Ana

Ana
10



Matt sudah di pindahkan ke ruang perawatan, dan kakinya sudah dipasangkan gips.


Mattea yang terus saja bertanya dimana kembarannya itu, akhirnya diberitahu kalau Matt mengalami kecelakaan, membuat perempuan yang baru menjadi ibu itu terkejut dan juga syok. Dan dia juga bertambah syok saat tahu, kalau kakak kembarnya itu kecelakaan bersama dengan Ana.


“Bagaimana kondisi Matt, Mom?” Mattea dengan tidak sabaran bertanya pada Stef. Dia belum dibolehkan untuk banyak bergerak, jadinya dia tidak bisa untuk menjenguk kakaknya itu.


“Dia sudah di ruang perawatan Atea, kata dokter sebentar lagi dia akan sadar,” tenggorokan Stef rasanya tercekat. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada anaknya, dan juga Ana nanti. Tapi dia selalu berdoa semoga Tuhan menyelamatkan mereka berdua.


Stef menyuruh Mattea untuk istirahat lagi, agar ASI-nya cepat keluar, sementara Max, David dan Thomas ada di lantai bawah.


Max sedang berada di ruang Matt, laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan sangat marah, saat melihat anaknya terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan mata yang masih terpejam.


“Wake up Boy, kau tidak mau melihat keponakanmu? Dia sudah lahir, dan sangat cantik seperti adikmu. Untung saja dia perempuan, bukan laki-laki. Kalau tidak, aku tidak mau dia seperti Uncle mu itu,” Max terkekeh saat mengatakan kata-kata terakhir.


Max duduk di kursi yang ada di samping ranjang itu, matanya memerah. Seumur-umur, baru kali ini dia melihat anak laki-lakinya itu tampak sangat tidak berdaya seperti ini, dengan kaki yang di pasangkan gips.


“Matt, kau harus bangun. Berikan Ana semangat hidup. Dia sedang berjuang untuk hidup sekarang Matt. Kau harus cepat sadar, dan berikan dia semangat!” manik hitam pekat itu menatap anaknya pedih. Dia mengusap matanya yang sudah memerah.


Max keluar dari ruang perawatan Matt, jika lama-lama di sana, dia tidak akan sanggup untuk bertahan lebih lama lagi, saat melihat kondisi anaknya itu. Max keluar untuk menemui David yang sedang menunggu operasi Ana selesai. Dia melihat David duduk di bangku tunggu dengan tangan yang menopang dagu.


“David, apa kau tidak mau memberitahu Aira?” David terkesiap saat mendengar pertanyaan Max. Dia menoleh pada Max sebentar. Lalu dia menggeleng lemah.


“Aku tidak sanggup Max, aku takut dia akan hancur! Aku tidak sanggup untuk melihatnya seperti itu!” Max menghela napas. Dia duduk di samping David, sedangkan Thomas saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.


“David, walau bagaimanapun, Aira tetap harus tau. Ana adalah anaknya, dia akan tambah hancur jika tidak diberitahu. Sebaiknya kau beritahu dia!” Max memegang pundak David, dia berusaha untuk meyakinkan laki-laki itu. Walaupun dia sudah bisa membayangkan bagaimana hancurnya wanita itu, tapi dia tetap harus diberitahu.


“Tapi Max ....” David masih berusaha untuk menolak, tapi Max langsung menggelengkan kepalanya tanda tidak menerima penolakan dari David.


David menghembuskan napas kasar. Dia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya dari sana.


David menekan nomor sang istri, lalu mendealnya dan terdengar suara nada sambung disana.


“Hallo,” nada suara Aira yang cemas, membuat David meringis. Wanita itu pasti merasakan sebuah firasat tentang anak gadisnya.


“Hallo sayang ....” nada suara David yang serak, membuat Aira semakin cemas.


“David, ada apa? Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada anak kita Ana, dimana dia sekarang David? Aku sudah menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif?!” David menghela napas mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Aira. Dia menatap Max yang menganggukkan kepalanya.


“Ana ada di rumah sakit Sayang ....”


Hening ....


David melihat ponselnya, masih tersambung.


“Hallo? Aira? Kau masih disana?” David tentu saja panik, dia berdiri dari duduk dan berjalan mondar-mandir di depan Max.


“Aira? Sayang, kau masih disana?” David memanggil berkali-kali, hingga akhir suara Aira menyahut.


“Dia di rumah sakit mana?” suara isak tangis itu membuat David semakin mencengkram tangannya erat. Dia berjanji, akan menghabisi siapapun yang berada di balik ini semua!


“Rumah sakit Max, kesini saja. Suruh paman Crish mengantarmu! Aku tidak bisa meninggalkan Ana disini,” walaupun David tidak dapat melihat anggukan kepalanya. Aira tetap mengangguk. Setelah mengatakan iya, sambungan telepon tersebut akhirnya terputus.


