
Ana berjalan menaiki tangga dengan senyum riang. Gelapnya malam membuat cahaya didalam rumah besar itu terlihat remang-remang karena lampu yang sudah di padamkan. Ana menutup pintu kamar dan ikut merebahkan dirinya di samping Jinny.
Dirinya selalu tersenyum ketika mengingat dirinya bersama dengan Matt.
Ana memejamkan matanya dengan senyuman yang mengembang. Di memeluk guling yang ada di sampingnya, dan tidur dengan membelakangi Jinny yang sudah terlelap dari tadi.
Alam mimpi menghampiri Ana, sehingga dia tidak menyadari karena terlalu enak tidur membuatnya tidak menyadari kalau pagi sangat cepat menghampirinya.
“Ana ... Ana, bangun ....” Jinny mengguncang tubuh Ana untuk membangunkan gadis yang terlelap sangat pulas itu.
Jinny berdecak kesal saat Ana tidak juga mau bangun.
“ANAAAA ....” Jinny berteriak di dekat telinga Ana membuat gadis itu langsung terlonjak lalu langsung berdiri di atas tempat tidur dengan mata yang masih terpejam.
“Siapa kau?!” ujar Ana dengan mengayunkan tangannya. Dia berdiri dengan waspada, tapi matanya masih terpejam. Jinny melongo melihat hal itu.
“Heii siapa kau? Jangan macam-macam denganku!” Ana masih setia dengan mata terpejamnya. Sedangkan Jinny memegangi perutnya yang sakit karena tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
“Ana, hei. Kau ini mau apa?” Jinny bertanya disela-sela tawanya. Sedangkan Ana yang saat itu sudah mulai membuka matanya, terbelalak kaget dengan tingkah yang tidak dia sadari itu. Setelah sadar sepenuhnya, Ana memukuli Jinny dengan guling yang dia ambil membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak.
“Sialan kau Jinn. Aku terkejut karena teriakanmu itu!” Ana terus memukul Jinny dengan bantal, tapi bukannya merasa sakit, Jinny malah tertawa semakin lebar saat melihat wajah masam sahabatnya itu.
“Maaf An, lagipula kau itu tidur atau mati sih? Susah sekali di bangunkan!” Ana berhenti memukuli Jinny karena merasa kasihan juga melihat sahabatnya itu. Dia duduk di samping Jinny dengan raut wajah yang acak-acakan.
“Ya maaf, aku kira ini masih malam. Aku sangat mengantuk sekali!” Ana kembali menguap, dia tidak tahan untuk membuka matanya. Tapi Jinny menahan gadis itu untuk kembali merebahkan tubuhnya yang mungil.
“Hei, kau tidak mau bangun? Sekarang ini, kak Matt menginap di rumahmu. Begitu juga dengan Rico dan Kelvan, jangan katakan kalau kau lupa?!” Ana langsung terkejut mendengar perkataan Jinny. Dia melihat pada jam kecil yang ada di atas nakas. Matanya membulat sempurna saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Dan itu artinya, sebentar lagi Matt akan pergi ke kantor untuk menjalani magangnya.
“Astaga Jinnyyyyyy, kenapa kau tidak membangunkan aku?!” Ana dengan langkah tergesa-gesa turun dari atas ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Jinny hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah Ana.
Dan Jinny juga sedikit kesal saat sahabatnya itu menuduhnya karena tidak membangunkan dirinya. Padahal tadi, saat dia baru bangunpun, dia langsung membangunkan Ana, tapi tidak di gubris oleh gadis itu, membuat Jinny memutuskan untuk mandi lebih dulu saja.
Tidak lama Ana di kamar mandi, dia langsung keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti. Tubuhnya hanya berbalut handuk yang dia pakai untuk mengeringkan tubuhnya.
Jinny menggelengkan kepala saat melihat Ana yang terburu-buru seperti itu.
Jinny memainkan ponselnya. Kebiasaannya yang selalu bangun pagi membuatnya selalu rapi dan juga segar karena sudah mandi. Bahkan dia sudah cantik dengan pakaian yang digunakannya untuk pergi ke kampus nanti.
Ana mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer. Lalu dengan cepat memakai bedak dan lipbalm nya. Setelah itu dia tergesa-gesa mengajak Jinny untuk turun ke lantai bawah.
Saat menuruni tangga, Ana melihat Matt sedang menelpon di ruang keluarga. Gadis itu berlari menyusul Matt. Sedangkan Jinny berbelok menuju ruang makan, karena di sana Rico dan juga Kelvan sedang duduk.
“Kak Matt, apa kakak mau pergi bekerja sekarang?” Ana yang sudah tidak sabar bertanya pada Matt itu, langsung menanyakan pertanyaannya pada Matt saat laki-laki itu selesai menelpon.
