
Matt di dudukkan di atas kursi roda, dengan kaki yg memakai gips, dan kain kasa yang membalut kepalanya, dia di dorong menuju ruang rawat Ana. Matt masuk setelah mendapatkan izin dari dokter.
“Hai, Sayang ....” Matt menyapa Ana yang masih setia memejamkan matanya. Pipi putih itu sekarang semakin menirus. Bibir yang biasanya mengembang karena senyuman manisnya itu, kini terkatup pucat.
Bulu mata lentik itu terpejam dengan damai. Matt menatap Ana dengan pedih.
“Sayang ....” dengan perlahan, Matt meraih tangan Ana yang dingin. Tangan itu dia bawa kedalam genggamannya.
“Sayang, buka mata kamu. Aku rindu binar kamu Sayang. Ayo bangun ....”
Stef meninggalkan Matt didalam ruang rawat Ana sendiri. Dia tidak tahan untuk melihat raut wajah anaknya yang sangat tersakiti.
“An ... Kamu bangun, Sayang ....”
Tangan yang kaku itu, tidak memberikan respon sedikitpun. Manik hitam pekat itu benar-benar merindukan tatapan Ana yang menyebalkan.
“Ana .... Kamu bangun, Sayang. Katanya, kamu mau jadi istri aku, tapi kenapa sekarang tidak mau bangun seperti ini? Kamu bohong, ya?”
Matt mengingat saat hari-harinya bersama dengan Ana. Bagaimana gadis kecil, mungil,.dan cantik itu selalu bergelombang, jika dia hanya memperhatikan satu cita-cita. Yaitu menikah, dan menjadi istri seorang Matteo.
“*Kak, kalau nanti Ana sudah dewasa, kak Matt janji ya, akan menjadikan Ana sebagai istrinya kak Matt?”
“Jangan mimpi Ana, sekolah yang benar! Wujudkan cita-cita kamu, buat Mommy dan Daddy kamu bangga sama kamu!"
“Ihhhh, kak Matt bagaimana, sih?! Kan sudah Ana bilang, kalau cita-cita Ana itu cuma satu! Yaitu, menikah, dan menjadi istrinya kak Matt di masa depan!”
“Terserah kau, Ana! Terserah, aku pusing. Lebih baik, kau pergi ke dapur, untuk membuatkan aku minum!”
“Baik calon suami, calon istrimu ini, akan melayanimu sepenuh hati!”
Ana yang kala itu, sedang duduk di tepi kolam renang di mansion Max, berlari masuk kedalam untuk perguruan ke dapur, membuatkan Matt minum*.
Matt menghela napas saat mengingat momen-momen indah yang selalu di buat oleh Ana dulu, saat bersama dengannya.
“An, aku tidak bisa duduk di sini lama-lama, karena pinggangku sudah mulai sakit lagi, jadi saat aku nanti kembali kemari untuk menjengukmu, kau sudah harus bangun. Kalau tidak, aku akan menikah dengan gadis lain! Kau lihat saja nanti!”
Matt menatap Ana penuh harap. Tentu saja, ucapannya barusan tidak benar, karena walau bagaimanapun, satu-satunya gadis yg dia cintai hanyalah Ana. Dulu, kini dan juga nanti.
“Mom ....” Matt memanggil Stef yang menunggu di luar. Saat mendengar suara Matt yang memanggilnya, Start terburu-buru masuk bersama dengan Max dan Aira. Disusul David.
“Ada apa sayang?” tanya Stef. Dia menatap pada Ana yang masih setia memejamkan matanya.
“Tidak apa-apa Mom, aku mau kembali ke kamarku.” Stef mengangguk. Dia hendak mendorong kursi roda Matt, tapi sempat tertahan oleh tangan anaknya itu.
“Ingat, ya, An. Kau harus bangun secepatnya, setelah itu kita menikah sesuai perkataanku tadi. Tapi kalau kau masih tetap tidak mau bangun juga besok, aku tidak mau menikahimu! Dan perkataan aku barusan batal!”
Setelah itu, Matt menggerakkan tangannya untuk kembali menyadarkan Stef dan juga yang lainnya yang terdiam mendengar perkataannya.
Stef mendorong kursi roda Matt, dan membawanya ke ruang rawat di sebelah kar rawat Ana.
Stef di bantu Max meletakkan Matteo dengan hati-hati di atas brankar.
“Mom, kapan keponakan cantikku, akan menjenguk Uncle-nya kesini?!” tanya Matteo saat sudah berbaring di atas brankar itu.
