
Jinny berlari menuruni anak tangga saat mendengar suara klakson mobil dari arah luar. Dan penjaga yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Ana kalau ada temannya yang akan datang, langsung membukakan gerbang saat dia mengenali mobil Rico.
Mobil yang dikemudikan oleh Kelvan itu berhenti sempurna didepan pintu utama rumah Ana yang megah. Kedua laki-laki itu turun dari dalam mobil.
“Hai sayang....” Jinny langsung memeluk Rico saat laki-laki itu berjalan mendekat padanya.
“Holla Honey....”
“Cih, menyebalkan!” Ana dan Kelvan mendengus saat melihat kemesraan kedua pasangan itu, membuat keduanya tertawa.
“Makanya, cepat cari pacar Van, biar kau tidak iri lagi melihat kami!” Jinny memanas-manasi Kelvan membuat laki-laki itu merenggut. Sedangkan Ana dan Rico hanya tersenyum melihat hal itu.
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam rumah Ana. Ana langsung mengantarkan kedua laki-laki itu kedalam kamar tamu.
Setelah itu mereka keluar, dan berjalan menuju ruang keluarga Ana yang luas.
“Rumahmu besar sekali An!” ujar Rico membuka suara. Sedangkan Ana hanya tersenyum.
“Rumah kak Matt dua kali lebih besar dari ini!” ujar Ana. Ketiga orang itu langsung membayangkan sebesar apa rumah laki-laki yang sangat di cintai oleh Ana itu.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan di rumah sebesar ini?” Kelvan membuka suara. Ketiga orang itu terdiam.
“Bagaimana kalau kita nonton saja?” usul Ana setelah cukup lama terdiam.
“Nonton dimana? Aku bosan dengan siaran televisi lokal!” ujar Jinny.
“Kita ke Movie room saja. Disana ada bioskop mini!” Jinny yang mendengar hal itu langsung berbinar senang.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih An?” ujar Jinny. Dia bangkit dan berjalan meninggalkan ketiga orang itu.
Ana melongo melihat Jinny yang berjalan lebih dulu.
“Memangnya dia tahu dimana ruangannya?” tanya Ana pada Rico dan juga Kelvan. Kedua laki-laki itu lantas menggelengkan kepala mereka.
“Ana, dimana ruangannya?” teriak Jinny yang membuat Ana tertawa lebar.
Ana bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri Jinny, sedangkan Rico dan Kelvan hanya mengekor dibelakang.
“Makanya, kalau tidak tahu itu, jangan sok tau Jinn!” Ana meledek Jinny membuat gadis itu mendengus kesal.
Ana berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ketiga orang itu mengekor dibelakang. Ana berjalan berbalik arah dengan kamarnya, terus berjalan hingga sampai di pojok. Dan ada sebuah pintu di sana.
Ana membuka pintu itu, dan masuk kedalamnya. Dia menghidupkan lampu, membuat ruangan yang tadinya gelap itu, kini menjadi terang.
“Waahh, ini mengagumkan!”
****
Ana berjalan menuruni tangga. Tujuannya saat ini adalah dapur. Ketiga temannya tadi saat ini sedang menikmati tontonan mereka, jadi dia berniat untuk mengambil camilan dan juga minuman.
Ana membuka kulkas besar yang lebih tinggi dari dirinya. Dia mengambil beberapa botol minuman bersoda dari sana. Lalu meletakkannya di atas meja.
Ana juga membuka lemari yang ada di dapur. Banyak makanan ringan yang tersimpan didalamnya. Ana mengeluarkan cukup banyak makanan itu, dan mengumpulkannya di atas meja.
“Biar bibi bantu Nona.” bibi Joan yang datang dari arah dapur kotor membantu Ana mengangkat makanan-makanan itu.
“Terimakasih Bi, bantu Ana membawanya ke Movie room.” Bibi Joan mengangguk. Dia berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Ana di belakang.
“Tuan muda?” bibi Joan tiba-tiba berhenti, dan memanggil seseorang yang membuat Ana mendongak.
“Kak Matt?!” ujar Ana kaget.
“Bibi lanjut saja mengantarnya Nona?” bibi Joan berusaha untuk menghindar dari kedua orang itu. Ana mengangguk mempersilahkan.
“Kak Matt, kenapa tidak memberitahu Ana, kalau kakak kemari?” Ana menatap Matt yang sudah berganti pakaian dengan pakaian santai. Bukan pakaian kerja seperti yang digunakan oleh laki-laki itu saat dia ke rumah Ana tadi siang.
“Iya, Uncle David meneleponku, kalau teman-temanmu kesini, jadi dia menyuruhku untuk datang kesini, dan menemani kalian!”
Ana menggigit bibirnya saat mendengar jawaban Matt. Dia tidak berpikiran seperti itu. Dan juga, dia tidak mengajak kekasihnya itu untuk datang kesini, malah Daddy -Nya yang menelpon Matt untuk meminta tolong padanya.
“Ana minta maaf kak Matt. Aku lupa memberitahu kak Matt tadi!” Matt menggeram marah saat Aja mengigit bibirnya seperti itu. Dia mengepalkan tangannya kesal.
“Jangan gigit bibirmu Ana!” desis Matt dengan suara tajam. Ana mendongak menatap Matt yang lebih tinggi darinya.
“Kenapa?” tanya Ana polos. Matt hanya menghela napas saat melihat Ana yang bertanya seperti itu.
“Jangan gigit bibirmu. Aku tidak tahan jika kau terus menggigit bibirmu Ana.” mata Ana membulat saat mendengar perkataan Matt. Dia ingat, kalau laki-laki itu juga pernah melarangnya untuk itu.
“Tapi Ana suka seperti ini?” ujar Ana dengan senyuman menggoda. Bahkan botol minuman soda masih dia genggam dengan baik.
“Lupakan! Ayo, aku antar kau ke atas!” Ana terkekeh kecil saat melihat wajah Matt yang kesal. Dia mengikuti Matt yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.
“Kau tidak boleh meminum minuman itu! Perutmu masih terluka!” Matt memperingati Ana yang mengekor dibelakangnya. Sedangkan Ana hanya mengangguk patuh.
“Iya kak!” ujar Ana lemah.
“Dan satu lagi, kau tidak boleh dekat dengan teman laki-lakimu itu!”
“Laki-laki mana?”
“Menurutmu?”
“Kelvan?”
“Entahlah, aku tidak tahu namanya?”
“Kak Matt cemburu?” Matt yang berjalan didepan Ana berhenti. Membuat gadis itu menabrak punggungnya yang kokoh.
“Ih kak Matt, hidung Ana sakit!” Matt tidak mempedulikan Ana.
“Apa kau cemburu saat aku dekat dengan perempuan lain?” Matt membalikkan pertanyaan Ana.
“Ya tentu saja Ana cemburu!” ujar Ana ketus.
“Sudah tau jawabannya?”
“Ya. Kak Matt cemburu!”
“Gadis pintar!” Matt mengusap puncak kepala Ana. Membuat gadis itu mendengus.
“Untuk mengatakan cemburu saja, dia masih berbelit-belit. Dasar Matt batu!” rutuk Ana mendengus.
.
.
.
.
.
____