David kembali duduk di samping Max yang ternyata juga sedang menelepon seseorang yang mungkin adalah orang suruhan Max. David duduk diam di kursi tunggu. Sungguh dia tidak tahu, harus melakukan apa sekarang. Pikirannya kacau, yang ada di benaknya hanya ada satu, yaitu kesembuhan anaknya.


“Dokter, bagaimana keadaan anakku?” David langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. Max dan Thomas juga ikut mendekat saat mereka sudah mematikan telepon mereka.


“Operasinya berjalan lancar. Kondisi pasien sudah mulai stabil mungkin beberapa hari ke depan, pasien akan sadar!” David mengusap wajahnya kasar. Dia meninju dinding saat Dokter yang tampak kelelahan itu pamit pada ketiga laki-laki itu.


“Max, aku takut Ana kenapa-napa! Dia belum pernah mengalami kecelakaan seperti ini Max, aku takut dia tidak akan sanggup menahan sakitnya. Kenapa harus dia Max? Kenapa bukan aku saja yang disana, sungguh aku tidak sanggup!”


Air mata yang tadi di tahan oleh David, akhirnya tumpah juga. Dia sangat tidak sanggup melihat anaknya yang terbaring tidak berdaya seperti itu. Dan Max sangat memahaminya kerapuhan David saat ini. Dia membawa laki-laki itu duduk dan menenangkannya, disaat dia juga tidak bisa tenang dengan kondisi putranya sendiri. Tapi dia sadar, keadaan Ana jauh lebih parah dari Matt.


“Ana pasti kuat David. Aku tau dia gadis yang kuat. Dia pasti akan sadar, yang penting kita berdoa saja sekarang, semoga dia baik-baik saja, dan cepat sadar.” Max menepuk-nepuk pundak David untuk memberikan laki-laki itu semangat.


“Kau harus kuat, karena kalau kau seperti ini, pasti Ana juga akan sedih melihatmu. Kau harus memberikan dia semangat hidup. Kau harus mendukungnya, jangan seperti ini. Kalau kau seperti ini, lalu siapa yang akan menguatkan dia? Kau ayahnya David, jadi kau harus kuat untuk putrimu!”


David sudah mulai sedikit tenang mendengar perkataan Max. Sedangkan Thomas, dia tidak tahu ingin melakukan apa. Karena dia tidak bisa menenangkan kedua orang yang sama-sama rapuh ini.


Ponsel yang ada di genggaman Thomas berdering. Dia menjauh dari David dan Max, saat orang yang menelponnya adalah Nicko.


“Holla?” sapa Thomas saat dia mengangkat telepon tersebut. “Apa kau sudah menemukannya?” tanya Thomas langsung.


“Sudah!” jawab Nicko singkat.


“Katakan!” ujar Thomas tegas.


“Temannya Nona Ana, Kelvan!”


“Apa?” tanya Thomas terkejut. Max dan David langsung menatap padanya. Dan laki-laki itu sedikit takut, saat Max mendekat padanya dengan langkah lebar.


“Berikan!” ujar Max tegas. Thomas tidak dapat menolak, dia memberikan ponsel itu pada Max, laki-laki itu merutuki mulutnya yang tidak bisa di kontrol.


“Katakan Nick!” ujar Max. Nicko yang mendengar suara Thomas yang berubah menjadi Max pun, bertambah gugup. Dia menghirup udara dengan kasar, sebelum menjawab pertanyaan Max.


“Kecelakaan itu, didalangi oleh teman Nona Ana, Bos. Dia memiliki dendam pada Anda dan Tuan David!” Max mengepalkan tangan saat mendengar perkataan Nicko.


“Namanya!” ujar Max dingin.


“Kelvan!” ujar Nicko singkat.


“Hanya itu? Tidak ada nama panjang?” mendengar jawaban Nicko yang mengatakan tidak membuat Max menghela napas.


“Dia menghapus nama belakangnya?” tanya Max lagi.


“Iya Bos, tapi saya sudah tau. Dia Kelvan Jackie Arbinson!” Max sedikit terkejut mendengar nama itu. Dia menghela napas gusar.


“Tangkap dia! Bawa dia ke hadapanku hidup-hidup!” Max mematikan sambungan telepon tersebut saat mendengar kata siap dari Nicko.


“Bagaimana Max?” tanya David cepat. Max menatap laki-laki itu dengan tatapan gusar.


“Pelakunya, anak Jackie Arbinson!” David juga sedikit terkejut mendengar perkataan Max.


“Cih, dasar bocah tidak tahu terimakasih!” decih David mengepalkan tangannya.


.....