“Menurutmu?” tanya Matt mengangkat alisnya. Ana hanya mengangguk polos saat mendengar pertanyaan itu.
“Kalau kau tau jawabannya, kenapa masih bertanya sayang?” Ana hanya menampilkan senyuman lebar dengan gigi yang berderet rapi di dalam mulutnya. Dia menatap penampilan Matt pagi ini, yang terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam tersebut. Dia tidak memakai jas.
“Apa kak Matt tidak sarapan dulu?” Matt menaikkan alisnya saat Ana bertanya seperti itu. Lalu dia melihat pada jam tangannya.
“Sudah, aku sudah sarapan tadi. Kau pikir ini jam berapa Ana?” Ana menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Matt. Sedangkan Matt langsung menggeram saat Ana menggigit bibirnya itu.
“Jangan mengigit bibirmu An!” desis Matt yang membuat Ana terkekeh.
“Iya kak, maaf.” ujar Ana yang membuat Matt menghembuskan nafas kesal.
“Sudah, aku mau pergi ke kantor sekarang. Kau sarapan lebih dulu, oke?” Ana mengangguk mendengar perkataan Matt. Sungguh dia tidak ingat kalau laki-laki itu menginap dirumahnya tadi. Kalau saja dia ingat, pasti dia sudah sarapan bersama dengan Matt dan tidak akan bangun terlambat.
Ana mengantarkan Matt menuju pintu utama. Gadis itu melihat langkah Matt yang mengambil mobilnya, yang sudah di panaskan oleh Paman Crish.
Ana melambaikan tangannya saat mobil Matt meninggalkan pelataran rumahnya. Setelah mobil Matt tidak nampak lagi di pandangannya, Ana masuk kedalam untuk menemui teman-temannya.
“Sudah selesai ritual paginya An?” tanya Jinny mengejek membuat Ana mendengus.
“Sialan kau Jinn. Gara-gara kau tidak membangunkan aku, aku jadi tidak bisa sarapan bersama dengan kak Matt!” Ana mengerucutkan bibirnya lucu saat mengatakan itu, membuat Jinny mendelik.
“Tidak membangunkanmu kau bilang?” desis Jinny dengan kesal, sedangkan Ana hanya terkekeh. Begitu juga dengan Rico dan Kelvan yang sedari tadi hanya diam.
“Sudah, ayo kita sarapan sekarang. Biar nanti tidak terlambat.” mereka semua mengangguk mendengar perkataan Ana.
Keheningan mengambil alih di antara semuanya. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar.
Setelah sarapan pagi itu selesai, teman-temannya menunggu Ana yang saat ini sedang mengambil tasnya. Mereka akan pergi ke kampus bersama hari ini.
“Kenapa dia lama sekali sih?” gerutu Jinny dengan kesal.
“Sabar Baby. Mungkin saja, dia sedang mencari barang-barangnya.” Jinny menghembuskan nafas kasar. Jika Rico sudah bicara seperti ini, dia tidak mungkin akan bicara lagi. Cinta membuatnya sangat menghormati Rico.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ana keluar dari dalam kamar. Dia berlari menuruni tangga membuat Kelvan khawatir.
“Hati-hati An, jangan berlari seperti itu. Nanti kau bisa jatuh!” ujar Kelvan yang membuat Ana memperlambat langkahnya. Lalu mendekat pada ketiga temannya itu.
“Ayo ....!” ujar Ana dengan riang, membuat Jinny memutar mata jengah.
“Kau ini!” rutuk Jinny. Tapi walau begitu dia tetap berjalan di samping Rico. Sedangkan Kelvan berjalan berdampingan dengan Ana.
Karena teman-teman Ana itu sudah menyiapkan buku-buku kuliah mereka sebelum datang ke rumah Ana, makanya mereka tidak lagi tergesa-gesa karena harus pulang dulu ke rumah. Karena Jinny sudah mengatakan pada Rico dan Kelvan lebih dulu, untuk membawa perlengkapan mereka sebelum menginap di rumah Ana.
Keempat orang itu naik kedalam mobil Rico. Ana duduk di belakang bersama Kelvan, sedangkan Jinny duduk di depan bersama dengan Rico yang menyetir. Keempat orang itu asik bercengkrama. Ana tertawa lebar melihat Jinny yang sangat manja pada Rico, begitupun Rico yang senang sekali menggoda Jinny membuat pipi gadis itu memerah karena malu.
Mobil yang dikendarai oleh Rico melaju kencang. Melewati jalanan kota Frankfurt untuk bisa sampai di kampus mereka.
Mobil Rico terparkir sempurna di parkiran mahasiswa. Keempat orang itu turun dari dalam mobil.
