
Ana berdiri kaku di depan pintu mobil. Kata-kata Matt membuat otak Ana berpikir lebih cepat dari biasanya.
“Ana?!”
“Eh?”
Ana tersentak kaget, saat Matt tiba-tiba sudah berdiri didepannya. Kapan laki-laki tampan ini, berjalan mendekat? Kenapa Ana tidak mendengar langkah kakinya? Apa karena dia terlalu terkejut mendengar pernyataan Matt, makanya dia tidak menyadari langkah kaki laki-laki itu?
“Apa aku mengagetkanmu?” Ana seperti anak kecil yang mengangguk dengan polos. Matt tersenyum tipis saat gadis cantik itu masih menatapnya tidak percaya.
“Aku mencintaimu Ana!” tengkuk Ana merinding saat merasakan sapuan hangat napas Matt di puncak telinganya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Matt yang jauh lebih tinggi darinya.
“Apa kau tidak mau membalas pernyataan cintaku Ana? Kenapa diam saja?” Matt menatap Ana dengan melipat tangannya di depan dada. Alis laki-laki itu terangkat, saat melihat gadisnya masih bengong.
Gadisnya?
Apa boleh, Matt sekarang menyebut Ana sebagai gadisnya? Bukankah keduanya sudah menyatakan perasaan masing-masing?
Dan Ana, mengerjakan matanya karena gugup saat mendengar kata-kata laki-laki itu.
Rasanya sangat berbeda saat mendengar pernyataan cinta yang keluar langsung dari mulut orang yang kita cintai, dari pada didengar dari mulut orang lain. Ana rasanya ingin terbang ke langit, untuk meneriakkan bagaimana bahagianya dia saat ini, agar semua orang tau, kalau dia kini sudah menjadi gadis paling bahagia di dunia. Menurutnya!
“Ana sangat mencintai kak Matt. Apa sekarang, Ana, sudah boleh memeluk kak Matt?”
Pertanyaan macam apa itu. Memeluk? Bahkan, untuk menciumnya pun Ana boleh. Matt terkekeh melihat gadis polos yang ada didepannya ini. Ya ampun, Ana sungguh tampak semakin menggemaskan saat ini.
“Apa tidak sekalian saja, kau menciumku Sayang?” bulu mata lentik dari manik kecoklatan itu mengerjap lucu. Pipinya tanpa aba-aba langsung memanas. Rona kemerahan itu membuat Ana tampak semakin cantik.
“Apa itu boleh?”
Mendadak, gadis bar-bar yang selalu membuat Matt darah tinggi itu, menjadi seekor kucing manis. Matt tersenyum lalu mengusap puncak kepala Ana dengan gemas.
“Masih mau pulang? Atau tetap disini?” Matt mengalihkan pembicaraan. Ana yang ditanya seperti itu hanya menggeleng.
“Paman Crish, pulang duluan saja. Biar Ana nanti, saya yang antar!” Matt menundukkan kepalanya pada paman Crish yang menunggu di dalam mobil. Laki-laki paruh baya itu langsung mengangguk mendengar perintah Matt. Dia paham dengan apa yang dikatakan Matt, karena dia sendiri mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.
Mobil yang dikendarai oleh paman Crish keluar dari pintu gerbang besar mansion Matt.
“Jadi...?” Matt kembali melipat tangannya didepan dada, menatap Ana yang berdiri didepannya.
Manik kecoklatan itu, menatap Matt dengan ragu. Ana mer*eeemas tangannya dengan gugup. Setelah itu dia memeluk Matt dengan erat, membenamkan wajahnya di dalam dada bidang laki-laki itu. Matt tersenyum, dia membalas pelukan Ana, mencium puncak kepala gadis itu beberapa kali.
“Ana sangat mencintai kak Matt!” gumam Ana didalam pelukan mereka.
“Aku juga sangat mencintaimu An!” Ana mendongak menatap manik gelap yang lebih tinggi darinya itu. Manik dengan sejuta pesona mematikan itu, kini sedang membalas pelukannya?
Jika ini mimpi, Ana berharap dia tidak pernah bangun lagi. Dan jika ini nyata, Ana berdoa, semoga kenyataan ini tetap seperti ini.
“Eheemmm....”
Pelukan erat itu terlepas saat mendengar suara deheman dari belakang mereka.
Seorang wanita cantik yang berperut buncit saat ini sedang berdiri didepan pintu dengan melipat tangannya.
“Apa acara peluk-pelukannya masih lama? Apa kalian tidak merasa panas? Aku saja merasa panas saat berdiri disini!” Mattea menatap kedua orang yang sedang salah tingkah itu dengan memicingkan mata.
“Ana, ayo masuk! Tinggalkan saja dia. Jika nanti kau gosong karena kepanasan, minta saja uang padanya untuk perawatan kulit!” Ana terkekeh mendengar perkataan Mattea, dia berjalan mendekat pada wanita hamil itu, meninggalkan Matt yang masih berdiri di tempatnya tadi.
