
“Matt?” seorang wanita yang seumuran dengan Matt mendekat pada laki-laki yang baru saja memasuki kafe dengan ornamen mewah itu.
“Hemm? Ada apa lagi?” Matt mengacuhkan perempuan yang bergincu merah tebal di depannya. Dia duduk disalah satu meja yg ada di kafe itu, melipat tangannya di dada dan auranya terlihat sangat mendominasi.
Pemuda dengan pakaian kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku dan berwarna putih bersih itu menarik perhatian banyak perempuan yang makan di kafe tersebut.
Mereka tak berkedip saat Matt melewati meja mereka tadi. Langkah tegap yang di ayunkan Matt tampak sangat seksi dan elegan.
“Akhirnya kau datang juga, aku sangat merindukanmu Matt.” wanita itu hendak memeluk Matt tapi langsung di tepis oleh laki-laki tampan yang sudah dia tunggu. Dan bibirnya yang cemberut langsung menghiasi wajahnya.
“Langsung saja, ada apa kau menyuruhku kemari? Kau tau, kau membuang waktuku yang berharga!” Matt melipat tangannya di dada, mata hitam pekat itu menatap wanita yang duduk didepannya dengan tajam.
“Matt, kau tau kan? Aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak mau mengajakku main atau jalan-jalan?” mengabaikan tatapan Matt, wanita itu menatap Matt dengan berharap.
“Ck, kau menyuruhku kemari hanya untuk mengatakan hal ini?” Matt berdecak kesal. Tadi wanita yang ada di depannya ini memohon untuk menyuruhnya datang kemari, hanya untuk mengatakan hal itu? Sialan!
“Matt, tapi ini sangat penting. Aku memang benar merindukanmu. Aku baru saja kembali ke Jerman, kau tidak menyambutku!” bibirnya yang merah, mengerucut sebal. Dia menatap Matt kesal. Selain Ana, hanya wanita itu, yang mampu bicara seperti ini pada Matt.
“Untuk apa aku menyambutmu?! Dimana pacar kesayanganmu itu?” Matt bicara dengan nada malas. Dia sudah terlanjur datang kesini atas permintaan wanita yang ada didepannya ini.
“Ck, jangan bahas dia!” Matt menatap heran, setelah itu dia menghela napas. Inilah yang di malaskan oleh Matt, jika menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Wanita itu menurutnya adalah makhluk yang merepotkan, terkecuali Mommy dan Adiknya tentunya. Dan jangan lupakan, si kecil Ana. Gadis yang sudah merubah hari-hari Matt menjadi lebih berwarna.
“Bertengkar kenapa lagi kalian?” tanya Matt yang sudah tahu kebiasaan kedua orang itu. Wanita yang ada di depannya hanya menghela napas kesal. Dia mengaduk minumannya dengan tidak bersemangat.
“Dia itu terlalu cemburuan Matt, dan aku tidak suka.” jawabnya cemberut.
“Tidak suka kau bilang? Dasar wanita!” tukas Matt sinis. Padahal dulu, gadis yang ada di depannya inilah, yang mengejar-ngejar pacarnya itu.
Tanpa mau mendengar respon wanita itu, “Aku mau pulang dulu! Kau menelpon hanya untuk mengatakan ini? Sungguh merepotkan!” Matt berdiri dari duduknya. Dia hendak membalikkan badan, tapi di tahan oleh wanita yang ada di depannya ini.
“Hei, tunggu. Beri aku ciuman selamat datang dulu!” wanita itu memegang tangan Matt, membuat laki-laki itu kembali berdecak kesal.
“Tidak ada ciuman yang seperti itu!” tukas Matt.
“Ck, lama!”
Wanita itu langsung mencium Matt di pipinya tanpa aba-aba, membuat perempuan yang ada di kafe itu, menahan pekikan mereka. Mereka semua menatap tajam pada wanita bergincu tebal itu, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
“Kau memiliki banyak penggemar wanita Matt!” setelah memberikan ciumannya di pipi laki-laki yang sudah menggeram marah itu, wanita cantik yang ada di samping Matt tersebut hanya terkekeh melihat respon gadis-gadis yang ada di kafe itu, saat melihat dia mencium Matt tadi.