“An, biar aku antar ke kelas?” Ana terlihat berpikir sebentar. Setelah itu dia mengiyakan tawaran Rico.
Ana berjalan terlebih dahulu bersama dengan Kelvan, sedangkan Jinny pergi untuk membeli sesuatu terlebih dahulu dengan ditemani oleh Rico tentunya.
“Kapan kau jadian dengan kak Matt An?” tanya Kelvan saat dalam perjalanan menuju ke kelas Ana.
“Hemm, baru sebulan yang lalu. Tidak lama sebelum kita pergi nonton ke bioskop bersama waktu itu.” Kelvan hanya mengangguk mendengar jawaban Ana. Tapi tanpa sadar tangannya terkepal karena mendengar pertanyaannya yang dijawab dengan nada bahagia tersebut.
‘Aku akan mendapatkanmu Ana!’ desis Kelvan dalam hatinya. Dia menatap Ana yang tersenyum riang disampingnya. Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Bulu mata lentik itu terlihat sangat mengagumkan. Mata kecoklatan dengan hidung kecil itu membuat Ana tampak semakin cantik. Bibir tepis namun sensual itu terlihat merona merah dengan senyuman yang terus terpantri dari sana.
‘Aku akan mendapatkan kau Ana, setelah itu aku bisa membalaskan dendam Daddy pada Daddy-mu dan juga Daddy laki-laki yang kau cintai itu! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!’
“Memangnya kenapa?” tanya Ana yang tidak menyadari raut muka Kelvan.
“Tidak, aku hanya sedikit kecewa saja, karena kau sudah dimiliki oleh laki-laki lain!” Ana tertawa mendengar perkataan Kelvan yang dia anggap lelucon itu. Padahal laki-laki itu mengatakan dengan mimik wajah yang serius, tapi Ana tidak memperhatikannya.
“Kau ini jangan bercanda seperti itu Van!” ujar Ana menepuk pundak Kelvan. Sedangkan Kelvan tersenyum meyakinkan. Iya, dia harus selalu tersenyum bersama dengan Ana. Setidaknya sampai dia lelah dengan sendirinya.
“Aku tidak bercanda An. Aku memang kecewa, karena aku sudah menyukaimu dari dulu!” Ana terkesiap mendengar pertanyaan Kelvan. Dia berhenti dengan tiba-tiba, Kelvan pun ikut berhenti karena Ana berhenti. Lalu Ana menatap Kelvan dengan tatapan yang tidak dapat Kelvan artikan itu sebagai tatapan apa.
“Kenapa?” tanya Kelvan bingung dengan raut wajah Ana yang tidak terbaca.
“Kau menyukai aku?” ujar Ana dengan nada sarkas. Sedangkan Kelvan yang mendengar perkataan Ana hanya menganggukkan kepalanya meyakinkan.
“Astaga Kelvan. Kau ini bercandanya berlebihan sekali! Mana mungkin kau menyukai aku? Karena aku tau, tipe perempuan yang kau sukai itu seperti apa!” ujar Ana yang masih mau menyangkal perkataan Kelvan tadi. Dia menatap Kelvan dengan tersenyum tipis.
“Aku tidak bercanda Ana, aku serius!” nada suara Kelvan yang terdengar serius itu membuat Ana bungkam. Dia tidak tau mau mengatakan apa. Tatapan mata tajam itu seakan menghipnotis Ana untuk tidak mengalihkan pandangannya dari sana.
Lalu lalang mahasiswa yang lainnya tidak membuat kedua orang itu mengalihkan pembicaraan mereka. Tidak terlalu banyak yang memperhatikan mereka, karena mereka semua sibuk dengan apa yang mereka lakukan masing-masing.
Ana menatap Kelvan bingung.
“Kenapa Van? Kenapa kau menyukai aku? Bukankah kau tau sendiri, seperti apa besarnya perasaanku pada kak Matt?” Kelvan mengangkat bahunya acuh.
“Entahlah, aku tidak tau bagaimana itu bisa terjadi. Tapi yang jelas, rasaku tidak dapat ditahan An.” ujar Kelvan. ‘Dan benciku juga tidak dapat tertahan!’ sambung Kelvan dalam hatinya.
“Hahaha, sudahlah Van. Anggap saja kita tidak pernah membicarakan ini. Sudah ayo kita ke kelas!” Ana mengalihkan pembicaraan. Dia menarik lengan Kelvan membuat laki-laki itu menegang untuk sesaat.
‘*Aku harap, benci ini selalu tumbuh dan membesar sampai kapanpun! Aku tidak boleh lengah dengan diriku dan juga perasaanku!’
‘Ya, aku harus selalu membenci kalian! Aku tidak boleh lemah!' batin Kelvan lagi*.
.
.
.
.