Ana

Ana
14.1



Mata Ana mengerjap lemah. Dia menatap pada semua orang yang tersenyum karena kesadarannya.


“Matt?” tanya Ana dengan suara yang lirih.


Gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu membuat semua orang yang ada di sana menatapnya heran.


“Ba—bagaimana dengan keadaan kak Matt, Daddy, dia tidak apa-apa, kan? Dia selamat, kan, Dad? Dia tidak meninggalkan Ana sendiri, kan?”


Ana bertanya dengan suara yang lemah. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan kalau dirinya sangat memikirkan Matt.


“Kau tenanglah, Sayang. Matt tidak apa-apa, dia selamat. Jadi, sekarang pikirkan kesembuhanmu,” David mengusap kepala Ana yang terbalut perban itu. Sungguh dia sakit melihat kondisi anak gadisnya ini.


“Apa Daddy tidak bohong? Kak Matt tidak apa-apa, kan?” tanya Ana lagi, dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri.


“Iya, Sayang. Untuk apa Daddy berbohong padamu, Matt benar-benar baik-baik saja!” Ana mengangguk lemah mendengar perkataan David. Dia sangat lega saat mendengar Matt baik-baik saja, karena dia sendiri tahu, sebagaimana mereka saat kecelakaan itu, sebelum kesadarannya menghilang.


Gadis itu, teramat sangat mencintai Matt. Bahkan, dalam tidurnya pun, dia masih mendengar suara Matt yang mengancamnya. Sungguh, dia tidak akan pernah bisa menerima jika laki-laki itu benar-benar menikah dengan perempuan lain.


“Sayang, kau istirahat saja, ya? Biar nanti, saat Matt kesini, kau bisa berbicara dengannya!” Ana mengangguk. Tapi, kemudian dia menatap Aira saat mencerna ucapan Mommy-nya itu.


“Kak Matt menjenguk Ana?” tanya Ana antusias. Aira mengiyakan.


“Calon menantu, kau istirahat sekarang, ya? Supaya nanti bisa memarahi Matt karena lalai menjagamu!” Ana tersenyum tipis mendengar perkataan Max.


“Oke Uncle,” ujarnya tersenyum lemah.


Dokter sudah memeriksa keadaan Ana, dia juga mengatakan kalau keadaan Ana sudah stabil, terlepas dari operasi besar yang dilakukan padanya.


Setelah meminumkan obat pada Ana, semua orang yang menungguinya menyuruh Ana untuk istirahat agar cepat kembali pulih seperti semula.


David, Aira, dan Kevano yang ada di pangkuan David duduk di atas sofa yang ada di ruang rawat besar itu.


“Sayang, sebaiknya kau pulang saja sekarang,” ujar David buka suara, saat Max sudah keluar dari sana, untuk membersihkan tubuhnya di ruang rawat Ana, sekaligus istirahat.


“Aku tidak mau, aku akan menunggui Ana saja disini,” ujar Aira. David menghela napas, lalu menatap istrinya itu dengan serius.


“Sayang, apa kau tidak kasihan dengan Kev? Dia pasti tidak nyaman disini lama-lama. Lagipula Ana sudah sadar, dan kau tidak perlu khawatir lagi,” David menatap Ana yang sedang tertidur dengan tatapan getir.


“Tapi ... aku ingin menunggui Ana disini Sayang,” ujar Aira kekeh.


“Tidak, kau harus pulang. Lalu bersihkan dirimu, lihatlah, kau bertambah kurus sekarang,” Aira mengerucutkan bibirnya saat mendengar perkataan David yang mengejeknya.


“Ayolah, Sayang. Lihatlah Kevan, dia tidak nyaman disini, Ana sudah membaik, biar aku dan yang lainnya yang menjaganya disini!”


Aira menghela napas. Dia tidak bisa memaksakan dirinya, karena dia juga harus memikirkan Kevano, anak laki-lakinya yang masih balita.


“Baiklah,” David tersenyum senang saat mendengar perkataan Aira.


“Kita titipkan Ana pada Max, setelah itu aku akan mengantarmu pulang,” Aira mengangguk setuju dengan perkataan David.


Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa pulang. Sedangkan David keluar untuk mencari Max yang ternyata sedang tertidur di sofa besar yang ada di ruang rawat Matt.


Rasanya David tidak tega saat melihat raut wajah Max yang begitu lelah. Bagaimana tidak lelah, laki-laki itu terus berjaga beberapa malam, untuk menjaga Matt dan Ana, juga Mattea di lantai atas. Meskipun anak buahnya sudah tersebar di beberapa titik, tapi Max tetap tidak bisa memejamkan matanya.