“Sayang, kau meninggalkan aku, karena wanita berisik ini?” Matt berjalan dengan cepat menyusul Ana. Sedangkan Mattea menatap Matt dengan tajam.
Ibu hamil yang sedang sensitif itu menatap Matt dengan menunjuknya. Matt sedikit bergidik saat melihat Mattea yang sangat kesal padanya itu.
“No Atea. Aku tidak mengatakan itu! Apa mungkin kau salah dengar? Sudah, aku mau masuk kedalam dulu!” tanpa mendengarkan Mattea yang akan menjawab perkataanya, Matteo langsung masuk kedalam rumah meninggalkan kedua wanita itu di depan pintu.
“Hei, awas kau, calon Uncle durhaka! Kau benar-benar bilang aku berisik kan, tadi?”
****
“Kak Matt...?”
“Apa sayang?”
Ana langsung memerah mendengar sahutan dari laki-laki yang duduk disampaikan itu. Kenapa Matt jadi senang sekali menggodanya sih? Padahal kan, biasanya Ana lah yang suka menggoda laki-laki itu. Apa kini semuanya sudah berbalik?
“Kau tampak semakin cantik, saat merona seperti itu sayang!” Matteo mencubit pipi Ana dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya sedang memegang stir mobil.
Ya, dia mengantarkan Ana pulang, setelah di tahan cukup lama oleh Mattea untuk menemani wanita hamil itu makan bersama. Ini bukan makan biasa, karena itu adalah makan rujak yang sangat asam menurut Ana, tapi sangat enak menurut Mattea. Memang, lidah seorang ibu hamil itu tidak dapat diduga-duga oleh wanita normal seperti Ana.
“Apa perutmu masih sakit?” Matt bertanya penuh perhatian pada Ana, karena setelah makan rujak enak tadi, Ana jadi bolak-balik keluar masuk kamar mandi, karena perutnya yang tidak tahan dengan rasa rujak itu.
“Tidak, perut Ana sudah baikan sekarang!” Matt mengangguk senang. Setelah itu dia kembali menatap ke arah jalanan.
Hening mengambil alih antara keduanya. Ana ingin bertanya pada Matt, tapi lidahnya kelu untuk bicara, gadis itu hanya mer*remas tangannya karena rasa penasaran yang tinggi.
“Tanyakan saja, apa yang membuatmu penasaran An!” Ana menoleh ke arah samping. Dia menatap Matt yang tau kalau dirinya saat ini sedang gugup, karena ingin bertanya.
“Siapa wanita yang waktu itu mencium kak Matt?” Ana menggigit bibir bawahnya saat pertanyaan itu lolos dari mulutnya.
“Dia temanku!” jawab Matt singkat.
“Benarkah? Lalu kenapa dia mencium kak Matt?” nada bicara Ana yang mulai ketus dan berani membuat Matt terkekeh. Ternyata, kecemburuan membuat seorang wanita memiliki keberanian lebih.
“Apa kau sedang cemburu Ana sayang?” Ana mengerjapkan matanya beberapa kali.
Cemburu?
Ya tentu saja dia cemburu! Wanita mana yang tidak akan cemburu saat melihat laki-laki yang di cintainya, di cium oleh wanita lain, bahkan tepat didepan matanya sendiri.
“Menurut kak Matt, aku tidak akan cemburu saat melihat kakak dicium oleh dia? Tentu saja! Tidak ada yang boleh mencium kak Matt selain aku, tidak boleh seorangpun!” nada bicaranya yang angkuh membuat Matt tertawa lebar. Laki-laki itu mengusap air mata yang keluar dari sudut mata laki-laki itu karena terlalu kencang tertawa.
“Iya sayang iya. Hanya kau yang boleh menciumku mulai saat ini. Aku hanya milikmu! Dan kau pun hanya milikku!”
Ana menggigit bibir bawahnya karena terlalu bahagia. Ternyata jatuh cinta dengan orang yang juga mencintai kita, rasanya sebahagia ini.
Mobil Matt memasuki komplek perumahan Ana, tidak jauh setelah melewati gerbang komplek, dia membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang paling besar diantara yang lainnya di sana.
Matt membunyikan klakson mobilnya, dan pintu gerbang terbuka secara otomatis, saat orang yang ada didalam mengetahui kalau itu adalah mobil Matt.
Mobil berhenti di depan rumah Ana.
“Terimakasih Kak Matt....” Ana mengucapkan dengan tulus. Dia mengambil tas selempang yang tadi dia gunakan, lalu memakainya. Matt hanya diam menatap pada kekasihnya itu.
“Apa kak Matt mau masuk dulu?” Matt menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ana, sedangkan gadis itu hanya mengerutkan bibirnya lucu. Matt rasanya tidak tahan untuk mengecup bibir seksi itu.
“Boleh aku menciummu?”