“Iya, Sayang. Nanti, setelah Mattea siap, dia akan kemari sebelum pulang! Jadi, kau harus istirahat sekarang, ya.”
“Baik Mom,” Matteo berusaha untuk memejamkan matanya. Dengan belain tangan Stef yang mengusap rambutnya dengan sayang, akhirnya laki-laki itu tertidur.
Stef duduk di samping ranjang Matt, dan menatap anaknya dengan tatapan sendu.
“Maafkan Mommy, ya, Sayang. Mommy tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan Mommy,” Stef merebahkan kepalanya di samping tangan Matt, dia berusaha untuk memejamkan mataku.
“Sayang ... Kalau kau lelah, sebaiknya pulang saja, biar aku yang menjaga Matt disini,” Max yang tidak tega saat melihat mata Stef yang sudah seperti mata panda itu, di tambah dengan tubuhnya yang sedikit mengurus, membuat laki-laki itu sedih.
“Tidak, Sayang. Aku tidak mau pulang, aku mau disini bersama dengan Matt!” Stef menatap Max kekeh. Max menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan ucapan istrinya itu.
“Tidak, Sayang. Sebaiknya kau pulang dulu, karena cucu kita akan pulang ke rumah, kau tidak mau menyambutnya?” Stef terdiam mendengar ucapan Max.
Benar! Setelah menjenguk Matt, Mattea dan si kecil akan pulang, jadi tidak mungkin dia tidak menyambut anak dan cucunya itu kan?
“Jadi, sebaiknya kau pulang saja Sayang. Nanti Mattea sedih, karena kita tidak menyambut kepulangannya?!” Stef membenarkan ucapan Max, hingga akhirnya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menganggukkan kepalanya.
“Iya, kau benar. Baiklah, aku akan pulang,” Max tersenyum senang mendengar perkataan Stef. Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Nicko.
“Hallo, Nick, kau ke dalam sekarang. Jemput Nyonya, dan antarkan dia pulang.” Nicko yang ada di seberang sana mengangguk-angguk kepalanya.
“Baik Tuan!” ujar Nicko sigap.
Max mematikan sambungan telepon tersebut. Dia menatap Stef lagi.
“Tunggu sebentar lagi, Nicko akan menjemputmu Sayang ....” Stef memilih untuk duduk di sofa yang ada didalam ruang rawat Matt.
“Sayang ... Menurutmu, Mattea dan Thomas, akan memberikan nama anaknya apa?” tanya Stef pada Max yang ikut duduk di sampingnya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin, nanti bisa kita tanyakan!”
Saat sedang mengobrol seperti itu, Nicko mengetuk pintu ruang rawat Ana, setelah itu masuk saat sudah mendengar kata Masuk dari dalam mulut Max.
“Mari Nyonya,” ujar Nicko mempersilahkan dengan sangat sopan. Stef mengangguk, dia mencium kening Max sebentar, membuat laki-laki itu terkekeh.
“Kau membuat Nicko, iri Sayang,” Nicko hanya memalingkan wajahnya saat mendengar perkataan Max.
“Ya sudah, aku pulang dulu. Nanti, kalau ada apa-apa, kau harus segera menghubungi aku, Max!” ujar Stef sebelum keluar dari ruang rawat Matt, setelah mencium pipi dan kening anak lelakinya itu.
“Iya Sayang ....” ujar Max singkat.
******
Sudah cukup lama Max terduduk di atas sofa, untuk menunggui Matt. Laki-laki itu memejamkan matanya, tapi sebelum itu dia jadi membuka matanya kembali saat mendengar suara David memanggilnya dengan semangat.
“Sssttt, pelankan suaramu, nanti Matt bangun!” ujar Max, David jadi terkekeh, lalu duduk di dekat Max dan berbisik.
“Max ... Ana sudah sadar!”
“A—apa?” ujar Max dengan raut bahagia. Dia keluar dari dalam ruang perawatan Matt dan berlari menuju kamar rawat Ana. Diikuti oleh David di belakang.
Di sana, tampak Aira sedang memeluk Ana dengan bahagia, tapi Ana hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan bingung.
“Hai, calon menantu!” sapa Max, saat mengingat perkataan Matt tadi.
“Calon menantu?” beo Ana dengan suara yang lemah, dengan tubuh yang masih terbaring.
“Iya, calon istri Matt!”
“Matt?”
.
.
.
.
*****