Ana

Ana
8



Perjalanan cinta Ana dan Matt sudah cukup lama. Kini laki-laki itu akan melakukan sidang untuk kelulusannya. Ana sangat mendukung Matt. Dia memberikan semangat pada laki-laki itu. Mattea tidak bisa ikut karena sudah mengambil cuti kuliah, karena sebentar lagi akan melahirkan.


“Kak Matt semangat,” Ana memberikan senyuman terbaiknya pada Matt membuat laki-laki itu tersenyum. Matt masuk kedalam ruang sidang dengan langkah kaki yang tegap.


Sedangkan Ana diluar menunggu bersama dengan Jinny. Kedua gadis itu mengobrol sambil bermain ponsel.


“Ana ....” Jinny memanggil Ana saat keduanya masih asik berselancar di dunia maya.


“Apa?” tanya Ana menoleh.


“Aku merasa kalau Kelvan akhir-akhir ini agak berubah!” Ana membenarkan perkataan Jinny. Dia ikut merasakan perubahan dari laki-laki itu.


“Berubah bagaimana maksudmu?” tanya Ana. Jinny mengangkat bahunya acuh.


“Entahlah, aku juga tidak tahu!” Ana mendelik pada Jinny.


“Kalau kau tidak tahu, lalu kenapa kau berkata seperti itu padaku Jinny!” Jinny hanya terkekeh mendengar perkataan Ana.


“Entahlah An, perasaanku tidak enak tentang dia!”


“Eh? Kau menyukai dia?” tanya Ana dengan raut wajah kaget, dan itu sangat menyebalkan menurut Jinny.


“Kau ini benar-benar ya! Mana mungkin aku suka padanya! Aku itu sudah terlalu cinta pada Rico, jadi aku tidak akan menyukai laki-laki lain!” Jinny melipat tangannya didepan dada dengan angkuh. Sedangkan Ana hanya mendelik mendengar perkataan sahabatnya itu.


“Bucin!” ujar Ana ketus.


“Apa katamu? Bucin?” Ana mengangguk.


“Kalau aku bucin, lalu kau apa? Bicin?”


“Haha, baiklah, kita sama-sama bucin!”


Melihat Ana yang tertawa, Jinny ikut tertawa.


“Tapi An, sungguh perasaanku tidak enak pada Kelvan!” Jinny bicara serius lagi, Ana juga ikut menatap gadis itu dengan serius.


“Entahlah, semenjak aku menganggap perasaannya itu lucu waktu itu, aku merasa dia menjaga jarak dariku!”


“Eh? Dia suka padamu?” Jinny sebenarnya sudah tahu ini, tapi tidak menyangka kalau Kelvan akan mengatakannya pada Ana.


“Ya, dia sendiri yang bilang!” Jinny menghela napas.


“Mungkin dia menjaga jarak, karena tidak mau perasaannya menjadi semakin besar padamu.” ujar Jinny. Ana membenarkan perkataan sahabatnya itu.


“Ah, mungkin ini hanya firasatku saja!” gumam Jinny dengan suara yang kecil, hingga Ana tidak mendengarnya.


Cukup lama Ana dan Jinny menunggu Matt. Dan kini laki-laki itu sudah keluar dari ruang sidang dengan senyum cerah.


“Bagaimana kak?” tanya Ana antusias. Dia bahkan sampai berdiri di samping Matt dengan semangat.


“Ya, semuanya lancar!”


Ana tersenyum senang, hingga dia tidak sadar dan memeluk Matt membuat laki-laki itu membalas pelukannya dengan canggung. Sedangkan Jinny menggelengkan kepala melihat perilaku sahabatnya itu.


“Ayo traktir kami kak!” ujar Ana dengan semangat.


“Baiklah, ayo!” Matt mengiyakan perkataan Ana begitu saja membuat gadis itu kegirangan.


“Ayo Jinn!” Jinny mengekor dibelakang Matt.


Mereka berjalan menuju kantin.


“Matt ....” Arion dan Erick mendekat pada Matt dan juga pada kedua gadis yg mengikutinya ke kantin untuk mengisi perut mereka.


“Hei, bagaimana sidang kalian?” tanya Matt pada kedua temannya itu.


“Ya begitulah, lumayan lancar!” Matt terkekeh kecil mendengar perkataan Arion.


“Kak Arion, kak Erick, ayo ikut kami. Jajan di kantin, kak Matt yang traktir!” ujar Ana dengan sangat bersemangat mengajak kedua laki-laki yang menjadi teman Matt itu.


“Hei, aku itu cuma mau mentraktir kalian berdua, bukan mereka juga!” Ana mendelik mendengar perkataan Matt.


“Kak Matt ini pelit sekali! Uang kakak itu sangat banyak, hanya untuk mentraktir saja, perhitungan sekali!” gerutu Ana, membuat mereka semua terkekeh.


“Tanganmu Rick!” sentak Matt kesal, yang membuat Arion dan Erick terkekeh. Sedangkan Jinny hanya diam melihat perdebatan mereka.


“Slow Man. Aku hanya menganggapnya adik, kau tenang saja!” Erick terkekeh saat Matt memalingkan wajahnya.


“Sudah, ayo kita ke kantin. Aku keburu lapar!” Arion menengahi mereka. Semuanya mengangguk, lalu mereka melanjutkan jalan menuju kantin.


Ana duduk di samping Matt, dan juga Jinny. Posisinya saat ini berada di tengah-tengah. Mereka memakan makanan yang sudah mereka pesan tadi.