“Kau lihat, mereka seperti mau memakanku!” ujarnya tergelak.
“Diam kau!” geram Matt dengan tangan yang terkepal.
Matt berdiri dari duduknya, dia berbalik hendak berjalan, tapi langkahnya mendadak berhenti karena melihat tatapan kecewa dari seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
“Hai kak Matt?!” Ana mendekat dengan tersenyum tipis. Dia melihat pipi Matt yang mempunyai bekas lipstik. Lalu Ana menghapus bekas lipstik itu dengan tisu yang dia ambil dia dalam tasnya, lalu tersenyum pada Matt. Sedangkan laki-laki itu hanya terdiam dengan apa yang Ana lakukan barusan.
“Kau sudah lama? Sedang apa disini?” Matt menormalkan ekspresinya. Dia sendiri seperti seorang laki-laki yang sedang tertangkap berselingkuh oleh kekasihnya. Dia ingin mengatakan pada Ana agar tidak salah paham, tapi lidahnya tidak mau untuk di ajak berkompromi.
“Tidak, tadi aku ingin bertemu Jinny disini, tapi sepertinya dia tidak jadi datang.” Ana menjawab dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak melihat wanita yang ada di dekat laki-laki yang dia cintai itu.
“Benarkah?” tanya Matt memicing tidak percaya.
“Tentu, ya sudah Ana pulang dulu!”
“Hei, kau tidak mau mengenalkan aku padanya Matt?” Ana yang hendak berbalik, mendadak berhenti saat wanita berbibir merah itu menyela.
“Tidak perlu.” jawab Matt ketus. Ana hanya tersenyum kecut saat melihat hal itu. Sepertinya wanita itu cukup dekat dengan Matt.
“Baiklah, Ana permisi.”
Tanpa menunggu respon dari Matt dan juga wanita yang ada bersama dengan laki-laki yang dia cintai itu, Ana melangkahkan kakiku dengan cepat keluar dari dalam kafe tersebut.
“Eh An? Kenapa buru-buru sekali, aku baru sampai!” Jinny yang baru saja sampai di parkiran kafe itu, langsung mencegat Ana yang tampak terburu-buru untuk keluar dari sana.
“Tidak apa-apa. Apa kita bisa cari tempat lain saja?” tanya Ana, dia berusaha untuk tidak melihat lagi ke dalam.
“Kenapa? Apa kau tidak suka kafenya?” tanya Jinny bingung. Karena tadi, Ana lah yang mengatakan padanya kalau sebaiknya mereka bertemu di kafe ini, saat tadi Jinny mengajaknya untuk jalan keluar.
“Tidak! Aku suka, tapi aku malas untuk masuk kedalam.” jawab Ana.
“Kenapa seperti itu?”
“Kak Matteo?” cicit Jinny yang langsung kembali menyadarkan Ana. Ana berbalik menatap kedua orang yang baru keluar dari dalam kafe itu.
“Ayo Jinn!” Ana menarik tangan Jinny, dan membuat gadis itu tersentak kaget.
“Ah ya, baiklah.” sahut Jinny mengerti.
“Kami permisi kak!” keduanya pergi dari hadapan Matt.
Matt menatap kepergian Ana dengan raut wajah datar. Bahkan tadi Ana, tidak mau melihatnya saat dia keluar dari kafe tadi.
“Matt, aku rasa gadis tadi menyukaimu?” perkataan perempuan yang ada di sampingnya itu, membuat Matt kembali tersadar. Dia menatap wanita itu dengan manik tajamnya.
“Iya, dan kau sudah membuatnya salah paham!” ketus Matt.
“Hei, kenapa jadi aku?” dengan raut tak bersalah, wanita itu bertanya apa Matt, membuat laki-laki itu mengepalkan tangannya geram.
