Ana

Ana
9



Ambulance berhenti tepat di lobi rumah sakit, para suster yang berjaga di sana langsung membawa brangkar untuk membaringkan Matt dan Ana lalu membawa mereka ke ruang operasi. Hal yang sama juga berlaku untuk sopir truk yang bernasib sama seperti Matt dan Ana.


“Astaga Dokter, ini Tuan muda Matteo!” suster yang mendorong Matt mengatakan hal mengejutkan ini pada dokter yang membantunya.


“Ya ampun. Cepat beritahu Tuan Max kalau Tuan muda kecelakaan! Mereka ada di ruang tunggu persalinan!” perawat yang lainnya mengangguk untuk menjalankan perintah Dokter tersebut, dia berjalan membelok menuju lift untuk bisa sampai di ruang persalinan yang berada di lantai tiga rumah sakit tersebut.


Matt, Ana, dan sopir truk yang bertabrakan dengan mereka juga dibawa ke ruang operasi, dan darah tidak berhenti mengalir dari kepala Ana membuat tubuh mungil itu pucat karena kehilangan banyak darah.


Sementara di tempat lain, masih di sisi rumah sakit besar itu, Max yang kala itu sedang panik karena menunggu Mattea melahirkan, yang di bantu oleh Thomas, langsung terkejut saat di beritahu oleh suster kalau Matt kecelakaan bersama dengan seorang gadis.


Dan David yang ada di sana langsung merasakan feeling kalau gadis yang dimaksud adalah putrinya.


Max, Stef, dan David berlari tergesa-gesa menuju ruang operasi. Ketiga orang itu sangat syok saat mendengar berita yang disampaikan oleh suster.


Berjalan masuk kedalam lift, Max dan yang lainnya tiba di lantai dasar, mereka langsung berjalan menuju ruang operasi yang ada di pojok.


Melihat lampu operasi yang sudah menyala membuat ketiganya semakin cemas.


Jinny yang melihat ada David mendekat pada ketiga orang tua itu, diikuti oleh Arion dan Erick.


“Uncle ...” Jinny meremas tangannya kasar. Dia menatap David iba.


“Kau temannya Ana kan?” tanya David saat mengenali wajah dari sahabat anaknya itu.


“Iya Uncle, Ana ada di dalam, dia sedang, di operasi bersama dengan kak Matt!” David, Max, Stef yang mendengar hal itu langsung mengusap kasar wajahnya mereka. Stef langsung menangis didalam pelukan Max.


“Bagaimana ini Max, aku takut Matt dan Ana kenapa-napa,” Stef menangis, dia tidak menyangka putra satu-satunya akan mengalami kecelakaan seperti ini.


Tidak lama setelah itu, datang dua orang polisi mendekat pada mereka.


“Selamat siang Tuan Max, Tuang David, dan Nyonya.” polisi tersebut menyapa ketiganya dengan sopan.


“Jelaskan, apakah ini murni kecelakaan, atau ada yang menyabotase kecelakaan ini?!” Max bicara dengan tegas, polisi itu menelan ludah gugup. Mereka tidak menyangka, kalau akan berurusan dengan seorang Maxim.


Bahkan mereka sangat menyayangkan sekali kecelakaan ini.


“Menurut pemeriksaan kami, kecelakaan ini terjadi karena Tuan Matteo tidak dapat mengendalikan mobilnya karena mengalami rem blong. Dia membanting stir dan menabrak truk yang sedang melaju berlawanan arah.” polisi tersebut menjelaskan dengan lugas.


“Berarti ada yang menyabotase mobil anakku?” polisi tersebut mengangguk.


“David, telpon Nicko, Stella dan Arthur. Suruh mereka menyelidiki hal ini! Aku mau pelakunya di tangkap segera, biar aku yang memberikannya pelajaran!” David mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Nicko. Dia sama marahnya dengan Max. Karena putrinya pun mengalami hal yang sama dengan Matteo, bahkan lebih parah.


“Holla, Nick, kau cari tahu tentang dalang kecelakaan Matt dan Ana segera. Bawa Stella dan Arthur bersamamu!” Nicko yang berada di seberang sana tentu saja terkejut dengan perkataan David.


Dirinya masih bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi. Dia tidak ingin bertanya lebih pada David, dan langsung mengiyakan saja perkataan laki-laki itu. Sambungan telepon terputus.


“Kalian selidiki kasus ini sampai tuntas. Aku mau pelakunya tertangkap secepatnya!”


Setelah mengatakan hal itu, polisi yang mendapat perintah tersebut akhir berlalu dari sana.