Makanya, saat Ana dan Matt yang sama-sama sudah sadar, membuat pikirannya tenang, dan bisa terlelap dengan damai.


David merogoh sakunya, lalu menelpon Thomas.


“Hallo ...?” tanya Thomas di seberang sana.


“Hallo Thomas, bisakah kau menjaga Ana sebentar, aku mau mengantar Aira pulang dulu,” ujar David langsung mengutarakan niatnya.


“Baiklah, kau cepatlah ke bawah, aku akan pulang sebentar,” ujar David.


“Oke,”


Sambungan telepon itu terputus. David kembali ke ruang rawat Ana.


“Ayo, Sayang.” ujar David pada Aira yang sudah tampak siap.


“Dimana Max?” tanya Aira saat melihat ke belakang, tapi tidak ada yang masuk menyusul suaminya itu.


“Max sedang tertidur di sebelah, mungkin dia sangat lelah. Kau tenang saja, sebentar lagi Thomas akan bersama dengan Mattea.


Mendengar jawaban David, membuat Aura tenang.


David mengambil alih Kevano yang tadi di gendongan Aira, lalu mereka keluar dari ruang rawat Ana.


*****


Matt terjaga karena mendengar suara yang agak berisik di dalam ruang rawatnya. Perlahan, manik gelap itu membuka matanya dan mencari asal suara.


“Atea?” tanya Matt dengan suara serak. Merasa namanya di panggil, Mattea menoleh, dan dengan perlahan berjalan mendekati Matt dengan menggendong bayi yang ada di dalam dekapannya.


“Matt, kau sudah bangun?” tanya Mattea, dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Matt.


“Yeah, seperti yang kau lihat,” ujar Matt. Lalu matanya beralih pada bayi mungil kecil yang sedang menutup matanya itu.


“Holla, keponakan Uncle?” sapa Matt terkekeh. Bayi mungil yang masih merah itu menggeliat didalam pelukan Mattea seakan sedang merespon sapaan Matt.


“Atea, maafkan aku karena harus kecelakaan di hari kau melahirkan.” ujar Matt dengan tatapan sendu. Seharusnya, dia juga harus ikut saat masa-masa sulit adiknya itu.


“Hei, kenapa kau berkata seperti itu? Semua ini sudah kehendak Tuhan, jadi kau tidak boleh bicara seperti itu lagi,” ujar Mattea mendengus.


“Maafkan aku karena belum bisa mengendongmu Baby Girl,” kini tatapan mata Matt menatap keponakannya dengan berbinar.


“Oh iya, siapa namanya?” tanya Matt. Mattea menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Matt.


“Astaga, kau belum memberikannya nama?” tanya Matt. Lagi-lagi Mattea menggeleng.


“Aku berniat untuk menyuruhmu memberikannya nama, jadi nama apa yang pantas untuk putri kecilku ini menurutmu?” Matteo menatap Ana berbinar.


“Kau menyuruhku untuk memberikannya nama?” tanya Matt antusias. Bahkan dia sedikit menggerakkan kakinya yang membuat laki-laki itu langsung mengaduh.


“Makanya, jangan terlalu senang. Kau harus memperhatikan kakimu!” ujar Mattea. Matteo yang sedang terbaring dengan punggung yang sedikit bersandar itu hanya terkekeh.


“Baiklah, ternyata cerewetmu itu tidak hilang, ya, walaupun kau sudah melahirkan,” ujar Matt tertawa.


“Sialan kau, Matt,” ujar Mattea.


“Oh iya, jadi kau mau memberikannya nama apa?” tanya Mattea lagi.


Disaat itu Thomas yang baru saja dari ruang rawat Ana menatap istri dan keponakannya itu.


“Uncle, apa tidak apa-apa kalau aku yang memberikannya nama? Kan, kalian yang membuatnya,” ujar Matt bertanya pada Thomas, sedangkan Mattea melebarkan matanya saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Matt.


“Tidak apa-apa Matt, untuk kali ini. Tapi kalau untuk anak-anakku yang lain nantinya, tentu harus aku yang memberikannya nama,” Thomas berdiri di samping Mattea, lalu mengusap pipi anaknya yang lembut sekilas.


“Hei, kau sudah memikirkan untuk membuat anak lagi? Benar-benar!” Mattea mendengus, membuat Thomas tertawa.


“Ayo Matt, apa namanya untuk anak cantikku ini?” tanya Thomas tidak sabaran.