“Kau menciumiku tanpa izin Cle!” ucap Matt dengan geram.
“Ah, pasti sekarang gadis itu cemburu! Apa kau menyukainya juga Matt?!” Wanita yang bernama Cleopatra itu menatap Matt dengan tatapan tanpa rasa bersalah.
“Hemm!” jawab Matt ketus.
“Eh? Kau menyukai dia?” tanya Cleo membelalakkan matanya kaget. Dia menatap Matt lamat-lamat mencari tahu, kalau yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah benar.
Matt, menyukai seorang gadis? Wow.
“Ya, dan kau membuat urusanku jadi rumit! Sudah, pergilah, kau benar-benar menyebalkan!”
“Maafkan aku, Matt. Aku kan tidak tau!” Cleo menatap Matt dengan tatapan bersalah.
“Huh....”
“Hati-hati Matt, wanita yang sedang cemburu itu sangat ganas!” goda Cleo saat Matt berjalan meninggalkannya.
“Diam kau Cle!” tawa Cleo pecah saat Matt menjawabnya dengan kesal.
Matt memperlebar langkahnya untuk melihat Ana yang berjalan menuju ke kafe seberang jalan. Dia berdiam di dekat mobilnya sejenak, setelah itu memasuki mobilnya dan pergi dari sana.
“Dia sudah pergi!” Jinny yang melihat ke arah mobil Matt yang sudah melaju meninggalkan kafe itu, memberitahu Ana. Dia bisa melihat, kalau saat ini Ana sedang memikirkan apa hubungan laki-laki yang dia cintai itu dengan wanita bergincu merah tadi.
“Hemm, aku tau itu!” jawab Ana singkat.
“Ana, menurutmu perempuan yang tadi itu siapa? Apa mungkin pacarnya?” Ana terlihat berpikir sejenak saat Jinny bertanya seperti itu padanya.
“Entahlah, tapi aku rasa tidak!” Ana sendiri tidak yakin dengan apa yang dia katakan. Karena, dia melihat sendiri saat wanita itu mencium Matt, dan juga laki-laki itu tampak tidak marah saat di cium seperti itu.
“Kenapa seperti itu. Kau tau dari mana kalau dia bukan pacarnya kak Matt?” tanya Jinny heran. Dan Ana juga tidak memberitahu pada Jinny kalau tadi dia melihat wanita yang kini mereka bicarakan itu, mencium Matt.
“Aku hanya menebak saja!” jawab Ana.
“Jadi, ada apa kau mengajakku untuk bertemu?” Ana mengalihkan pembicaraan. Dia menatap Jinny, karena tadi sahabatnya ini mengajaknya untuk bertemu, dan dia mengiyakan karena merasa cukup bosan di rumah, tanpa melakukan apa-apa. Terlebih ini adalah akhir pekan, dan dia tidak mempunyai jadwal apa-apa kecuali tidur dan bermain dengan adik kecilnya.
“Apa kau mau untuk ikut bersama denganku dan juga Kelvan untuk nonton?”
“Kapan?” tanya Ana antusias.
“Besok!”
“Kenapa kau tidak bilang di kampus atau di telpon saja sih?”
“Tidak, aku juga ingin mengajakmu untuk pergi ke toko buku sebentar!” mendengar kata toko buku, Ana langsung berbinar senang. Sebenarnya dia beberapa hari ini juga sudah berencana untuk pergi ke toko buku, tapi tidak jadi-jadi. Maka dari itu, saat Jinny mengajaknya ke sana, dia langsung antusias.
“Ke toko buku? Baiklah, ayo!”
“Habiskan dulu minumannya Ana!” Jinny terkekeh saat melihat reaksi dari sahabatnya itu.
“Baiklah!”
‘Setidaknya dengan pergi ke toko buku, dan membeli beberapa novel, aku bisa menghentikan pikiranku yang selalu tertuju pada Kak Matt dan wanita itu!”
_____