“Max, bagaimana dengan Matt dan Ana, aku tidak mau mereka kenapa-napa!” Max memeluk Stef yang sedang menangis. Dia sama cemasnya dengan wanita itu, tapi dia tidak boleh lemah, karena jika ia lemah, maka tidak akan ada tempat untuk Stef bersandar.


Jinny, Arion, dan Erick yang mendengar perkataan polisi tadi, tidak habis pikir dengan orang yang berani-beraninya menyabotase mobil Matt. Apa orang itu tidak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Melihat kemarahan Max barusan, membuat ketiganya ngeri.


Setelah beberapa lama, seorang Dokter yang juga menangani ketiga korban kecelakaan tersebut keluar dari ruang operasi.


“Dokter, bagaimana dengan anak-anak kami?” David bertanya terlebih dahulu. Dia sangat mencemaskan putrinya dan juga kekasih dari putrinya itu.


“Maaf Tuan David, Tuan Max, dan Nyonya Stefani. Keadaan Tuan muda Matteo sudah mulai stabil karena tidak mengalami luka dalam yang fatal. Dia akan kami bawa menuju ruang perawatan. Dia hanya mengalami patah tulang di bagian kaki karena terjepit dengan badan mobil.” Max dan Stef bernapas lega saat mendengar hal itu. Sedangkan David juga mengucapkan syukur saat Tuan mudanya selamat. Dan kini dia berdebar mendengar pernyataan Dokter untuk anaknya.


“Dan untuk nona yang bersama dengannya, dia mengalami pendarahan di kepala,” David merasa dunianya runtuh seketika saat mendengar hal itu. Dia di bantu Max untuk tetap berdiri tegak karena dia merasa kakinya tidak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.


“Kuatlah David,”


“Aku takut dia kenapa-napa Max, dia duniaku!” David rasanya tidak dapat mengatakan apa-apa saat ini. Hatinya hancur saat mendengar kondisi putri semata wayangnya itu.


“Lanjutkan Dokter, bagaimana kondisinya putriku itu!” Max yang bertanya seperti itu. Dokter yang menjelaskan hal tersebut menelan saliva gugup.


“Kami sudah menghentikan pendarahan itu Tuan, dan dia juga kehilangan banyak darah. Jadi saat ini kami sedang memberikan transfusi darah golongan A resus negatif padanya. Dan kami sudah memberikan tiga kantong darah, dan kini sedang kekurangan satu kantong karena stok darah dengan golongan tersebut sudah habis.”


“Ambil darahku Dokter, dia anakku! Ayo cepat, aku tidak mau putriku kenapa-napa!” Dokter tersebut dengan takut mengangguk.


“Baik. Mari kita cek terlebih dahulu!” David mengikuti Dokter itu untuk masuk kedalam ruang operasi.


Saat David sudah masuk, ponsel Max berdering, ada panggilan masuk dari Thomas.


“Hallo,”


“Hei, dimana kau Max, putriku sudah lahir, dan kalian menghilang!” Max mengusap wajah kasar saat mendengar perkataan Thomas. Karena terlalu panik saat mendengar Matteo kecelakaan, dia bahkan tidak mengingat kalau kini putrinya juga sedang berjuang melawan maut.


“Kalian pulang saja. Kami akan menjaga Matt dan Ana disini. Kalian istirahatlah! Bagaimanapun, kalian juga belum dapat menemui mereka berdua saat ini.” perkataan Max yang memang benar itu membuat ketiga teman anaknya itu menganggukkan kepala mereka.


“Baik Uncle,” ketiga menurut, lalu berjalan meninggalkan Max dan Stef disana.


“Kita melihat Mattea sebentar Stef, sembari menunggu Matt di pindahkan!” Stef dengan mata yang memerah itu mengangguk mendengar perkataan Max.


Kedua orang itu berjalan menuju lift untuk bisa sampai di lantai ruang persalinan.


Max dan Stef keluar dari dalam lift. Mereka masuk kedalam ruangan tempat Mattea melahirkan itu. Tapi sebelum itu, Stef terlebih dahulu mengusap matanya agar tidak ketahuan kalau habis menangis.


“Holla Baby ....” Max mencium kening Mattea. Kedua orangtua itu sudah bersepakat untuk tidak memberitahu Mattea tentang Matt dan Ana terlebih dahulu.


“Holla Princess ....” Max mencium kening cucunya yang masih merah itu yang berada di dalam gendongan Mattea.


“Kau kemana Max, kenapa tiba-tiba menghilang?” Thomas dapat merasakan kalau saat ini Max sedang tidak tenang, “dimana David?” sambung Thomas bertanya


“Dia kebawah, untuk membeli sesuatu!” Max tentu saja berbohong, karena sahabatnya itu saat ini sedang membantu anaknya yang berjuang antara hidup dan mati.


