnya dia sedikit tidak percaya dengan apa yang ada di pikiran gadis itu.


“Sesuatu apa?” tanya Matt. Ana menatap Matt dengan senyuman menggoda. Membuat Matt mengangkat alisnya heran.


“Apa?” tanya Matt lagi.


“Sini Ana kasih cium, pasti nanti kak Matt akan tidur nyenyak!” Matt menatap Ana dengan jengah. Lalu menyentil kening Ana karena gemas.


“Bocah mesum!” ujar Matt yang membuat Aja cemberut.


“Ishh, sakit kak!”


“Biar saja! Lagipula, kenapa kau jadi mesum seperti ini sih?” ujar Matt membuat Ana tersenyum kikuk.


“Kan Ana mesumnya sama kak Matt aja!”


“Aku tidak percaya!”


Ana tertawa mendengar perkataan Matt.


Saat keduanya sedang asik berbicara, ada seseorang yang menatap keduanya dengan tatapan tidak suka.


Dan disinilah konflik sebenarnya akan dimulai!


.


.


.


****