Ana

Ana
14.2



“Ayo Matt, apa namanya untuk anak cantikku ini?” tanya Thomas tidak sabaran.


Matt tampak berpikir sejenak. Sungguh dia tidak mempunyai persiapan untuk memberikan nama keponakannya ini, karena dia mengira kalau Mattea dan Thomas lah yang memberikannya nama.


“Aletta Queenby Achilles.”


Mattea mendongak menatap Matt, setelah itu dia tersenyum.


“Bagus, nama yang cantik untuk anakku yang cantik,” ujar Mattea, sedangkan Thomas tersenyum.


Matt menatap bayi kecil yang ada dalam gendongan Mattea.


“Hai Baby Aletta ....” ujar Matt tersenyum.


“Hai Uncle, Matt.” ujar Mattea dengan suara yang mirip dengan anak kecil.


“Apa kalian akan pulang sekarang?”


Pertanyaan itu keluar dari dalam mulut Max yang baru bangun. Mattea menoleh pada Max.


“Iya, Dad. Soalnya tidak baik, kalau Baby Aletta lama-lama disini,” ujar Mattea. Max hanya mengangguk.


“Pulanglah, Mommy sudah pulang terlebih dahulu tadi, untuk menyambut kedatangan cucunya yang cantik ini,” Matt melihat pada bayi kecil itu.


“Baiklah, Dad. Kami pulang sekarang saja, karena sepertinya Aletta tidak nyaman jika terlalu lama tidur di gendong,” Max mengangguk.


“Oh iya, Max. Tadi David sudah pulang, dia menitipkan Ana padamu sebentar, lagipula Ana sedang tidur,” celetuk Thomas yang membuat Matteo sedikit kaget.


“Ana sudah sadar Uncle?” tanya Matt, Thomas mengangguk mendengar perkataan Ana.


“Aku mau melihatnya, Dad.” ujar Matt pada Max, membuat laki-laki paruh baya itu menghela napas.


“Dia masih istirahat, Matt. Kau jangan mengganggunya!” ujar Max.


“No, aku mau melihatnya, Dad. Bawa aku ke sana.” Max menghela napas, setelah itu dia menatap Thomas dengan tajam.


“Aku hanya memberitahu,” ujar Thomas yang langsung merasa Max kesal padanya.


“Cih ....” ujar Max.


Setelah itu, Max mengambil kursi roda yang tadi di pakai oleh Matt, di bantu oleh Thomas, kedua laki-laki itu memindahkan Matt ke atas kursi roda. Sedangkan Mattea sudah berjalan terlebih dahulu keluar.


Max mendorong kursi roda Matt, senyuman di wajah Matt tidak surut sedikitpun. Dia sangat bahagia saat mendengar kalau Ana sudah sadar.


“Ckck, rupanya kau memang tidak akan melepaskan aku untuk orang lain, An.” ujar Matt menggelengkan kepalanya. Dia masih tidak menyangka karena tidak beberapa lama setelah dia mengeluarkan kata-kata ancaman itu, Ana tersadar.


Matt melihat pada wajah pucat yang terbaring di atas brankar. Meskipun tidak sepucat sebelumnya, tapi tetap membuat Ana tampak cantik di mata Matt.


Laki-laki itu menggenggam tangan Ana yang tidak diberikan infus, membuat gadis yang sedang terbaring itu mengerjakan matanya karena merasa sedikit terganggu.


“Kau membangunkannya, Matt,” desis Mattea di samping Matt. Sedangkan laki-laki itu hanya mengangkat bahu acuh, karena memang ini yang diinginkannya.


“Hai, Sayang ....” sapa Matt saat mata Ana benar-benar sudah terbuka dengan sempurna.


Wajah yang semulanya pucat itu langsung berbinar senang saat melihat Matt.


“Kak Matt?” ujar Ana antusias, bahkan dia melupakan sedikit rasa sakitnya saat kepalanya bergerak.


“Iya, ini aku, Sayang,” ujar Max tersenyum.


Rasanya, Matt ingin sekali untuk membawa Ana kedalam pelukannya. Membenamkan wajah gadis cantik itu di dadanya.


Tapi apa daya, sungguh untuk mengangkat kakinya pun, rasanya Matt tidak sanggup.


“Apa kak Matt masih merasa sakit?” ujar Ana.


Matt tertegun. Bahkan, disaat seperti ini pun, gadis cantiknya ini masih memikirkannya. Bahkan Ana tidak mempedulikan perban yang membalut kepalanya, membuat Matt semakin jatuh cinta berkali-kali padanya.


“Aku sudah sembuh, Sayang. Aku sudah tidak sakit lagi, harusnya kau pikirkan kesehatanmu sendiri, jangan terus memikirkan aku,” ujar Matt.


Max, Mattea, dan Thomas memilih untuk keluar dari ruang rawat Ana itu, untuk memberikan waktu bagi kedua orang itu untuk saling bicara.


“Aku baik-baik saja Kak, bahkan setelah melihat Kak Matt, aku menjadi semakin baik.” ujar Ana tersenyum. Bibir yang pucat dan sedikit kering itu, tersenyum tulus pada Matt.


“Ana, kalau kau terus seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak akan semakin jatuh cinta padamu, An.” ujar Matt. Tangan Ana masih didalam genggamannya.


“Kan, memang begitu seharusnya. Supaya Ana tidak jatuh cinta sendiri,” ujar Ana. Matt terkekeh.


“Kau tidak jatuh cinta sendiri Sayang, karena aku pun sangat mencintaimu.”


Ana tersenyum bahagia.


“An, cepatlah sembuh. Karena kita akan menikah setelah kau sembuh!” Ana terkejut mendengar perkataan Matt.


“Kak, Ana seperti pernah mendengar kata-kata ini,” ujar Ana.


“Iya, aku mengatakannya tadi, dan sekarang!” ujar Matt.


“Benarkah?” tanya Ana.


“Hemmm ... Jadi, cepatlah sembuh, lalu kita menikah!”


“Bukan Ana kak, tapi kita yang cepat sembuh.”


“Iya, kita.”


.


.


.


.