Dan Thomas tahu, kalau saat ini Max sedang berbohong. Dia akan memaklumi itu, dan menanyakannya nanti.


“Mom, aku tidak menyangka kalau melahirkan ternyata sesakit itu?!” Mattea menatap Stef dengan mata yang memerah. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana Mommy-nya itu melahirkan dia dan Matteo saat itu.


Ngomong-ngomong tentang Matteo, Mattea jadi merindukan kembarannya itu.


“Mom, Dad, dimana Matt? Apa dia tidak mau melihat keponakannya?” wajah Stef langsung menyendu saat Mattea menanyakan hal itu.


“Mungkin masih di jalan sayang, mungkin sebentar lagi dia tiba. Kau sebaiknya istirahat saja. Lihatlah cucu Mommy, dia sangat mengantuk sepertinya,” Stef mengalihkan pembicaraan. Dia melihat wajah cucunya yang cantik itu. Mattea menganggukkan kepalanya. Dia melepaskan bibir kecil putrinya dari p*ting susunya. Dan menyerahkan bayi mungil itu pada Stef untuk memasukkannya kedalam boks bayi.


****


Saat ini Mattea sedang beristirahat dan tertidur pulas karena dia menghabiskan banyak tenaga saat menahan rasa sakit ketika akan melahirkan.


Max, Stef, dan Thomas keluar dari ruang perawatan Mattea.


“Jadi, apa yang terjadi Max?” Thomas memang yang paling peka dengan keadaan Max.


“Matt dan Ana kecelakaan Thomas!” Thomas begitu terkejut saat mendengar hal itu. Dia menatap Max tidak percaya, tapi saat melihat mata sendu Stef, dia menjadi yakin kalau apa yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah benar.


“Bagaimana bisa? Lalu bagaimana keadaan mereka?”


“Matt tidak terluka terlalu parah. Dia kini sedang dipindahkan ke ruang perawatan. Dan Ana ....” Max tidak dapat melanjutkan perkataannya. Stef memeluknya dengan erat. Wanita itu tidak berhenti menangis saat keluar dari ruang perawatan Mattea.


“Kenapa dengan Ana, Max?” Thomas bertanya tidak sabaran. Dia menatap Max dengan perasaan cemas.


“Dia kehilangan banyak darah, dan kini David sedang melakukan transfusi darah untuknya. Dia mengalami pendarahan di kepalanya Thomas!” Thomas terduduk saat mendengar perkataan Max. Dia mengusap wajahnya kasar.


“Apa ini murni kecelakaan?” Thomas menanyakan hal itu, karena dia dapat merasakan kalau ini adalah sabotase seseorang yang berkaitan dengan musuh-musuh Max.


“Iya, dan kini Nicko sedang menyelidikinya bersama Stella dan Arthur!” Thomas mengepalkan tangannya karena marah.


“Siapa yang berani melakukan ini?! Max, bawa aku ke tempat David!” ketiga orang itu berjalan menuju lift. Tapi sebelum masuk kedalamnya, Thomas menitipkan anak dan istrinya pada perawat yang berjaga disana.


Thomas berhenti didepan pintu ruang operasi. Mereka menunggu David untuk keluar dari dalam sana. Those duduk dengan perasaan tidak tenang. Dia menyayangi Matt dan Ana seperti anaknya sendiri. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada kedua orang itu, terlebih lagi Ana yang terdengar parah.


Tak lama menunggu, David keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sedikit pucat.


“Bagaimana David?” tanya Max langsung. Sedangkan David hanya menggeleng lemah.


“Aku tidak sanggup melihatnya Max. Putriku pasti sangat kesakitan. Dia sangat pucat Max. Banyak selang yang dipakaikan padanya. Dia sangat lemah Max!” walaupun terlihat aneh, tapi Max tetap membawa David kedalam pelukan untuk menenangkan pria itu. Dan setelah David tenang, Max mendudukkan pria itu di kursi tunggu yang ada di sana.


“Aku tau Ana gadis yang kuat David, kau tenanglah! Aku akan membalaskan ini semua David!” mata tajam itu berkilat karena marah.


“Aku akan menghabisinya Max!” ujar David berapi-api.


“Bagaimana dengan sopir truknya?” ujar Thomas. David terdiam.


“Dia meninggal! Dan pihak ruang sakit sudah menghubungi keluarganya!” Max, Stef dan Thomas terkesiap saat mendengar hal itu. Tangan Max mengepal karena marah.


“Akan aku habisi semua yang menjadi penyebab kecelakaan ini!” geramnya dengan wajah yang memerah karena marah.


.


.


.