Saat sedang asik makan, terdengar suara ponsel Matt berdering. Matt merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


“Hallo Mom?” sapa Matt saat mengangkat telepon yang ternyata dari Mommy-nya itu.


“Matt, kau ke rumah sakit sekarang, Mattea akan melahirkan!” suara wanita paruh baya yang terdengar panik itu membuat Matt terkejut.


“Apa?” ujar Matt kaget.


Sebenarnya, persalinan Mattea itu sudah mundur beberapa Minggu. Karena sudah melewati waktu yang di perkirakan oleh dokter. Dan Matt tidak menyangka kalau adik kembarnya itu akan melahirkan sekarang.


“Baik Mom, Matt kesana sekarang!” Matt mematikan sambungan teleponnya saat mendengar kata baiklah dari sang Mommy.


“An, ayo kita ke rumah sakit. Mattea akan melahirkan!” Ana ikut terkejut mendengar perkataan Matt. Begitupula dengan Jinny, Arion dan juga Erick.


“Kami ikut Matt!” ujar Erick, di angguki oleh Arion dan Jinny tentunya.


“Kalian habiskan saja makanannya dulu. Lalu menyusul ke rumah sakit Daddy. Kami pergi dulu!” Matt mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya, lalu meletakkan di atas meja. Sebelum beranjak pergi, Ana menyempatkan untuk meminum jus melon miliknya membuat Jinny menggeleng.


“Ayo kak,” ujar Ana bersemangat.


Ana dan Matt berjalan meninggalkan kantin. Ketiga orang yang tertinggal tersebut memakan makanan mereka dengan cepat, agar bisa menyusul Matt dan Ana.


Ana dan Matt berjalan menuju mobil Matt yang terparkir di parkiran kampus. Kedua orang itu masuk kedalam mobil lalu Matt mengemudikannya keluar dari area kampus.


“Jinn, kau mau ikut kami?” Jinny yang ditanya seperti itu hanya mengangguk. Mereka sudah menghabiskan makanan yang dibelikan orang Matt itu.


“Ayo!” ujar Erick. Jinny ikut berdiri saat kedua laki-laki itu berdiri. Arion terlebih dahulu membayar makanan mereka dengan uang yang di tinggalkan oleh Matt tadi.


Ketiga orang itu berlari menuju parkiran, dan Erick mengajak Jinny naik ke mobilnya saja. Dan Jinny mengiyakan, karena tidak mungkin dia minta Rico untuk mengantarkannya karena laki-laki itu ada urusan, dan karena itu ia tidak datang ke kampus.


Mobil Erick meninggalkan area kampus, diikuti oleh mobil Arion di belakang. Erick menatap fokus ke jalanan yang ada di depannya. Begitu juga dengan Jinny.


Kerumunan orang yang ada di jalan menghambat laju mobil mereka.


“Sepertinya ada kecelakaan?!” Jinny mengangguk mendengar perkataan Erick.


“Iya kak, apa kita cari jalan lain saja. Sepertinya jalannya di tutup?!” Erick mengangguk. Dia hendak memutar mobilnya, tapi sebelum itu dia melihat Arion yang keluar dari dalam mobil yang membuat Erick ikut keluar mobil.


“Ada apa?” tanya Erick.


“Bukankah itu mobil Matt?” Erick langsung melihat pada kerumunan orang tersebut. Mereka sedang berusaha untuk mengeluarkan korban kecelakaan dari badan mobil yang ringsek karena bertabrakan dengan truk.


Erick dan Jinny melebarkan mata mereka saat menyadari kalau itu memang mobil Matt. Ketiga orang itu lalu berjalan menuju kerumunan tersebut, dan menganga tidak percaya saat melihat orang yang bersimbah darah yang sedang di masukkan kedalam ambulance tersebut adalah Matt dan Ana.


“Kak ... Kak i—itu Ana dan K—kak M—matt!” Jinny terbata-bata saat mengatakan hal tersebut. Begitupula dengan Erick dan Arion yang sama syoknya dengannya.


“Pak ... Pak itu teman kami, bawa mereka ke rumah sakit Luciano!” sopir ambulance tersebut mengangguk saat Erick mengatakan hal tersebut, karena mereka memang akan membawa kedua orang itu ke ruang sakit besar itu. Dan supir truk yang mengalami nasib sama seperti Matt dan Ana juga akan dibawa kesana.


Kerumunan orang itu memberi jalan mobil Arion dan Erick untuk mengikuti ambulance yang membawa teman mereka ke rumah sakit.


“Ya Tuhan, tadi darahnya banyak sekali! Aku takut Ana kenapa-napa kak!” Jinny memegang tangannya dengan erat. Dia menatap ambulance yang melaju kencang di depan sana itu dengan perasaan yang penuh dengan kecemasan begitu juga dengan Erick yang sedang duduk di kursi kemudi.


“Kita berdoa saja, supaya mereka selamat, dan tidak apa-apa!” Jinny menghela napas. Dia melafalkan doa dalam hatinya.


“Iya kak, tapi aku takut terjadi sesuatu dengan Ana. Karena dia terlihat sangat parah, bahkan lebih parah daripada kak Matt, kepalanya mengeluarkan banyak darah!” Jinny tidak dapat membayangkan seperti apa nantinya. Tapi yang jelas, kini dia sangat mendoakan Ana dan Matt agar keduanya baik-baik saja.


“Aku juga cemas dengan itu Jinn. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana dengan keluarga mereka nanti. Apalagi kini Mattea juga sedang bertahan antara hidup dan mati untuk melahirkan. Kita berdoa saja supaya mereka tidak apa-apa!” Jinny mengangguk.


.


.